Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Kyra terkesiap, kedua tangannya reflek mencengkeram erat bahu bidang Brian saat pria itu membalikkan posisi mereka dan mengurungnya kembali di bawah tubuh kokoh sang suami.
"B-Brian... Ini sudah pagi," cicit Kyra di sela napasnya yang mulai memburu, pipinya merona merah padam. "Kantor...,"
"Biarkan saja," potong Brian rendah, matanya menggelap, memancarkan obsesi murni yang membuat lutut Kyra terasa lemas seketika.
"Dunia luar, bisa menunggu, Kyra. Tapi rasa penasaranku keinginanku saat ini... tidak bisa menunggu lagi,"
Brian tidak memberi ruang bagi Kyra untuk protes. Bibirnya kembali meluncur turun, menelusuri rahang, leher jenjang, hingga tulang selangka Kyra, meninggalkan jejak-jejak kehangatan yang membuat Kyra melengkungkan punggungnya.
Sentuhan tangan Brian terasa begitu candu, menjelajahi setiap jengkal kulit sensitif Kyra dengan keahlian seorang predator yang tahu persis bagaimana membuat mangsanya menyerah tanpa syarat.
Bagi Brian, memiliki Kyra sepenuhnya bukan sekadar penaklukan, ini adalah candu terkuat yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Semalam, ia mengira satu ronde atau dua ronde sudah cukup untuk menuntaskan hasratnya.
Namun, semakin ia menyentuh wanita di hadapannya ini, semakin ia menyadari bahwa tubuh dan jiwa Kyra adalah hal paling berbahaya yang telah meracuni aliran darahnya. Brian ingin mengulanginya lagi, lagi dan lagi, memastikan bahwa tidak ada satu pun ruang di dalam diri Kyra yang tidak disentuh atau dimiliki olehnya.
Suara des*han tertahan kembali bergema di balik dinding kedap suara kamar utama mansion Raymond. Di bawah pelukan erat sang suami, Kyra melepaskan seluruh kendali dirinya dan membiarkan dirinya dihanyutkan sepenuhnya ke dalam badai ga*rah yang diciptakan oleh pria bermata tajam itu. Mereka terjebak dalam pusaran ritme yang memabukkan, menyatukan napas dan debar jantung hingga waktu seolah kehilangan arti.
Sinar matahari yang tadinya menembus celah jendela kini telah bergeser jauh ke ufuk barat, menandakan waktu telah menunjukkan pukul tiga sore.
Di dalam kamar utama yang luas itu, aroma kayu cendana bercampur sisa keintiman masih tertinggal pekat. Kyra meregangkan otot-ototnya yang terasa sedikit pegal namun jauh lebih rileks dari sebelumnya, setelah menghabiskan hampir seharian penuh terkunci di dalam kamar dalam pusaran gairah yang seolah tidak ada habisnya bersama Brian, energi Kyra benar-benar terkuras habis.
Kyra mengenakan dress rumah berpotongan longgar berbahan sutra lembut untuk menutupi jejak-jejak kemerahan yang ditinggalkan suaminya di sekujur leher dan bahunya. Di sisi lain, Brian tampak jauh lebih santai. Pria itu mengenakan kemeja hitam kasual dengan lengan yang digulung sampai siku, menampilkan otot lengannya yang kokoh saat ia membantu Kyra merapikan beberapa helai rambutnya yang masih sedikit basah.
"Masih lemas?" bisik Brian tepat di telinga Kyra, suaranya terdengar begitu menggoda, membuat Kyra langsung melotot tajam lewat cermin meja rias.
"Jangan mulai lagi, Brian. Aku benar-benar lapar," gerutu Kyra dengan pipi yang merona merah padam, mengingat bagaimana pria itu sama sekali tidak memberinya ampun sejak semalam hingga siang tadi.
Brian terkekeh pelan, sebuah tawa langka yang hanya bisa didengar oleh Kyra seorang. Ia mengecup puncak kepala istrinya sebelum membimbingnya melangkah keluar kamar menuruni anak tangga menuju lantai dasar mansion.
Begitu mereka tiba di area ruang makan utama yang bernuansa klasik modern, aroma masakan rumahan yang lezat langsung menggelitik indra penciuman. Di meja makan panjang berbalut marmer, Mama Ivy sudah duduk manis sambil menyesap secangkir teh chamomile hangat.
