Kisah ini menceritakan tentang Adela Putri Wijaya (19) yang sebelum pendakian bersama teman-temannya ke salah satu Gunung, merasa hidupnya baik-baik saja dan tentram. Namun, setelah itu banyak kejadian-kejadian janggal yang terjadi hingga membuat penyakit jantung bawaan dari lahirnya sering kambuh.
Adel sering disapa seperti itu, bertekad untuk mengungkap semuanya sebenarnya siapa dibalik kejadian janggal yang terjadi dalam hidupnya.
Bersamaa dengan hal itu, Adel juga bertemu dengan Tomi Bagus Alamsyah dokter baru yang memiliki wajah tampan yang membuatnya merasakan cinta pada pandang pertama. Tapi siapa sangka umurnya terpaut jauh dari Adel.
***
"Dokter, nikah yuk!"
"Saya nggak suka bocil."
"Tapi aku suka sama dokter, gimana dong?"
"Yaudah nikahin aja dokter yang lain. Masih banyak kok, dokter yang jomblo di rumah sakit ini."
"Ih, maksud aku dokter Tomi. Aku maunya nikah sama Dokter Tomi."
"Maaf bocil, saya nggak denger ucapan kamu. Tiba-tiba kuping saya budeg."
"Yah, dokter Tomi jangan pergi!"
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asazya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Bangun
Setelah sebulan berlalu sejak isu tentang Adel mencuat ke media dan masyarakat mulai reda karena klarifikasi dari Alfa dan Tomi.
Tidak lama setelah klarifikasi, pihak kepolisian juga menegaskan bahwa kasus meninggalnya Bima resmi di hentikan, karena permintaan dari keluarganya. Mereka sudah ikhlas dengan kepergian anak sulungnya dan menyuruh masyarakat untuk mendoakan mendiang Bima agar tenang di sisi Allah SWT.
Sementara, pengakuan Tomi yang baru diketahui publik adalah calon mertua Pak Wali Kota sempat menjadi booming dan menjadi pembicaraan para netizen di dunia nyata, bahkan di dunia maya.
Apalagi saat mereka mengorek identitas lelaki tampan berprofesi dokter itu, bahwa Tomi adalah duda beranak satu dan umurnya terpaut jauh dengan anak Pak Wali Kota.
Meski banyak yang mendukung hubungan keduanya dan memuji Pak Alfa sebagai orangtua yang patut dicontoh yang tidak peduli dengan status pasangan anaknya.
Tapi banyak juga yang berpandangan negatif, katanya Tomi hanya ingin memorot harta Alfa bahkan ada yang sampai berkomentar lebih pedas, Tomi penyuka anak-anak tanda kutip dua, karena Adel masih tergolong remaja walaupun sudah kuliah. Macam-macamlah, namanya juga netizen dan hatters.
Toh, Tomi menanggapinya dengan santai. Iya, mereka hanya tidak tahu kebenarannya. Kenapa harus repot-repot mengurusi? Yang terpenting bagi Tomi selain pasien, adalah anak dan keluarganya bahagia, itu saja.
Pagi ini Tomi sudah bersiap-siap unruk pergi ke rumah sakit. Namun, sebelumnya dia mampir ke dapur untuk sarapan. Di sana hanya ada mamanya yang sedang menata piring. Ketika mama melihat kedatangan Tomi, beliau hanya melengos.
"Ma, masih marah? Padahal kemarin udah nanya sama Tomi," tanya Tomi seraya menarik kursi, kemudian duduk. Dia menyimpan tas kerjanya di lantai dekat kursi.
Mamanya sibuk menyicikan air ke gelas membuat Tomi menghela napas. Tomi tidak menyangka mamanya akan semarah ini karena pengakuan di media tentang rencana pernikahannya dengan Adel. Mama beranggapan Tomi memutuskan hal itu secara sepihak.
Setau mamanya, antar dua keluarga itu tidak bisa meneruskan perjodohan karena pihak perempuan menolaknya. Lalu, kenapa tiba-tiba Tomi mengumumkan rencana tersebut?
Riska sebagai mamanya pasti merasa kecewa, karena tidak tahu apa-apa.
"Ma, Tomi udah minta maaf dan jelasin semuanya ke mama kan? Ayolah, Tomi udah muak dengan tingkah kekanakan mama ini." Tomi mencoba meminta pengertian dari Tomi.
