NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Setelah proses pemeriksaan yang penuh kehati-hatian, Dokter Sari berhasil menenangkan Vina. Gadis itu akhirnya tertidur karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa, dengan tangan yang masih menggenggam erat ujung baju Raisa.

Suasana hening di dalam ruangan itu pecah ketika suara langkah terburu-buru dan isakan tangis terdengar dari lorong depan. Orang tua Vina datang dengan wajah yang hancur karena kekhawatiran. Ayah Vina, seorang pria paruh baya yang tampak sangat terpukul, hendak langsung menerobos masuk ke dalam ruangan.

"Vina! Di mana anak saya? Saya harus lihat anak saya!" serunya dengan suara bergetar.

Fatih, yang sejak tadi berjaga di depan pintu, segera menghadang dengan langkah tegap. Ia meletakkan tangannya di bahu ayah Vina, menahannya dengan lembut namun sangat tegas.

"Pak, mohon tenang. Saya Dokter Fatih. Vina sudah aman di dalam bersama Dokter Sari dan guru-gurunya," ucap Fatih dengan nada rendah yang berwibawa.

"Lepaskan saya, Dok! Saya ayahnya! Saya ingin memeluk anak saya!" Ayah Vina mencoba merangsek maju, namun Fatih tetap tidak bergeming.

"Pak, dengarkan saya," Fatih menatap mata pria itu dengan sangat serius. "Saat ini, kondisi psikis Vina sedang dalam tahap trauma yang sangat akut. Dia mengalami ketakutan luar biasa terhadap setiap sosok laki-laki. Bahkan saya sendiri, sebagai dokter, tidak diperbolehkan mendekat karena bisa memicu histeria yang membahayakan dirinya."

Langkah ayah Vina terhenti. Wajahnya yang tadi penuh amarah dan kepanikan berubah menjadi rasa sakit yang mendalam.

"Maksud Dokter... saya tidak boleh melihat putri saya sendiri?" tanyanya dengan suara yang pecah.

"Hanya untuk sementara waktu, Pak. Kita harus memberikan dia ruang yang dia rasa aman sepenuhnya. Saat ini, hanya Ibunya yang diizinkan masuk secara bergantian dengan Bu Raisa dan Bu Tia," jelas Fatih.

"Kehadiran Bapak di dalam saat ini, meski maksud Bapak baik, bisa membuat otak Vina menangkapnya sebagai ancaman. Kita tidak ingin dia menyakiti dirinya sendiri karena serangan panik."

Fatih kemudian menoleh ke arah ibu Vina yang sedang menangis di kursi tunggu. "Ibu, silakan masuk perlahan. Temui Dokter Sari di dalam. Tapi tolong, jangan banyak bertanya dulu pada Vina. Cukup hadir dan buat dia merasa dilindungi."

Ayah Vina tertunduk lesu di dinding rumah sakit. Ia jatuh terduduk, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Melihat pemandangan itu, Fatih merasa iba, namun sebagai dokter, ia harus memprioritaskan kestabilan pasiennya.

Di dalam ruangan, Raisa melihat pintu terbuka perlahan dan ibu Vina masuk. Raisa berdiri, memberikan tempatnya di samping brankar kepada wanita yang tampak hancur itu. Ia melirik ke arah jendela kaca kecil di pintu, melihat Fatih yang masih berdiri tegap menjaga area tersebut dari luar.

Ayah Vina masih terduduk di lantai koridor yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding putih rumah sakit. Bahunya berguncang hebat, dan suara isak tangis yang tertahan terdengar begitu menyayat hati. Pria itu terus memukul-mukul dadanya sendiri dengan pelan, seolah sedang mencoba menghalau rasa sesak yang tak tertahankan.

"Saya gagal, Dok..." rintihnya saat Fatih mendekat dan berjongkok di sampingnya.

"Saya ayahnya. Tugas saya melindungi dia. Tapi saat dia butuh saya, saat dia diperlakukan seperti itu... saya tidak ada di sana. Sekarang, untuk sekadar melihat wajahnya saja, saya menjadi ancaman bagi dia. Ayah macam apa saya ini?"

Fatih terdiam sejenak, membiarkan pria itu mengeluarkan seluruh beban di hatinya. Sebagai dokter, Fatih sering melihat luka fisik, namun luka di hati seorang ayah yang merasa gagal adalah salah satu yang paling sulit disembuhkan.

Fatih mengulurkan tangan, menepuk bahu pria itu dengan mantap. "Pak, dengarkan saya. Kejadian ini bukan karena kesalahan Bapak. Kejahatan itu terjadi karena ada orang yang memilih untuk menjadi jahat, bukan karena Bapak gagal menjaga."

Pria itu mendongak dengan mata yang sangat merah. "Tapi dia ketakutan melihat saya, Dok. Putri kecil saya... dia takut pada ayahnya sendiri."

"Itu bukan karena dia membenci Bapak," potong Fatih dengan suara rendah namun menenangkan. "Saat ini, otak Vina sedang dalam kondisi 'siaga satu'. Dia tidak melihat Bapak sebagai ayahnya, tapi memorinya sedang memproyeksikan sosok laki-laki sebagai sumber bahaya. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang wajar dari otak yang mengalami trauma hebat."

