Alfin Adendra, seorang lelaki idaman yang punya wajah tampan, pekerjaan bagus dan mapan. Hidupnya nyaris sempurna dengan memiliki seorang kekasih yang sudah dipacarinya sejak bangku kuliah. Meski terpisah jarak, nyatanya cintanya tak pernah pudar untuk sang kekasih. Hingga suatu peristiwa tragis menghancurkan hatinya. Kekasihnya meninggal karena bunuh diri!
Tapi Alfin tak percaya bahwa itu bunuh diri melainkan kekasihnya sengaja dibunuh oleh suruhan sebuah organisasi mafia dunia bernama Miracle. Hanya saja, tak ada bukti dan kasusnya ditutup begitu saja.
Kekecewaan dan kesedihan itu terbawa hingga tiga tahun kemudian, ketika dia bertemu dengan Kenanga, seorang prajurit TNI yang berwajah datar, blak-blakan dan kasar yang juga sedang menyelidiki Miracle. Dan takdir mempermainkan mereka ketika mereka harus menikah karena perjodohan.
Di tengah ketidakpuasan atas takdir, Alfin bekerja sama dengan Kenanga mencari tahu soal Miracle, dalang dari kekacauan negara dan saling jatuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KyGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Angga Tahu
"Tanam tanam ubi. Tak perlu dibajak. Orang berbudi. Ya kayak Bang Satya. Hehehe."
Satya sedang bernyanyi dengan suara sengaunya di kamar mandi. Pagi ini dia sedang dalam suasana baik. Mungkin karena dia berhasil mengajak seorang cewek incarannya untuk kencan hari ini.
Ingat, Satya adalah buaya buntung!
Setelah selesai berpakaian lalu dandan rapi, lelaki itu keluar kamar. Sambil bersenandung, Satya menyeduh kopi dan memanggang roti. Dia tersenyum nikmat kala menghirup harum kopi yang mengebul.
Setelah itu, masih dengan langkah santai, Satya duduk di meja makan. Memakan roti bakar dengan gaya anggun dan elegan.
"Silakan makan, Putri." monolognya dengan nada lembut. Tak lupa dia menyematkan senyum mematikannya.
"Siapa Putri?" celetuk Alfin yang datang tanpa mengetuk pintu dan langsung masuk.
Satya mendatarkan wajahnya, "Kau seperti jalangkung. Masuk tak diundang, keluar tak diantar." gerutunya.
"Belajar darimu." balas Alfin santai. Dia menyomot roti bakar Alfin dan meminum kopinya tanpa izin. Satya melotot.
"Sialan, kau!" umpatnya kesal.
"Aku belum sarapan." jelas Alfin tanpa dosa. Dia akhirnya duduk di kursi depan Satya sembari menghabiskan roti rampasannya itu.
"Ada apa sih kesini? Dasar menganggu." dengus Satya.
"Memberikanmu ini." Alfin melemparkan sebuah undangan ke atas meja.
"Apa ini?" tanya Satya mengambil undangan itu. Sedetik kemudian, matanya terbelalak.
"KAU AKAN MENIKAH? DENGAN KENANGA?!" pekiknya.
Alfin menganggukan kepala. "Wah, roti bakarmu enak sekali. Nanti bikinkan aku satu." puji Alfin, dia meneguk kopi Satya lagi dengan santai.
Tapi Satya tak memedulikannya. Dia menatap undangan itu dengan perasaan syok luar biasa.
"Alfin, jelaskan padaku!" tuntutnya.
Alfin hanya mengendikan bahu, "Terjadi begitu saja." ucapnya.
"Serius, Fin." tegas Satya.
Alfin akhirnya memusatkan pandangannya pada Satya yang wajahnya benar-benar serius. Alfin mendesah pelan.
"Aku dijodohkan, maksudnya kami." tandasnya.
"Hah, dijodohkan? Kalian? Kok bisa?" tanya Satya beruntun.
"Seperti cerita klise di novel, perjanjian dua keluarga." jawab Alfin.
Satya berdecak tak percaya, "Zaman sekarang masih ada perjodohan? Di tahun 2023? Di era revolusi industri? Dimana tahun depan manusia akan ke mars?"
"Bukan perjodohan yang mengikat. Hanya seperti janji antara kakekku dan kakeknya. Menolak juga tidak masalah."
