NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Dua Dunia, Satu Anindya

Ratih berhenti tiga langkah setelah memasuki ruang tamu privat Klub Enggar.

“Saya salah pakaian,” bisiknya.

Ia mengenakan tunik batik biru, celana hitam, dan sepatu datar. Di sekelilingnya, para pembeli undangan memakai gaun rancangan khusus dan jam tangan yang harganya mungkin setara rumah kecil.

“Kamu datang untuk melihat karya, bukan dinilai,” jawab Anindya.

“Mereka tetap melihat.”

Anindya melirik dua tamu yang memandang terlalu lama. Ia lalu mengaitkan lengannya pada Ratih dan membawanya ke meja depan.

“Kalau begitu, biarkan mereka melihat tamu yang saya undang sendiri.”

Pratinjau itu menampilkan dua belas rancangan Kemal dalam jumlah sangat terbatas. Tidak ada panggung besar. Para model berjalan di antara meja agar pembeli bisa melihat tekstur batik dan jahitan dari dekat. Bunga sedap malam pemberian Damar diletakkan di sudut ruangan tanpa kartu pribadi.

Kemal menghampiri mereka dengan pita ukur yang masih menggantung di leher. “Ratih, tolong bilang kepada temanmu bahwa lampu putih membuat kain hijau terlihat sakit.”

“Saya sudah bilang sejak kemarin.”

“Kamu bilang semua lampu mahal itu penipuan.”

“Itu juga benar.”

Anindya memberi isyarat kepada teknisi untuk menurunkan suhu warna lampu. Kain hijau tua di tengah ruangan kembali menunjukkan kedalaman warnanya.

Ratih mulai lupa merasa canggung. Ia mengoreksi label ukuran, membantu seorang tamu memahami perbedaan batik tulis dan cetak, lalu memarahi Kemal karena belum menaruh kursi untuk penjahit senior yang berdiri sejak pagi.

Orang-orang yang semula menilai pakaiannya kini mendengarkan.

Seorang pembeli kemudian memuji satu gaun berpotongan sempit dan meminta Kemal hanya memproduksi ukuran kecil agar citra koleksi tetap eksklusif. Ratih yang sedang memeriksa jahitan menoleh.

“Eksklusif karena jahitannya sulit, atau karena banyak perempuan sengaja tidak boleh memakainya?” tanyanya.

Pembeli itu terdiam. Kemal justru mendekat.

Ratih menunjukkan bahwa panel samping bisa diubah tanpa merusak garis desain. Ia menyarankan tiga rentang ukuran dan kampuh tambahan agar pelanggan dapat melakukan penyesuaian tanpa membongkar seluruh gaun.

“Kalau penjahit menyimpan ruang di sini, tubuh pemakai boleh berubah,” katanya. “Baju tidak harus menghukum orang karena naik dua kilo.”

Kemal mengambil pensil dan menandai sketsa. “Ini kenapa saya mengundangnya.”

Anindya melihat bahu Ratih akhirnya turun santai. Ia tidak lagi berdiri sebagai tamu yang takut salah pakaian. Ia berdiri sebagai perempuan yang membawa pengetahuan dari rumah, pasar, arisan, dan bertahun-tahun memperbaiki baju agar tetap bisa dipakai.

Pembeli tadi akhirnya meminta melihat versi ukuran berbeda. Bukan perubahan besar, tetapi cukup membuktikan bahwa pengalaman yang dianggap biasa dapat mengubah keputusan di ruangan mahal.

Di sela acara, Sisi mengirim tanda bahwa ruang rapat samping sudah siap. Anindya meminta Ratih menemani Kemal selama sepuluh menit, lalu masuk melalui pintu yang dijaga staf.

Enggar menunggu bersama penasihat hukum melalui panggilan video. Di atas meja ada dokumen akuisisi saham minoritas sebuah usaha garmen kecil di Solo yang selama ini memproduksi kain bagi beberapa rumah mode, tetapi kesulitan modal kerja.

“Uji tuntas pajak dan tenaga kerja selesai,” kata Sisi. “Tidak ada utang tersembunyi. Para pemilik lama mempertahankan kendali operasional. Dana baru wajib dipakai untuk mesin keselamatan, upah tertunggak, dan pelatihan.”

Anindya membaca halaman persetujuan terakhir. “Hak pekerja jika kepemilikan berubah?”

“Kontrak tidak boleh diputus hanya karena transaksi. Ada pengawasan dua tahun.”

