Seorang dokter tampan yang jatuh cinta pada pandangan pertama ke gadis kampung dengan usia yang beda jauh ??
Bagaimana kisah cinta mereka? Ikuti terus cerita ini sampai tamat, oke ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alarice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil Abang
“ Mmmpphhh…. “ Andhara mulai menggeliat pelan, dan sedikit demi sedikit mulai membuka matanya.
“ Ssshhh…. Awww…. “ keluhnya sambil memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sedikit berat. Pusing, sudah pasti.
“ Pusing ? “ tanya Julio, dan Andhara hanya mengangguk.
“ Efek belum sarapan ini pasti. Ck ! “ gerutu Andhara sambil berusaha bangkit dari tidurannya. Julio membantunya bangkit, lalu membantu menyandarkan Dhara di headboard ranjang.
“ Pak dokter kenapa ada di kamar Dhara ? “ tanya Andhara kala ia menyadari kehadiran Julio di dalam kamarnya.
“ Loh, kok kita Cuma berdua? Mana pintunya di tutup lagi. “ setelah Dhara mengamati sekeliling dan ia hanya menemukan dirinya dan Julio di dalam kamar. “ Nggak bener ini pak dokter. Salah ini. Bisa di arak warga kalau begini. “ lanjut Dhara.
“ Tidak akan ada yang mau mengarak kita. Karena kita tidak melakukan sesuatu yang salah. “ jawab Julio dengan nada santai. Ia menghenyakkan pan_tatnya di ranjang di samping dhara.
Andhara memicingkan matanya. “ Bukan muhrim, berduaan di dalam kamar. Kalau warga tahu, pasti di bawa ke balai desa. “ kekeh Andhara sambil memajukan bibirnya beberapa centimeter.
“ Kan kita sudah menjadi muhrim. Saya sudah nikahi kamu tadi. “ jawab Julio santai.
Andhara menoleh ke arah Julio seketika dan memelototkan matanya.
“ Tidak usah pakai melotot segala kayak gitu matanya. Nanti lepas loh matanya. “ canda Julio masih dengan santainya.
“ Pak dokter kalau bercanda jangan kelewatan ya. Nggak tahu apa, Dhara kan masih gadis yang polos yang belum pernah mengenal cinta. Bisa – bisanya bilang udah nikahin Dhara. “ gumam Andhara.
Julio menoleh ke arah Andhara. “ Kalau saya bilang kalau saya memang sudah menikahi kamu, apa kamu akan pingsan lagi ? “ tanyanya setengah bercanda.
Andahara menoleh, dan kini mereka saling menatap. Tapi Andhara segera memutus tatapan mereka.
“ E hem. “ Andhara berdehem. “ Siapa yang pingsan ? “ gumam Andhara lirih.
Bukannya ia tidak tahu dengan apa yang di katakan Julio. Andhara sadar, bahkan sadar sepenuhnya jika dirinya memang sudah di nikahi oleh dokter tampan itu. Karena ia ingat dengan semua kejadian tadi. Ketika ia menandatangani buku kecil, lalu apa yang di katakan oleh si emak tadi. Tapi Andhara hanya mencoba untuk menolak semua kenyataan itu saat ini. Ia tidak ingin terlalu kege-eran.
“ Tadi siapa dong yang pingsan sampai dua kali ? “ tanya Julio sambil memandang lekat ke arah Andhara, istri barunya.
“ Dhara kan terkejut. Menerima kenyataan kalau Dhara udah jadi istri. Padahal Dhara masih terlalu muda. “ Andhara sedikit menyolot.
“ Mana Dhara belum di kasih sarapan lagi sama emak. Orang terkejut juga perlu tenaga. “ lirihnya sambil tertunduk dan memainkan jari jemarinya.
Julio tersenyum tipis mendengar gumaman istri ajaibnya. Jadi, istrinya tadi pingsan sampai dua kali, karena kelaparan? Oh, sungguh di luar dugaan.
“ Lapar ? “ tanya Julio, dan Andhara mengangguk. “ Mau makan dulu, atau mau bicara dulu sama saya soal pernikahan kita ? “ tanyanya lagi.
“ Makan dulu lah. Biar punya tenaga. “ solot Andhara.
“ Emang mau ngapain kok harus punya tenaga ? Mau ngajakin saya berantem ? “ tanya Julio.
“ Siapa tahu aja di butuhin. “ jawab Dhara sekenanya.
“ Tunggu di sini. Saya mintakan makan sama emak. “ ucap Julio sambil berdiri dari duduknya, lalu membuka pintu kamar dan keluar dari dalam kamar meninggalkan Andhara sendirian dengan pikiran berkecamuk.
Andhara memikirkan hidupnya. Benarkan dirinya sudah menyandang status seorang istri sekarang ? Istri dari seorang dokter tampan yang baru di kenalnya dua bulan ini.
Lalu apa kabar dengan tante – tante cantik yang Dhara lihat waktu itu ? Apakah kini dirinya juga menyandang status sebagai pelakor ? Oh, tidak ada dalam kamus hidup seorang Andhara berstatus pelakor. Andhara menggeleng – gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan cepat.
“ Kenapa kepalanya di geleng – gelengkan kayak gitu ? nanti bisa makin pusing. “ suara barithon seseorang mengagetkan Andhara. Ia langsung menoleh ke arah pintu. Seorang laki – laki dengan tingkat ketampanan melebihi rata – rata muncul dari balik pintu dengan membawa sepiring nasi dan segelas air putih di atas nampan.
“ Mau abang suapin, apa makan sendiri ? “ tanya Julio.
“ Abang ? “ beo Andhara.
“ Biasakan mulai sekarang untuk manggil abang. Jangan pak dokter lagi. “ ujar Julio sambil duduk di samping Andhara kembali.
“ Di usahakan. Tapi nggak janji. “ sahut Andhara.
“ Atau mau manggil sayang juga boleh. “ lanjut Julio.
“ Iddiihhh… “ sahut Dhara.
“ Ayo.. Aaaa… “ Julio menyodorkan sesendok nasi berikut lauknya di depan mulut Andhara.
Andhara berusaha meraih sendok itu dari tangan Julio. “ Dhara bisa makan sendiri. “ ucapnya. Tapi Julio tidak membiarkannya.
“ Abang suapin. Hitung – hitung pengganti acara suap – suapan waktu nikahan tadi. Kan kita melewatkannya karena kamu pingsan. “ ujar Julio sambil kembali menyodorkan sendok itu di depan mulut Andhara.
“ Dhara bukan anak kecil. Dhara bisa makan sendiri. “ kekeh Andhara. Ia tetap memaksa meminta sendok itu ke Julio. Dan akhirnya, Julio memberikannya, berikut dengan piring yang berisi nasi itu ke Dhara.
“ Jangan di lihatin gitu. Dhara mau makan. “ protesnya karena ia melihat Julio yang selalu memandangnya sambil dengan senyuman tipisnya.
“ Makan ya tinggal makan saja. Tidak usah memperhatikan abang. “ sahut Julio datar.
“ Dhara nggak bisa kalau makan ada yang merhatiin. “ keluhnya sambil cemberut. “ Entar nasinya ketahan di tenggorokan. Kalau sampai melebihi kapasitas, Dhara bisa kecekik. “ gerutunya.
“ Oke, sorry. Abang nggak lihatin. “ ucap Julio pada akhirnya. Julio mengalihkan pandangannya ke depan. Ia jadi duduk menyamping dari Dhara. Sedangkan Dhara, secepat kilat segera menghabiskan sarapannya yang sangat terlambat. Karena biasanya jam segini, ia sudah mendapat menu coffe break, alias jajan di kantin sekolah.
Bersambung
Hai, semuanyaahhh…. Apa kabar ??? masih pada setia mantengin cerita othor yang garing tapi nggak segaring kerupuk ini kan ? Serenyah kerupuk boleh, tapi garingnya jangan… He… he… he…
Jangan lupa selalu klik tombol like di setiap episode ya guys… Biar othor selalu semangat nulis episode yang baru kalau like nya dari kalian itu banyak…. Ide – ide juga jadi bermunculan…. Kalau kalian lupa klik like, idenya nyumbat doang di otak…
masih aktif kah di NT?
cowok gak ada komitmen & batasan Julio itu
coba kalau dhara yang kayak gt, pasti gak bakal terima
ketawa terus baca nya thor.../Joyful/