Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
".. Sejuta pesona menghampiriku, namun itu bukan apa-apa dibandingkan kesetiaan dan ketulusanmu.. "
***
Raihan fokus menyetir motornya, sedangkan Shica yang duduk dibelakangnya terdiam.
Mungkin dia masih syok dengan kejadian barusan. Raihan melirik melalui kaca spionnya.
Shica memang masih terdiam dengan air mata bercucuran.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Mengantarnya pulang ke rumahnya?
Tidak itu bukan pilihan yang bagus, bagaimana jika keluarga besar Mahali mencincangku dan memulangkanku dalam keadaan sudah menjadi mayat. Yang ada nanti aku tinggal nama" batin Raihan.
"Itu mengerikan. Apa aku harus membawanya pulang kerumah? Itu lebih baik, tapi bagaimana jika keluarganya mencemaskannya?" batin Raihan.
"Raihan, bawa aku pulang ke rumahmu saja" kata Shica dengan suara bergetar. Seolah dia membaca fikiran Raihan.
"Kau yakin? " tanya Raihan. "Iya" jawabnya. "Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Apalagi kakakmu? " tanya Raihan lagi.
"Aku bisa menanganinya" jawab Shica mantap.
Sesampainya dirumah Raihan, Riska memberondong Raihan dengan berbagai macam pertanyaan.
Raihan pun menceritakan semuanya pada Riska. Lala sudah tertidur. Rizal masih bekerja di pabrik. Sementara Shica sedang menghubungi orangtuanya.
"Jadi begitu? " Riska menghela napas berat. "Aku kesal sekali padanya" gerutu Raihan.
Shica menelepon Ayahnya "Papa, aku sedang menginap dirumah teman. Ada tugas yang benar-benar susah. "
"Kapan kamu akan pulang nak? Ibumu menghawatirkanmu" kata Ridan dirumahnya.
"Besok sepulang sekolah aku akan pulang" jawab Shica.
"Bagaimana jika Regar menjemputmu saja? " tanya Ridan.
"Emm tidak usah. Aku sudah besar Papa, aku akan menjaga diriku" jawab Shica.
Raihan menguping. "Dia bahagia sekali ada orangtua yang selalu memperhatikannya. Sedangkan aku? Bahkan aku tidak tahu apakah mereka masih memikirkanku? " batin Raihan.
Shica menoleh melihat keberadaan Raihan. "Aku sudah bilang pada Papaku" kata Shica.
"Iya tidurlah dikamarku" kata Raihan.
Shica bagaikan tersambar petir. "Apa? Kau tidak ikhlas menolongku? Hingga sekarang kau meminta aku untuk melayanimu? " tanya Shica yang akan menangis lagi.
Raihan mengerutkan dahinya. "Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh gadis ini? Apa dia berpikir kalau aku memintanya tidur denganku? Dan melayaniku malam ini? Yang benar saja" batin Raihan.
"Hh kau pikir aku tidak kesulitan masuk ke rumah si cebol itu? Aku ingin sekali merasakan tubuhmu ya setidaknya aku normal" kata Raihan mencoba mengerjai Shica.
Air mata Shica mengalir. "Semua laki-laki sama saja" tangisnya.
Raihan tersenyum nakal. Dia menyentuh kedua bahu Shica yang gemetar ketakutan.
"Ayo kita menghabiskan malam ini bersama.. Anggap saja itu balasanmu padaku yang sudah susah payah menyelamatkanmu dari laki-laki berengsek itu " kata Raihan.
Shica menatap Raihan dengan tatapan sedih penuh kekecewaan. Raihan tersenyum kemudian dia tertawa.
"Sudahlah, aku hanya becanda. Maksudku, kau tidur dikamarku dan aku tidur diruang tengah " kata Raihan.
"Kau menyebalkan sekali mengatakan kata-kata vulgar itu di depan perempuan, dasar orang gila!! Tidak punya malu!! " teriak Shica sambil mencubit pinggang Raihan.
Tapi dengan cepat, Raihan memegang kedua tangan Shica. "Lepaskan aku orang gila" gerutu Shica.
