Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 031: Berita yang Dipelintir
Kapal bintang ke Planet 3212 berangkat tiga puluh menit lagi.
Di pelabuhan Pasira, angin panas masuk dari sela kubah pelindung dan membawa bau logam, pasir, serta cairan pendingin murah. Lantai hitam bergetar setiap kali mesin kapal di dermaga sebelah dipanaskan. Orang-orang berjalan cepat sambil menyeret koper antigravitasi. Suara pengumuman keberangkatan bertumpuk di udara seperti sirene malas.
Pak Ilyas berdiri di depan gerbang keberangkatan sambil memegang tas kain lusuh.
Tas itu sudah tua. Jahitannya tidak rata. Ada bekas tambalan di sudut bawah. Tri tahu tas itu lebih muda sedikit dari dirinya, tetapi Pak Ilyas masih memakainya seolah benda itu bisa diwariskan ke tiga generasi lagi.
“Jangan makan cairan gizi kedaluwarsa,” kata Pak Ilyas untuk ketiga kalinya.
Tri menarik napas. “Saya sudah punya kantin kampus, Pak.”
“Kantin kampus mahal.”
“Saya juga punya Hendra.”
Hendra yang berdiri di samping langsung menoleh. “Pak, jangan percaya dia. Saya bukan gudang makanan gratis.”
Bu Wening tertawa kecil. Wajahnya masih pucat setelah kejadian di Alun Pedang Damokles, tetapi matanya sudah lebih tenang. Ia memakai syal tipis yang dibelikan Rakha kemarin dengan alasan “oleh-oleh sederhana”. Harga syal itu sama sekali tidak sederhana. Tri baru tahu setelah diam-diam memeriksa label pembayaran dan hampir ingin menggigit Rakha.
Rakha, seolah tahu dosa sendiri, berdiri paling belakang dengan ekspresi sopan.
Bu Wening menepuk lengan Tri. “Kalau ada masalah, kirim pesan. Jangan tunggu sampai baju sobek baru ingat pulang.”
Tri menunduk melihat lengan jaketnya.
Jahitan Bu Wening masih rapi di sana. Benang abu-abu menutup robekan lama. Setelah Titis Darah menahan cakar Bestia, bagian luar jaketnya malah makin berdebu, tetapi jahitan itu tetap bertahan.
“Saya akan kirim pesan,” kata Tri.
Pak Ilyas menyipit. “Bukan cuma kirim titik.”
“Saya kirim dua titik.”
“Tri.”
“Baik, Pak. Kalimat lengkap.”
Bu Wening tersenyum, lalu mengangkat tangan untuk merapikan kerahnya. Gerakannya pelan, seperti masih takut menyentuh luka yang tidak ada. Tri membiarkan. Seumur hidup, tidak banyak orang yang boleh merapikan kerahnya tanpa ia merasa ingin mundur.
“Kemarin,” Bu Wening berkata lirih, “Ibu dengar.”
Tri diam.
Di belakang mereka, Hendra pura-pura sibuk membaca jadwal dermaga. Rakha tiba-tiba sangat tertarik pada baut pagar. Pak Ilyas memalingkan muka, tetapi telinganya jelas mendengar.
Bu Wening tidak memaksanya menjawab. Ia hanya menepuk dada Tri sekali, tepat di atas kalung merah tempat Titis Darah disimpan.
“Jangan jadikan kata itu cuma untuk saat bahaya,” katanya.
Tenggorokan Tri terasa seperti menelan pasir Pasira mentah-mentah.
Ia bisa menghitung sudut lemah sambungan mecha, membaca pola gerak Bestia metalik, dan menaksir harga satu baut dari suara jatuhnya. Tetapi menghadapi mata Bu Wening yang lembut, seluruh rumus di kepalanya mendadak tidak berguna.
“Iya, Bu,” katanya pelan.
Bu Wening mengangguk.
Pak Ilyas mendengus, mungkin untuk menutup hidungnya yang memerah. “Jangan terlalu sering juga. Nanti dia manja.”
“Pak,” kata Tri.
“Apa?”
“Saya sudah lewat umur manja.”
“Orang yang kemarin bilang mau makan gratis kalau kami datang lagi tidak boleh bicara soal umur.”
Hendra tertawa keras.
Panggilan keberangkatan berbunyi. Bu Wening memeluk Tri sebentar. Pak Ilyas tidak memeluk, hanya memukul bahunya dua kali. Pukulan itu ringan, tetapi cukup untuk membuat sesuatu di dada Tri kembali ke tempatnya.
Ketika keduanya masuk ke gerbang, Tri tidak langsung pergi.
Ia berdiri sampai punggung Pak Ilyas dan Bu Wening hilang di lorong keberangkatan. Sampai layar dermaga menampilkan status kapal berubah dari naik penumpang menjadi siap lepas landas. Sampai kubah pelabuhan membuka celah dan cahaya putih mesin kapal menusuk matanya.