"Kalau begitu kenapa kamu tidak menolak?" tanya Satya cepat.
"Kenapa aku harus menolak?" tanya balik Alfin.
"Apa jangan-jangan kau suka padanya?" tuduh Satya. "Pada dewi impianku?!"
Bug
Alfin menendang kaki Satya dari bawah meja, "Sejak kapan dia dewi impianmu?" tanyanya datar.
Satya tersentak kecil karena tendangan itu, "Sudah sejak dulu. Dan aku benar-benar kesal padamu. Masa kau langsung mendapatkannya dengan mudah padahal orang-orang yang menyukainya sangat banyak? Kau bahkan tidak menyukainya." gerutu Satya.
"Jangan sampai kedengaran Siska atau kau akan mendapat masalah. Lagipula kata siapa aku tidak menyukainya?" balas Alfin.
"Apa katamu?" seru Satya kaget.
"Kata siapa aku tidak menyukainya." jawab Alfin datar.
"Jadi kau sudah menyukainya? Kau sudah tidak patah hati lagi? Kau sudah move on?" seru Satya kini menjadi senang.
"Bukan suka dalam artian seperti itu." sahut Alfin acuh.
"Lalu?" tanya Satya bingung.
"Hanya...aku sudah matang untuk menikah begitupun Kenanga. Kami sama-sama lajang. Kenanga juga jelas tipe idaman."
"Apa yang kau katakan?" komentar Satya.
"Tapi kenapa disini hanya tertulis akad nikah saja? Kalian bahkan tidak melakukan foto prewed. Kalian niat atau tidak?"
"Kenanga bilang dia tidak bisa melakukan resepsi saat ini. Dan aku jelas setuju. Jadi hanya akad nikah saja. Foto prewed? Tidak perlu." jawab Alfin santai.
"Kenapa? Kalian mau merahasiakan ini?" tebak Satya.
Alfin mengangguk mantap, "Iya."
"Kenapa? Pernikahan itu sesuatu yang harus diberitahukan pada banyak orang. Apalagi kau menikah dengan Letnan Kenanga. Aku yakin ini akan menjadi Hari Patah Hati Nasional versi militer!"
"Kami belum saling mencintai dan rasanya agak berlebihan kalau harus menyelenggarkan itu semu. Jadi nanti saja." tukas Alfin.
Satya mendesah kasar, "Terserah kau saja. Aku tidak mengerti jalan fikir pasangan aneh ini." dengusnya.
"Jangan lupa datang dan jangan bocorkan ini pada siapapun. Kau satu-satunya teman yang kuberitahukan." tekan Alfin.
"Terserahlah. Kalau perlu aku akan menjahit mulutku agar kau tenang." tandas Satya acuh.
Alfin tersenyum lebar, "Ide bagus. Aku akan mengambil benang dan jarumnya."
Alfin langsung berdiri dan pergi menuju kamar Satya. Satya terkesiap.
"Aku becanda, brengsek! Alfin!" teriaknya panik.
***
Kini Kenanga dan Alfin sedang mengurus pengajuan nikah mereka. Setelah dokumen mereka disetujui, Kenanga mendampingi calon suaminya itu untuk mengikuti berbagai tes. Dengan pakaian serasi hitam putih, Alfin dan Kenanga pergi ke berbagai ruangan dan tempat seharian penuh.
Tes diantaranya adalah Litsus, dimana Alfin akan diuji wawasannya soal pendidikan dan kewarganegaraan begitu juga soal pandangannya mengenai organisasi terlarang di NKRI, seperti PKI. Lalu melakukan pemeriksaan medis di rumah sakit khusus TNI. Di sana mereka harus melakukan pemeriksaan dari kesehatan jantung, urin, cek darah, rontgen dada, dan lain-lain.
Setelah selesai, dilanjut dengan pembinaan mental dari Disbintal TNI. Pembinaan ini adalah pembekalan mereka sebelum menikah nanti.
Setelah berbagai rangkaian, petugas akan memberikan 'wejangan' atau nasihat bagi kedua pasangan yang akan menjalani bahtera rumah tangga.
Dan setelah semua itu, Kenanga dan Alfin undur diri keluar dari ruangan.
