Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketulusan Keluarga
Ucapan telak itu membuat rahang Evan mengeras seketika. Harga diri seorang CEO Negara Group yang terbiasa diagung-agungkan, dipuja, dan ditakuti oleh para bawahannya, mendadak runtuh seketika di hadapan istri yang selama ini dianggapnya paling lemah dan penurut.
"Rafa!" bentak Evan dengan suara bariton yang berat, geram karena harga dirinya diinjak-injak di depan wanita selingkuhannya. "Jaga mulutmu! Jangan merasa paling tersakiti di sini!"
Sebelum Evan sempat melangkah lebih dekat, Zaskia Mulandari menyela dengan tawa kecil yang terdengar sangat menyebalkan. Wanita itu sengaja melangkah maju, merapatkan posisinya di sisi Evan, lalu menatap Rafa dari atas ke samping dengan pandangan mengejek dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Ih, Ev, lihat deh gayanya. Masih saja sok jual mahal padahal sudah diusir secara tidak hormat," cibir Zaskia dengan nada manja yang dibuat-buat, sengaja menaikkan volume suaranya agar terdengar menyakitkan. "Sudah tahu mandul, tidak bisa memberikan keturunan, kuno lagi! Model kayak kamu ini, Rafa, di luar sana sudah tidak laku! Makanya, maklum saja kalau dia ngotot mau bertahan, karena kalau bukan karena uang pesangon perceraian dari Evan, kamu pasti bakal mati kelaparan di kolong jembatan!"
Zaskia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tertawa kecil penuh kemenangan. "Wanita mandul dan kuno sepertimu itu cuma cocok jadi babu, bukan jadi istri CEO kaya raya!"
Provokasi murahan yang dilontarkan Zaskia itu berhasil mencapai tujuannya. Nena Apriandini yang mendengar kalimat tersebut langsung mendongakkan kepalanya, lalu melepaskan tawa membahana yang memenuhi seluruh sudut ruangan penthouse.
Ha-ha-ha-ha-ha!
Tawa Nena terdengar begitu memuakkan, melengking tinggi tanpa jeda, merayakan kehancuran martabat Rafa dengan cara yang paling biadab. Nena merasa di atas angin, merasa bahwa kemenangan mutlak berada di pihak mereka malam itu. Di mata Nena dan Zaskia, Rafa hanyalah seekor semut kecil yang bisa diinjak kapan saja tanpa ada perlawanan berarti.
****
Namun, di balik diamnya Rafa, badai besar sedang berputar. Rafa sama sekali tidak menangis lagi. Air matanya telah habis, berganti dengan ketenangan yang mengerikan. Ia tahu persis siapa Zaskia Mulandari. Ia juga tahu persis rahasia-rahasia busuk di balik gemerlapnya kekayaan Negara Group yang selama ini ia bantu tutupi dengan tangannya sendiri.
Empat tahun lamanya Rafa menjadi bayang-bayang di balik kesuksesan Evan. Selama itu pula, ia menyimpan seluruh dokumen penting, laporan keuangan, hingga catatan transaksi rahasia perusahaan yang tidak diketahui oleh siapa pun—bahkan oleh Nena maupun Evan sendiri.
"Kalian boleh tertawa sepuas hati kalian sekarang," ucap Rafa dengan suara pelan namun terdengar sangat jelas di tengah bisingnya tawa merendahkan mereka. "Karena tawa itu tidak akan bertahan lama. Nikmati sisa-sisa malam kemewahan ini, karena apa yang kalian miliki hari ini... akan segera menjadi abu."
Nena menghentikan tawanya sejenak, menatap Rafa dengan tatapan jijik yang teramat sangat. "Banyak bicara! Cepat ambil barang-barang rongsokanmu dan enyah dari pandanganku sekarang juga! Jangan sampai aku panggilkan petugas keamanan gedung untuk menyeretmu keluar seperti anjing kudisan!"
Evan melipat tangannya di dada, menatap dingin ke arah pintu keluar, mengisyaratkan bahwa ia sependapat dengan ibunya. Tidak ada kata maaf, tidak ada sisa cinta, yang tersisa hanyalah kebencian mutlak dan pengusiran yang keji.
****
Rafa membalikkan tubuhnya perlahan. Langkah kakinya terasa begitu ringan, sama sekali tidak menunjukkan keputusasaan seperti yang mereka harapkan. Ia berjalan menuju kamar tidur utama untuk mengambil beberapa barang pribadinya, meninggalkan ketiga orang itu yang kembali terbahak-bahak merayakan kemenangan semu mereka.
