"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.
"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalah Telak
"Aku menyukai mu, Dariush."
DEG
Mata Dariush menatap lekat istrinya. "Ucapkan sekali lagi." Tuturnya, dengan suara seraknya.
"I like you, Dariush." Jawab Bella lembut.
"Sedikit lagi, aku akan mendengar ucapan cinta darimu honey."
"Berjuanglah!" Jawab Bella dengan tersenyum hangat.
Bella dan Dariush pergi dari sana. Keduanya berbelanja. Tepatnya Bella yang berbelanja. Tangan Fabio sudah penuh dengan belanjaan istri bos-nya itu.
Seusai dengan kegiatannya, pengantin baru ini sudah kembali ke hotel. Malam nanti Dariush akan mengajak istrinya dinner di restorant yang sudah ia booking. Bella menurut tanpa membantah.
Dariush membawa istrinya mandi bersama. Di dalam bathub yang besar itu, tangan kokoh ini terus meremas dua gunung kembar istrinya.
"Kapan kamu hamil? Apa sudah ada di dalam sini?" Tanya Dariush dengan polosnya.
Kepala Bella menoleh, ia membalikkan badannya dan duduk di pangkuan suaminya. "Belum. Kita baru melakukannya beberapa hari ini. Setahu aku mungkin menunggu sampai satu atau dua bulan."
"Ck...lama sekali. Aku tidak sabar melihat kamu hamil."
"Sabar, rezeki jodoh dan maut ada di tangan Tuhan." Ucap Bella lembut.
"Kalau aku tidak kunjung hamil apa kamu akan membuangku?" Tanya Bella dengan tersenyum getir.
Seketika darah di dalam diri Dariush mendidih saat mendengar perkataan konyol istrinya. Ia menatap tajam istrinya tanpa berkedip.
"Omong kosong apalagi Arabella? Aku menikahi mu karena aku mencintai mu, kalau kamu tidak kunjung hamil aku tak masalah. Selagi kita masih bisa berjuang dan berusaha." Tegas Dariush.
Bella menghela nafasnya dan menyudahi mandinya. Tangan Dariush menahannya. "Kita belum selesai honey." Ucap Dariush.
"Aku kedinginan ingin istirahat, dinner kita masih lama kan?"
Dariush segera berdiri dan memakaikan handuk ke istrinya. Ia juga mengenakan handuk lalu menggendong istrinya.
"Hmm kita tidur dulu."
Ketika keduanya selesai berganti baju, di tempat tidur mata Bella menatap lekat suaminya. Entah apa yang ia rasakan. Tangan halus Dariush membelai wajah cantik istrinya yang teduh.
Lama kelamaan air mata Bella menetes begitu saja. "Kenapa hmm?" Tanya Dariush lembut.
"Apa kamu akan mengkhianati ku?"
"Tidak!" Jawab Dariush.
"Apa kamu akan meninggalkan ku?" Tanya Bella lagi.
"Tidak! Sudah ayo kita tidur."
"Kalau kamu ingin membuangku lebih baik sekarang. Sebelum aku jatuh cinta padamu. Jika aku sudah mencintaimu, mungkin kamu akan kewalahan menghadapiku." Lirih Bella dengan mata sendu.
Dariush menarik nafas dalam dalam. "Kita akan hidup bersama selamanya. Untuk apa aku membuangmu? Lebih baik aku membuang semua uangku daripada harus kehilangan mu!" Ucap Dariush dengan serius.
Mata Bella sudah berkaca-kaca lagi. Entah apa yang di rasakan sekarang. Ia takut moment seperti ini tak datang dua kali. Meskipun Bella belum mencintai suaminya, tapi hatinya sudah sangat nyaman dan selalu ingin dekat dengan Dariush.
Tangan Dariush membawa Bella ke dekapannya. Ia mengusap lengan istrinya yang lembut. Bella semakin menelusupkan kepalanya ke dada polos suaminya. Ia bingung dengan perasaannya saat ini.
Keduanya larut dalam pikiran masing masing. Mereka tiba tiba diam seribu bahasa. Hanya belaian lembut dari tangan Dariush ke tubuh Bella.
Lama kelamaan mata Bella terpejam di pelukan suaminya. "Maafkan aku Arabella, aku terpaksa mengurungmu seperti ini karena tidak ingin kehilangan mu. Aku sudah kehilangan ibuku, aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai lagi."
-
-
-
Bella dan Dariush sudah bersiap akan pergi dinner. Dariush memakaikan long coat pada istrinya karena udara di luar sangat dingin.
"Terima kasih." Ucap Bella datar.
Halis Dariush terangkat melihat istrinya yang cuek. Ia berusaha bersikap tenang menghadapi Bella saat ini. Tak lupa Dariush mencium lembut bibir ranum istrinya. Namun Bella sama sekali tak membalasnya.
"Kenapa sayang?"
"Ayo cepat, aku lapar." Jawab Bella ketus dan melewati Dariush begitu saja.
Dariush mengalah, ia mengikuti istrinya dari belakang. Ketika sampai di lobby hotel ia menautkan jarinya ke jemari Arabella.