Suara derap langkah kaki mereka membuat Mama Ivy mendongak, wanita paruh baya yang tetap terlihat anggun dan awet muda itu langsung menghentikan aktivitasnya. Ia memperhatikan penampilan anak dan menantunya, mulai dari cara berjalan Kyra yang sedikit berhati-hati hingga rona kemerahan yang masih jelas tertinggal di wajah wanita muda itu, serta seringai tipis penuh kepuasan yang terukir di wajah Brian.
Seketika, seulas senyuman penuh arti tersungging di bibir Mama Ivy. Mata tajam namun jenaka miliknya menatap Kyra dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang begitu menggoda.
Kyra yang merasa diperhatikan mendadak menunduk, merutuk dalam hati dan berharap lantai di bawah kakinya tiba-tiba terbelah agar ia bisa menyembunyikan rasa malunya.
Mama Ivy meletakkan cangkirnya perlahan dengan menimbulkan bunyi yang berdenting nyaring di keheningan sore itu.
"Wah, wah... Pengantin baru kita akhirnya memutuskan untuk menampakkan diri juga. Mama hampir menyuruh pelayan untuk mengantar makanan ke kamar kalian karena takut kalian lupa jalan ke meja makan," sindir Mama Ivy dengan nada suara yang sengaja dibuat santai namun sarat akan godaan terselubung.
Pipi Kyra terasa terbakar seketika. Ia menarik kursi makan dan segera duduk, berusaha menghindari tatapan menggoda ibu mertuanya.
Di sisi lain, Brian tampak sama sekali tidak terganggu. Dengan tenang ia menarik kursi tepat di sebelah Kyra, lalu mendudukkan diri dengan angkuh sambil melirik ibunya sekilas.
"Kamarku terlalu nyaman, Ma. Jadi males keluar" balas Brian santai, bahkan sempat-sempatnya menyendokkan lauk ke piring Kyra.
Mama Ivy terkekeh geli mendengar jawaban telak putranya, "Iya, nyaman sampai melupakan waktu makan siang, ya? Lihat itu wajah menantu Mama, pucat karena kelaparan atau karena terlalu lelah meladeni putra Mama yang tidak tahu waktu ini?" cibir Mama Ivy terang-terangan.
"Mama...," cicit Kyra pelan, suaranya hampir tak terdengar karena rasa malu yang sudah mencapai ubun-ubun, tangannya di bawah meja meremas ujung kain serbet dengan erat.
Brian menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap sang ibu dengan sebelah alis terangkat. "Sudahlah, Ma. Jangan buat menantu kesayangan Mama ini semakin salah tingkah, biarkan dia makan dengan tenang atau nanti malam aku akan mengurungnya di kamar lagi," ucapnya santai.
Ancaman terselubung itu sukses membuat Mama Ivy tergelak keras, sementara Kyra buru-buru menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya hanya untuk menghentikan Brian agar tidak melanjutkan kalimat-kalimat berbahayanya di hadapan sang ibu mertua.
"Baiklah, baiklah, Mama mengalah," ujar Mama Ivy sambil tersenyum hangat, sorot matanya melembut menatap Kyra yang tampak salah tingkah.
"Makan yang banyak, Kyra. Kamu butuh banyak tenaga setelah seharian berolahraga di kamar, kamu juga nggak perlu mikirin hal-hal yang gak penting, cukup pikirkan dirimu sendiri ya," ucap Mama Ivy.
Mendengar ucapan Mama Ivy, gerakan tangan Kyra yang hendak menyendok sup mendadak terhenti. Suasana di meja makan yang tadinya dipenuhi candaan ringan perlahan berubah menjadi hening. Kyra menatap mertuanya, lalu beralih menatap Brian yang kini tengah menatapnya balik dengan sorot mata teduh namun penuh perlindungan.
Di balik rasa malu akibat sindiran sang ibu mertua, sebuah kehangatan yang luar biasa kembali menyelimuti relung hati Kyra. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa memiliki keluarga seutuhnya, tempat di mana ia bukan lagi orang asing yang disingkirkan, melainkan seorang ratu yang dijaga dan disayang dengan sepenuh hati.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu