Kisah ini menceritakan dua pria tampan yang sedang mengejar cinta seorang dokter galak dan cantik.
Jingga Pramudita seorang dokter Obgyn (obstetrics and gynecology) berusia 29 tahun. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, Jingga masih menyandang status single dan takut untuk menikah.
Di waktu yang sama, tiba-tiba ada dua pria tampan sedang mengejarnya. Namun, Jingga tak menghiraukannya karena dia masih belum percaya akan namanya cinta dan laki-laki.
Akankah ada dari salah satu mereka yang bisa menaklukkan hati seorang Jingga pramudita, atau justru ditolak semua?
Ikuti kisah mereka hanya di mengejar Cinta dokter galak.
Sebelum membaca novel ini, lebih baik baca dulu novel pendahulunya dengan judul berbagi cinta : aku tak mau dimadu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Untungnya Angkasa sudah memasang penguat sinyal di dalam kapal ini, sehingga dia bisa mengotak atik komputer dengan lancar tanpa hambatan. Melihat tangan Angkasa yang begitu lihai bermain di atas keyboard, membuat Jingga yang duduk di sampingnya merasa kagum.
Jingga tak menyangka, pria yang terlihat seperti anak manja ini ternyata memiliki banyak keahlian.
Tapi, kenapa dia bisa takut dengan pistol? Apakah pernah ada rasa trauma? Batin Jingga.
Beberapa menit kemudian, ada notifikasi pesan masuk di ponsel Angkasa. Melihat nomor ponsel tanpa nama itu, Angkasa segera membukanya.
+628xxx : Ingat! Kamu harus datang sendiri dengan membawa semua dokumen dan berkas penting perusahaan yang asli! jangan sampai ada polisi ataupun bodyguard. Kalau tidak, jangan menyesal jika aku membunuh ayahmu!
Tangan Angkasa kembali mengepal, raut kemarahan semakin tercetak jelas. Jingga yang melihat hal itu, langsung menggenggam tangan Angkasa untuk menenangkannya sekaligus memberi kekuatan.
" Kamu harus tenang, dan bisa berpikir jernih!"
Meskipun tak membaca isi pesan yang masuk di dalam ponsel Angkasa, tapi Jingga tahu bahwa A pasti mendapatkan ancaman lagi dari penjahat itu. Karena terlalu sering menonton film dan drama thriller, membuat Jingga tahu betul bagaimana karakter atau rencana yang diatur oleh seorang penjahat.
" Makasih ya, karena sudah ada untuk menemaniku," ucap A seraya mencium tangan Jingga.
Wanita ini, bukan hanya membuat Angkasa tergila-gila karena mencintainya, tapi dia juga bisa menjadi kekuatan agar A bisa menyelesaikan masalah ini semua.
" Apakah dia mengancam dan menyuruhmu untuk datang sendiri? "tanya Jingga untuk memastikan dugaannya benar atau tidak.
Angkasa mengangguk." Kenapa kamu bisa tahu? "
Jingga menghembuskan nafas panjang." Ternyata dia bukanlah penjahat handal! Tentu saja aku tahu, dan aku akan membantumu untuk menyusun sebuah rencana!" papar Jingga.
Kemudian, Angkasa mendengarkan rencana apa yang telah di susun oleh Jingga.
" Apa kamu yakin, rencana ini akan berhasil? Bagaimana kalau__"
Jingga menutup bibir Angkasa dengan jari telunjuknya.
" Percayalah padaku! Jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, kamu harus optimis bisa menang melawan bedebah itu!" Jingga memberikan semangat kepada Angkasa.
Angkasa tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Jingga. Lalu memegang pipinya.
" Aku akan berusaha semampuku untuk menang dari benalu itu, sekali lagi terima kasih banyak. Kamu benar-benar cahaya dan hadiah tuhan paling indah."
Lagi-lagi Angkasa membuat jantung Jingga berdetak dengan cepat ketika mendengar ucapan manis yang keluar dari mulutnya itu.
Tak lama kemudian, kapal mereka sudah berlabuh di pinggir dermaga. Angkasa masih setia menggandeng tangan Jingga, tanpa melepaskannya. Jingga pun tak menolak atau berusaha melepaskan diri, sepertinya dia sudah mulai nyaman dan terbiasa bergandengan tangan dengan Angkasa seperti ini.
Semua anak buah Angkasa sudah ia kerahkan, bahkan dokumen tentang semua kejahatan yang di lakukan oleh Lim sudah sampai di tangan polisi.
Sesampainya di tempat itu, Angkasa menghembuskan nafas panjang, sebelum turun dari mobil. Di dalam baju Angkasa sudah terpasang kamera tersembunyi yang akan merekam semua kejadian di dalam. Jingga dan beberapa bala bantuan juga sudah siap siaga memantau dari dalam mobil.
" A, kamu yakin keluar sendirian?" guratan kekhawatiran tercetak jelas di wajah Jingga.
Angkasa tersenyum, melihat Jingga yang sudah semakin peduli dengannya.
"Boleh aku meminta kekuatan?" izin Angkasa.
" Kekuatan apa?" tanya Jingga yang tak paham dengan maksud Angkasa.
" Kekuatan dari kamu."
" A ... Jangan bercanda di saat seperti ini," gerutu Jingga.
" Aku seriusan Ji, boleh nggak?"
" Andai saja bisa, aku pasti akan serahkan semua kekuatanku agar kamu bisa menjadi lebih kuat," pungkas Jingga dengan wajah serius.
