Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 gate dibawah air
"Aku akan pergi kedalam air, kau bantu saja di atas kapal" ucap voltra pada Alina.
"Hati-hati" ujar Alina memandang.
"Ya" Jawab voltra mengangguk.
Tangannya memegang sebuah tombak, suara retakan muncul didalam enam gate teluk Tokyo. Ethan memberikan aba-aba pada guild shark miliknya, anggotanya hampir semua memiliki kemampuan didalam air. Voltra ikutan melompat, kakinya menyalurkan mana hingga bisa berdiri diatas air.
"Dia bisa berdiri diatas air" Batin Ethan terkejut.
"Wow seperti dalam anime saja" kagum raven.
Penaklukan di seluruh Jepang dimulai. Beberapa tim memasuki gate untuk mencegah dungeon break dan gate yang berada di wilayah tidak strategis dibiarkan untuk dungeon break, agar lebih memudahkan. Malam itu Jepang benar-benar dipenuhi oleh suara kebisingan luar biasa.
Voltra menebas beberapa monster terbang yang terus menerus bermunculan, sementara didalam air Ethan dan kelompoknya juga mulai memburu monster. Alina melompat keluar, tangan kanannya menebaskan pedang layaknya cambuk, memotong monster capung yang berterbangan.
"Mereka berada di luar jangkauan ku, raven!!" Teriak Alina melihat monster yang terbang menjauh.
"Lighting brust" ucap raven mengangkat tangan.
Sambaran Petir biru menghanguskan para monster tipe serangga yang berterbangan, suara bising dari persenjataan kapal juga terdengar dan beberapa tentara menembakan senapan mereka. Mayat-mayat monster berjatuhan kedalam air dan mengambang.
"Sial beberapa dari mereka berhasil lolos" ucap Alina memandang monster yang terbang menjauh.
"Aku ambil alih" Seru voltra melemparkan tombaknya.
Tombak itu meledak dahsyat di udara menghancurkan kelompok monster yang mencoba pergi ke daratan. Beberapa gate tertutup, Alina melemparkan sebuah tombak baru pada voltra dan ditangkap begitu mudah. Didalam air Ethan bergerak cepat sambil memegang tombak tajamnya, membelah beberapa monster ikan yang keluar dari gate.
Gate demi gate tertutup, wilayah Tokyo selesai, mereka langsung menuju tempat Selat Tsushima. Raven melemparkan bola-bola petir ke dalam air, ledakan demi ledakan terjadi. Ethan dan tim kanada bergerak lincah membasmi monster yang telah dilemahkan.
"Hunter Indonesia ternyata tidak buruk" Batin Ethan kagum.
Beberapa monster melompat kedalam kapal, Alina menebas langsung para monster itu dan menarik raven untuk mundur dan menjauh. Voltra diposisi depan gate langsung menebas monster yang baru keluar secara bersamaan, dia mengirimkan tebasan membentuk huruf X pada para monster yang keluar dan berhasil menutup gate itu.
"Disini selesai" ucap voltra memegang tombaknya dibahu kanan. "Hampir lima jam berlalu dan ini pukul dua malam" Lanjutnya bergumam.
"Hei nak, istirahatlah sebentar" ucap Ethan tersenyum. "Kau sudah banyak membantu, dan hanya satu tempat lagi" Lanjutnya berucap.
"Yah, itu kedengeran tidak buruk" Gumam voltra.
Matanya melihat beberapa hunter terluka, mereka tengah diobati dengan menyuntikkan pereda nyeri serta dibalut perban. Voltra duduk di dekat Alina, raven melemparkan sebuah ancam padanya dan ia langsung membukanya.
"Hei, kau belum punya guild kan" Bisik Alina.
"Yah, aku belum memikirkannya, meski pak tua itu bilang aku butuh lisensi guild untuk menaklukkan gate dalam kondisi biasa" Gumam voltra memakan keripik kentangnya.
"Gabung saja dengan guild ku" Ajak Alina.
