TERSEDIA VERSI CETAK
Penny Patterson, sang detektif wanita berjuang menyelidiki kebenaran dibalik berbagai misteri dan kekacauan di kota asalnya, yaitu kota Magnolia, merupakan salah satu kota terdamai di dunia. Bersama rekan tim andalannya menyelidiki beberapa kasus dihadapinya penuh teka-teki.
Di tengah penyelidikannya, Penny selalu didukung, dibantu, dan dilindungi oleh Adrian Christopher, sang jaksa tampan dan cerdas sangat diandalkannya sejak pertama kali berhubungan sebagai partner kerja baik.
Dibalik suasana penuh ketegangan, Penny merasa partner kerjanya memperlakukannya bukan seperti sebatas partner kerja atau sahabat istimewa. Melainkan seperti menginginkan hubungannya lebih dari itu.
Apakah Penny, Adrian, dan rekan timnya berhasil memecahkan semua kasus mereka hadapi? Apakah Adrian sungguh memiliki perasaan istimewa terhadap partner kerjanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocollacious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27 - I'm Right Here For You
Aku mendengar suara langkah kaki Pak Colin tiba-tiba. Suara langkah kaki itu semakin keras dan ia semakin mendekatiku sambil menggenggam sebuah pisau. Tidak hanya itu juga, aku melihat ia menyandera semua orang terdekatku yaitu ayah, ibu, paman Randy, Adrian, Nathan, dan Tania.
"Kalau Anda mau selamatkan semua orang terdekat Anda, sebaiknya menyerahlah sebelum saya menghabisi mereka semua!" ancam Pak Colin menodongkan pisau ke arah mereka semua.
"Saya mohon jangan sakiti mereka," bujukku menangis pecah.
Pak Colin membunuh mereka semua kejam dalam sekejap hingga tubuhku terjatuh lemas merinding ketakutan melihatnya. Pak Colin mendekatiku sambil mengayunkan pisaunya mengarahku dan menahanku supaya tidak bisa melarikan dirinya.
"TIDAK!!" teriakku menjerit.
"Penny, bangunlah!"
Mendengar suara teriakan Adrian barusan, aku langsung terbangun dari mimpi burukku membuka kedua mataku dengan napas tersengal-sengal. Sorot mataku terfokus pada tangan kiriku digenggam Adrian dari tadi. Ia mengambil sapu tangannya untuk menyeka keringat dingin yang melekat pada wajahku.
"Adrian, kamu masih hidup rupanya," desisku dengan pandangan berbinar.
"Tentu saja aku masih sehat, Penny. Kamu pasti bermimpi buruk sampai wajahmu sangat pucat dan berkeringat dingin." Adrian mencemaskanku sambil terus mengusap keringatku.
Mimpi buruk yang baru kualami membuatku masih merinding ketakutan walaupun sedikit lega melihat Adrian dalam kondisi sehat di hadapanku.
Spontan Adrian memelukku erat, menenangkanku sekarang sambil menepuk punggungku. "Penny, kamu tidak perlu takut lagi. Ada aku yang akan selalu menemanimu setiap saat."
"Aku ... takut, bagaimana jika mimpiku menjadi kenyataan? Semua orang terdekatku dibunuh Pak Colin."
"Itu hanya mimpi, tidak mungkin terjadi. Aku sangat yakin kita bisa menangkapnya secepat mungkin sebelum banyak orang menjadi korban," sangkal Adrian percaya diri.
Aku mengamati sekelilingku seperti berada di sebuah kamar dengan kebingungan. "Omong-omong, aku ada di mana ini? Bukankah terakhir kali aku berada di ruang kerja."
"Ini kamar tamu. Semalam kamu tertidur di pundakku."
Mataku terbelalak teringat kejadian semalam saat aku hampir ketiduran, aku bisa merasakan kehangatan pundak Adrian. Aku tersipu malu memalingkan mataku darinya. Seumur hidupku, aku tidak pernah melakukan hal memalukan begini, apalagi tertidur pulas di pundak pria.
