MISI KEPENULISAN NOVELTOON
Enam tahun hidup sebagai istri yang disia-siakan, cukup sudah. Saatnya bercerai!
Zetta menghabiskan waktu yang tak sebentar untuk mengabdikan dirinya pada Keenan Pieters, lelaki yang menikahinya, tapi tak sekalipun menganggapnya sebagai seorang istri.
Tak peduli Zetta sampai menjadi seperti seorang pelayan di keluarga Keenan, semua itu tak juga membuat hati Keenan luluh terhadap Zetta. Sampai pada akhirnya, Zetta pun memutuskan untuk menyudahi perjuangan cinta sepihaknya tersebut.
Namun, saat keduanya resmi bercerai, Keenan malah merasakan jika ada sesuatu yang hilang dari dalam hidupnya. Lelaki itu tanpa sadar tak bisa lepas dari setiap kenangan yang Zetta tinggalkan, di saat sang mantan istri justru bertekad membuang semua rasa yang tersisa untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiwie Sizo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Zetta memilih mengabaikan Keenan sampai mengakhiri panggilan telepon dari Theo. Tapi kemudian, kepalanya menjadi semakin pusing hingga tubuhnya menjadi agak terhuyung. Saat bangun dari tidur tadi dia memang masih dalam kondisi hangeover setelah banyak minum bir semalam, lalu kini dia juga mesti menghadapi cuaca yang buruk hingga pakaian yang dikenakannya basah karena kehujanan. Tentu saja kondisi tubuhnya jadi semakin memburuk.
Melihat Zetta yang tampak seperti orang mau pingsan, Keenan pun langsung menghampiri mantan istrinya itu. Tanpa aba-aba, Keenan langsung membopong tubuh Zetta, lalu menorobos hujan secepat mungkin menuju mobilnya yang terparkir. Keenan mendudukkan Zetta begitu saja ke dalam mobilnya tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Zetta sendiri masih agak meringis memegangi kepalanya, terlihat sedang menahan sakit.
Keenan memperhatikan wajah Zetta sejenak sembari agak sedikit menggeram. Entah kenapa dia merasa kesal sendiri melihat keadaan Zetta yang seperti ini, apalagi mantan istrinya itu tak berinisiatif meminta bantuannya sejak tadi. Lelaki itu membuang nafas kasar sebelum akhirnya menutup pintu mobil, lalu berjalan memutar menuju sisi mobil yang satunya.
Mendengar suara pintu mobil ditutup Zetta menoleh dan hendak protes kenapa Keenan seenaknya saja membawanya ke dalam mobil lelaki itu. Tapi melihat punggung Keenan yang kebasahan tertimpa hujan, Zetta urung mengatakan kata-kata yang tadi telah berada di ujung lidahnya itu. Zetta jadi merasa bingung harus bersikap bagaimana, pasalnya tak pernah sebelumnya Keenan bertindak seolah peduli padanya seperti ini sebelumnya.
Keenan pun masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Lelaki itu langsung menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraan tersebut. Tak ada pembicaraan antara dirinya dan Zetta. Mereka berdua tampak sama-sama merasa canggung satu sama lain. Zetta bahkan menoleh ke arah luar jendela karena tak ingin melihat ke arah Keenan hingga tanpa sadar dia tertidur.
"Zetta," panggil Keenan saat menyadari sejak tadi Zetta tak bergerak sama sekali.
Zetta tak menjawab. Keenan pun merasa khawatir dan langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk melihat dengan jelas keadaan Zetta. Dia terlihat lega saat mendapati Zetta tertidur, tapi matanya seketika membeliak saat tangannya terulur menyentuh kening perempuan itu. Suhu tubuh Zetta terasa sangat panas. Perempuan itu demam.
Segera Keenan melajukan kembali mobilnya, lalu berhenti di depan sebuah apotik. Dia kemudian buru-buru turun dari mobil dan masuk ke dalam apotik tersebut. Lalu masuk juga ke sebuah minimarket yang terletak bersebelahan dengan apotik. Tak menunggu waktu lama, Keenan akhirnya kembali ke dalam mobil dengan membawa obat penurun panas serta sebotol air mineral.
"Zetta, bangun. Kamu harus minum obat dulu," ujar Keenan sambil menyentuh bahu Zetta dengan hati-hati.
Zetta bergeming. Perempuan itu tak merespon sedikit pun panggilan dan sentuhan Keenan barusan.
"Zetta, kamu harus segera minum obat. Badanmu panas sekali. Ayo, bangun dulu," panggil Keenan lagi. Kali ini dia sedikit mengguncang bahu Zetta agar perempuan itu bangun. Namun tetap saja Zetta tak bergerak.
"Zetta." Sekali lagi Keenan menggucang bahu Zetta, bahkan lebih kuat daripada sebelumnya. Tapi lagi-lagi Zetta tak meresponnya sedikit pun.
Keenan akhirnya menghentikan tindakannya tersebut. Dia kembali menghela nafasnya, lalu berpikir sejenak, apa yang harus dia lakukan agar Zetta bisa minum obat sekarang juga. Tiba-tiba terpikirkan sebuah ide di kepala Keenan, namun dia agak kurang yakin dengan idenya tersebut. Namun karena merasa tak punya ide lain, Keenan pun memutuskan untuk melakukan apa yang saat ini ada dalam pikirannya.