Wanita bermanik indah ini tak menolak, ia juga tak menampik uluran tangan dari suaminya. Bella melingkarkan tangannya ke lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di pundak Dariush.
Mereka sudah menginjakkan kakinya di sebuah restorant yang sudah di booking Dariush. Sampai disana Bella masih diam, mata Dariush semakin lekat menatap istrinya ini.
Namun Bella memalingkan wajahnya melihat ornamen di dinding. Ia seolah tak memperdulikan Dariush. Hatinya gamang, keraguan dan kegundahan di hatinya masih besar.
Makanan yang sudah di pesan Dariush sudah datang. Keduanya makan malam bersama. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu.
Namun ketika mereka makan malam, ada seorang wanita menghampirinya. Dan menyentuh pundak Dariush.
"Dariush...!"
Sontak Bella dan Dariush menoleh ke arah suara. Tangan Bella menghempaskan sendok dan garpu ke piring. Sorot matanya menatap tajam wanita yang memanggil suaminya.
"Hmm ada apa? Lepaskan tangan mu!" Ucap Dariush dengan suara beratnya.
"Aku merindukan mu, Dariush. Kita sudah lama tidak berjumpa. Aku bisa menjelaskan semuanya." Ucap wanita yang bernama Rosaline.
"Cukup Rosaline! Kau membuat mood-ku berantakan!" Geram Dariush. Tatapan matanya menatap istrinya yang dari tadi hanya diam.
Bohong kalau Bella tidak mendidih. Ingin rasanya ia mencakar wanita yang menggoda suaminya ini. "Kamu tidak tuli kan? Suamiku mengusir mu!" Sinis Bella dengan ketus pada Rosaline.
Rosaline menoleh dan menatap Bella dengan wajah sinisnya. "Suami? Sejak kapan? Dariush mencintai ku, dia hanya salah paham! Aku tahu kalau kamu hanya wanita bayaran!"
BRAK
Dariush menggebrak mejanya, hingga beberapa pengunjung melihatnya. Bella dan Rosaline pun sontak terkejut. Wajah Dariush seperti ingin mematikan lawannya.
"Dia istri ku, kami sudah menikah secara sah! Dan aku mencintai istriku ini. Jaga ucapanmu, jika kau masih ingin hidup." Ucap Dariush dengan suara beratnya.
GLEG Rosaline menelan salivanya, ia menoleh pada Arabella hatinya cemburu. Namun ia tidak akan mengalah. Tangannya ingin meraih tangan Dariush namun dengan cepat Dariush menghempaskannya.
Dariush berdiri dan mendekati istrinya. "Kita pulang."
Bella menerima uluran tangan Dariush. Namun sebelum pergi ia menatap tajam Rosaline.
"Dariush suamiku, aku tidak akan membiarkan siapapun merusak pernikahan kami. Wanita seperti mu tidak pantas mendapatkan cinta suamiku. Karena suamiku terlalu berharga. Dan yang pantas mendapatkan cinta Dariush hanya aku, ISTRI-NYA." Ucap Bella dengan menohok.
Rosaline tak terima, ia mengambil segelas air putih dan menyiram Arabella. Seketika mata Dariush membulat, dan satu tamparan mendarat di wajah Rosaline.
Rosaline memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Dariush. Ia tak menyangka jika pria yang ia cintai bisa memukulnya.
Begitu pun dengan Bella terkejut bukan main. Kejadian itu membuat ricuh di dalam restorant. Fabio baru datang setelah menerima perintah dari Dariush.
Fabio meminta maaf pada pihak restorant dan akan mengganti kerugiannya. "Urus dia!" Tutur Dariush dengan menujuk wajah Rosaline dengan telunjuknya.
Dariush membawa istrinya pergi dari sana. Air mata Bella menggenang. Ia tidak terima di permalukan seperti ini.
-
-
-
Ketika di luar, Bella melarikan diri dan Dariush dengan mata elangnya mengejarnya. "Arabella tunggu!" Teriak Dariush.
Tangan Dariush lebih cepat, ia segera menangkap istrinya dari belakang. "Lepaskan BRENGSEK!! LEPAS!" Bella berteriak dan memberontak.
"CUKUP ARABELLA!"
"Aku sudah bilang kan lepaskan aku! Aku benci kamu Dariush!" Bella semakin berteriak dan memukul mukul dada suaminya dengan keras.
Air mata Dariush menetes. Ia pun heran, kenapa ini bisa terjadi padanya. Saat itu Dariush menyadari jika ia memang benar benar mencintai Arabella.
Dariush segera menggendong istrinya ke pundaknya seperti karung beras. Tangan Bella terus berontak. Banyak orang memperhatikannya. Namun ia sama sekali tak perduli. Dariush memasukkan istrinya ke mobil dan memasangkan seatbelt pada istrinya.
"Kita pulang yah." Ucap Dariush lembut.
Nafas Bella tersengal, matanya sudah sembab dan lipstik di bibirnya sudah memudar. Ibu jari Dariush menyentuh benda kenyal istrinya itu dan mengecupnya.
"Aku kalah telak, Arabella."