Dinikahi kemudian disiksa, begitulah takdir Seruni. Ia harus menerima perjodohan yang memiliki tujuan tersembunyi. Dinikahi hanya dijadikan ibu pengganti. Terkurung dalam sangkar emas penuh derita, apa ia akan bertahan atau malah melawan?
Sebuah kisah yang menguras emosi dan jiwa, bagaimana cara Seruni bisa lepas dari suaminya yang keji seperti iblis tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Menikah
The Devil Husband Bagian 27
Oleh Sept
"Dokter Rian tunggu!" ucapku setengah berteriak.
Aku yang terkejut karena melihat mas Erwin mendorong kuris roda seorang wanita yang tidak aku kenal, spontan mengeluarkan suara. Dan bodohhnya aku, begitu mendengar suaraku, mas Erwin langsung mengejar aku yang sudah berlari kecil duluan menuju dokter Rian, seniorku yang kebetulan ada di depan sana.
Tap tap tap
Langkah mas Erwin begitu cepat menyusulku. Hingga aku langsung saja mengapit lengan dokter Rian, seolah kami adalah kekasih. Padahal, kami hanya rekan saja di rumah sakit. Sama-sama bekerja di rumah sakit yang sama.
"Maaf, mungkin aku salah orang. Tapi bisakah dokter bicara sekali lagi?" tanya mas Erwin dengan nada sopan. Tatapan matanya pun tidak seperti sorot mata yang keji seperti dulu. Kulihat kemeja pendek yang ia kenakan juga sedikit lusuh. Ada apa dengannya, mengapa dia terlihat lebih tua dan kusut.
"Maaf ada apa ya?" sela dokter Rian yang melihat ekspresi ku. Aku menatap dokter Rian seperti minta tolong. Dan sepertinya dokter Rian sangat paham akan hal itu.
"Maaf, Dok. Saya hanya ingin mendengar suara dokter ini," jawab mas Erwin sembari menatapku dengan dalam. Wajahku mungkin berubah, tapi tidak dengan pita suara dan juga mataku. Bagaimana cara aku menatapnya mungkin sama, aku pun langsung mempererat lenganku yang mengapit dokter Rian.
Dengan cepat pula kucari masker dalam saku dan langsung memakainya. Kemudian bicara dengan suara yang kubuat-buat, dalam hati aku berdoa. Semoga mas Erwin tidak mengenaliku. Memgenali suara yang tidak pernah aku ubah.
"Maaf, Pak ... bisa saya bantu?" ucapku dengan suara yang kurekayasa agar tidak seperti aku yang dulu.
Dahi mas Erwin mengkerut, kemudian dia masih saja menatapku lama. Sampai dokter Rian berdehem.
"Ehem! Maaf, kami masih ada urusan. Bisa kami pergi?"
Mas Erwin mengangguk, tatapan matanya tidak berpaling dariku. Sampai ketika kami pergi duluan, dokter Rian sempat melirik. Kemudian berkomentar.
"Siapa? Mantan kamu, Din?" tanya dokter Rian kemudian terkekeh. Aku tidak membalas, masih berjalan dengan pikiran yang berkecamuk.
Sampai kami di parkiran, aku langsung mengucap terima kasih dan pergi menuju mobilku sendiri. Ya, almarhum dokter Lani meninggalkan banyak warisan untukku. Sejauh ini tidak ada yang curiga, karena kerabat dokter Lani tidak ada yang tahu kalau Nadin yang asli telah meninggal.
Nadin sebelumnya stay di luar negeri sebelum sakit parah untuk study. Dia menjalani pengobatan yang disembunyikan dari siapapun. Entah ini takdir atau apa, yang jelas semua seolah berjalan sangat rapi. Masih belum ada yang curiga, baik keluarga jauh almarhum dokter Lani. Ya, karena orang kaya biasanya hidupnya individualis. Urusanmu urusanmu, urusanku jangan ikut campur. Rumah pagar sangat tinggi, seolah anti sosial. Sampai tetangga matipun kadang tidak tahu.
Seketika aku tersadar, pikiranku malah lari ke mana-mana. Aku pun memilih pulang ke apartment. Damai, sepi, kadang aku merasa kosong juga. Sejenak aku lupa tadi bertemu mas Erwin. Ya, mungkin karena penampilan mas Erwin yang jauh dari sebelumnya. Tidak terkesan berkuasa dan malah jika aku lihat dari raut wajahnya sekilas, ada kesedihan di matanya. Entah apa, aku juga tidak mau tahu. Cukup kututup lembaran lama dan mulai yang baru.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, lagi-lagi dokter Rian menganggu. Sekedar basa-basi, padahal aku sama sekali tidak tertarik dengan sebuah hubungan lagi. Banyak sekali dokter yang suka pada dokter Rian, tapi katanya dia tidak tertarik. Padahal sudah banyak kusalamkan salam dari dokter wanita padanya. Dia sama sekali tidak terpancing. Malah cukup rajin mengirim pesan teks yang receh, seperti emot konyol atau hal tidak berguna lainnya padaku. Maaf, Dok. Untuk memulai hubungan sepertinya aku sudah menyerah.