Dengan sedikit ragu, Keenan membuka botol air mineral yang dibawanya tadi, lalu mengenggak isinya beberapa tegukan untuk membasahi tenggorokannya yang agak kering. Kemudian, dia membuka bungkus obat dan memasukkan sebutir obat penurun panas tersebut ke dalam mulut Zetta. Terakhir, Keenan membantu Zetta menelan obat tersebut dengan memasukkan air ke dalam mulut Zetta dengan melalui mulutnya.
Glek! Terdengar Zetta menelan air serta obat di dalam mulutnya. Keenan langsung menjauhkan wajahnya. Dia terkesiap karena tanpa sadar telah mencium mantan istrinya itu, meski niatnya untuk membantu Zetta menelan obat. Dada Keenan tiba-tiba menjadi bergemuruh tak menentu hingga membuat ujung jarinya yang masih menggenggam botol air mineral sampai sedikit bergetar.
Suara dering ponsel Keenan membuat lamunannya terbuyar. Tenyata itu adalah panggilan dari Helia.
"Keenan, aku kehujanan." Suara perempuan itu langsung terdengar begitu Keenan menerima panggilan telepon.
"Kehujanan?"
"Iya, tadi aku dan Mama pergi ke Mall untuk jalan-jalan sebentar. Tapi sekarang malah hujan deras. kami jadi tidak bisa pulang. Aku dengar kamu sedang ada urusan di luar, kan? Bisa jemput kami sebentar?' tanya Helia.
Keenan menoleh ke arah Zetta yang masih terlelap sebentar, sebelum kemudian agak menghela nafasnya. Dia tak punya pilihan selain mengiyakan permintaan Helia. Perempuan yang kini telah menjadi tunangannya itu sedang bersama Nyonya Brenda, tentu saja akan panjang urusannya jika dia sampai mengeluh macam-macam pada Mama Keenan itu jika Keenan menolak permintaannya.
Keenan lebih dulu menghubungi Gery dan meminta asisten pribadinya itu menuju lokasinya berada saat ini dengan membawa mobil dari kantor. Setelah Gery sampai, Keenan meminta Gery menggantikannya mengemudi untuk Zetta. Keenan meminta Gery untuk menempatkan Zetta yang sedang dalam keadaan tertidur itu ke hotel terdekat, bukan rumah perempuan itu.
Setelah Gery mengiyakan, Keenan pergi dengan menggunakan mobil yang dibawa Gery untuk menjemput Helia dan Nyonya Brenda di Mall yang Helia sebutkan di telepon tadi. Sepanjang perjalanan, Keenan terus teringat pada bibirnya yang menyentuh bibir Zetta tadi. Dia masih merasakan sensasi lembut dan agak menggelitik dari bibir mantan istrinya itu hingga tanpa sadar Keenan menyentuh bibirnya sendiri.
Bayangan itu pun harus terusik karena dia telah sampai di Mall yang dituju dan mendapati Helia dan mamanya telah menunggu di pelataran Mall sambil berteduh. Dilihat dari kantong belanjaan yang ada di tangan kedua perempuan tersebut, sepertinya mereka baru saja berbelanja banyak barang.
Keenan pun turun dari mobil dengan menggunakan payung dan menjemput Helia untuk masuk ke dalam mobil, baru kemudian menjemput mamanya.
"Mama senang kamu perhatian begitu pada Helia. Mama bisa lihat kalau kamu sangat mencintai Helia, ya," ujar Nyonya Brenda pada Keenan.
Keenan hanya merespon dengan tersenyum seadanya. Meski tak menampik kata-kata tersebut, tapi entah kenapa di hatinya terasa hambar.
"Oh, iya. Tadi waktu kamu ke luar, kamu masih ingat kalau Helia titip minta dibelikan cheese cake, kan?" tanya Nyonya Brenda saat mereka semua telah berada di dalam mobil.
Keenan tertegun sejenak. Dia ingat kalau mamanya tadi memang mengatakan jika Helia minta dibelikan cheese cake, tapi karena saat di kantor Andara tadi Keenan melihat mobil Zetta terparkir, dia pun berinisiatif menemui rekan bisnisnya itu untuk memastikan apakah Zetta sungguh ada di sana, padahal saat itu urusan Keenan dengan salah seorang staf Andara sudah selesai. Alhasil, Keenan jadi melupakan kue titipan Helia yang mau dibelinya.
"Maaf, Helia. Aku tadi masih belum menyelesaikan urusanku, jadi belum sempat membelikan kuenya," sahut Keenan akhirnya.
"Tidak apa-apa. Aku yang minta maaf karena sudah merepotkanmu, padahal kamu sedang sibuk. Lain kali membeli kuenya juga bisa," sahut Helia sambil tersenyum tipis. Dia harus terlihat pengertian agar tidak dibilang egois. kan?
Tapi kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselnya, disusul dengan beberapa foto. Senyum Helia pun seketika lenyap saat melihat foto-foto tersebut.