Kapal bintang itu naik.
Api birunya mendorong udara pelabuhan bergetar.
Tri menatap sampai titik cahaya itu menghilang di balik lapisan pelindung luar Pasira.
Baru setelah itu Kom di pergelangan Hendra berbunyi.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu semua layar iklan di pelabuhan ikut berubah.
Warna merah tua menelan papan informasi keberangkatan. Logo Media Saga muncul di tengah, tajam seperti noda darah yang sengaja dibuat indah. Di bawahnya, sebuah judul besar meluncur:
SERANGAN BESTIA DI JANTUNG DAMOKLES: KELALAIAN AKADEMI ATAU LATIHAN ILEGAL YANG GAGAL?
Di bawah judul itu ada rekaman Alun Pedang Damokles.
Bukan rekaman penuh.
Hanya potongan.
Titis Darah muncul di tengah kabut pemadam. Pedang Tri menebas Bestia. Batu plaza pecah. Warga berteriak. Lalu gambar berhenti tepat ketika salah satu mayat Bestia jatuh di depan lambang Akademi Damokles.
Tidak ada potongan ketika Bestia itu keluar dari tanah.
Tidak ada Bu Wening hampir tercabik.
Tidak ada Rakha membawa anak kecil ke sisi aman.
Tidak ada lapisan abu kehijauan di sendi bangkai.
Suara penyiar Media Saga terdengar tajam, halus, dan sangat puas.
“Publik Federasi kembali dikejutkan oleh insiden di Planet Pasira. Akademi Damokles, yang selama bertahun-tahun gagal mengembalikan kehormatannya di Turnamen Agni, kini menghadapi pertanyaan baru: seberapa aman akademi yang bahkan tidak mampu menjaga plaza sendiri?”
Hendra wajahnya langsung dingin.
Rakha mengangkat Kom, merekam layar.
Tri hanya memandangi kata “kelalaian”.
Kata itu murah.
Lebih murah dari cat mecha.
Tetapi kalau dilempar media besar, harganya bisa menghancurkan anggaran satu akademi, reputasi satu tim, dan masa depan siswa yang belum sempat masuk arena.
“Mereka cepat,” kata Rakha.
“Terlalu cepat,” jawab Hendra. “Berita begini tidak ditulis dalam satu malam kalau tidak ada bahan siap pakai.”
Kom Tri bergetar. Forum Kubus, Forum Akademi, kanal umum Damokles, semuanya meledak. Ada yang membela, ada yang mengejek, ada yang bertanya kenapa Bestia Bintang bisa muncul di dalam kota, dan ada akun anonim yang menulis kalimat sama berulang-ulang:
Damokles menyembunyikan eksperimen.
Damokles membawa Bestia ke kota.
Damokles membahayakan warga.
Tri membuka komentar itu satu per satu, lalu menyimpannya.
Hendra melirik. “Lo tidak mau maki?”
“Maki tidak bisa dipakai di sidang,” kata Tri.
Rakha menatapnya sebentar. “Lo mau bawa ke jalur resmi?”
“Kalau gue gebrak kantor Media Saga sekarang, besok judul mereka tinggal tambah satu kalimat: siswa Damokles menyerang pers.” Tri memasukkan Kom ke saku. “Mahal. Tidak efisien.”
“Kadang gue lupa lo miskin sampai strategi pun dihitung ongkosnya,” gumam Hendra.
“Strategi yang tidak hitung ongkos itu namanya gaya orang kaya.”
Rakha batuk pelan.
Tri menatapnya.
Rakha mengangkat tangan. “Saya belajar.”
Mereka kembali ke Akademi Damokles dengan wahana kampus yang bunyinya seperti kipas bekas. Di jalan, layar-layar kota masih memutar berita Media Saga. Beberapa warga melirik seragam mereka. Ada yang takut, ada yang sinis, ada juga yang diam-diam memberi gestur hormat kecil ketika mengenali Tri dari rekaman penyelamatan.
Tri mencatat semuanya.
Opini publik bukan satu suara. Ia seperti rangka mecha murah: terlihat satu bentuk, tetapi bautnya banyak dan setiap baut bisa longgar sendiri.
Di gerbang akademi, suasana lebih buruk.
Siswa berkumpul di bawah papan pengumuman. Tim disiplin berpatroli. Dosen-dosen berjalan cepat dengan wajah tegang. Di layar utama kampus, pemberitahuan resmi Federasi baru saja muncul:
PENGUMUMAN PENYELIDIKAN BERSAMA
Menimbang insiden Bestia Bintang termodifikasi di Planet Pasira, lima akademi militer akan mengirim perwakilan pemeriksa. Tim penyelidik gabungan akan tiba dalam waktu dekat.
Lima akademi.
Tri membaca daftar itu pelan di kepala.