"Adrian, aku tidak--"
Adrian tertawa kecil. "Tidak apa-apa, Penny. Kepalamu bersandar pada pundakku tidak masalah bagiku. Kamu terlihat kelelahan semalam sampai ketiduran. Maka dari itu, aku menggendongmu ke kamar ini supaya kamu tidurnya nyaman."
Pipiku mulai merah merona setelah mendengar penjelasannya padaku. Terutama ia sempat menggendongku sudah seperti kekasihnya. "Badanku pasti berat, maafkan aku."
Adrian menggenggam tangan kiriku. "Omong-omong, aku sudah buatkan sarapan untuk kita. Mari sarapan dulu!"
Namun, aku menolak ajakannya langsung melepas sentuhan tangannya. Mengingat penampilanku selalu berantakan setiap bangun tidur. "Adrian, bolehkah kamu meninggalkanku sebentar? Aku ingin merapikan diriku dulu."
"Baiklah kalau begitu aku menunggumu di ruang makan." Adrian menepuk pundakku lalu meninggalkanku sendirian.
Aku beranjak dari ranjang langsung menghampiri cermin sambil merapikan rambutku berantakan. Selalu saja kebiasaan burukku tidak bisa diubah. Tadi sebenarnya aku sangat malu di hadapannya apalagi dengan penampilanku berantakan begini pasti ia menertawaiku. Pasti Adrian menganggapku sebagai wanita berantakan di matanya.
Tanpa perlu berlama merapikan penampilanku, aku bergegas melangkah keluar dari kamar menuju ruang makan.
Aku membulatkan mataku mengamati berbagai macam lauk dan sayuran yang dimasaknya. Bahkan ibu jarang memasak variasi lauk di saat pagi hari. "Kamu yang memasak ini semua?"
Adrian menunduk malu sambil memberikan sendok dan garpu untukku. "Sebenarnya aku sudah mahir memasak sejak beberapa tahun yang lalu. Belakangan ini aku jarang memasak dan sering makan makanan di luar. Tapi karena kamu sudah datang ke sini jadi aku memasaknya untuk kita berdua."
"Aku penasaran rasa masakanmu seperti apa," ucapku langsung mengambil sendokku mencicipi sup asparagus.
Hatiku terasa berbunga mencicipi sup ini. Bahkan aku ingin menangis terharu sekarang karena bagiku sup ini yang terbaik di antara semua sup yang pernah kucoba. Rasanya sangat pas bahkan ibuku kalau memasak sup tidak selezat ini.
Adrian memajukan kepala. "Bagaimana rasanya?"
"Mmm ini sangat lezat! Kamu memang sangat mahir dalam hal apa pun," pujiku mengacungkan jempol padanya.
"Aku sangat lega kamu menyukai masakanku. Ayo lanjutkan makannya!"
"Aku yakin sekali kalau kamu sudah menikah nanti, pasti istrimu akan semakin mencintaimu karena kamu pria sempurna."
Yang pasti aku tidak terlalu berharap menjadi istrinya suatu hari nanti. Karena standar Adrian pasti sangat tinggi dalam hal memilih pasangan hidup.
Lupakan soal istri. Aku sebagai sahabatnya merasa tidak enak karena sudah merepotkannya di pagi hari.
Aku berhenti sejenak menundukkan kepalaku. "Adrian, maafkan aku telah merepotkanmu sejak kemarin. Karena aku, kamu jadi repot memasak banyak makanan begini."
Rona merah menyala pada pipinya, sebenarnya sejak mendengar persoalan pernikahan, tapi ia tidak berani menjawab karena ia sendiri belum memikirkan sampai sana. "Tidak apa-apa, Penny. Justru berkatmu sekarang aku tidak kesepian menikmati sarapan. Ini pertama kalinya aku sarapan bersama sahabat setiaku di kediamanku sendiri."