Fatih menghela napas, tatapannya melembut. "Justru karena Bapak sangat menyayanginya, Bapak harus kuat. Cara terbaik Bapak menjadi ayahnya sekarang adalah dengan memberikan dia waktu. Biarkan dia merasa aman bersama Ibu, Bu Raisa, dan Bu Tia dulu. Saat dia sudah merasa dunianya tidak lagi runtuh, Bapak adalah orang pertama yang akan dia cari untuk merasa terlindungi kembali."

Ayah Vina mulai mengatur napasnya yang tersengal. Kata-kata Fatih yang logis namun penuh empati sedikit demi sedikit meredakan badai di kepalanya.

"Jangan menyerah pada rasa bersalah, Pak," lanjut Fatih tegas. "Karena setelah ini, Vina butuh ayahnya untuk berdiri tegak mencari keadilan. Kita butuh Bapak untuk menjadi saksi dan pelindung saat proses hukum berjalan nanti. Kalau Bapak hancur sekarang, siapa yang akan memperjuangkan haknya?"

Mendengar kata 'keadilan', tatapan pria itu yang tadinya kosong mulai berubah menjadi kilatan tekad yang redup. Ia menghapus air matanya dengan kasar dan mengangguk pelan.

"Terima kasih, Dokter. Terima kasih sudah menjaga putri saya," ucapnya tulus.

Fatih membantu pria itu berdiri. "Sama-sama, Pak. Sekarang, Bapak ikut saya ke ruangan saya. Bapak perlu minum dan istirahat sejenak agar kondisi Bapak tetap stabil. Kita akan pantau perkembangan Vina bersama-sama."

......................

Pagi buta masih menyelimuti selasar rumah sakit ketika Ayah Vina bangkit dari kursi tunggu dengan gerakan yang sangat kaku. Wajahnya yang semula layu kini berubah drastis, rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang, dan matanya memancarkan amarah yang sangat pekat. Ia merogoh saku jaketnya, menggenggam kunci motor dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Tanpa suara, ia melangkah lebar menuju pintu keluar. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Rendi. Ia tahu di mana rumah keluarga terpandang itu berada. Di kepalanya, akal sehat sudah kalah oleh insting seorang ayah yang ingin menghancurkan siapa pun yang telah merusak hidup putrinya.

Namun, baru saja ia mencapai pintu geser otomatis lobi, sebuah tangan yang kuat mencengkeram bahunya, menahan langkahnya dengan tenaga yang tak terelakkan.

"Mau ke mana, Pak?" suara Fatih terdengar dingin namun penuh penekanan di belakang telinganya.

Ayah Vina menyentak bahunya, namun Fatih tidak melepaskannya. "Lepas, Dok! Jangan halangi saya! Anak itu harus membayar semuanya sekarang juga!"

Fatih memutar tubuh pria itu hingga mereka berhadapan. "Lihat mata saya, Pak," ucap Fatih dengan tatapan yang sangat tajam, mengunci amarah pria di depannya. "Bapak mau menemui Rendi sekarang? Dengan kondisi kepala panas seperti ini? Bapak hanya akan berakhir di penjara karena penganiayaan, dan Vina akan kehilangan satu-satunya pelindung yang ia miliki."

"Dia sudah menghancurkan putri saya, Dok! Saya tidak bisa diam saja!" teriak Ayah Vina, suaranya parau menahan tangis kemarahan.

"Saya tahu! Saya juga marah!" balas Fatih, volumenya sedikit naik namun tetap terkendali. "Tapi kalau Bapak menyerang mereka sekarang tanpa strategi, keluarga mereka yang punya pengaruh besar itu akan dengan mudah memutarbalikkan fakta. Bapak akan dicap sebagai penjahat, dan kasus Vina akan ditutup dengan uang damai. Apa itu yang Bapak mau?"

Langkah pria itu terhenti. Napasnya memburu.

"Vina butuh Bapak yang bebas, yang bisa berdiri di pengadilan untuk membelanya, bukan ayah yang mendekam di sel karena main hakim sendiri," lanjut Fatih, suaranya kini melunak namun tetap tegas. "Dokter Sari sudah mengumpulkan bukti fisik yang tidak bisa dibantah. Bu Raisa dan Bu Tia juga sudah mengamankan saksi-saksi di sekolah. Kita akan hancurkan mereka lewat jalur yang tidak bisa mereka hindari."

Fatih mengambil kunci motor dari tangan pria itu. "Kembali ke ruangan. Cuci muka Bapak. Temani istri Bapak. Biarkan saya dan tim hukum yang memastikan polisi bergerak pagi ini juga. Jangan biarkan kemarahan sesaat Bapak memberi mereka celah untuk menang."

Ayah Vina perlahan melepaskan kepalan tangannya. Tubuhnya yang tadi tegang kini melunglai, ia bersandar pada pilar lobi dan menangis sejadi-jadinya.

1
Zainatul Fibriyana
bagus bgt cerita
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Zainatul Fibriyana
bagus bgt ceritanya
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!