Pertemuan yang tak terduga antara dokter Williams 30 tahun dengan Alisya gadis 19 tahun yang kabur karena menolak perjodohan.
Williams yang merupakan dokter ahli jantung terkenal cuek diluaran, namun demikian dokter tampan yang setia melajang tersebut sangat ramah dengan para pasiennya. Sikap anti wanita membuatnya sangat menjauhi makhluk yang bernama wanita. Hingga dirinya harus pasrah ketika harus kembali kenegaranya demi sebuah perjodohan yang konyol menurutnya.
Alisya, seorang gadis beliau 19 tahun. Dia menjalani kehidupan keras di luar ketika dirinya berhasil kabur dari keluarganya.
Alisya berontak ketika dirinya mengetahui rencana sangat ayah yang telah berniat menjodohkannya dengan seorang pria yang layak dia panggil om.
Mampu kah Williams keluar dari rasa marahnya ketika harus menelan pil pahit perjodohan nya?
Dan mampu kah Alisya menjalani kehidupan yang jauh dari segala fasilitas yang biasa dia dapatkan?
Serta bagaimana kisah pertemuan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pulang dengan tangan kosong tentu menimbulkan banyak tanya di benak Bram. Dia yang tahu pasti kepergian Williams ke kampung halamannya tentu sangat ingin tahu perkembangan sang sahabat.
Gedikan bahu dan sikap acuh tak acuh yang Wil tunjukkan sangat menyebalkan dimatanya. Bram mendengus sebal. Sementara Williams masih menikmati waktunya bersama Camelia. Balita cantik tersebut tak mau lepas dari gendongan Will, bergelanyut manja dengan lengan mungilnya melingkar di leher Williams. Membuat Bram semakin berdecak.
Tak ada rahasia diantara mereka berdua membuat persahabatan mereka tetap baik baik saja hingga saat ini. Sama seperti Williams, Bram pun tak tahu harus berekspresi seperti apa kala mendengar kisah perjodohan Williams yang gagal total karena sang calon yang melarikan diri bahkan sebelum melihat tampang Williams yang sebenarnya.
Namun senyum jahil ditunjukkan papa muda yang sedang menunggu proses terjadinya calon adik untuk Camelia. Sang istri, Tiara menunjukkan tanda tanda yang memang menuju kesana meski mereka tak berani menduga sejauh ini. Tak ingin kecewa lebih cepat, pasangan suami istri tersebut memilih untuk menunda memeriksakan kondisi sang istri ke dokter.
"Seharusnya kau sadar, Will. Kalau apa yang dikatakan gadis itu benar adanya. Kau memang sudah tua, hahahaha." Gelaknya yang sialnya hal tersebut malah disetujui oleh sang asisten yang tergelak meski pelan. Suta yang terkenal super cuek dan dingin menampilkan senyum tengilnya demi meledek dokter tampan yang sedang mengusap wajahnya kasar.
"Ck, kau meledekku juga Suta."
"Tidak!! aku hanya ingin tertawa saja. Salah?" Jawabnya tanpa dosa.
"Puas kalian!!" Geram Will yang malah menimbulkan tawa semakin keras dari Bram. Bahkan Camelia yang sedang sibuk dengan mainannya pun sampai menoleh menatap sang papa yang nampak puas menertawakan sahabatnya.
Obrolan mereka berlanjut hingga menyinggung masalah panti jompo yang ingin Williams dirikan dalam waktu dekat. Bahkan Suta sudah mengurus semua surat surat perijinan yang diperlukan. Panti jompo tersebut rencananya akan didirikan di luar kota. Kebetulan, Williams tertarik dengan lahan disana. Suasana sangat mendukung karena dekat dengan perkebunan tempat Bram berinvestasi.
"Semua sudah diurus. Hanya tinggal menyesuaikan waktunya saja. Kapan rencanamu memulai semuanya?"
"Lebih cepat lebih baik. Aku bahkan sudah meminta salah seorang teman baikku untuk membantu." Williams berujar seraya menegak air putih dalam gelasnya.
"Bagaimana kalau bertepatan dengan ulang tahunmu? memang belum bisa selesai semua, namun paling tidak sebagai simbol bahwa semua sudah berjalan."
Williams terdiam memikirkan usulan Bram. Ulang tahunnya yang ke 30 jatuh dua bulan lagi. Waktu yang relatif singkat tersebut pastinya tak memungkinkan akan bisa menyelesaikan semuanya. Tapi dirinya juga menginginkan adanya pencapaian yang benar-benar murni hasil kerja kerasnya sendiri.
Kesuksesan dan keberhasilan yang diraihnya saat ini bukan murni karena kemampuan pribadinya. Williams menyadari semua itu. Tanpa adanya Oma Feli dan keluarga Bram dirinya tak akan menuai nama besar sebagai dokter yang disandangnya sekarang.
"Aku rasa itu ide yang bagus. Tapi apa tak akan terlalu repot nantinya?"
"Biar Suta mencari orang untuk mengurusnya. Atau mungkin kita bisa meminta Doni mengurusnya?" Bram berujar sambil membenarkan posisi sang putri yang terlelap di sofa sebelahnya.
Doni adalah salah seorang yang Bram percayai untuk menjaga keselamatan Tiara. Lelaki yang dulunya adalah penculik sekaligus penyelamat sang istri.
"Biar nanti saya yang bicara dengan Doni, tuan muda. Bagaimana dengan Sam? apa dia juga harus dilibatkan?"
"Ah tidak, Aku sudah menugaskan Sam untuk mengurus Galeri sampai nanti waktunya aku memberikan tanggungjawab itu pada Melvin setelah dia pulih."
Suta mengangguk mengerti. Mempunyai beberapa usaha yang berbeda membuat Bram mempercayakan semuanya kepada orang-orang yang membantunya selama ini. Bram sendiri lebih memilih untuk bersantai menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Program hamil yang dijalani sang istri bahkan membuat wanita tersebut mengurangi aktifitasnya di luar rumah. Bahkan toko pun sudah diserahkan kepada Lena dan Sita untuk mengurusnya.
Williams tersenyum, entah bagaimana nasibnya saat ini jika saja waktu itu dirinya tak bertemu dan menjadi akrab dengan Bram. Lelaki tampan dengan begitu banyak kebaikan dalam dirinya tersebut membuatnya benar-benar bersyukur. Oleh karenanya Williams lebih memilih menetap dan membantu sang sahabat dari pada menerima tawaran Oma Feli untuk mengurus usahanya.
*
*
*
To be continue