Kami saling tertawa lepas dan berbincang santai sambil melanjutkan menghabiskan sarapan. Aku juga ingin menikmati momen pertama kali sarapan bersamanya di kediaman ini. Jauh lebih nyaman dibandingkan aku dimarahi ibu hampir setiap pagi.
Setelah sarapan, aku bergegas berangkat ke kantor. Setibanya di sana, aku mengajak Tania dan Nathan ke ruang rapat untuk melanjutkan penyelidikannya.
"Ada apa lagi, Penny?" tanya Nathan mulai penasaran.
"Kita harus mengecek rekening bank Pak John dan Pak Colin. Pasti Pak Colin sering pergi ke bank melakukan penarikan uang tunai dan memberikan uang suap kepada Pak John," sahutku mulai fokus pada rapat.
"Tugas itu serahkan saja padaku," patuh Nathan bersemangat.
"Lalu, apakah ada sesuatu yang mencurigakan lagi di laci meja Pak John?" tanyaku menatap Tania.
"Aku sudah mencari lagi di seluruh lacinya dan tidak ada lagi sesuatu yang mencurigakan," jawab Tania datar.
Aku berpikir kritis sambil memainkan pulpen. "Dengan terpaksa, kita harus menerobos masuk rumah Pak John di saat dia sedang keluar rumah."
"Apa kamu tidak bisa berpikir lebih jernih, Penny? Mana mungkin kita bisa masuk ke rumahnya begitu saja?" omel Tania menaikkan nada bicaranya satu oktaf sambil berkacak pinggang.
"Kita harus memancingnya supaya dia keluar dari rumahnya dalam waktu yang lama."
Dahi Nathan berkerut. "Tapi bagaimana cara kita memancingnya keluar dari rumahnya?"
"Aku punya ide yang cemerlang!" Tania membisikkan idenya padaku dan Nathan mengenai rencananya.
Strategi yang disusun kami bertiga sudah terlihat sempurna sekarang. Setibanya di rumah Pak John, Tania menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya pelan mempersiapkan mentalnya dulu.
Ding...dong...
Tania menekan tombol bel rumah Pak John dengan tangan sedikit gemetar.
Pak John langsung membuka pintu rumahnya. "Kenapa kamu mengunjungi rumahku tiba-tiba?"
Tania terburu-buru menyeret Pak John. "Kami menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kamu harus ikut dengan saya sekarang."
"Tunggu! Kamu harus bersabar, Tania! Memangnya Penny tidak pergi ke sana? Bukankah biasanya dia yang paling antusias kalau menemukan hal yang mencurigakan?" tanya Pak John dengan curiga melihat tingkah Tania tidak seperti biasanya.
"Penny sedang demam jadi dia hari ini tidak masuk kerja. Ayo Pak John, ikut dengan saya sekarang! Kasihan Nathan sendirian di sana," rengek Tania seperti anak kecil.
Di tengah perbincangan Tania dan Pak John, aku dan Nathan keluar dari mobil tanpa menimbulkan sedikit suara langkah kaki lalu bersembunyi di balik semak-semak dulu.
Pak John mendesah pasrah mengikuti Tania. "Baiklah, mari kita ke sana sekarang!"
Setelah Pak John sudah tidak menampakkan dirinya di luar rumah, aku dan Nathan memulai aksi untuk mencari benda mencurigakan yang disembunyikan Pak John di dalam rumahnya.
Aku dan Nathan memakai sarung tangan karet dulu sambil mendatangi rumah Pak John. Karena tadi Pak John lupa mengunci rumahnya akibat Tania panik tadi sehingga kami berdua bisa memasuki rumahnya dengan mudah.
Rumah ini sangat berantakan dan banyak sampah berserakan di mana pun. Ini akan memakan waktu yang cukup banyak untuk mencarinya.
"Ini rumah atau kandang hewan? Bahkan kamarku jauh lebih rapi daripada rumah ini," sindir Nathan tertawa puas sambil menggelengkan kepala.