“Dan syarat penutupan?”

“Pencatatan perubahan pemegang saham dan pelunasan upah. Dana masuk setelah keduanya diverifikasi.”

Anindya menandatangani persetujuan bersyarat. Itu bukan pembelian kerajaan dalam satu sore. Hanya satu bagian kecil dari rantai produksi yang dibangun dengan proses legal dan uang yang bisa dilacak.

Nama publik tetap berada pada entitas investasi Klub Enggar. Hanya Anindya, Enggar, Sisi, dan penasihat hukum yang tahu siapa pemberi keputusan akhir.

“Jangan hubungkan transaksi ini dengan pratinjau hari ini,” pesannya. “Kemal harus memilih pemasok berdasarkan kualitas, bukan karena kita memiliki saham.”

“Dipisahkan,” jawab Enggar.

Sepuluh menit kemudian, Anindya kembali ke ruang utama seolah hanya selesai menerima telepon.

Sore hari, dunia mereka berubah.

Anindya mengganti gaun gelap dengan kemeja katun dan celana longgar di rumah Ratih di Bekasi. Kemal kembali ke atelier, sementara mereka bergabung dengan arisan RT di teras rumah seorang tetangga.

Piring berisi risoles, kue lapis, dan singkong goreng berpindah dari tangan ke tangan. Anak-anak berlari mengejar bola plastik. Kipas angin berdiri berputar dengan bunyi kecil setiap kali kepalanya bergerak.

Seorang ibu menatap Anindya dengan rasa ingin tahu yang tak disembunyikan.

“Mbak Anindya yang masuk berita itu, ya?”

“Tergantung beritanya,” jawab Anindya.

Tawa pecah di sekitar meja.

“Katanya dulu istri rahasia orang kaya.”

Ratih hendak memotong, tetapi Anindya lebih dulu mengambil risoles.

“Dulu memang nikah siri. Sekarang sudah talak. Bagian itu benar.”

“Terus dia datang lagi?”

“Kadang, kalau sudah membuat janji.”

Jawaban yang biasa membuat gosip kehilangan sebagian tenaganya. Para ibu beralih bertanya tentang jadwal terbang, harga tiket, dan apakah telinga sakit saat pesawat turun. Anindya menjawab sebisanya tanpa membuka informasi perusahaan.

Ketika uang arisan dihitung, Ratih berbisik, “Pagi tadi orang-orang takut bicara kepadamu. Di sini semua orang bertanya soal mantan suami sambil mengunyah singkong.”

“Lebih jujur.”

“Lebih berbahaya. Mereka bisa bertanya kapan menikah lagi sebelum makanan habis.”

Seolah dipanggil, seorang tetangga berseru, “Kalau rujuk, undang satu RT!”

Anindya mengangkat gelas teh. “Kalau itu terjadi, saya beri tahu setelah keputusan dibuat.”

Ia tidak mengatakan mustahil. Ratih menangkapnya, tetapi cukup baik untuk tidak menekan.

Menjelang malam, mereka duduk di tangga depan rumah Ratih.

“Amara terlalu tenang,” kata Ratih. “Setelah sertifikat dan acara Menteng, saya kira dia akan membuat keributan lagi.”

“Sisi sedang memantau jalur sosial dan sponsor.”

“Bu Herlina?”

“Belum ada tindakan langsung. Hanya beberapa pertanyaan kepada penyelenggara mode.”

Ratih memeluk lutut. “Saya tidak suka orang yang menganggap diam sebagai persiapan.”

“Saya juga.”

Anindya pulang ke Ciputat setelah jalanan lebih lengang. Gedung tinggi dan gang sempit bergantian di luar kaca, seperti dua kehidupan yang ia jalani tanpa merasa salah satunya palsu.

Di depan pintu rumah, ia menemukan selembar kertas terselip di bawah kusen.

Besok, pukul tiga sore. Restoran privat di Pondok Indah. Datang sendiri. Ini tentang Damar.

Anindya tidak menyentuhnya dengan tangan kosong. Ia memotret posisi kertas, memakai tisu untuk memasukkannya ke kantong bukti sederhana, lalu menghubungi Sisi.

“Jangan jawab apa pun,” kata Sisi setelah membaca foto. “Kami periksa kamera koridor dan reservasi tempatnya.”

Anindya menatap kalimat datang sendiri.

“Siapkan pengawasan dari luar,” ujarnya. “Kalau saya memutuskan datang, saya tidak akan benar-benar sendirian.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!