Menikah muda tidak selalu berakhir dengan tragis, meskipun banyak yang berjalan tak manis. Semua itu hanya tentang bagaimana kita menyikapi dan mempertahankannya.
Jadi, tidak perlu takut untuk menikah muda, karena tidak semua pernikahan berakhir dengan kegagalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Belum Membaik
Di jam istirahat ini, Lyra dan Devi berjalan dengan santai menuju kantin, memesan makanan yang sedari tadi mereka bayangkan, kemudian menghampiri temannya yang lain di meja biasa yang berada di pojok belakang sana
"Amel udah masuk ternyata, Ra," bisik Devi. Lyra menatap ke arah depan sana yang ternyata ucapan Devi benar. Amel ada disana bersama Leo, Dimas dan Luna, sedangkan sosok Pandu belum terlihat keberadaannya.
"Lo makan apa, Ra hari ini?" tanya Leo seraya menggeser duduknya, memberi ruang pada Lyra dan Devi untuk duduk.
"Tadinya gue mau makan orang, tapi gak jadi karena takut sakit perut, jadi makan bakso aja." Jawab Lyra dengan nada yang dingin, sekilas melirik pada Amel yang tengah memakan nasi gorengnya dalam diam dan menunduk.
Luna yang sedari dulu lebih dekat dengan Amel pun kini tidak bisa berbuat apa-apa, karena bagaimanapun dia tahu apa yang dilakukan Amel tempo hari itu salah. Luna sebenarnya tidak habis pikir, juga merasa kecewa pada Amel yang lebih memilih menghubungi Pandu yang jelas-jelas sudah memiliki istri di bandingkan dengan memberi tahu kabar sakitnya pada Luna, yang bahkan jarak rumahnya pun lebih dekat.
Luna tidak tega ikut mendiamkan wanita itu, tapi mau bagaimana lagi, rasa kecewanya saat ini lebih besar dan mungkin hanya ini lah yang bisa Luna lakukan untuk Lyra. Menyampaikan kekecewaan yang di rasakan Lyra untuk Amel dan Pandu, karena kalau boleh jujur Luna juga merasakan bagaimana sakitnya Lyra saat mengetahui sang suami lebih memilih merawat mantan kekasih, dari pada menjaga perasaan istri sendiri. Entah Pandu atau Amel yang salah, karena yang jelas mereka berdua sudah melakukan kesalahannya masing-masing, kesalahan yang tentu saja sulit untuk Lyra maafkan.
🍒🍒🍒
"Dev, ke toilet dulu ya, gue pengen pipis," ucap Lyra saat keduanya tengah berjalan menuju kelas.
"Jangan lama-lama, Ra!" teriak Devi saat mendapati Lyra yang sudah berlari menjauh.
Setelah merapikan penampilannya dan mencuci tangan, Lyra keluar dari toilet dan terkejut saat di depan pintu mendapati Amel berdiri di sana. Lyra dengan cepat menetralkan diri dari keterkejutannya, melangkahkan kakinya hendak melewati Amel begitu saja, tapi sayang, lengannya dicekal oleh wanita cantik dengan rambut Churly berwarna kecoklatan itu.
"Gue mau bicara, Ra," ucap Amel dengan nada memohon. Lyra menatap perempuan di depannya dengan dalam dan tajam, menghentakan tangannya yang di pegang Amel cukup kuat hingga genggaman itu terlepas dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Duduk di bangku miliknya di samping Devi, Lyra menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan yang ia simpan di atas meja, berkali-kali menghela napas untuk menetralkan diri dari emosi yang hinggap naik kepermukaan.
"Lo kenapa, Ra?" tanya Devi mengerutkan keningnya bingung.
"Gelengan bukan jawaban yang gue pengen, Ra!" cepat Devi berucap saat Lyra hendak menggelengkan kepalanya.
"Ck, Bisa gak si lo terima aja jawaban itu!" kesal Lyra, mengerucutkan bibirnya.
"Lo kenapa sih, gak enak banget itu muka?" lagi Devi bertanya tanpa memperdulikan ucapan Lyra sebelumnya.
"Pandu kayaknya emang gak cinta ya, Dev sama gue?" lesu Lyra bertanya.
"Lo kenapa tiba-tiba nanya kayak gitu sih?" heran Devi.
"Gue cape, Dev di sakiti terus, gue cape terus menerus di khianati. Gue ingin nyerah aja, tapi sialnya gue gak bisa!"
Devi membawa tubuh ramping sahabatnya ke dalam pelukan, menepuk-nepuk pundak itu untuk sekedar memberi kekuatan.
"Gue tahu, Ra. Gue tahu gimana sakitnya lo. Dan mungkin gue gak akan sanggup jika berada di posisi lo, tapi coba lo pikirin lagi jalan keluarnya, Ra. Ingat lo gak boleh salah mengambil langkah, karena itu hanya akan membuat lo menyesal."
