Ayahnya Arumi terlilit hutang. Hal itu membuat sang ayah kena serangan jantung. Arumi tidak punya uang untuk membawa sang ayah berobat. Bahkan, rumah sebagai jaminan sudah ditarik rentenir. Dalam keadaan sulit itu, seorang dokter wanita menawarkan bantuan kepada Arumi. Akan membiayai pengobatan sang ayah, asal Arumi mau menikah dengan ayahnya yang sedang sakit.
Tidak ada pilihan lain, dalam keadaan terpaksa Arumi menerima tawaran itu, walau sebenarnya ia masih ingin melanjutkan studynya.
Pernikahan Itu pun terlaksana, dan ia dikejutkan dengan kenyataan bahwa, pria yang ia sukai di pandangan pertama adalah anak dari pria tua yang menikahinya, tepatnya. Arumi menyukai anak tirinya.
Bagaimana kah kelanjutan kisah cinta terlarang itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
"Ya Allah.. besar sekali...!" ujar Arum tanpa sadar, membalik badan juga.
Handuk itu telah menutupi sarang ular kobra miliknya Dimas. Ia sangat mau sekali. Bisa-bisanya aset berharga yang selalu ia jaga dari pandangan orang, kini telah dilihat oleh Arum. Ibu tirinya sendiri. Ini kejadian yang sangat menyebalkan. Gara-gara kejadian ini, ia tidak akan sanggup berhadapan dengan Arum lagi.
Ia yang malu kepada Arum. Perlahan menyeret kaki nya dengan membelakangi wanita itu. Ia sudah tidak sanggup menunjukkan wajahnya lagi di hadapan Arum.
Arum menahan dirinya agar tidak tertawa saat ini. Tingkahnya Dimas sangat lucu. Ia tidak menyangka anak tirinya itu masih polos dan tahu adab.
"Hahahaha...!"
Arum akhirnya tertawa lebar, di saat Dimas sudah menghilang dari pandangannya. Ia tahu Dimas mendengar ketawanya yang seperti kuntilanak itu. Tapi, mau gimana lagi. Ia sudah tidak bisa menahan geli yang yang bercokol di hati nya lagi. Kejadian ini sangat memalukan. Apalagi tingkah polosnya Dimas, buat gemesh. Saat pria itu tidak berani menunjukkan wajahnya di hadapannya Arum.
"Kita lihat saja besok, apa dia masih berani menyuruh-nyuruh aku di kampus!" ujar Arum dengan semangatnya. Kejadian malam ini benar-benar membuat nya lupa akan sakit perutnya.
****
Arum yang telat bangun tidak mendapati Dimas lagi di rumah itu. Bahkan mobilnya juga tidak ada di garasi. Gara-gara minum obat pereda nyeri. Ia ternyata tertidur lelap.
Masih ada waktu 2 jam untuk ke kampus. Karena, Arum masuk pukul 10 pagi. Ia pun memutuskan untuk memasak sarapannya serta bekal untuk Dimas siang nanti.
Saat sedang serius memasak. Ponsel yang Ia letak kan di atas meja makan berdering. Arum bergegas mengangkatnya.
"Pak Subroto?!" ujarnya lemas. Entah kenapa ia malas sekali untuk bicara dengan pria itu. Tapi, Gak mungkin juga ia mengabaikan telpon itu.
Hhuuffttt...
Arum pun akhirnya mengangkat panggilan itu. Dan betapa terkejutnya ia melihat wajah siapa yang nongol di panggilan video itu.
"Nyo, nyonya!" ujarnya tergagap, ia kini dipelototin oleh Bu Dewi.
"Berani kamu ya, goda anak saya. Dasar wanita murahan. Gak dapat suamiku, kini kamu mau goda anak ku? Gak akan, lihat saja apa yang akan ku lakukan untukmu. Kamu dan ayahmu akan kecampak dari rumah. Kalian jadi gelandangan!" ketus Bu Dewi geram menatap Arum di layar hapé.
Jelas Arum ketakutan mendengar ancaman nyonya besar itu. Apa maksudnya? kenapa nyonya besar mengatakan ia telah menggoda Dimas.
"Bu, a, apa maksud nya ibu?" tanya Arum tergagap.
"Kamu pikir, aku tidak awasi kamu. Kelakuan mu tadi malam bisa ku lihat dengan jelas." Ujar Bu Dewi ngotot.
"Ke, kelakuan apa bu?" tanya Arum dengan bingungnya.
"Kelakuanmu yang menggoda Dimas. Kamu itu diawasi gerak geriknya di rumah itu. Apa yang kamu lakukan, bisa aku lihat di sini. Tadi malam, kenapa kamu matikan ponselmu?"
"Ponsel? aku Gak tahu kalau dayanya mati bu!" Jawab Arum tergagap.
"Dan sekarang, giliranmu yang akan mati. Jangan kamu matikan ponselmu, jika kamu ingin tahu tentang ayahmu! Dan jangan sekali-kali kamu ganggu anakku Dimas." ujar Bu dewi kesal.
"A, ayah aku kenapa bu.?" Arum terlihat panik sekali, apa ayahnya telah di bunuh di luar negeri. Kalau itu terjadi, ia tidak bisa lagi melihat jasad ayahnya
"Bu, ayah ku di mana?"
Teett.
Panggilan video itu pun terputus. Arum yang panik, kembali mencoba menghubungi nomor WA nya pak Subroto. Tapi, tidak tersambung. Ia pun melakukan panggilan biasa.
Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi.
Arum ambruk di lantai dapur itu. Kenapa semua nya jadi kacau begini.
"Dokrer ulfah, ya. Aku harus hubungi dokter Ulfah." Ujarnya dengan panik. Ia menscrol nomor kontaknya, mencari nomor dokter Ulfah. Hanya itu yang bisa ia minta tolongi, karena wanita itu yang memintanya untuk menikah dengan Pak Subroto.
Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi.
"Koq nomor nya Dokter Ulfah tidak bisa di telpon juga?" ujar nya dengan frustasi. Ia mondar mandir dengan bingungnya di dapur. Dan sesekali Arum mengusap wajahnya yang menegang karena panik itu.
"Ya Allah... !" ia pun tersadar, jika telor yang ia dadar telah gosong
"Aku harus apa, ayah ku bagaimana sekarang...!" ujarnya histeris, menangis terduduk di kursi, memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Apakah Bu Dewi hanya mengancamnya?