Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Holdes akhirnya tiba di bandara China. Xiao Han dan Colly sudah menunggu untuk menjemput ayah mereka.
“Papa!” seru Colly sambil berlari menghampiri. Ia langsung memeluk Holdes erat.
“Selama Papa tidak ada, apa kau patuh pada Mamamu?” tanya Holdes sambil tersenyum hangat.
“Aku sangat patuh, Pa,” jawab Colly sambil melepaskan pelukan. “Siapa yang berani melawan Mama—”
Holdes terkekeh pelan, menepuk kepala putrinya.
“Pa,” sapa Xiao Han dengan senyum tenang.
“Xiao Han,” ujar Holdes sambil menepuk bahu putra sulungnya. “Tidak mudah menggantikan peran Papa selama aku pergi, bukan? Tapi kau melakukannya dengan sangat baik.”
“Melindungi keluarga adalah tanggung jawabku sebagai anak lelaki,” jawab Xiao Han mantap. “Lagipula Mama juga sangat tangguh. Beliau tidak mudah dikalahkan.”
“Baik,” kata Holdes puas. “Mari kita pulang.”
Mereka bertiga meninggalkan bandara bersama Bowie.
Mansion kediaman Holdes dan Janetta.
Janetta berada di kamar, melipat pakaian dan merapikannya ke dalam lemari. Gerakannya tenang, meski bekas luka masih terasa samar di tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka.
“Istriku!”
Janetta menoleh. Senyum tipis langsung terukir saat melihat sosok yang paling ia rindukan.
“Holdes…” ucapnya pelan, lalu melangkah mendekat. Mereka saling berpelukan erat.
“Apakah kau merindukanku?” bisik Holdes di telinganya.
“Tidak sama sekali,” jawab Janetta ringan, meski lengannya mengeratkan pelukan.
Holdes tersenyum, lalu mengecup bibir istrinya dengan lembut, tangannya melingkar di pinggang Janetta.
“Bagaimana lukamu? Masih sakit?” tanyanya khawatir. “Saat Xiao Han memberi kabar, aku benar-benar cemas. Aku ingin segera pulang, tapi urusan di sana belum selesai.”
“Sudah jauh lebih baik,” jawab Janetta. “Putri kita juga menjadi sasaran orang yang sama sekali belum diketahui. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan.”
“Pelakunya memang dua orang berbeda,” ucap Holdes sambil menatap wajah istrinya dengan sorot tajam. “Dan aku akan mencari tahu siapa mereka.”
Ia mengangkat tangan Janetta, menggenggamnya erat.
“Maafkan aku,” katanya pelan. “Aku tidak berada di sisimu saat kau paling membutuhkanku.”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri,” jawab Janetta tenang, “Ini bukan pertama kalinya aku menjadi sasaran musuh.”
Holdes menggeleng pelan. Tangannya naik, mengusap rambut istrinya dengan penuh rasa bersalah.
“Tapi seharusnya kau tidak perlu mengalaminya,” ucapnya rendah. “Istriku seharusnya hidup tenang dan bahagia. Bukan dikejar dan diincar seperti ini.”
Ia menarik Janetta kembali ke dalam pelukannya. “Kali ini aku pulang dan tidak akan pergi lagi. Aku akan selalu berada di sisimu.”
Janetta terdiam. Dadanya menghangat mendengar janji itu.
Holdes melepaskan pelukan, lalu menatap wajah istrinya dengan sorot yang lebih lembut, lebih dalam.
“Istriku,” katanya perlahan, “kita sudah lama tidak melakukannya. Apakah… hari ini bisa?”
Janetta menatapnya lekat-lekat, seolah ingin menembus pikirannya.
“Selama empat bulan kau berada di luar,” tanyanya pelan, “apa kau sama sekali tidak menggunakan wanita panggilan?”
Holdes langsung menggeleng tanpa ragu. Nada suaranya mantap.
“Tidak sama sekali. Wanita yang ingin kusentuh dan kupeluk hanya satu—istriku.”
Tanpa memberi Janetta kesempatan menolak, Holdes mengangkat tubuh istrinya dengan hati-hati. Janetta terkejut sejenak, lalu secara refleks melingkarkan lengannya di leher suaminya.
Holdes menidurkannya perlahan di atas ranjang.
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kata-kata lagi—hanya rindu yang tertahan selama berbulan-bulan.
Bibir mereka saling menyentuh dalam ciuman yang dalam dan penuh emosi. Holdes melepaskan dasinya, menjatuhkannya ke sisi ranjang, lalu membuka kancing kemejanya satu per satu, tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Janetta.
Holdes melepaskan pakaian istrinya dan melanjutkan ciumannya.
