‘’Hei, Mbak! Ini lelaki yang kamu inginkan, bukan? Eh, suamiku maksudnya! Secara kan dia masih suamiku. Ambillah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Ardila Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cukup Satu Anak Saja
‘’Apa? Bibi beneran?’’ tanyaku tak percaya menatap ke arah bibi dengan apa yang barusan kudengar langsung dari wanita yang setia menemaniku itu.
‘’Iya, Bu. Bahkan Mas Reno sering mampir ke sini cuman menemui Naisya dan bermain dengannya,’’ katanya dengan santai dan membukakan pintu untukku.
Membuat aku terdiam membisu. Bagaimana mungkin putri mungilku yang selama ini hanya dekat dengan papanya saja dan tak mau dekat dengan lelaki lain selain papanya, kini bisa sedekat itu dengan Reno si lelaki asing. Seringkali teman-teman dari lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu bermain ke rumah dan mengajak Naisya untuk bermain bersamanya, tapi nihil dia tak mau. Rasanya aku tak percaya, tetapi jika bibi yang bicara mau tak mau aku harus percaya. Karena apa yang dikatakan bibi tak pernah dusta yang keluar dari mulutnya selama kenal denganku
Eh by the way, aku selama di rumah sakit tak pernah tahu-menahu jika Reno sering berkunjung ke rumah dan bermain dengan putri semata wayangku. Ahh, dia sendiri juga enggan memberitahuku, atau dia khawatir jika aku akan melarangnya? Dasar lelaki! Bisa-bisanya dia mengambil hati putriku, kuyakin ini adalah caranya untuk bisa lebih dekat denganku. Tapi, aku tak habis pikir kenapa dia bisa menghabiskan waktunya untuk bermain dengan putriku, apa dia tak ada kerja lain? Hingga dia begitu mudahnya ke sana dan ke sini, belum lagi dia selalu menemui dan menjaga aku di rumah sakit. Ahh, aku bingung sekali sama itu lelaki.
‘’Naisya mana, Bi?’’ spontan aku bertanya dan bergegas memasuki rumah yang selama ini kurindukan. Aku takjub memandangi rumah yang begitu bersih dan rapi. Apa bibi Sum tak kerepotan? Membersihkan dan merapikan rumah sebesar ini, ditambah pula merawat Naisya serta memasak setiap hari.
‘’Ya Allah, kasihan sekali Bibi,’’ gumamku dalam hati.
‘’Di kamarnya, Bu. Lagi tidur,’’ sahut bibi Sum yang tengah bergegas menenteng koper menuju kamarku.
Membuat aku tercengang dibuatnya,’’Lah, nggak biasanya dia tidur sesore ini, Bi.’’
‘’Itu dia, Bu. Mungkin karena semalaman nggak tidur, dia nggak bisa tidur. Maunya bermain bersama Mas Reno,’’ katanya, lagi-lagi membuat aku terkesiap dan bikin kesal. Aku mengikuti langkah bibi menuju kamarku.
‘’Ya Allah. Kenapa bisa kayak gini, Bi?’’
‘’Apanya, Bu?’’ Dia malah bertanya balik dan bergegas membuka kamarku.
Mataku tertuju pada putri mungilku yang tengah terlelap, dia tampak memeluk boneka doraemonnya. Membuat hatiku teriris menatapnya. Ya, boneka itu adalah hadiah ulang tahun dari papanya tahun yang lalu. Kenapa dia ketiduran sambil memeluk erat bonekanya itu? Apa dia merindukan papanya?
‘’Sayang, ma’afin Mama ya,’’ bisikku sembari mengelus rambutnya. Dadaku seketika terasa ada yang menghimpit dan buliran air mata lolos begitu saja. Hatiku sungguh teriris menatap gadis kecilku, seusia dia membutuhkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya, namun lain halnya dengan anakku.
Ya Allah, aku bingung. Bingung dengan keputusanku, apa aku egois? Aku merasa hanya mementingkan diri sendiri hingga melupakan putri kecilku yang masih membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah.
‘’Bu, sebaiknya istirahat dulu ya atau mau makan Ibu? Masakan udah Bibi siapkan,’’ katanya yang mampu membuyarkan lamunanku. Aku menghela napas berat dan menyeka buliran air mata yang menetes sejak tadi.
