Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riot
CHAPTER 13
Nine melangkah dengan gontai. Setiap langkahnya meninggalkan jejak darah yang menetes dari luka di perutnya. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, Nine menaiki tangga satu per satu.
Nine tidak membawa tubuh Deset bersamanya. Ia tahu bahwa Voda tidak akan peduli dengan apa yang terjadi pada Deset. Setiap anak tangga ia lewati dengan susah payah.
Darahnya terus berjatuhan di antara anak tangga. Akhirnya, ia berhasil mencapai lantai teratas. Nine membuka pintu. Di dalamnya terdapat ruangan yang luas dengan singgasana emas yang megah.
Tempat itu adalah milik sang pemimpin Justice, yaitu Voda. Sosok Voda duduk dengan satu lengan menopang dagu. Tatapan tajamnya menusuk ke arah Nine, membuat Nine merasa enggan untuk memberikan laporan.
Namun, ia memaksakan diri.
"T-tuan... Markas pembuatan obat terbakar karena ledakan," Nine duduk dengan hormat.
"Siapa yang menyerang?" Suara berat Voda menggema di ruangan dan menusuk telinga Nine.
"Nightshade. Deset juga sudah terbunuh," Nine menggertakkan gigi.
Voda sedikit menyipitkan mata setelah mendengar nama Nightshade. Kemudian, Voda bertanya, "Siapa pembunuhnya?"
Nine memberitahukan siapa yang membunuh Deset. Walaupun ia berada di luar markas, Nine bisa tahu bahwa Shinji adalah pelakunya karena ia juga menyadari bahwa Shinji tidak ada saat ia bertarung melawan Shun dan yang lainnya.
Nine juga memberitahukan bahwa ia melawan Shun.
Dan jawaban dari Voda adalah...
"Hee... Nine, kau ingin melawanku, bukan?"
Nine mengangguk.
"Kalau begitu... bawakan aku kepala Shinji dan Shun. Terserah kau mau melakukannya kapan, tapi... jika bisa, secepatnya," Voda tersenyum sinis.
Voda mengarahkan tangannya ke arah Nine. Ia mengaktifkan Ten. Energi hitam dan ungu mengalir deras. Dan Voda menembakkannya ke arah Nine.
Tubuh Nine tiba-tiba menyerap energi itu. Seketika, luka di tubuhnya sembuh. Tidak lama kemudian, Nine merasakan perubahan yang aneh.
Tubuh Nine membesar, kulitnya memerah, giginya menjadi tajam. Setelah semua yang terjadi, Nine menunduk hormat, kemudian pergi.
Di sisi lain....
Sebuah mobil biasa melaju di jalanan. Di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak biasa. Mereka adalah kelompok Black Roses yang sedang dalam perjalanan menuju Kediaman Nightshade.
Frederica yang menyetir mengalami luka yang tidak terlalu parah. Di kursi belakang, ada Yuzuriha yang juga mengalami luka yang lumayan parah.
Di samping Yuzuriha, terbaring Shun yang masih pingsan. Shun mengalami luka yang sangat parah. Di samping Frederica, di kursi depan, ada Shinji yang hanya mengalami sedikit luka.
Semuanya hanya diam. Tidak ada suara yang keluar dari mulut masing-masing.
Hanya ada suara mobil yang bergerak. Sampai akhirnya Frederica berbicara.
"Shinji... Apa kau yang meledakkan markas itu?"
"Ya," jawab Shinji singkat.
"Aku tidak akan protes karena itu sangat membantu. Tapi..." Frederica menarik napas dalam. "JANGAN MENGHILANG BEGITU SAJA! KAMI KHAWATIR, TAHU!" Suara Frederica yang keras membuat Shinji terkejut.
Shinji menundukkan kepala seakan meminta maaf. Setelah perjalanan yang cukup lama, mereka pun sampai di Kediaman Nightshade.
Pagi merekah...
Shun membuka mata perlahan. Ia terbangun dari pingsannya.
"Di mana ini?..." gumam Shun dengan bingung.
"Kediaman Nightshade," terdengar suara pria.
Pria itu muncul di penglihatan Shun. Ternyata pria itu adalah Dr. Wero. Dr. Wero mengatakan bahwa ia sudah menyembuhkan luka-lukanya, tapi tetap masih ada yang belum sembuh total.
Shun ingin bangkit, namun tubuhnya sulit untuk bergerak. Shun pun mengurungkan niatnya itu. Dr. Wero juga mengatakan bahwa Shun pingsan selama tujuh hari.
