Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Beberapa menit kemudian, Lusi masuk ke ruangan Arman diikuti Aksa. Wajah Lusi tetap tenang sudah ia duga bakal terjadi seperti ini. tidak menunjukkan bahwa ia yang salah di hadapan kepala sekolah. Dia lirik Dini menggerakkan kepala ke arahnya dengan cepat, tujuannya agar Dini berdiri karena tidak ada tempat duduk lagi.
Dini bangkit dari kursi memilih mundur bersandar di tembok.
"Bu Lusi, apa benar yang dikatakan Dini, kamu mengubah hasil ulangan Dini yang sebenarnya bagus hingga menjadi seperti ini?" Kepala sekolah mendorong kertas ulangan Dini ke hadapan Lusi.
"Silakan dilihat ini, Pak, ini lembar jawaban dan catatan kehadiran saat remedial yang Dini lewatkan," ucap Lusi melirik Dini datar.
Pak Arman memeriksa kertas yang diberikan Lusi. Ruangan itu menjadi sunyi senyap, hanya terdengar bunyi lembaran yang kepala sekolah balik. Setelah beberapa saat, pak Arman menyandarkan punggungnya di kursi "Kamu sudah memberikan laporan palsu dan mencoba menjatuhkan nama baik seorang guru Dini, kamu sudah melakukan pelanggaran disiplin yang sangat berat. Kamu tidak hanya gagal dalam pelajaran tapi juga gagal dalam kejujuran," pak Arman masih juga tidak percaya. Sorot matanya kini tampak tajam diarahkan kepada Dini.
"Kamu harus minta maaf pada bu Lusi, Dini!" Kepala sekolah justru menuduh Dini jawabannya banyak yang keliru, jika selama ini bagus hanya hasil menyontek.
Melihat hal itu, Lusi tersenyum samar dan tertangkap di penglihatan Aksa.
"Sebentar Pak Arman, sebagai wali kelas Dini saya percaya dengan kemampuannya. Jadi mohon maaf, saya percaya apa yang dikatakan Dini," Aksa membela Dini dengan tegas atas dasar murid dan guru bukan karena mencintai Dini. Selama ini ia tahu kemampuan Dini di setiap pelajaran akademik. Dini bisa menyelesaikan dengan hasil yang bagus.
"Jadi kamu membela Dini Pak Aksa, ada apa ini?" Sang kepala sekolah menatap Aksa curiga.
Lusi yang awalnya kesal dengan pembelaan Aksa, tapi kini lagi-lagi tersenyum tipis, hatinya bersorak karena kepala sekolah tidak percaya kepada Dini.
"Tidak ada apa-apa Pak, saya hanya menyampaikan yang saya tahu," jawab Aksa. Suasana ruang kepala sekolah pun memanas, karena Aksa akan membela semua siswa pria maupun wanita jika memang benar tidak ada yang ia beda-bedakan.
Menerima kenyataan bahwa dirinya diserang dua orang, Dini segera ambil langkah berikutnya. "Pak Arman, sebelum saya minta maaf kepada bu Lusi, bolehkah saya mengerjakan soal sekarang juga di tempat ini," Dini yakin bisa mengerjakan jika soalnya masih sama dengan yang kemarin.
Mendengar ketegasan Dini, Aksa tersenyum.
"Baiklah, berikan soal untuk Dini, Bu Lusi," pak Arman pikir, ide Dini adalah penyelesaian yang baik. Suasana di ruang kepala sekolah yang semula menyudutkan Dini berubah drastis.
"Sepertinya kertas ulangan kosong, Pak," Lusi beralasan.
"Jika tidak ada, buka file," kepala sekolah mulai mencium gelagat Lusi yang tampak resah dan gelisah.
"Baik, Pak," Lusi ambil kertas ulangan di luar ruangan pak Arman dengan tangan gemetar, hingga buku dan kertas di lemari pun berjatuhan.
"Mencari apa Bu Lusi?" Tanya Anjani yang masih menyiapkan buku untuk bahan mengajar jam kedua pun menghentikan kegiatan, menatap Lusi yang terburu-buru membereskan kertas.
"Saya disuruh Pak Arman ambil file," ucap Lusi sembari membuka pintu, ia kembali ke ruangan memberikan soal kepada Dini dengan perasaan campur aduk. Dia tidak menyangkal bahwa Dini memang cerdas, jelas pak Arman akan segera tahu bahwa dirinya yang salah.
Di ruangan itu menjadi sunyi, semua larut dalam pikiran masing-masing. Aksa tentu berdoa semoga Dini bisa mengerjakan soal dengan mudah.
Kepala sekolah sesekali memperhatikan Lusi yang terus gelisah, lalu pindah ke wajah Dini yang mengerjakan soal tampak tenang. Hingga beberapa saat kemudian, Dini menyerahkan kertas kepada pak Arman.
"Biar saya koreksi, Pak," Lusi secepatnya ambil kertas ulangan di depan pak Arman hendak membawa keluar ruangan.
"Biar saya saja, Bu" Aksa menyambar kertas tersebut tapi Lusi mendapatkan lebih dulu.
"Guru matematika kelas tiga itu saya, Pak," Lusi menjauhkan tangan yang memegang kertas ulangan. Terjadi perdebatan Antara Aksa dan Lusi di ruangan itu.
Sementara Dini hanya bisa memperhatikan dengan cemas, khawatir jika sampai Lusi yang mengoreksi di luar sana bisa jadi dimanipulasi lagi.
Pak Arman pun sama diam memperhatikan dua guru yang berdebat itu, lalu beralih ke wajah Dini yang tampak cemas dan sedih.
"Bu Lusi, mana kertas ulangan itu," pinta pak Arman.
Lusi ragu-ragu untuk menyerahkan kertas ulangan itu, jika pak Arman yang mengoreksi sama saja membuka kebenaran Dini.
"Bu Lusi, berikan kertas itu," pak Arman mendesak hingga kertas pun pindah ke tangannya.
Ruangan itu menjadi senyap ketika pak Arman sendiri yang mengoreksi kertas ulangan. Tentu saja Dini dan Aksa bernapas lega.
Beberapa saat kemudian, pak Arman memandangi Lusi kecewa. Ternyata tugas yang Dini kerjakan tidak ada yang salah sama sekali.
"Bu Lusi," suara pak Arman terdengar berat dan tegas. "Saya tidak menyangka jika ternyata memang kamu yang berbuat curang. Sekarang ceritakan apa masalahnya sampai kamu menggunakan otoritas guru untuk menghancurkan murid kamu sendiri?"
Daarrr...
Wajah Lusi tiba-tiba pucat seperti tertembak hingga kehabisan darah.
...~Bersambung~...
otw mak...
selamat ya Din .. semoga sukses 😍
ada. pepatah yang bilang lebih baik dicintai dari pada mencintai tapi selalu tersakiti ..
cewek yg lain...😄🤭