‘’Ah, iya, Bi. Aku mau istirahat aja. Nggak ada selera soalnya, Bi,’’ sahutku kemudian. Ah, aku aku tak habis pikir. Rumah seluas ini begitu tampak rapi olehku, terlebih kamarku yang begitu sangat rapi. Padahal aku tak memberi tahu bibi kapan aku akan pulang ke rumah. Apa Reno yang memberitahu bibi Sumi? Kenapa lelaki itu menurutku begitu berlebihan sikap yang ditunjukkannya terhadapku?
‘’Ya udah, Ibu istirahatlah. Jangan paksakan untuk berpikir banyak, kan Ibu baru sembuh.’’ Aku hanya mengangguk. Wanita separuh baya yang mengenakan kerudung itu bergegas keluar dari kamarku.
Aku kembali menatap Naisya.
‘’Ma’afin Mama ya, Sayang.’’
Seketika dia tampak menggeliat, lalu membuka mata dengan pelan dan mengusap bola matanya. Wajahnya tampak senang dan matanya membulat.
‘’Mama, udah pulang?’’ Aku menyahut dengan anggukan, lalu memeluknya dengan erat.
‘’Papa kerja terus ya, Ma?’’
Aku menghela napas gusar dan melepaskan pelukan dengan pelan. Kupegang pundaknya dengan pelan sembari menatap wajah comelnya.
‘’Iya, Sayang. Jangan ditanyakan lagi Papa ya.’’
‘’Kok gitu, Ma? Kan Adik rindu banget sama Papa,’’ sungutnya seketika. Yang membuat hatiku teriris mendengar ucapannya yang begitu polos.
‘’Eh, Mama mau tanya nih. Adik kenal nggak sama Om Reno?’’ aku berusaha mengalihkan pembicaraanku. Karena jika terus-terusan membahas papanya, dia akan semakin bertambah rindu terhadap papanya dan itu akan membuat aku semakin teriris hatiku.
‘’Kenal. Omnya baik banget, Ma. Adik selalu diajak main dan dibelikan es krim,’’ katanya dengan antusias menyahut pertanyaanku, membuat aku lega seketika.
‘’Oh ya? Adik senang main sama Om Reno?’’
Dia tampak tersenyum dan mengangguk secepatnya. Aku merasa sedikit lega pembicaraan tentang papanya bisa dialihkan.
‘’Eh, Adiknya udah bangun yah?’’ suara bibi Sum terdengar dari luar, dia bergegas melangkah menghampiri kami.
‘’Kita mandi dulu sama Bibi. Setelah itu kita main Barbie, gimana?’’ Membuat raut wajahnya berubah seketika dan bergegas mendekati bibi Sum.
‘’Mau, Bi. Tapi Omnya nggak ada di sini. Biasanya kan Adik main sama Om Reno,’’ keluhnya yang berhasil membuat aku terkesiap, lalu beralih menatap wanita separuh baya itu.
‘’Sama Bibi aja, Dik. Omnya sibuk kerja,’’ kilah bibi.
‘’Kok sibuk semua, Bi? Papa sibuk, Om Reno juga sibuk.’’ Dia tampak cemberut, aku yang tadinya kesal, malah tersenyum karena melihat bibir mungilnya yang maju beberapa senti.
‘’Sayang! Kalo Adik udah besar, pasti Adik ngerti. Orang seusia Om Reno dan juga Papa memang sibuk banget kerja di kantor,’’ kataku lirih dan mensejajarkan tubuhku dengannya, lantas menatap pupil matanya.
‘’Nah, Mama benar banget,’’ timpal bibi Sum sembari mengelus kepalanya.
‘’Ya udah Adik mau mandi dulu sama Bibi ya, Ma.’’ Aku menyahut dengan anggukan dan seulas senyuman. Bibi Sumi pun bergegas membawa Naisya menuju bathroom. Aku menghela napas berat.
‘’Ma’afkan Mama, Sayang. Bukannya Mama egois,’’ gumamku dengan suara bergetar.
Sepertinya aku perlu beristirahat sejenak. Tubuh dan pikiranku butuh istirahat. Ah iya, sejak tadi aku belum mengganti pakaianku. Sebaiknya aku ganti dulu dengan pakaian rumah yang biasa aku kenakan.
