NovelToon NovelToon
Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Perperangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:247.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Alma Fatara, gadis sakti yang muda belia, kini menjelma menjadi Ratu Siluman, pendekar cantik jelita yang memimpin satu pasukan pendekar sakti dan besar.

Berbekal senjata pusaka yang bernama Bola Hitam, Alma Fatara langlang buana demi mencari kejelasan siapa sebenarnya kedua orangtuanya.

Sejumlah kedudukan istimewa sudah dia raih di usia belia itu, menjadikannya sebagai pendekar muda yang fenomenal, disegani sesama pendekar aliran putih dan membuat pendekar jahat ketar-ketir, ditaksir banyak pemuda dan dihormati oleh pendekar tua.

Kali ini, Alma Fatara akan menghadapi dua kerajaan besar dan melawan orang yang tidak terkaalahkan. Petunjuk yang mengarahkan mendekati orangtuanya semakin terbuka satu demi satu.

Sampai di manakah kemampuan Alma Fatara dalam perjalanannya kali ini? Temukan jawabannya hanya di novel “Alma3 Ratu Siluman”.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akarmani 27: Tunduknya Dua Perwira

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*

Komandan Buto Sisik yang datang sendirian mengerutkan kening, ketika melihat para prajurit yang berjaga di depan Istana Keprabuan. Pasalnya, sebagai Kepala Pasukan Pelindung Raja, Komandan Buto Sisik tidak mengenal para prajurit Pasukan Pelindung Raja yang berjaga di saat itu.

Dia mengenal semua wajah anggota pasukannya, tetapi para prajurit berseragam Pasukan Pelindung Raja itu berwajah asing, baru kali ini dia melihatnya.

“Siapa kalian semua?” tanya Komandan Buto Sisik yang menyandang dua pedang.

“Kami prajurit Pasukan Pelindung Raja, Gusti,” jawab satu prajurit yang menjadi jubir dari beberapa rekannya yang berdiri berjaga di sekitar pintu Istana Keprabuan.

“Tapi aku sebagai Komandan Pasukan Pelindung Raja tidak mengenal kalian semua!” teriak Komandan Buto Sisik.

“Karena kami diangkat oleh Gusti Ratu Warna Mekararum, Gusti,” jelas prajurit itu.

“Apa? Gusti Ratu Warna Mekararum?” kejut Komandan Buto Sisik.

“Gusti Ratu menunggu Gusti Komandan di dalam,” kata si prajurit.

“Sebenarnya aku dipanggil oleh Gusti Prabu atau Gusti Ratu?” tanya Buto Sisik curiga.

“Kedua-duanya, Gusti,” jawab si prajurit.

“Lalu ke mana para prajuritku yang berjaga di Istana ini?” tanya Buto Sisik.

“Sudah kami bunuh semua,” jawab prajurit itu jujur. Entah memang jujur atau lugu atau pintar.

Sing!

Buto Sisik mundur setindak sambil mencabut pedang di pinggangnya. Tindakan komandan itu membuat keenam prajurit serentak mencabut masing-masing dua pisau merah beracunnya. Mereka pun siap melakukan lemparan pisau jika sang komandan menyerang.

“Kalian pasti bukan prajurit!” tebak Buto Sisik.

“Gusti Komandan mau bertarung dengan kami atau mau bertemu dengan Gusti Ratu di dalam?” tanya prajurit juru bicara.

“Jelas kalian adalah penyusup!” teriak Buto Sisik sambil maju hendak menyerang prajurit yang bicara kepadanya.

“Serang!” komando prajurit juru bicara.

Set set set ...!

Ting ting ting!

Komandan Buto Sisik menahan langkahnya, lalu dengan gerakan gesit dia melompat berputar di udara dengan pedang berkelebat cepat sebagai perisai. Separuh pisau merah berhasil dia hindari dan separuh lagi berhasil dia tangkis dengan pedangnya yang cepat.

“Masuk!” teriak prajurit tadi sambil bergerak lebih dulu berlari mundur masuk ke dalam Istana Keprabuan sambil mewaspadai gerakan Buto Sisik.

Buto Sisik terdiam sejenak. Berpikir. Apakah dia harus masuk atau pergi memanggil pasukan, atau melapor kepada Senopati Gending Suro.

“Di dalam pasti ada jebakan,” pikir Buto Sisik. “Tapi, semua pasukan sedang sibuk memadamkan api. Lebih baik aku masuk, jika hanya orang-orang seperti itu, aku bisa mengatasinya.”

Dengan langkah perlahan dan penuh kewaspadaan, Buto Sisik melangkah mendekati ambang pintu yang terbuka. Dia mencabut lagi pedang yang ada di punggungnya. Kini dua pedangnya terhunus.

Setibanya di ambang pintu, dia membaca situasi ruangan depan yang diterangi oleh cahaya lampu-lampu minyak yang menempel di dinding. Kosong. Tidak ada orang.

Dia harus masuk lebih dalam lagi. Dia lakukan itu dengan langkah yang masih perlahan. Kedua tangannya siap mengelebatkan pedangnya setiap waktu jika ada serangan.

Dia masuk lebih dalam melalui lorong besar tapi pendek untuk masuk ke ruangan berikutnya yang jauh lebih besar dan megah.

Ruangan kedua yang berwarna serba kuning emas, tapi bukan berbahan emas, luas dengan topangan empat tiang besar. Ruangan besar itu lebih terang karena ada beberapa obor batu yang terpasang di sejumlah sudut.

Agak jauh di dalam, Buto Sisik bisa melihat keberadaan sejumlah prajurit berseragam Pasukan Pelindung Raja, ada sekitar enam belas orang. Para prajurit itu berdiri di belakang sebuah kursi bagus berukir yang sepertinya sengaja diletakkan agak ke tengah ruangan.

Sebagai pemimpin Pasukan Pelindung Raja, Buto Sisik sudah sangat hafal dengan tata letak sejumlah ruangan di Istana Keprabuan tersebut karena dia sangat sering keluar masuk. Jadi jelas, kursi yang diduduki oleh seorang wanita tua berpakaian bagus dan rapi itu sengaja dipasang di sana.

Buto Sisik terkejut ketika memerhatikan wanita tua berpakaian putih yang duduk penuh wibawa di kursi tersebut.

“Gusti Ratu Tua!” sebut Buto Sisik lirih, tapi terkejut.

Ketika dia naik jabatan menjadi Komandan Pasukan Pelindung Raja, Ratu Warna Mekararum masih berada dua tahun di Istana Jintamani. Jadi dia sering bertemu dengan sang ratu dan Ratu Tua pun sangat kenal dengannya.

Meski dia telah yakin bahwa Ratu Tua telah meninggal, tetapi wanita tua itu sangat mirip dengan sang ratu.

Buto Sisik memutuskan untuk menyarungkan kembali kedua pedangnya dan berjalan lebih mendekat.

Ketika jarak semakin dekat, Buto Sisik semakin sulit untuk membantah. Jelas itu adalah Ratu Warna Mekararum. Akhirnya Buto Sisik berhenti dalam jarak lima belas langkah.

“Apakah kau mengenalku, Buto Sisik?” tanya wanita tua yang memang adalah Ratu Warna Mekararum.

Semakin yakin Buto Sisik bahwa itu memang adalah Ratu Tua. Warna suaranya sama, sangat sama.

“Hormat sembah hamba, Gusti Ratu Tua,” ucap Buto Sisik sambil turun berlutut dan menjura hormat.

“Setelah bertemu denganku, apakah kau yakin aku sudah mati atau aku memang masih hidup?” tanya Ratu Tua.

“Hamba sangat yakin bahwa Gusti Ratu Tua masih hidup,” jawab Buto Sisik dengan suara yang bergetar.

Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan ke arah pintu lorong pendek, karena terdengar suara langkah kaki, meski itu sangat pelan. Buto Sisik juga sampai menengok ke belakang.

Sebentar kemudian, masuklah sesosok lelaki berperawakan perwira militer. Orang itu tidak lain adalah Panglima Rakean yang datang membawa tongkat besinya.

“Gusti Ratu Tua!” sebut Panglima Rakean agak keras, ketika mengenali sosok wanita tua yang duduk di kursi dan dikawal oleh enam belas prajurit berseragam Pasukan Pelindung Raja, salah satunya adalah Sudigatra.

“Selamat datang, Rakean,” sambut Ratu Warna Mekararum datar, tapi suaranya terdengar jelas di dalam ruangan yang hening itu.

“Berarti benar, Senopati Gending Suro telah merekayasa kematian Gusti Ratu?” tanya Panglima Rakean sambil berjalan mendekat ke sisi Komandan Buto Sisik. Pertanyaannya menunjukkan bahwa dia sudah menyimpan curiga kepada Senopati Gending Suro.

Di sisi Buto Sisik, Rakean turun berlutut dan menghormat.

“Sembah hormat hamba, Gusti Ratu,” ucap Rakean.

“Bangunlah kalian berdua!” perintah Ratu Warna Mekararum.

Kedua perwira itu mengubah sikap duduk menjadi duduk bersilla di lantai.

“Gending Suro telah menculikku dan membuangku di pulau yang jauh. Aku disiksa dengan racun selama bertahun-tahun. Dia menginginkan aku memberi tahu di mana letak harta kerajaan yang hanya diketahui olehku. Maka sejak kepergianku, dia menjadikan Gusti Prabu sebagai bonekanya. Dia ingin meruntuhkan Kerajaan Jintamani dan membangun kerajaan baru dengan dia sebagai rajanya. Itu baru akan dia lakukan jika dia mengetahui di mana harta kerajaan disimpan,” kata sang ratu langsung mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya dan niat jahat sang senopati.

Terkejutlah kedua perwira itu mendengar rahasia tersebut.

“Aku tidak akan bertele-tele. Aku yakin kalian telah tunduk kepada perintah Gending Suro. Sekarang aku tanya, kepada siapa kalian akan tunduk? Kepada Gending Suro atau kepada putraku Gusti Prabu Marapata?” tanya Ratu Warna Mekararum dengan nada cukup keras dan tegas.

“Hamba tunduk kepada perintah Gusti Prabu Marapata, Gusti Ratu!” jawab Panglima Rakean lantang tanpa ragu.

“Hamba tunduk kepada perintah Gusti Prabu Marapata, Gusti Ratu!” jawab Komandan Buto Sisik.

“Tunduk kepada Gusti Prabu berarti harus tunduk kepada perintahku. Gusti Prabu dan Permaisuri sudah aku bawa keluar dari Istana. Titah tertinggi Kerajaan Jintamani sekarang ada padaku. Jadi kalian jangan ragu!” tegas sang ratu. (RH)

1
asta guna
hahaha Q bisa bayangkan
asta guna
gaya tulisan om Rudi benar2 diluar Nurul hahah
Om Rudi: jiahahaha
total 1 replies
🇬 🇨 🇦 🇸 ¹
aku udh serius baca wkwk malah akhir kalimat bikin ktawa🤣🤣🤣 ga ada yg ngajak kopi bersama🤣
🇬 🇨 🇦 🇸 ¹
awokaowk keliatan klo ompong🤣🤣🤣 berjendela giginyanitu🤣🏃‍♀️
🇬 🇨 🇦 🇸 ¹
lah kirain sunat beneran 🤣🤣🤣 ternyata surat wwkk
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂 𝘾𝙝𝙖𝙣
hebat ya debur sama ayu Wicaksana membela ratu mekar Arum
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂 𝘾𝙝𝙖𝙣
namanya debur ku kira🤧ayang ayu Wicaksana
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂 𝘾𝙝𝙖𝙣
mampir di karya thor
🗣 𝐉𝐨𝐞 𝐀𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 🦅
Hihihi... Gusti Senopati melongo gak jelas, pengen marah ya harus marah 😅
🗣 𝐉𝐨𝐞 𝐀𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 🦅
itu pukulan kasih sayang paman, biar paman mau manggilku perempuan cantik.. Ha ha ha
🗣 𝐉𝐨𝐞 𝐀𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 🦅
Sabar Ning Ana, kak Alma emang seperti itu, lempar kaki sembunyi tangan 😅
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
kocar kacir dah semua pasukan karena seorang Alma gadis cerdik dan pintar... ih si Ana bahagianya
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
masih kecil lo si Ana nekat banget sih dia apalagi jatuh cinta sama om" 😁
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
aku suka dengan tingkah konyol Ayu... pacarnya Debur dipanggil bubur 🤣
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wah ternyata alma fatara sangat hebat dalam mengalahkan musu. dgn seorang diri dia berani menyerang walau wanita
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wah, jangan maju kalau gitu, prajurit berkuda saja semua kalah, kalau kamu berani berdual alamat bisa mati ditangan wanita itu
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
iya, nih mana ada sih musuh ngecoh memakai daun. mungkin dia hanya ingin bermain saja
R. Yani aja
yang ini kunci slotnya karatan nggak?
R. Yani aja
rak kayunya, isinya apa om?
R. Yani aja
otak gue ngeleg. baca "personel pembawa obor" jadi ponsel pembawa obor... lah maksudnya gimana??? 🤣🤣🤣✌✌✌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!