Tujuh hari? Shun pingsan selama itu karena luka-lukanya dan karena ia memaksakan diri untuk membuat Ten tetap aktif saat perubahan yang ketiga atau terakhir.
"D-di mana yang lain?..." Shun bertanya kepada Dr. Wero.
Dr. Wero menjawab bahwa yang lainnya sedang latihan untuk menjadi kuat. Karena saat melihat Shun bertarung sendirian mati-matian, mereka memutuskan untuk berlatih lebih keras.
Supaya tidak hanya bisa menonton.
Dr. Wero keluar dari ruang perawatan karena ada urusan. Shun pun merenung sendirian. Ia berpikir, "Apa saat itu yang bertarung benar-benar aku?"
Ia memejamkan mata. Saat itu juga, Shun melihat bayangan seseorang yang juga memiliki warna Ten sepertinya.
Bayangan itu menatap Shun dan menunjuknya. Mulut bayangan itu bergerak, gerakan itu seperti mengatakan kepada Shun, "Badai akan segera datang. Perkuat dirimu dan lampaui batasanmu."
Shun seakan ingin meraih bayangan itu. Ia mengangkat tangannya dan...
Tangannya seperti tergapai tangan bayangan itu. Namun, saat Shun membuka mata...
"Yo!" sapa seseorang sambil tersenyum.
Yuzuriha lah yang memegang tangan Shun.
Muka Shun memerah.
"Yu-Yu-Yuzu!..." Dengan cepat, Shun menarik lengannya.
"Ke-ke-kenapa kau di sini!" tanya Shun gugup.
"Eehhh..." Yuzuriha memiringkan kepalanya. "Aku kan menjengukmu. Memangnya tidak boleh?"
"Bukankah kau sedang latihan?" tanya Shun.
Yuzuriha mengambil kursi yang ada di dekatnya dan menariknya, lalu menduduki kursi itu. Yuzuriha juga membawa apel untuk diberikan kepada Shun.
"Iya... Tapi sekarang sedang istirahat," jawab Yuzuriha sambil mengambil apel.
Mereka mengobrol santai, tenang, dan aman. Tidak lupa Yuzuriha juga memotongkan Shun apel kecil-kecil supaya bisa dimakan.
Shun terpikir. Setelah semua kejadian itu, Shun juga tidak ingin kalah. Shun ingin berlatih lebih dan lebih keras, bukan hanya fisik, tapi juga mental.
Shun tidak ingin lagi bertarung dengan ragu dan gemetar. Ia juga percaya dengan bayangan seseorang tadi bahwa badai akan segera datang.
Entah badai apa yang akan datang.
Keesokan harinya....
Shun yang masih berada di ruang perawatan mulai berlatih fisik. Ia melakukan push-up, sit-up, dan lain-lain secara berulang-ulang.
Hari demi hari berlalu.
Shun kali ini sudah boleh keluar dari ruang perawatan. Tubuhnya yang dulu kurus sekarang sudah lumayan berisi. Ia pergi ke kamarnya dan memakai baju sehari-hari.
Tanpa berlama-lama, Shun bergegas menuju ruang pelatihan. Saat membuka pintu, di sana sudah ada Yuzuriha dan Frederica yang sedang bertarung. Mereka juga menggunakan Ten masing-masing.
Shun masuk perlahan, dan...
"Woy!..." Suara serak terdengar di telinga Shun.
Shun menoleh. Di samping sana ada pria yang berdiri sambil menyilangkan tangan. Di punggungnya, ada dua sabit sawah yang sudah berkarat.
Pria itu mendekat, ia mengangkat tangan.
Dan menepuk pundak Shun dengan keras.
"Hahaha! Ternyata kau orang baru, tapi sudah bertarung sama salah satu dari Sepuluh Jari Voda!" Ia menepuk pundak Shun berulang kali.
Dengan suara seraknya yang khas, pria itu memperkenalkan diri. Ia adalah Riot.
Ia juga anggota Nightshade. Tapi Shun selama berada di Kediaman Nightshade tidak pernah melihat orang seperti Riot yang terlihat sangat ceria.
Ternyata, Riot sudah lama meninggalkan Kediaman Nightshade karena berkelana mencari orang kuat. Saat ini, Riot baru sampai di Kediaman Nightshade karena mendengar kabar dari seseorang yang merupakan anggota Nightshade juga memberitahunya kalau ada anak baru yang bertarung dengan salah satu dari Sepuluh Jari Voda.
Secara tidak sadar, pertemuan Shun dengan Riot akan mengubah takdirnya.