NovelToon NovelToon
Mahkota Surga Di Balik Cadar Fatimah

Mahkota Surga Di Balik Cadar Fatimah

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Cintapertama / Mengubah Takdir / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Darah kakaknya masih basah di gaun pestanya saat Zahra dipaksa lenyap.
Melarikan diri dari belati ayahnya sendiri, Zahra membuang identitas ningratnya dan bersembunyi di balik cadar hitam sebagai Fatimah. Di sebuah panti asuhan kumuh, ia menggenggam satu kunci logam bukti tunggal yang mampu meruntuhkan dinasti berdarah Al-Fahri. Namun, Haikal, sang pembunuh berdarah dingin, terus mengendus aromanya di setiap sudut gang.
Di tengah kepungan maut, muncul Arfan pengacara sinis yang hanya percaya pada logika dan bukti. Arfan membenci kebohongan, namun ia justru tertarik pada misteri di balik sepasang mata Fatimah yang penuh luka. Saat masker oksigen keadilan mulai menipis, Fatimah harus memilih: tetap menjadi bayangan yang terjepit, atau membuka cadarnya untuk menghancurkan sang raja di meja hijau.
Satu helai kain menutupi wajahnya, sejuta rahasia mengancam nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Kerudung yang Lusuh

Haikal melangkah maju dengan sepatu bot yang menginjak ranting kering hingga menimbulkan bunyi berderak yang mematikan. Matanya yang tajam menyisir semak belukar di balik pohon besar tempat Fatimah dan Arfan meringkuk dalam diam yang mencekam.

Cahaya fajar yang mulai menyapu hutan tidak lagi terasa hangat, melainkan seperti sorot lampu pencari yang siap menelanjangi persembunyian mereka. Fatimah merasakan jemari Arfan mengeras di atas batu tajam, sebuah insting perlindungan yang lahir dari kemarahan seorang pria yang sedang terluka.

"Zahra, aku bisa mencium aroma ketakutanmu dari sini, jangan paksa aku membakar seluruh area ini hanya untuk menyeretmu keluar," teriak Haikal lagi dengan nada yang lebih dingin.

Fatimah memejamkan mata, memohon kekuatan pada Sang Pemilik Nyawa agar suaranya tidak bergetar saat ia memutuskan untuk menghadapi sang eksekutor. Ia tahu bahwa Arfan tidak akan mampu bertarung dalam kondisi luka perut yang masih menganga, dan menyerahkan diri adalah satu-satunya cara untuk mengalihkan perhatian Haikal.

Dengan gerakan perlahan yang penuh keanggunan namun sarat akan keputusasaan, Fatimah melepaskan pegangannya pada lengan Arfan. Ia memberikan isyarat dengan telunjuk di bibir agar Arfan tetap diam di tempat, meskipun ia melihat tatapan keberatan yang sangat besar dari mata pria itu.

"Tuan Arfan, tetaplah di sini dan selamatkan dirimu, biarkan aku menyelesaikan urusan masa laluku sendiri," bisik Fatimah hampir tanpa suara.

Arfan mencoba menahan pergelangan tangan Fatimah, namun tenaganya seolah menguap terbawa angin pagi yang membekukan. Ia hanya bisa melihat punggung wanita itu menjauh dari balik pohon, melangkah keluar menuju area terbuka dengan cadar yang berkibar pelan.

Keberanian Fatimah terasa seperti tamparan bagi Arfan yang selama ini hanya menganggap wanita itu sebagai pengecut yang bersembunyi di balik kain hitam. Ada rasa sesak yang menghimpit dada Arfan saat menyadari bahwa wanita yang ia benci justru sedang mempertaruhkan nyawa demi keselamatannya.

"Lepaskan dia, Haikal! Aku sudah di sini, jadi biarkan orang lain yang tidak terlibat pergi dari hutan ini," ujar Fatimah dengan suara lantang yang memecah kesunyian.