Riska menghentikan pekerjaannya dan menatap Tomi dengan pandangan kecewa. "Kamu bilang, kamu berencana menikah dengan Adel karena cinta? Tomi, mama tahu kamu seperti apa. Kamu tidak akan moveon secepat itu dari Kayla! Bukankah kamu selalu bilang sama mama, Kayla satu-satunya perempuan yang kamu cinta!"
Tomi berdecak, mamanya tidak mudah dibohongi. Tomi sebenarnya sudah lelah dengan semua ini, menutupi kebohongan dengan kebohongan, terus saja begitu. Tapi, jika Tomi jujur akan terasa sia-sia yang telah dikorbankannya dan keluarganya pasti hancur.
"Mama nggak mau Tomi bahagia?" tanyanya.
Riska mengangguk pelan. "Mama mau kamu bahagia Tomi tapi nggak dengan Adel. Dia masih kecil Tomi, kamu tidak bisa menikah dengan Adel."
Tomi menghela napas, mencoba mengontrol emosinya. Jika bisa Tomi bicara, dia pun tidak mau. Apa bisa Tomi lakukan selain ini? Resikonya terlalu berat.
"Mama doakan Tomi selalu bahagia dan Adel bisa cepat bangun dari komanya. Tomi pergi dulu," pamit Tomi menghentikan pembicaraan secara sepihak.
Riska menatapnya anaknya, hatinya tidak rela jika anaknya harus menikah dengan Adel. Riska tahu, memang tidak semua remaja seperti Adel yaitu kekanakan, labil, dan tidak bisa diatur. Tapi, rasanya dia tidak yakin Tomi akan bahagia bersama Adel. Mereka hanya akan menyakiti satu sama lain, instingnya mengatakan hal demikian.
***
Rutinitas Friska selama sebulan ini adalah menemani Adel di rumah sakit, mencoba menggantikan sosok ibu yang tidak lagi dirasakan oleh adik iparnya itu. Meski begitu, Friska tetap bulak-balik bergantian dengan mertua, adik dan suaminya. Dia juga sebisa mungkin memperhatikan kegiatan anak-anaknya walaupun secara tidak langsung.
Friska biasa video call dengan Gilang dan si kembar, lalu mengawasi mereka bermain bersama pengasuhnya lewat cctv yang terhubung dengan ponselnya.
Friska duduk kembali di kursi samping ranjang milik Adel. Setelah membuang air bekas membasuh tubuh Adel. Tangan Friska menggenggam tangan Adel erat, sekarang rasa kesediahan itu mencoba Friska tutupi karena dia sadar ketika bercerita dan memohon agar Adel bangun, dari sudut matanya Adel menitikan air mata.
Friska merasa hal ini adalah keajaiban dan pertanda bahwa sebentar lagi Adel akan bangun, namun ditunggu-tunggu Adel tidak juga bangun. Mungkin bukan untuk sekarang tapi nanti, Friska yakin Adel pasti bangun.
"Del nanti kalau kamu bangun, kakak janji bakal masakin ke sukaan kamu, terus nagajarin kamu masak, terus ajak kamu ke rumaah neneknya Gilang dan si kembar pokoknya banyak deh. Oiya kamu pengen banget ketemu sama nenek kamu kan? Tenang nanti kita main ke sana, tanpa sepengetahuan papah. Kakak akan kabulkan semua permintaan Adel, anggap aja kakak ini peri dan kamu cinderellanya. Eh, kok kisah cinderella sih? Itu yang bisa buat tiga permintaan kartun apa ya? Oh, Aladin nah iya aladin. Nanti biar kakak jadi jin yang mengabulkan permintaan kamu bedanya tanpaaa batasss..." oceh Friska kemudian tertawa sendiri, seolah dirinya sedang berbicara dengan Adel. Ruangan itu hanya dipenuhi dengan suara Friska dan detak jantung Adel yang terdeteksi dari layar monitor.
Namun, biasanya tidak ada reaksi apapun. Hanya detak jantung yang menjawab ocehan Friska. Tapi kali ini Adel mengerang membuat Friska panik bukan main.
"Engggg..." terlihat tangan Adel bergerak.
"Del? Adel? Kamu bangun, sayang?"
"Enggg...."
Friska semakin panik, dia langsung memencet tombol darurat yang terhubung ke ruangan Dokter Tomi. Hatinya bahagia, tapi juga khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan Adel.
"Engg...."