Tapi, kekuatan yang di maksud Angkasa dan Jingga berbeda. Kekuatan yang di maksud oleh Jingga adalah keahlian bela dirinya, tapi bagi Angkasa bukan itu.
Angkasa tersenyum, lalu mencium kening Jingga, membuat sepasang bola mata nan indah itu membulat sempurna.
" Ken___" ucapan Jingga terhenti ketika jari telunjuk Angkasa berada di bibirnya.
" Kekuatan yang aku maksud adalah itu, saat aku berhasil mengalahkan benalu itu dengan keadaan selamat, aku ingin mendapatkan hadiah darimu. Jadi, persiapkan hal itu, oke!" ucap Angkasa dengan mengedipkan matanya.
Tanpa berlama-lama, Angkasa segera turun dari mobil dengan membawa dokumen yang di minta oleh Lim.
Jingga masih diam membuka karena Jantung berdetak tak karuan, dia seakan terkena serangan jantung ketika Angkasa mencium keningnya penuh kelembutan. Apalagi saat Angkasa mengatakan bahwa dia ingin Jingga mempersiapkan hadiah, membuat Jingga semakin gugup.
Apa hadiah yang di maksud Angkasa? Apakah jawaban dari lamarannya?
Jingga bermonolog seraya menyentuh kalung yang liontinnya cincin berlian pemberian Angkasa . Dia berharap bahwa Angkasa dan ayahnya bisa selamat.
Di dalam sebuah rumah kosong yang sepi, terlihat seorang pria paruh baya tengah duduk di kursi kebanggaannya menunggu kedatangan Angkasa.
Seringai tipis tercetak jelas di bibir Lim ketika mendengar suara ketukan sepatu dengan lantai. Dia yakin bahwa itu adalah Angkasa yang datang.
Ketika pintu terbuka, memperlihatkan Angkasa yang datang sendiri dengan membawa sebuah tas berisikan dokumen-dokumen permintaan dari Lim.
" Selamat datang keponakanku sayang ...," ucap Lim dengan suara barinton.
Angkasa menaikkan sudut bibirnya tatkala mendengar Lim memanggilnya dengan sebutan keponakan.
" Tidak usah berbicara manis atau memanggilku dengan sebutan itu, karena kamu sama sekali tak pantas menjadi pamanku, bahkan paman tiri sekalipun!" sarkas Angkasa yang membuat Lim geram.
Lim sebenarnya memang paman tiri Angkasa, tapi identitas dirinya sama sekali tidak di akui oleh keluarga Hanjaya. Karena dia hanyalah anak dari hubungan terlarang yang dilakukan oleh Kakek Angkasa.
Sikap Lim seperti ini, sama persis dengan Ibunya yang waktu itu hanya seorang pembantu. Seorang pembantu yang bercita-cita ingin menjadi nyonya dari keluarga kaya, sampai rela menjadi simpanan agar bisa mencapai keinginannya.
Sesepuh terdahulu sangat ketat, mereka tidak akan menerima seorang anak simpanan masuk ke dalam keluarga Hanjaya. Tapi, ketika melihat hidup Lim yang lontang lantung menjadi gelandangan. Membuat Hendra papa Angkasa tidak tega dan mempekerjakannya sebagai asisten. Karena bagaimana juga, dia masih keturunan keluarga Hanjaya.
Saat itu, sikap Lim sangat baik, jujur dan loyal sampai dia bisa menjadi orang kepercayaan dari Papa Angkasa. Tapi, lambat laun sikap tamaknya mulai keluar sehingga membuat dia menjadi orang yang seperti sekarang.
" Mana Papaku?" tanya Angkasa dengan wajah dingin.
" Santai saja A, aku akan memberikannya jika kamu sudah memberikan apa yang aku minta!" tukas Lim.
" Aku ingin melihat keadaan ayahku dulu!" pinta Angkasa.
Setelah itu, Lim menyuruh anak buahnya untuk membawa Hendra keluar. Saat melihat tubuh papanya yang terkulai lemas dengan berlumuran darah, membuat darah Angkasa seakan berhenti sejenak. Lim benar-benar sudah keterlaluan, seharusnya dia tidak sekejam ini.
" Kenapa kamu kejam sekali sampai buat papa seperti ini? Apakah kamu lupa dengan kebaikan papa kepadamu?" bentak A yang mulai tersulut emosi.
Hahahaha....
" Apakah kamu pikir ayahmu sebaik itu? A, kamu itu masih anak bau kencur, tidak tahu apa-apa. Kamu tidak tahu bagaimana penderitaan yang aku alami selama ini gara-gara keluarga kalian! " kini Lim ikut tersulut emosi ketika mengingat kembali bagaimana pahit kehidupannya dengan ibunya dulu.
" Sekarang, berikan dokumennya! "titah Lim.
Setelah itu, ada seorang anak buah Lim yang berjalan menghampiri A untuk mengambil dokumen di tangannya. Lim yang licik, tidak menepati perkataannya sendiri.
Ketika sudah mendapatkan dokumen itu, dia langsung menyuruh anak buahnya menyerang Angkasa.
...****************...
banyak contoh laki² yg baik meskipun dia banyak uang, sangat menghargai.wanita
peran wanitanya bisa memberikan contoh yg baik bagi pembaca dewasa, tidak gampang
kalau pembacanya punya sifat hampir spt peran wanitanya pasti senang
Lanjut dong Thor..nanggung amat siih/Angry//Drool/
di tunggu kelanjutan nya thor biar ga bingung kitaah.
mantap nih visualnya ...😍😍