Haikal tertawa kecil, suara tawa yang terdengar lebih mirip desisan ular di tengah padang pasir yang gersang. Ia menurunkan tangannya yang semula berada di balik pinggang, menatap Fatimah dengan pandangan meremehkan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Matanya tertuju pada kerudung hitam Fatimah yang kini tampak lusuh, penuh noda tanah dan robekan kecil akibat gesekan duri di sepanjang pelarian mereka. Bagi Haikal, penampilan Fatimah saat ini adalah simbol kejatuhan martabat keluarga Al Fahri yang selama ini sangat diagung-agungkan oleh tuannya.

"Lihatlah dirimu, Zahra, putri mahkota yang dulu dipuja kini tidak lebih dari sekadar pengemis dengan kerudung yang lusuh dan berbau tanah," ejek Haikal sambil melangkah mendekat.

Fatimah tetap berdiri tegak, tidak membiarkan hinaan Haikal meruntuhkan harga diri yang telah ia bangun kembali melalui sujud panjangnya. Baginya, pakaian yang lusuh adalah mahkota kesabaran, jauh lebih mulia daripada gaun sutra yang dibeli dengan uang hasil keringat orang-orang yang dizalimi ayahnya.

Ia bisa melihat Haikal mulai memberi isyarat kepada dua anak buahnya yang muncul dari balik rimbun pepohonan di sisi kiri. Situasi semakin terjepit, namun Fatimah terus memutar otak untuk memastikan Arfan memiliki cukup waktu untuk merangkak pergi menuju jalan desa yang lebih aman.

"Hina saja sesukamu, karena kemuliaan tidak terletak pada kain yang aku pakai, melainkan pada kejujuran yang tidak kalian miliki," balas Fatimah dengan tenang.

Haikal mendengus kasar, ia kehilangan kesabaran dan memberi tanda agar anak buahnya segera membekuk Fatimah dan membawanya ke dalam mobil. Namun, sebelum tangan kasar salah satu penjaga itu menyentuh bahu Fatimah, sebuah batu besar melesat dari balik pohon dan menghantam dahi sang penjaga hingga tersungkur.

Arfan keluar dari persembunyiannya dengan kaki yang gemetar namun tatapan mata yang membara, memaksakan diri untuk berdiri tegak meski darah kembali merembes dari perban perutnya. Ia tidak akan membiarkan seorang wanita menghadapi monster sendirian, tidak di depan matanya sendiri, dan tidak setelah apa yang ia ketahui semalam.

"Jangan berani-berani menyentuhnya dengan tangan kotormu, atau aku pastikan kau akan membusuk di penjara paling gelap di negeri ini!" ancam Arfan dengan suara yang dalam.

Haikal terkejut melihat kehadiran Arfan, pengacara yang seharusnya sudah mati atau setidaknya pingsan karena kehilangan banyak darah di dalam gua semalam. Ia menatap Arfan dengan rasa muak, menganggap pria itu sebagai kerikil pengganggu yang selalu menghalangi rencana besar tuannya sejak kecelakaan Luna terjadi.

Ia mencabut sebuah benda hitam dari balik pinggangnya, sebuah senjata api yang berkilat dingin tertimpa cahaya matahari yang kini mulai meninggi. Fatimah menjerit kecil dan segera berlari menghalangi Arfan, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai hidup di depan moncong senjata itu.

"Jangan Haikal! Jika kau membunuhnya, ayahku tidak akan pernah mendapatkan informasi tentang flashdisk yang kalian cari selama ini!" teriak Fatimah dalam kepanikan.

Ancaman Fatimah membuat Haikal ragu sejenak, karena memang benar bahwa tujuan utama pencarian ini adalah mendapatkan kembali data-data rahasia yang dicuri oleh Luna sebelum kematiannya. Ia menurunkan sedikit senjatanya, namun matanya tetap mengunci pergerakan Arfan yang tampak sangat lemah dan nyaris ambruk.

Arfan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan kesadarannya yang mulai bergoyang karena rasa sakit yang luar biasa hebat menjalar ke seluruh sarafnya. Ia menyadari bahwa Fatimah sedang melakukan negosiasi yang sangat berbahaya, menggunakan sebuah informasi yang bahkan Arfan sendiri belum tahu pasti kebenarannya.

