"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Bayangan Di Luar Pagar
Langkah kaki rombongan SMA Fujimi terdengar begitu berat saat mereka perlahan terseret menjauhi gerbang utama Fortress Mansion. Cahaya lampu sorot yang benderang mengiringi kepergian mereka dengan dingin, menyinari keputusasaan yang terukir jelas di wajah setiap penyintas.
Takashi Komuro berjalan paling depan, membelakangi benteng baja itu dengan rahang terkatup rapat. Di dalam dadanya, rasa cemburu dan dendam membakar hebat. Ia tidak hanya merasa dipermalukan di hadapan wanita yang di sukainya yaitu Rei Miyamoto dan Saeko Busujima, tetapi juga dipaksa menerima kenyataan pahit: pria asing yang mereka usir dari bus kini hidup bagaikan raja di atas bukit, sementara ia—sang "pahlawan" yang sok memimpin—bahkan tidak mampu memberi sepotong roti pun untuk gadis yang disukainya.
"Takashi... kita mau ke mana sekarang?" bisik Rei Miyamoto dengan suara bergetar. Tangannya cemas meremas ujung seragamnya yang kotor. Matanya beberapa kali melirik ke belakang, menatap benteng kokoh Thomas dengan binar kerinduan yang tak mampu ia sembunyikan.
"Kita cari tempat berlindung lain di bawah lereng," jawab Takashi kasar, berusaha menutupi getar di suaranya. "Pria itu cuma manusia egois! Dia tidak akan bertahan lama sendirian!"
Namun, ucapan Takashi terdengar begitu hampa. Bahkan Saya Takagi yang biasanya paling vokal pun hanya diam membisu, meraba kacamatanya yang retak sembari mengutuki kebodohan mereka sendiri.
Di dalam ruang kontrol, Thomas berdiri membelakangi deretan monitor, memegang segelas jus buah semangka dingin yang lezat dan bergizi.
(Aduh jadi pengen Jus Semangka)
Melalui layar kamera termal, ia memperhatikan pergerakan rombongan itu yang mulai mendirikan kamp sementara di sebuah pondok kayu yang beberapa tahun lalu di gunakan oleh seorang pemotong kayu yang ingfonya sudah meninggal karena penyakit langka dan tidak tersembuhkan yaitu penyakit Kanker Pantat sehingga menyebabkan pondok kayu itu sudah lama terbengkalai, sekitar lima ratus meter di luar perimeter luar bentengnya.
Pondok kayu itu sangat rapuh. Dindingnya berbahan papan tipis, paku-pakunya sudah berkarat, dan tidak memiliki pintu baja atau barikade yang memadai.
"Memilih bertahan di dalam kotak kayu di tengah hutan pegunungan..." gumam Thomas sembari menggelengkan kepala pelan. "Keputusan yang sangat amatir."
Thomas melangkah menuju area bengkel senjata (workshop). Ia meletakkan gelasnya, lalu mengambil sebuah kotak kayu berlapis beludru di atas meja kerja. Saat dibuka, di dalamnya terbaris tiga buah Kristal Zombie Tier 1—dua didapatkan dari zombie hewan darat yang ia bantai di sekitar lereng, dan satu dari zombie manusia bermutasi khusus yang memiliki kelenturan fisik tak wajar.
Meskipun ia sudah menyerap satu kristal sebelumnya dan mencapai Evolusi Tier 1, Thomas tahu bahwa untuk melangkah ke Tier 2, ia membutuhkan akumulasi energi yang jauh lebih murni dan pekat.
"Pondok kayu di bawah sana tidak akan bertahan melewati malam ini," analisis Thomas dingin.
Ia memegang salah satu kristal keunguan itu, meresapi getaran hangat yang terpancar dari permukaannya.
"Ketika bau keringat, ketakutan, dan sisa makanan mereka memancing zombie-zombie hutan, saat itulah perburuan yang sesungguhnya akan dimulai."
Thomas menyarungkan kembali machete baja perisainya ke paha kanan, memperketat ikatan sepatu bot militernya, dan mematikan lampu ruang kontrol. Di dalam kegelapan bentengnya yang megah, mata Thomas berkilat tajam bagaikan mata seekor predator yang sedang menunggu mangsanya masuk ke dalam perangkap.