Sementara itu, di halaman rumah, Xiao Han dan Colly duduk berdampingan. Siang terasa lebih sunyi dari biasanya.
“Kakak,” Colly memecah keheningan, suaranya pelan namun gelisah. “Papa sudah pulang… tapi bagaimana kalau nanti harus bertanya padanya?”
Ia menunduk, jemarinya saling meremas.
“Aku sangat takut kalau sampai Mama tahu,” lanjutnya. “Atau… wanita itu datang menemui Papa. Bisa-bisa rumah ini benar-benar rata dibuat Mama.”
Xiao Han menghela napas panjang. Wajahnya terlihat tegang—sesuatu yang jarang terjadi padanya.
“Kau benar,” ujarnya akhirnya. “Selama ini aku tidak pernah secemas ini. Kalau sudah menyangkut Mama… hatiku benar-benar tidak tenang.”
Malam hari
Holdes tertidur lelap di samping istrinya. Napasnya teratur, wajahnya tenang, seolah semua urusan telah selesai.
Namun di tengah keheningan malam, ponsel milik Holdes bergetar pelan. Sebuah pesan masuk.
Janetta terbangun. Ia menoleh sekilas ke arah suaminya yang masih terlelap, lalu meraih ponsel itu. Matanya menyapu layar—dan seketika wajahnya membeku.
“Holdes, aku akan kembali. Kita akan bertemu. Aku merindukanmu… setiap sentuhanmu masih terbayang jelas.”
Pesan itu datang dari nomor asing.
Jantung Janetta berdegup keras.
Belum sempat ia menenangkan diri, ponselnya sendiri kembali berbunyi. Kali ini, sebuah kiriman masuk—sebuah rekaman video.
Dengan tangan sedikit gemetar, Janetta membukanya.
Suara seorang wanita terdengar jelas. Suara yang bukan miliknya. Nada bicara itu penuh keakraban, penuh keyakinan—seolah memiliki hak atas nama yang disebutnya.
"Holdes, kau sangat kuat, aku sampai kewalahan. Istrimu sudah tua pasti tidak bisa memuaskanmu. Kalau tidak mana mungkin setiap malam kau memintaku melayanimu," suara wanita itu yang tak lain adalah Chimmy.
Setiap gerakan mereka yang di atas kasur terlihat begitu jelas oleh Janetta. Serta setiap desahan keduanya sangat menusuk telinga wanita itu.
Dengan wajah tetap tenang meski hatinya bergolak, Janetta perlahan mengetik balasan menggunakan ponsel suaminya. Jemarinya bergerak mantap, seolah semua keraguan telah ia kubur dalam-dalam.
“Datanglah. Aku merindukanmu. Aku sudah tidak sabar ingin menikmati tubuhmu lagi.”
Pesan terkirim.
Tak butuh waktu lama, balasan masuk.
“Baiklah. Sampai jumpa. Besok aku akan segera berangkat.”
Sudut bibir Janetta terangkat tipis. Bukan senyum bahagia—melainkan senyum dingin penuh perhitungan. Ia kembali mengetik, kali ini dengan jeda sejenak, seolah sedang memilih kata paling tepat.
“Jangan sampai istriku tahu. Kalau tidak, dia tidak akan membiarkan kita bersama.”
Beberapa detik berlalu. Janetta menatap layar tanpa berkedip.
Balasan itu akhirnya datang.
“Tenang saja. Aku akan menemuimu… dan memaksanya bercerai denganmu.”
Janetta menutup layar ponsel perlahan.
Dadanya tidak lagi bergetar. Amarah, luka, dan rasa sakit yang tadi menghantam kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya—ketenangan sebelum badai.
Ia menoleh ke arah Holdes yang masih tertidur lelap di sampingnya.
“Kalau begitu,” gumam Janetta dalam hati, matanya mengeras,
“datanglah. Aku akan menunggumu.”
Malam itu, bukan hanya kebenaran yang terungkap—
sebuah perang diam-diam pun resmi dimulai.
Janetta bangkit perlahan dari ranjang. Ia mengambil rokoknya dari meja samping, lalu melangkah ke depan jendela besar yang menghadap taman gelap di luar mansion.
Dengan gerakan tenang, ia menyalakan pemantik api. Nyala kecil itu memantul di matanya—dingin, tajam, dan penuh perhitungan.
Asap tipis mengepul saat Janetta mengisap rokoknya sekali, lalu menghembuskannya perlahan ke udara malam.
“Aku penasaran…” gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan pada dirinya sendiri.
“Siapa sebenarnya dirimu?”
Di balik ketenangannya, badai sedang disusun dengan rapi.
Bukan untuk meledak tanpa arah—
melainkan untuk menghancurkan tepat sasaran.