***
Malam minggu, aku sedang bersantai sambil nonton TV. Tiba-tiba dokter Rian menelpon.
"Ku lihat tadi pulang cepat. Mau keluar?" suara dokter Rian terdengar dari balik telpon.
"Terima kasih, itu dokter Sella ... dokter Sasa ... dokter Desi ... mungkin ada yang mau."
Ku dengar dokter Rian mencebik kesal. Dan aku hanya terkekeh.
"Aku sudah otw. Aku ke apartment ya. Aku jemput. Jangan belajar saja. Nanti kamu botak!" ledeknya.
"Eh!"
Tut Tut Tut
Aku menghela napas panjang, dokter Rian memang kadang suka seenaknya, sudah aku bantu mak jomblangin sama temen-temenku yang menaruh hati padanya, dia malah cuek bebek. Akhirnya, aku harus ganti baju. Malam ini aku akan keluar dengan terpaksa. Sekalian untuk belanjaan bulanan. Tinggal sendiri, aku baru sadar kulkasku hampir kosong.
Sesaat kemudian, dokter Rian benar-benar sudah tiba. Dia tidak main-main saat bilang otw. Ya sudah, kami pun keluar bareng. Makan malam di kafe kemudian menemaniku belanja. Dia adalah senior paling baik, sering aku mintai jadi mentor saat aku kesulitan. Hingga kami menjadi seperti teman. Meskipun aku sangat hormat padanya, tapi dia sedikit jahil padaku.
Aneh sih, semua bilang dia dokter kutub. Tapi kalau kami mengobrol, suasana malah mencair. Kami sama-sama tertutup, begitu bicara malah ada saja yang membuat kami klop. Mungkin kami sefrekuensi, jadinya malah nyambung. Seperti saat ini, habis makan malam kami ke pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota Surabaya. Kami mendorong trolling masing-masing sembari satu dua kali mengobrol. Sampai akhirnya dia mengantar pulang.
"Makasih, Dok!" ucapku yang hendak keluar.
"Din ..."
"Ya."
"Jangan turun dulu. Sebenarnya sudah lama aku mau bicara."
Aku langsung melempar tawaku dengan lepas. Sambil mengancam. "Jangan macan-macam, jangan rusak pertemanan ini!"
Aku sudah tahu, bukannya sombong. Tapi aku sebenarnya sudah banyak menolak pernyataan cinta dari sesama dokter di tempatku bekerja. Modus dan ekspresi hampir sama seperti dokter Rian sekarang ini. Aku yakin, dia mau mengatakan cinta. Tapi sayang, harus kucegah agar dia tidak kecewa terlalu dalam.
"Ish! Aku bahkan belum mengatakan apapun!"
"Tidak usah katakan apapun! Aku masuk dulu! Terima kasih malam ini!" ucapku sambil membuka pintu dan akan turun.
"Ayo menikah!"
Aku terkejut, perlahan menoleh dan menatapnya marah.
"Aku bilang jangan katakan apapun!"
"Kenapa? Kita cocok ... tidak usah pacaran. Langsung saja menikah!" desaknya dengan yakin.
"Dokter tidak mengenaliku dengan baik. Aku pastikan, dokter akan menyesal karena telah mengatakan hal ini!" ucapku dingin. Aku jelas menolak keras. Pernikahan bagiku tidak masuk dalam hitungan. Sendiri lebih baik, meksipun aku kesepian. Setidaknya aku tidak akan terluka dan sakit hati.
"Aku tidak akan mundur sebelum aku tahu alasannya."
Aku tersenyum miris, kemudian menutup pintu lagi. Kutatap dengan tenang wajah dokter baik hati di depanku.
"Dengarkan aku baik-baik, Dokter. Mungkin mulai sekarang kita tidak akan bisa berbicara sedekat ini lagi. Dokter yang minta, oke ... akan aku katakan agar Dokter mundur dan menyerah. Aku bukan perempuan seperti yang dokter bayangkan. I'm not virginnn!"
Kuamati raut wajah dokter Rian, bola matanya sedikit membulat, jelas dia terkejut saat aku katakan sedikit rahasia tentangku. Sudah pasti dia akan kabur, pikirku.
"Oke, hanya itu? Aku terima ... aku tidak akan mundur. Sebab aku juga tidak sesuci yang kamu pikirkan."
Ngekkk ....
Aku tertegun, pria ini ternyata tidak mundur.
Bersambung
Ikuti IG author
IG Sept_September2020
Fb Sept September
crita uda hampir slesai ko, penderitaannta g habis2