Di dalam kamar yang dulu ia urus setiap hari dengan penuh cinta kasih, Rafa membuka koper kecilnya. Ia tidak mengambil pakaian mewah atau perhiasan mahal pemberian keluarga Wirya Negara. Ia hanya mengambil sebuah flashdisk hitam kecil yang tersimpan rapat di dalam brankas dinding rahasia—sebuah benda kecil yang berisi seluruh bukti aliran dana ilegal, penggelapan pajak, dan dokumen rahasia korupsi tingkat tinggi yang dilakukan oleh Evan Wirya Negara demi memperkaya Negara Group secara curang.
Rafa menggenggam flashdisk itu erat-erat di dalam genggaman tangannya. Senyum tipis terukir di bibirnya, dingin dan mematikan.
"Kalian mengusir wanita mandul dan miskin ini tanpa apa-apa," bisik Rafa pelan pada dinding kamar yang sunyi. "Tapi kalian lupa... bahwa wanita inilah yang memegang kunci kehancuran kerajaan bisnis kalian."
Dengan langkah pasti, Rafa menyeret koper kecilnya keluar kamar, meninggalkan penthouse megah itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Malam itu, babak baru dalam hidup Rafa Sasmita resmi dimulai—bukan lagi sebagai istri yang mengabdi pada suami yang salah, tetapi sebagai algojo yang siap meruntuhkan imperium Negara Group hingga ke akar-akarnya.
****
Taksi online yang ditumpangi Rafa berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau pudar di sebuah gang perumahan padat penduduk di kawasan pinggiran kota. Lampu teras rumah itu sudah padam, menunjukkan bahwa waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam lewat.
Rafa membuka pintu mobil, menarik koper kecilnya keluar, dan mengucapkan terima kasih kepada sang pengemudi sebelum mobil itu melaju pergi meninggalkan debu tipis di bawah lampu jalan yang temaram.
Ia berdiri sejenak di depan pintu pagar besi yang catnya sudah mulai mengelupas. Rumah ini adalah tempat ia dibesarkan sebelum memutuskan untuk melepas seluruh mimpi masa mudanya demi menikah dengan Evan Wirya Negara—seorang pria yang ia sanjung sebagai pangeran, namun ternyata berwujud iblis berdarah dingin.
Rafa menarik napas dalam-dalam, mencoba menata napas dan ekspresi wajahnya agar tidak terlalu terlihat hancur. Ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya terkejut atau jantungan di tengah malam seperti ini. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengetuk pintu kayu rumah tersebut pelan.
Tok... tok... tok...
"Sebentar..." suara serak seorang wanita paruh baya terdengar dari balik pintu, disusul suara gesekan sandal jepit di lantai keramik.
****
Pintu terbuka perlahan. Sosok Bu Armayani, wanita berusia akhir enam puluhan dengan rambut yang mulai memutih di bagian atas muncul di balik celah pintu. Ia mengenakan daster batik lusuh kesayangannya dan kacamata baca yang masih menggantung di tali lehernya. Bu Arma adalah seorang pensiunan guru SMA negeri yang dikenal tegas, disiplin, namun memiliki kelembutan hati yang luar biasa bagi anak-anak didiknya.
Kening Bu Arma langsung berkerut dalam, garis-garis keriput di wajahnya menampakkan keheranan yang amat sangat saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya tengah malam begini.
"Rafa?" gumam Bu Arma, matanya mengerjap beberapa kali seolah tidak percaya. Pandangannya turun ke bawah, mendapati sebuah koper besar berdiri di samping kaki putrinya. "Ya Allah, Nak... Kenapa malam-malam begini kamu ke sini? Sendirian pula? Mana Evan? Kenapa tidak diantar?"
Sebelum Rafa sempat membuka mulut untuk menjawab, suara derap langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah ruang tengah. Pak Pamuji, ayah Rafa yang mengenakan kaos oblong putih dan celana piyama kain, muncul dengan wajah cemas. Pria paruh baya bertubuh kurus namun tegap itu langsung menghampiri pintu depan.
"Ada apa ini? Siapa yang datang malam-malam, Bu?" tanya Pak Pamuji dengan suara baritonnya yang tenang namun tegas. Begitu melihat sosok putrinya berdiri mematung dengan mata sembab dan sudut bibir yang sedikit membiru, Pak Pamuji langsung tertegun. "Rafa? Astaga, Nak! Ada apa dengan wajahmu? Kenapa pipimu lebam begitu?!"
Suara panik sang ayah langsung memecah pertahanan terakhir di dalam diri Rafa. Genangan air mata yang sedari tadi ditahannya mati-matian akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Namun, kali ini bukan tangisan lemah, melainkan air mata kelegaan karena ia kini berada di pelukan orang-orang yang tulus mencintainya tanpa syarat.