Aleesa Addhitama (20) dan Yansen Geremy (20) tahu bahwa rasa yang mereka miliki itu salah. Kebersamaan mereka sedari kecil membuat Aleesa dan juga Yansen merasa nyaman dan enggan untuk dipisahkan. Walaupun mereka tahu ada dinding yang menjulang memisahkan mereka berdua, yakni sebuah keyakinan.
"Satu kapal dua nahkoda, penumpangnya akan dibawa ke mana?" Begitulah kata sang ayah. Kalimat yang sederhana, tapi menyiratkan arti yang berbeda.
Akankah mereka berjuang untuk mendapatkan restu? Ataukah ada restu lain yang akan mereka dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Alasan Kuat
Di lain negara, Restu Ranendra terus memandangi wajah Aleesa Addhitama. Sedari tadi matanya enggan terpejam. Dia takut terjadi apa-apa dengan Aleesa. Walaupun ayah dari Aleesa sudah mengatakan Aleesa tidak akan kenapa-kenapa. Tetap saja, hati Restu terus dilanda kegelisahan juga kekhawatiran.
Tangannya masih menggenggam erat tangan Aleesa. Dia pun masih betah memandangi wajah Aleesa yang masih terlihat sembab.
"Kamu sakit apa sih, Sa?" Nada dengan penuh kecemasan.
Restu mengambil obat yang tadi Aleesa minum. Dia mulai mencari tahu dan duduk di depan laptop. Dahinya mengkerut ketika apa yang mesin pencari katakan.
"Enggak, gak mungkin." Restu menggelengkan kepalanya pelan.
Dia segera meraih ponselnya. Menghubungi nomor dokter yang biasa menanganinya jika dia terluka. Juga yang selalu rutin mengecek kesehatannya. Restu mendengarkan dengan serius. Apa yang dikatakan oleh dokter sama dengan yang ditunjukkan mesin pencari. Restu menatap sendu ke arah Aleesa yang terlelap dengan begitu damai karena pengaruh obat. Restu masuk ke kamar mandi dan dia pun mengerang sekuat tenaga. Dia mengacak-acak rambutnya dan melihat dirinya dari pantulan cermin.
"Kenapa kalian gak bilang dari awal?" Urat-urat kemarahannya muncul. Malam ini juga Restu harus menyelesaikannya.
Restu sudah menunggu keluarga Aleesa di unit apartment yang dia huni. Dia masih berada di samping Aleesa hingga suara bel terdengar.
"Mana Aleesa." Wajah cemas dari wanita yang melahirkan Aleesa nampak begitu jelas. Echa menerobos masuk dan segera melihat sang putri. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu. Echa hanya menitikan air mata tanpa bersuara.
"Bu," panggil sang suami. Echa pun pergi dari sana dan ikut duduk bersama suaminya.
Bukan hanya Echa dan Radit yang datang, Rindra, Nesha dan Rio pun sudah ada di sana. Wajah Restu sudah sangat serius. Dia pun menyerahkan obat yang Aleesa konsumsi kepada Radit.
"Jelaskan, Om! Kenapa Aleesa mengkonsumsi obat jantung." Ingin rasanya Restu berteriak, tapi dia tidak ingin membuat Aleesa terbangun.
Semua orang yang ada di sana hanya saling tatap. Termasuk Rio.
"Kenapa lu gak bilang?" Wajah Restu sudah sangat murka kepada Rio. Menatapnya penuh emosi.
"Sabar dulu, Nak." Nesha sudah menenangkan anak angkatnya itu. "Dengar penjelasan Om Radit dulu."
Radit tersenyum ke arah Restu yang nampak menunggu penjelasan darinya.
"Putri kedua saya memang menderita Aritmia dari kecil." Restu benar-benar terkejut mendengarnya.
"Ketika Aleesa berusia dua tahunan, dia pernah sangat drop sekali dan dinyatakan meninggal oleh dokter." Restu membeku, hatinya teramat sakit ketika mendengar penjelasan dari ayah Aleesa.
"Namun, Tuhan masih berbaik hati. Tuhan hanya beberapa saat mencabut ruh Aleesa. Tak lama berselang dikembalikan lagi ruh itu ke raga Aleesa, dan alhamdilillah Aleesa bisa tumbuh sampai sekarang." Bibir Radit boleh tersenyum, tapi Restu sangat tahu hatinya tengah menangis sangat keras.
"Dinyatakan sembuh total oleh dokter ternyata tidak seratus persen sembuh. Setelah lulus SMA Aritmia yang Aleesa derita mulai sering hadir. Inilah alasan kenapa saya membawa Aleesa ke Swiss. Saya tengah menjalankan serangkaian pengobatan untuk kesembuhan Aleesa."
"Kenapa Om gak bilang dari awal? Aku kenal Om, kenal Aleesa udah lama. Kenapa kalian tidak memberitahuku?"
"Kami semua tidak ingin melihat Aleesa dikasihani. Kami ingin Aleesa tumbuh seperti anak pada umumnya. Cukup keluarga saja yang tahu perihal sakitnya Aleesa." Rindra lah yang menjelaskan.
Ini semua memang keputusan dari tiga keluarga, Wiguna, Addhitama dan Rion Juanda. Mereka terus menutup mulut agar Aleesa bisa tumbuh dengan semestinya. Teman-teman Aleesa pun tidak ada yang tahu, keculai Yansen.
Restu pun kini membisu. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia melihat jelas ketika Aritmia Aleesa kambuh. Perempuan yang sudah tahu akan perasaannya itu sangat kesulitan bernapas.
"Sekarang, semuanya saya kembalikan kepada kamu." Kini, tubuh Restu yang menegang.
"Putri saya memiliki kekurangan. Putri saya tidak sesehat wanita lain. Jika, kamu tidak mau menerima kekurangan Aleesa, akan saya tarik putri saya karena saya tidak ingin putri saya terluka untuk kedua kalinya. Luka pertamanya saja belum sembuh."
Restu terdiam. Rindra dan Nesha tidak akan memaksa. Begitu juga dengan Rio. Mereka ingin Aleesa mendapat pria yang memang benar-benar tulus mencintainya.
"Saya tidak mau ke depannya anak saya menjadi beban untuk kamu."
Suasana pun mendadak hening. Hanya suara jarum jam dinding yang berdetak yang terdengar.
"Aku tidak akan melepaskan Aleesa, Om," jawab tegas Restu. "Sejatinya, manusia itu tidak ada yang sempurna."
Nesha tersenyum ke arah sang putra angkat. Dia merasa sangat bangga kepada Restu.
"Mendengar sakit Aleesa membuat aku semakin tidak ingin jauh dari Aleesa. Aku ingin menjaganya, aku ingin tetap berada di sampingnya. Bukan karena iba karena aku memang cinta." Rindra tersenyum mendengar penuturan Restu.
"Aleesa adalah alasan terkuatku untuk tetap hidup. Aku ingin Aleesa juga menjadikanku alasan yang kuat untuknya tetap sehat dan sembuh karena aku berjanji tidak akan pernah meninggalkannya."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
Maaf ya, UP-nya tengah malam.
itu maka ny abang Dengan gak suka sama syafa. dia biang masalah dari dua saudara yg harmamonis
di mana abang Dengan lg sakit, di situ pula si Mami mau lahiran
brandalan lo lawan.
senggol.. bacok lah 😃😃😃