Damokles sebagai pihak tempat kejadian. Kekaisaran yang selalu terlihat rapi. Prajna yang terkenal dingin. Nusa yang jauh di planet hujan. Samuel yang paling suka melihat Damokles tersandung.
Hendra mengusap wajah. “Mereka mengirim semua.”
“Bagus,” kata Tri.
Rakha menoleh. “Bagus?”
“Kalau cuma satu pihak, cerita gampang dibeli. Kalau banyak pihak, mereka saling curiga.” Tri melihat ke arah gedung utama. “Yang penting kita punya sesuatu sebelum mereka tiba.”
Mereka menuju ruang penyimpanan bukti sementara di sisi lapangan. Mayor Bara sudah ada di sana. Seragamnya masih berbau asap tipis. Di meja logam, sisa bangkai Bestia yang diambil dari plaza telah dipisah dalam kotak transparan.
Atau lebih tepatnya, yang tersisa dari bukti.
Lapisan abu kehijauan yang kemarin menempel jelas kini tinggal serpihan tipis. Beberapa bagian sendi sudah bersih, terlalu bersih, seperti ada tangan yang menggosoknya dengan alat khusus.
Tri berhenti di depan meja.
“Siapa yang menyentuh?”
Bara menatapnya. “Tim forensik kota, petugas keamanan, dua teknisi distrik, satu pengawas sipil.”
“Terlalu banyak tangan.”
“Itu prosedur setelah insiden publik.”
Tri mengambil sarung tangan, mengangkat satu pecahan sendi, lalu mendekatkannya ke cahaya. Ada bekas goresan mikro di bagian dalam. Bukan bekas pedangnya. Bukan retak akibat jatuh.
Bekas pembersihan.
Rapi.
Profesional.
“Mayor,” kata Tri, “kalau bukti hilang dalam prosedur, itu bukan prosedur. Itu jalan tol.”
Bara tidak marah. Biasanya ia akan menyuruh Tri berdiri tegak atau mengingatkan kredit-nilai. Kali ini wajahnya keras seperti dinding bunker.
“Aku tahu,” katanya.
Hendra mengangkat alis kecil. Rakha juga melihat Bara dengan pandangan baru.
Mayor Bara mengeluarkan kantong bukti kecil dari saku dalam. Di dalamnya ada serpihan abu kehijauan yang dibungkus kain.
Kain Tri.
Yang ia pakai kemarin untuk menyimpan potongan pertama.
“Aku pisahkan sebelum tim kota datang,” kata Bara. “Tidak banyak. Cukup untuk membuktikan ada lapisan buatan, belum cukup untuk membuktikan siapa.”
Tri menerima kantong itu.
Kali ini ia tidak bercanda soal harga kain.
“Terima kasih, Mayor.”
Bara menatap layar yang masih menampilkan kepala berita Media Saga. “Jangan berterima kasih dulu. Mulai besok, mereka akan menekan semua siswa yang ada di lokasi. Namamu muncul paling jelas.”
“Saya pakai mecha merah. Sulit tidak jelas.”
“Jangan cari ribut dengan media.”
Tri menyeringai tipis. “Saya anak baik.”
Hendra memalingkan wajah.
Rakha menutup mulut.
Bara menatap mereka bertiga satu per satu. “Aku serius.”
Senyum Tri hilang. Ia memasukkan kantong bukti ke dalam wadah peredam kecil yang dipinjam Rakha. “Saya juga serius. Kalau mereka pakai berita, kita pakai bukti. Kalau mereka pakai opini, kita pakai catatan waktu, rekaman asli, saksi, dan bekas pembersihan. Jalan resmi lebih lambat, tapi kalau sampai tujuan, pukulannya lebih mahal.”
Bara terdiam sebentar.
“Kau belajar dari mana?”
Tri menunjuk Hendra. “Teman saya kapitalis.”
“Hei,” kata Hendra. “Gue tersinggung karena akurat.”
Angin Pasira menghantam jendela ruang bukti. Di luar, langit mulai gelap. Lampu-lampu Akademi Damokles menyala satu per satu, seperti mata mecha tua yang dipaksa bangun sebelum perang.
Kom Bara berbunyi.
Ia membaca pesan, lalu rahangnya mengeras.
“Tim penyelidik maju jadwal,” katanya. “Mereka tiba besok pagi.”
Hendra menghela napas. “Media Saga membuka jalan, penyelidik datang di belakang. Rapi sekali.”
Tri melihat kepala berita merah di layar, lalu kantong bukti kecil di tangannya.
Kapal yang membawa Pak Ilyas dan Bu Wening sudah jauh dari Pasira. Untuk beberapa jam tadi, ia hampir merasa bisa bernapas sebagai anak yang melepas orang tua pulang.
Sekarang kota ini kembali menagih.
Bara mematikan layar dengan satu sentuhan.
Ruangan menjadi lebih sunyi.
“Simpan baik-baik,” kata Bara. “Ada yang tidak ingin kita tahu siapa yang melepas Bestia itu.”