Setelah aku mengganti pakaian. Benda pipih berdering seketika, bergegas kulihat.
‘’Mama? Mau ngapain beliau?’’
‘’Assalamua’laikum, Ma!’’ Aku bertengger ke tempat tidur, tak lupa benda pipih kuletakkan di telinga.
‘’Wa’alaikumussalam. Ma’af ya, Nak. Selama kamu di rumah sakit, Mama nggak ada di sana. Mama nggak bisa meninggalkan Papamu sendirian—‘’
‘’Ma, enggak apa-apa kok. Aku ngerti banget gimana posisi Mama sekarang, apalagi Papa masih sakit. Kan Mama udah pernah datang jenguk aku,’’ kataku pelan yang memtong pembicaraan mama yang masih berstatus sebagai mertuaku itu.
‘’Makasih ya kamu udah ngertiin Mama. Pantes aja Deno begitu sangat mencintai kamu.’’
Membuat aku terkesiap dan lidahku kelu. Malah yang ada kebalikannya. Dia malah diam-diam berkhianat di belakangku. Dia begitu mudahnya mengucapkan janji suci di hari pernikahan, namun ternyata malah mengingkari. Padahal dia mengucapkan janji suci di hadapan Allah yang membuat ‘arsy Allah bergunjang, dia kira janji suci itu sebuah permainan.
Aku tak habis pikir, begitu teganya dia menodai cinta suci yang telah kuberikan padanya. Selama ini apa pun aku berikan padanya. Aku masih teringat, ketika dia belum punya apa-apa malah aku selalu di sampingnya memberikan support. Aku menemani dia dari nol hingga dia mendapatkan perusahaan dari papaku, hingga dia mendapatkan segalanya. Tapi kini apa balasan dari seorang Deno? Air susu dibalas dengan air tuba.
‘’Ma—‘’
‘’Sayang, kamu tahu kan? Kalo Deno menginginkan anak laki-laki darimu. Udah saatnya kamu hamil lagi loh. Kan sekarang Naisya udah gede,’’ ujar mama yang memotong ucapanku. Membuat aku menghela napas gusar dan menggelengkan kepala.
‘’A—aku nggak bisa, Ma.’’
‘’Kenapa, Nel? Apa alasannya? Terus kamu mau KB gitu?’’ terdengar suara mertuaku itu kesal di seberang sana.
Ya, aku memang sudah KB sejak Naisya berumur 4 bulan. Sekali dalam tiga bulan aku mendatangi dokter ke rumah sakit untuk memasang KB, yang hanya berupa suntikkan. Alhamdulillah sangat cocok bagiku. Terkadang kan ada wanita yang tak cocok memasang KB untuknya. Lain halnya dengan aku, membuat tubuhku begitu berisi. Ya, jika KB cocok maka akan berefek pada tubuh, tubuh akan semakin sehat dibuatnya.
Sebenarnya KB itu ada juga yang berupa pil, namun aku lebih memilih suntikkan. Karena kalau pil terkadang bisa saja kita lupa untuk mengkonsumsinya, tetapi jika berupa suntikkan itu hanya sekali saja dan kita bisa memasang di alarm jadwal KB itu kapan waktunya. Lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu tak tahu-menahu soal aku memasang KB, hanya aku yang berinisiatif untuk melakukannya. Dulu, alasanku menunggu Naisya besar dulu. Lain halnya sekarang, aku tak mau punya banyak anak dengan lelaki pengkhianat seperti dia. Cukup satu anak saja dengan lelaki bajingan seperti Deno.
‘’Saatnya aku untuk jujur ke Mama. Aku nggak bisa terusan menutupi kebohongan ini,’’ kataku dalam hati.
‘’Se—sebenarnya aku sejak kemarin mau bilang tentang aku dan Mas Deno sama Mama. Udah seminggu lebih dia nggak di rumah lagi. Dia ketahuan sama aku selingkuh selama 4 tahun yang selama ini ditutupinnya dari aku. Hati istri mana yang nggak akan sakit dibuatnya, Ma? Lelaki yang selama ini aku cintai, aku temani dan aku perjuangin malah berkhianat di belakangku. Sakit banget rasanya, Ma.’’
Bersambung.
sebaik ap mertu klo sdh pisah ia anak nya urusan x..