"Flashdisk itu ada padaku, Haikal, jika kau ingin mendapatkannya, biarkan wanita ini pergi sekarang juga ke panti asuhan," bohong Arfan untuk melindungi Fatimah.

Haikal menatap Arfan dan Fatimah bergantian, mencoba mencari kebohongan di antara sepasang mata yang penuh dengan rahasia tersebut. Ketegangan di antara mereka semakin memuncak saat suara sirine polisi sayup-sayup terdengar dari arah kaki bukit, menandakan bahwa bantuan yang diminta Arfan melalui pesan singkat sebelum ponselnya mati mulai mendekat.

Wajah Haikal berubah menjadi sangat muram, ia tahu bahwa ia tidak punya banyak waktu lagi sebelum area ini dikepung oleh petugas keamanan. Ia harus mengambil keputusan cepat, apakah akan membawa Fatimah dengan paksa atau mundur sejenak untuk mengatur strategi yang lebih matang dan aman.

"Kalian pikir ini sudah berakhir? Aku akan kembali, dan saat itu terjadi, tidak akan ada lagi kerudung yang bisa melindungimu dari murka ayahmu, Zahra!" ancam Haikal sambil memberi kode kepada anak buahnya untuk mundur.

Mobil hitam itu melesat pergi meninggalkan kepulan debu yang menyesakkan paru-paru, menyisakan Fatimah dan Arfan yang langsung terduduk lemas di atas rumput yang basah. Fatimah segera menghampiri Arfan, menyangga kepala pria itu di pangkuannya sambil mencoba menekan luka di perut Arfan yang kini mengeluarkan darah segar yang lebih banyak.

Arfan menatap wajah Fatimah yang tertutup cadar, merasakan kehangatan air mata wanita itu yang menetes dan mengenai punggung tangannya yang dingin. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya terasa kelu, dan pandangannya perlahan-lahan mulai menggelap seiring dengan semakin dekatnya suara sirine di telinga mereka.

"Bertahanlah, Tuan Arfan, jangan tinggalkan aku sendirian di tengah semua kerumitan ini," tangis Fatimah pecah sambil terus memanggil nama Arfan berkali-kali.

Petugas kepolisian muncul dari balik semak-semak bersama Ibu Sarah yang tampak sangat cemas, segera melakukan pertolongan pertama pada Arfan yang sudah kehilangan kesadaran sepenuhnya. Fatimah berdiri terpaku, melihat bagaimana Arfan diangkat ke atas tandu dan dibawa pergi menuju mobil ambulans yang sudah menunggu di pinggir jalan.

Ibu Sarah mendekati Fatimah, memeluk tubuh mungil yang sedang gemetar hebat itu dengan penuh kasih sayang seorang ibu yang memahami penderitaan anaknya. Ia melihat kerudung Fatimah yang lusuh dan menyadari bahwa perjuangan wanita ini untuk menebus masa lalu baru saja memasuki babak yang paling berdarah dan menyakitkan.

"Ayo pulang, Fatimah, biarkan Tuhan yang menjaga Arfan di sana, sementara kita harus menjaga janji Ibu Sarah agar panti tetap aman," ajak Ibu Sarah dengan lembut.

Fatimah mengangguk lemah, mengikuti langkah Ibu Sarah meninggalkan hutan yang penuh kenangan buruk itu tanpa menyadari bahwa di balik semak-semak, ada sebuah benda kecil yang terjatuh dari saku Arfan. Benda itu berkilat kecil, sebuah kunci dengan gantungan nama yang tertulis dengan tinta emas yang sudah mulai memudar akibat gesekan waktu.

Langkah kaki di tengah malam yang akan datang mungkin tidak akan lagi membawa kedamaian, karena identitas Fatimah kini sudah terbuka lebar di depan musuh-musuhnya. Ia harus mempersiapkan diri untuk malam tanpa cahaya yang akan segera datang, di mana kejujuran dan nyawa akan menjadi taruhan di atas meja pengkhianatan yang dingin.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!