"DOKTER! DOKTER!" Friska berteriak keluar dari koridor terlihat Tomi yang berlari sama paniknya.
Ketika sampai di kamar rawat Adel, dia langsung mendekat ke arah rangjangnya disusul oleh Nissa dan Friska. Tomi terlihat memeriksa kondisi Adel.
Friska tidak berhenti mengucap doa, dia berharap ini pertanda baik.
"Hai, Adel?"
Suara Dokter Tomi yang menyapa Adel membuat Friska langsung melangkah lebih dekat dan dia tersenyum senang saat Adel sudah membuka matanya, meski masih nampak kebingungan.
"Adel kenapa?" tanyanya lemah, Adel benar-benar bingung ada apa dengan dirinya.
Dia dalam tidurnya, Adel ingin bangun namun matanya terasa berat tidak bisa dibuka. Adel ingat, sebelum dirinya bisa membuka mata. Adel berada di sebuah ruangan tanpa pintu dan jendela, ada suara mama yang menyuruhnya untuk pulang tapi Adel tidak tahu bagaimana caranya, karena tidak ada satupun yang bisa membantunya.
Semuanya kosong dan terasa hampa, namun ketika mamanya kembali berkata 'pulang' Adel melihat sebuah cahaya yang begitu menyengat matanya, Adel menuntun tubuhnya mengikuti cahaya tersebut dan tiba-tiba dia sudah sadar berada di kamar rawat. Adel mencoba mengingat hal yang membuatnya berada di sini, namun tidak bisa.
"Kamu kenal saya?" tanya Dokter Tomi. Iya, tidak semua seseorang yang bangun dari koma langsung pulih tanpa cacat, Tomi sebagai Dokter harus memastikan terlebih dahulu ingatan Adel, apakah bermasalah atau tidak.
"Dokter Tomi." Adel menjawab dengan nada pelan, bibirnya masih terlihat pucat.
Domi menganggukkan kepalanya. "Kalau ini, siapa?" kali ini menunjuk Friska.
"Kak Friska."
"Kalau ini?" Sekarang menunjuk Nisaa.
"Kak Nissa, Dokter kenapa sih tanya-tanya, Adel masih inget kok kalian siapa," cebiknya, meski masih lemah Adel ternyata masih bisa bersuara dengan nada kesal, bahkan mendelik.
Tomi tertawa geli, Adel memang beda dari pasien-pasiennya. "Karena kamu sudah sadar, kita cabut alat-alatnya. Kamu harus tidur dan istirahat full biar tenaga kamu cepat pulih."
"Adel nggak mau tidur," kata Adel membuat Tomi mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Kamu harus cepet sembuh, banyak loh yang nungguin kamu di luar sana."
"Adel takut nanti nggak bisa buka mata lagi," polosnya.
Meski ayah Adel masuk ke dalam list daftar hitam orang-orang yang dibencinya, Tomi tidak bisa membenci Adel. Gadis manis itu tidak salah, dia tidak tahu apa-apa dengan rencana ayahnya. Tomi harus bisa membedakan dan profesional.
"Saya jamin nggak akan, kamu harus istirahat."
Adel menatap mata Dokter Tomi yang entah kenapa membuat dirinya mengangguk, Adel percaya pada Dokter Tomi.
"Tidur ya!" titah Tomi, dia berbalik menatap Friska yang sedang tersenyum haru.
"Fris, tolong jangan ajak Adel bicara dulu minimal untuk hari ini. Dia masih lemah, kamu temani yah. Saya keluar dulu. Jika ada apa-apa panggil Nissa."
"Makasih, Dok!" balas Friska, dia tidak henti menarik susdut bibirnya untuk tersenyum. Ah, dirinya harus cepat-cepat menelpon papah dan suaminya. Mereka pasti senang dengan kabar ini.
Sementara Tomi keluar untuk menenangkan diri di taman, dia tiba-tiba ingat dengan ucapan Om Alfa. Jika Adel bangun, rencana pernikahan itu akan berlanjut.
Tomi menghirup udara pagi hari itu, kemudian menghembuskannya perlahan. Tomi pasti bisa melewati ini semua. Entah dengan cara menikah dengan Adel atau membatalkannya secara sepihak?
***
mbok satu2 konflik di beresin moso digantung trus dan nambah konflik trus
hadeh lama2 jenuh jg ,kpn endingnya🤔🤔🤔