"Kurasa itu tidak buruk" Balas voltra setuju saja.
Kapal bergerak secara lambat menuju palung Jepang. Gunanya cukup lebat turun menambah suasana malam ini, Hujan menderu semakin deras, menyamarkan batas antara langit hitam dan laut yang bergejolak. Kapal perusak yang mereka tumpangi membelah ombak besar menuju koordinat Palung Jepang. Voltra duduk bersandar di pagar besi kapal, air hujan membasahi rambutnya, namun Mananya yang hangat membuat air itu menguap bahkan sebelum menyentuh kulitnya.
"Bergabung dengan ISG, ya?" gumam Voltra sambil menatap kristal magic stone kecil hasil rampasannya tadi. "Asalkan kau yang mengurus semua berkasnya dan memastikan aku tetap bebas menonton sinetron setiap sore" Lanjutnya menatap lurus.
"Kesepakatan tercapai. Aku akan mengurus legalitasnya setelah kita pulang dari neraka air ini."
Tiba-tiba, radar kapal berbunyi melengking. Lampu merah berputar cepat di dek kapal.
"Status darurat! Kita berada di atas Palung Jepang!" teriak seorang operator dari pengeras suara. "Energi Mana di bawah sana melampaui batas deteksi! Lima gate di kedalaman 10.000 meter telah menyatu!" Lanjutnya memberitahu.
"Menyatu? Itu hal langka, tidak kusangka Jepang benar-benar berada di situasi seperti ini" Gumam Ethan.
Laut di sekitar kapal tiba-tiba mulai berputar, membentuk pusaran air raksasa yang sangat luas. Kapal militer yang berat itu mulai miring ke satu sisi. Dari kegelapan laut dalam, muncul cahaya biru elektrik yang berpendar, menunjukkan sesuatu yang sangat besar sedang bergerak naik.
"Ini bukan lagi wilayah Hunter biasa," Ethan memakai kacamata selam khususnya. "Voltra, kau bilang kau akan masuk ke dalam air? Ini saatnya. Tapi di kedalaman itu, tekanan air bisa menghancurkan tulangmu meskipun kau Rank S" Lanjutnya.
Voltra berdiri, ia membuang bungkus keripiknya dan menggenggam tombak pemberian Alina dengan erat. Ia berjalan menuju bibir dek, menatap pusat pusaran air dengan mata yang menyala ungu gelap.
"Tekanan air?" ujar Voltra tertawa rendah, suara yang menantang badai. "Kau lupa sedang bicara dengan siapa, Manusia Ikan. Air ini akan membelah demi jalanku" Lanjutnya.
"Apa hunter Indonesia semuanya seperti itu" Gumam hana.
"Hei kami ini orang-orang ramah yah, voltra hanya anomali" Balas raven tidak ingin disamakan.
"Raven! Alina! Jaga kapal ini agar tidak tenggelam!" perintah Voltra.
Tanpa menunggu balasan, Voltra melompat bebas ke pusat pusaran air. Saat tubuhnya menyentuh permukaan, alih-alih tenggelam seperti batu, ia menyelimuti dirinya dengan Mana Primordial. Api hitam menyelimuti tubuhnya, menciptakan gelembung ruang hampa yang menolak air masuk.
Voltra meluncur turun seperti torpedo hitam. Cahaya dari permukaan menghilang, digantikan oleh kegelapan total yang pekat. Semakin dalam ia turun, tekanan air semakin gila, namun perisai Mananya tetap kokoh. Di dasar palung yang gelap, ia melihatnya. Sebuah retakan raksasa yang mengeluarkan tentakel-tentakel sebesar gedung pencakar langit.
"Cacing raksasa lagi" desis Voltra di dalam air, suaranya teredam namun penuh ancaman.
Sepasang mata raksasa berwarna merah menyala terbuka di hadapannya. Kraken itu menyadari keberadaan penyusup kecil. Dengan satu gerakan tentakelnya, tekanan air bergeser, menciptakan gelombang kejut bawah air yang dahsyat.