Devi bukannya tidak mendukung keputusan Lyra yang ining berpisah, tapi sebagai sahabat ia hanya ingin mengingatkan Lyra. Devi tidak ingin gadis itu mengambil keputusan yang mungkin saja menyakiti dirinya sendiri, suatu hari nanti.
"Jika berpura-pura membuat lo lebih baik, maka lakukan, tapi gue mohon jangan pernah tunjukan kelemahan lo pada laki berengsek lo itu, Ra, gue yakin lo bisa."
🍒🍒🍒
Makan malam berjalan dengan kesunyian yang kedua orang itu ciptakan. Lyra melahap makanannya dalam diam begitu juga dengan Pandu. Sekali-kali laki-laki tampan itu melirik pada Lyra, hendak mengeluarkan kata, namun kemudian kembali ia urungkan hingga nasi di piring Lyra habis.
"Ra, aku min..."
Belum selesai kata itu terlontar Lyra lebih dulu bangkit dari duduknya, meninggalkan Pandu di meja makan seorang diri.
Menghela napas pelan terlebih dulu sebelum akhirnya bangkit dari duduk dan kembali mencoba untuk memulai bicara pada Lyra. Jujur saja sudah lebih dari tiga minggu ini Pandu tak bosannya mengekori sang istri ke mana pun, hanya agar mendapatkan waktu untuk menjelaskan dan minta maaf, tapi Lyra dan keterdiamannya itu ternyata lebih sulit untuk Pandu taklukan dari pada tingkah bar-bar dan pecicilan gadis mungil yang menjadi istrinya.
Minggu lalu Pandu mengira bahwa istrinya itu sudah tidak marah lagi, karena sudah dapat bersikap manis bahkan sangat manja seperti biasanya di depan keluarga Pandu, yang kebetulan waktu itu datang. Kebahagian Pandu saat itu bukan main, karena akhirnya ia dapat merasakan kembali kehangatan sang istri, tidak lagi ada pengabaian dan tidak lagi diam-diaman. Pandu bebas memeluk Lyra, mengecup kening sang istri seperti biasa, tapi nyatanya semua itu tidak berlangsung lama, karena tepat saat Ratih dan Bayu meninggalkan rumah anak menantunya itu, Lyra dengan cepat menepis lengan besar Pandu yang saat itu hendak melingkar di pinggang ramping Lyra.
Tidak menyerah, Pandu kembali mencoba, bahkan melayangkan godaan pada Lyra, tapi kembali penolakan secara terang terangan Lyra layangkan, membuat Pandu mengernyitkan keningnya bingung.
"Yang?"
Lyra yang hendak menaiki tangga menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Pandu, menatap dalam dan dingin pada manik mata hitam suaminya sebelum berkata, "Aku bersikap seperti tadi hanya di depan keluarga, yang memang tidak mengetahui hubungan rumah tangga kita. Tidak mungkin bukan aku mendiamkan kamu di depan mereka? Akan menjawab apa kamu nanti? Mengaku bahwa rumah tangga kita memang tidak baik-baik saja, dan itu di sebabkan oleh ulahmu?"
Wajah Lyra yang kembali dingin, meyakinkan Pandu bahwa perempuan itu memang benar-benar semarah itu padanya.
"Jika itu yang kamu inginkan, akan dengan senang hati aku katakan!"
Setelah mengatakan itu Lyra kembali melanjutkan langkahnya, menaiki satu per satu undakan tangga menuju kamar, meninggalkan Pandu yang masih terdiam di tempatnya.
frustasi, mungkin adalah kata yang tepat untuk Pandu saat ini. Jujur saja Pandu lebih memilih istrinya itu marah-marah, memukulinya atau bahkan mengusirnya sekali pun dari pada harus di hadapkan dengan tingkah Lyra yang seperti ini, diamnya Lyra membuat Pandu serba salah dan tersiksa karena tidak dapat memahami sang istri.
Pandu berjalan cepat menuju kamar, menghampiri sang istri yang ternyata tengah sibuk berkutat di meja belajar dengan buku-buku tebal. Helaan napas lelah juga kecewa Pandu keluarkan sebelum akhirnya melanjutkan langkah menuju ranjang.
Saking fokusnya meminta maaf pada sang istri, membuat Pandu melupakan bahwa tak lama lagi ujian akan dilaksanakan. mengesampingkan urusan pribadi terlebih dulu, kini Pandu memilih untuk fokus pada ujiannya begitu juga dengan Amel.
Setidaknya Lyra dapat bernapas lega, tidak harus melulu menghindar jika Pandu kembali merengek meminta maaf, karena jika boleh jujur ia juga tidak tahan mendiamkan suaminya itu. Ia merindukan bercanda dengan Pandu, merindukan dengan segala tingkah manja dan konyol Pandu, tapi rasa kecewa juga tidak dapat Lyra kesampingkan begitu saja, apa lagi saat mengingat bagaimana teganya Pandu yang bahkan sama sekali tidak menghubunginya selama satu minggu itu.
@ ank ips jga😎