"Iya dengan senang hati aku akan melepaskan pakaianmu" kata Raihan dengan tatapan nakalnya.
"Maksudku lepaskan cengkramanmu itu" gerutu Shica.
Raihan tersenyum. "Jangan takut padaku. Aku tidak akan menyakitimu" kata Raihan.
Raihan pun berlalu.
"Raihan " panggil Shica.
Raihan menoleh.
"Terimakasih" kata Shica.
Raihan tersenyum. "Sama-sama, jika ada sesuatu, teriaklah dan lempar botol ini ke pintu kamar ya" kata Raihan.
Shica menerima botol tupperware itu. "Iya" jawab Shica.
"Aku akan diluar sini" kata Raihan.
Shica memasuki kamar Raihan yang terlihat rapi. Shica merebahkan dirinya ke ranjang.
Dia melihat ada buku terbuka dimeja belajar. Diapun meraihnya dan membacanya.
Ibu ayah, kalian dimana? Aku tahu jakarta sangat luas, tapi apakah kalian masih mengingatku? Apa kalian selalu memikirkanku? Aku ingin bertemu kalian. 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Aku merindukan kalian, tapi aku juga benci kalian!!
Raihan Alfarizi
Shica terlihat sedih "ternyata laki-laki juga punya buku harian" batin Shica.
Dia membuka lembaran selanjutnya.
Kebencianku padanya membuatku lupa.. Aku ingin menebus kesalahan dia dengan dirimu.. Aku membenci dia dan berusaha membencimu.. Semakin aku membencimu.. Namun , Aku semakin mencintaimu.. Kau pergi begitu saja meninggalkanku dan aku merasa bersalah.. Merasa sedih.. Merindukanmu.. Aku ingin menghabiskan waktuku lebih lama bersamamu
Raihan Alfarizi
Shica tampak berpikir.
"Diary yang ini di tulis 2 tahun yang lalu.. " gumam Shica.
Setelah membaca beberapa lembar buku harian Raihan, Shica memilih untuk tidur.
Tak membutuhkan waktu lama, deru napas Shica sudah teratur.
Shica tertidur pulas, tiba-tiba, seekor kucing menghampirinya. Perlahan mata Shica terbuka dia terkejut melihat kucing itu.
"Aaaaaa!!! " teriak Shica. Raihan terhenyak dan segera membuka pintu. Shica meraih botol dan melemparnya ke pintu. "Ctrak" dan mengenai dahi Raihan yang sudah membuka pintu.
"Aww" ringis Raihan. "Kau kenapa Shica? " tanya Raihan.
"Ada kucing" ringis Shica. Raihan mengambil kucing itu keluar. "Dengan kucing saja takut" kata Raihan.
"Aku tidak suka kucing" gerutu Shica.
"Aduh dahiku sakit sekali" gerutu Raihan sambil memegang dahinya.
Shica merasa bersalah. Dia pun menghampiri Raihan dan menyentuh dahi Raihan yang membenjol.
"Aduh.. Sakit tahu" gerutu Raihan.
"Mana aku tahu" jawab Shica dengan polosnya.
Raihan mendengus kesal. "Seharusnya kau lempar botolnya dulu kemudian berteriak " gerutu Raihan.
"Orang panik tidak akan sempat berpikir " gerutu Shica yang masih membelai dahi Raihan dengan lembut.
Raihan memegang tangan Shica. Otomatis Shica berhenti membelai dahi Raihan.
"Katakan kau mencintaiku" kata Raihan.
Shica menatap Raihan. Dia bungkam.
"Shica.. Kau mendengar ku kan? " tanya Raihan.
Shica masih terdiam.
"Perhatianmu selama kau memantauku atas perintah pak Andra itu terasa begitu nyata.. Aku tidak tahu apa itu akting atau memang perasaanmu yang sesungguhnya.. Tapi aku mencintaimu karena kepedulianmu itu Shica.. Aku mencintaimu.. "
Shica terlihat sedih.
"Apa kau masih mencintai Argaa? Setelah apa yang dia lakukan padamu? " tanya Raihan.
"Biarkan aku tenang dulu Raihan" kata Shica kemudian berlalu.
Raihan menghela napas berat.
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya