Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 22_Jangan Mati Dulu
Dengan hati yang hancur, Anya mulai merangkak di dalam terowongan sempit itu.
Ia dipandu oleh lampu-lampu darurat kecil berwarna merah, setelah sekitar sepuluh menit yang terasa seperti selamanya, ia sampai di ujung terowongan yang keluar tepat di dermaga kecil tempat perahu motor yang ia lihat tadi berada.
Anya keluar dari terowongan dan langsung menghirup udara laut yang asin.
Ia melihat ke arah vila di atas tebing, bangunan indah itu kini sudah separuh hancur.
Helikopter-helikopter itu masih berputar-putar seperti burung pemakan bangkai.
Ia berlari ke arah perahu motor. Ia berhasil menyalakan mesinnya, tangannya sudah memegang kemudi.
Ia hanya perlu memacu perahu ini ke laut lepas, dan ia akan bebas, benar-benar bebas, tidak ada penjaga, tidak ada Marco, tidak ada sangkar emas.
Namun, saat ia menoleh sekali lagi ke arah tebing, ia melihat sebuah ledakan besar menghantam bagian menara vila.
Menara itu runtuh, dan ia melihat siluet seseorang terjatuh dari sana ke arah bebatuan di bawah tebing.
Itu Marco.
Anya terpaku, ia melihat tubuh pria itu terhempas ke air laut yang bergolak di bawah tebing, tidak jauh dari posisi perahunya.
Darah mulai terlihat mewarnai air laut yang biru menjadi merah pekat.
Keheningan sesaat melanda jiwa Anya, ini adalah pilihannya, ia bisa memutar kemudi dan pergi, meninggalkan Marco yang mungkin sudah mati atau sedang sekarat ditelan ombak.
Jika ia pergi sekarang ia selamat, jika ia kembali untuk menolong Marco, ia akan kembali ke dalam sangkar emas itu, mungkin untuk selamanya dan Antonio pasti akan mengejar mereka.
Anya menatap laut lepas, lalu menatap tubuh Marco yang mulai tenggelam.
"Sialan kamu Marco Valerius," isak Anya.
Dengan teriakan frustrasi, Anya memutar kemudi perahunya, ia tidak menuju ke laut lepas.
Ia justru memacu perahu motornya secepat mungkin menuju titik di mana Marco jatuh.
Ia tidak bisa melakukannya, ia tidak bisa membiarkan pria yang baru saja memberikan hidupnya demi keselamatannya itu mati begitu saja.
Ia sampai di titik itu, mematikan mesin, dan dengan sekuat tenaga menarik tubuh Marco yang berat ke atas perahu.
Marco tidak sadarkan diri, wajahnya dipenuhi luka, dan perutnya kembali mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Anya merobek bagian bawah gaun putihnya, mencoba membebat luka Marco sambil terus menangis.
"Bangun, Marco! Bangun! Jangan mati dulu! kamu belum minta maaf padaku karena sudah menculikku!" teriak Anya sambil memukul pelan pipi Marco.
Di atas mereka, helikopter musuh mulai menyadari ada perahu yang bergerak.
Mereka mulai menukik turun, Anya segera menyalakan mesin kembali dan memacu perahu itu sekuat tenaga menuju celah di antara bebatuan karang yang tidak bisa dilalui kapal besar.
Peluru-peluru menghujani air di sekitar perahu mereka, Anya menunduk serendah mungkin, satu tangannya memegang kemudi, tangan lainnya menggenggam tangan Marco yang terasa dingin.
Pada saat itu, Anya menyadari sebuah kebenaran yang mengerikan.
Ia baru saja melepaskan kebebasannya demi pria ini. Ia telah memilih sangkarnya.
Dan saat perahu itu menghilang di balik kabut laut, ia tahu bahwa hidupnya kini benar-benar terikat dengan Marco Valerius, dalam hidup maupun dalam mati.
Di tengah ketidaksadarannya, jemari Marco sedikit bergerak dan membalas genggaman tangan Anya.
Sebuah respon kecil yang menunjukkan bahwa sang monster masih bernapas, dan ia tidak akan membiarkan cahayanya pergi, bahkan di ambang maut sekalipun.