"Aduh, kamu fokus kerja saja!" omelku menjitak. kepalanya.
Aku terus mencari benda mencurigakan di laci dan di mana pun menelusuri setiap titik ruangan rumah ini. Pada akhirnya aku menemukan buku rekening Pak John di laci meja kamar. Aku membuka lembaran bukunya satu per satu halaman hingga mataku terbelalak mengamati nominal yang tertera.
Sementara Nathan baru memasuki kamar Pak John langsung membuka tas besar berisi lembaran uang kertas. "Wah, banyak sekali uangnya di sini!"
"Nathan, coba lihat ini deh!" Aku memperlihatkan buku rekeningnya pada Nathan.
Mata Nathan terbelalak ketika melihat nominalnya. "Ternyata dia sangat kaya. Saldo rekeningnya banyak sekali."
"Tapi ada sesuatu yang aneh di sini. Kenapa dia mentransfer uang dengan nominal yang sangat banyak ke nomor rekening yang ini?" tanyaku sambil menunjuk nomor rekeningnya.
Nathan bertopang dagu. "Mungkin rekening orang tuanya? Siapa tahu dia ingin berbakti pada orang tuanya."
"Kalau mau berbakti kepada orang tuanya, dia tidak mungkin mentransfer jumlah sebesar ini. Kita harus mencari tahu ini lebih dalam lagi," bantahku sambil memotret buku rekening.
"Kita harus segera pergi dari sini. Tania dan Pak John pasti segera kembali ke sini. Ayo kita membereskan semuanya seperti semula," usul Nathan terburu-buru mengembalikan barang di laci yang berserakan seperti semula.
Selesai merapikan barang yang di laci, aku dan Nathan bergegas keluar dari rumah Pak John. Untung saja kami sempat keluar dari sana.
Tak lama setelah kami keluar, Tania dan Pak John kembali. Wajah Tania terlihat sangat murung seperti habis dimarahi Pak John.
"Lain kali sebelum mengajak saya, hubungi Nathan dan pastikan terlebih dahulu. Jadinya saya tidak perlu repot mengikutimu seperti orang bodoh ke sana dan membawa pulang dengan tangan kosong!" hardik Pak John memelototi Tania tajam.
Tania menunduk lesu. "Iya maaf, Pak John. Lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Kalau begitu cepat pergi sana! Aku ingin beristirahat saja tidak bisa," gerutu Pak John memasuki rumahnya dan membanting pintu rumahnya kasar.
Tania langsung berlari menuju mobilku dengan raut wajah bahagia sambil bernapas lega. "Akhirnya tugasku selesai bersandiwara di hadapannya."
"Wah, kamu memang pandai berakting, Tania!" puji Nathan bertepuk tangan.
"Maaf ya aku telah membuatmu repot, Tania. Kamu pasti dimarahi Pak John sampai telingamu panas," sesalku.
"Tidak masalah. Ini demi pekerjaan juga. Omong-omong apakah kalian berhasil menemukan sesuatu?"
"Aku menemukan buku rekening Pak John dan dia sering mentransfer uang dengan nominal yang sangat banyak ke nomor rekening ini," jawabku sambil memperlihatkan foto buku rekeningnya.
Tatapan Tania terfokus pada layar ponselku. "Mungkin dia sengaja memberikan uang secara sukarela kepada orang lain. Tidak mungkin dia menyimpan uang yang sangat banyak di tabungannya. Pasti ketahuan nanti dia melakukan penggelapan uang."
"Kalau aku jadi dia sih lebih baik uangnya untuk belanja sesuatu yang mahal," sindir Nathan sambil tertawa puas.
"Pasti ada sesuatu tersembunyi dengan pemilik nomor rekening ini. Kita harus mencari tahu siapa pemilik nomor rekening ini," usulku.
Semua terdiam dan memikirkan kira-kira siapa pemilik nomor rekening itu. Yang pasti pemilik nomor rekening itu bukan Pak Colin.
Semoga semakin sukses ya Kakak..🥰