Mesin perahu motor itu terbatuk-batuk, mengeluarkan asap hitam yang menyatu dengan kabut laut yang mulai turun menyelimuti cakrawala.
Anya terus memacu kemudi dengan tangan yang gemetar hebat, matanya perih karena percikan air garam dan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
Di belakangnya suara desing helikopter perlahan menjauh, tertutup oleh tebalnya kabut dan labirin batu karang yang baru saja mereka lalui.
Anya melepaskan satu tangan dari kemudi hanya untuk menyentuh leher Marco.
Dingin. Kulit pria itu terasa sangat dingin, kontras dengan darah hangat yang terus merembes dari balik bebatuan darurat yang ia buat.
"Jangan mati, Marco... Tolong, jangan sekarang," bisik Anya, suaranya pecah di tengah deru angin.
Ia melihat sebuah daratan kecil di depan sana bukan pulau besar, melainkan hanya sebuah teluk tersembunyi dengan garis pantai yang sempit dan dipenuhi pepohonan bakau yang rimbun.
Di sudut teluk itu, ia menangkap bayangan sebuah gubuk tua yang miring, seolah-olah hanya menunggu waktu untuk ambruk ke dalam pelukan laut.
Itu adalah tempat terbaik yang bisa ia temukan untuk bersembunyi.
Anya mematikan mesin saat perahu sudah cukup dekat dengan dangkal.
Suara keheningan yang tiba-tiba datang terasa mencekam, ia melompat ke air setinggi pinggang, merasakan dinginnya air laut menusuk tulang.
Dengan tenaga yang entah datang dari mana, ia mulai menyeret perahu itu ke pasir pantai yang kasar.
Tugas terberatnya dimulai sekarang yaitu memindahkan tubuh Marco, pria itu jauh lebih berat darinya, tubuh yang penuh otot itu kini terasa seperti beban mati yang menyeret Anya ke dalam keputusasaan.
"Marco, bangun... aku tidak bisa membawamu sendirian," tangis Anya saat ia mencoba menyampirkan lengan Marco ke bahunya.
Marco mengerang pelan, matanya sedikit terbuka namun hanya memperlihatkan bagian putihnya.
Dia berada di ambang antara hidup dan mati, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Anya menyeret tubuh Marco melewati pasir, menuju gubuk nelayan yang ditinggalkan itu.
Setiap inci langkahnya terasa seperti siksaan, napasnya tersengal, dadanya terasa terbakar, namun bayangan Marco yang tenggelam di laut tadi terus memaksanya untuk tidak menyerah.
Gubuk itu hanya berukuran kecil, lantainya terbuat dari kayu yang sudah mulai lapuk dan berbau amis ikan busuk serta garam.
Di sudut ruangan, ada tumpukan jaring nelayan tua yang sudah mengeras.
Anya merebahkan Marco di sana, memastikan kepala pria itu tidak menyentuh lantai yang kotor.
Lampu di gubuk itu tidak ada, satu-satunya cahaya berasal dari sisa-sisa senja yang menembus celah-celah dinding kayu.
Anya segera mencari kotak darurat yang sempat ia ambil dari bawah kursi perahu.
Tangannya dengan cekatan membuka kotak perak itu, mengeluarkan antiseptik, kain kasa, dan beberapa peralatan medis standar yang selalu disediakan Marco di setiap kendaraannya.
Ia harus membuka kemeja Marco yang kini sudah hancur dan kaku karena darah serta air laut.
Saat kancing-kancing itu terlepas, Anya terkesiap, luka tembak di perut Marco yang lama telah terbuka kembali, dan ada luka baru di bahunya serta memar besar di dada akibat hantaman bebatuan saat jatuh dari tebing.
"Kenapa kamu harus menyelamatkanku Marco? Kenapa kamu harus jadi pahlawan di saat kamu adalah orang yang paling kubenci?" gumam Anya sambil menumpahkan cairan antiseptik ke kain kasa.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
JANGAN LUPA FAVORIT KAN CERITANYA, ULASAN DAN BINTANGNYA, VOTE, LIKE DAN HADIAHNYA YAAAAA,, DITUNGGU MAWARNYA BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT NULISNYA
KOMEN GIMANA YA SAMA CERITANYA
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