"Kamu sudah dengar sendiri soal bagaimana rasanya menikah dengan prajurit. Tapi tadi hanya formalitas saja, kau tidak perlu memasukkannya ke hati bila ada kata-kata yang mungkin menyinggungmu."
"Saya tidak tersinggung. Justru rasanya sangat baru dan menyenangkan. Saya jadi lebih tahu soal pekerjaan kalian." balas Alfin.
"Benarkah?" Alfin mengangguk.
"Agar kau semakin paham soal pekerjaan saya, maka saya akan mengajakmu ke dua tempat lagi."
"Silakan."
Kenanga melangkah lebih dulu disusul Alfin. Mereka akan pergi ke asrama menemui pejabat kesatuan dimana Kenanga berdinas.
Kini mereka sudah berada di hadapan komandan Kenanga. Alfin nampak gugup namun berusaha untuk tenang.
"Jadi kalian sungguh-sungguh akan menikah?" tanya komandan Kenanga.
"Benar, Ndan." jawab Kenanga tegas.
"Namamu tadi Alfin kan? Bagaimana Kenanga menurutmu?" tanya Amir, sang komandan.
"Kenanga, baik dan diluar dari identitasnya sebagai tentara, dia perempuan idaman." jawab Alfin.
"Kau yakin dengan ucapanmu? Dia perempuan idaman? Si wajah datar dan tak bisa memasak sama sekali?" tanya Amir tidak percaya.
"Komandan, saya bisa memasak sedikit." sela Kenanga.
"Tetap saja kau tidak terlihat seperti wanita pada umumnya. Omnya yang juga atasan saya, sangat mirip dengannya." ucap Amir.
Alfin tersenyum, "Saya tidak mencari yang sempurna. Justru menurut saya Kenanga adalah perempuan unik yang jarang ditemui. Dia tidak penuh kepalsuan dan selalu bersikap apa adanya. Meski dia memang cukup menyebalkan."
Kenanga menyikut siku Alfin yang tengah tersenyum kecil. Amir tertawa mendengar ucapan jujur Alfin itu.
"Iya dia memang menyebalkan. Andai dia bukan keponakan jenderal Akra, sudah saya pelintir wajahnya agar tidak datar." candanya.
"Tapi, Kenanga tetaplah anak buah saya. Saya tidak menyangka bahwa dia akan membawa laki-laki menghadap saya secepat ini. Tapi saya tidak khawatir dengan lelaki pilihannya karena saya yakin, Kenanga memilih dengan selektif. Kenanga menerimamu pasti karena kamu memang yang terbaik diantara semuanya. Dan saya berharap bahwa kamu tidak mengecewakan saya. Kenanga adalah salah satu prajurit wanita yang kelak akan menjadi istri. Dan sudah sepatutnya dia menemukan suami yang akan menjadi tempatnya bersandar di masa sulit."
"Pernikahan itu bukan main-main apalagi di lingkungan militer seperti ini. Kenanga akan mendapatkan masalah serius bila pernikahan kalian gagal. Dan saya tidak ingin itu terjadi. Diantara semua harapan saya pada anak buah saya, saya ingin mereka menikah dengan harmonis dan bahagia sepanjang hidup mereka. Termasuk kalian. Kalian akan menjadi satu tubuh. Bila salah satunya rusak maka tubuh kalian akan cacat. Kalian itu kapal yang akan melaju di laut yang kadang tenang kadang bergelombang. Sebagai satu kesatuan, kalia harus mengemudikannya dengan benar. Berlayar menuju titik akhir bersama-sama. Kalau ada masalah, selesaikan dengan baik. Kenanga adalah orang yang cukupkeras soal egonya, jadi saya harap kamu sebagai suami bisa mengimbanginya dengan sikap tenang. Kamulah penstabilitas dalam hubungan kalian."
Kenanga dan Alfin mengangguk mengerti.
"Kenanga, setiap saya melihat kamu, saya selalu teringat Nike. Kamu mirip dengannya. Makanya saya selalu keras dengan kamu. Saya ingin kamu setangguh ibumu." ujar Amir menatap Kenanga.
Kelopak mata Kenanga bergetar kala diingatkan soal Nike, ibunya. Dia tahu bahwa Amir dan Nike merupakan satu rekan seperjuangan.
"Ibumu selalu bilang seperti ini, Hei Amir! Tutup mulutmu kalau terus mengeluh atau kuseret kau ke wilayah musuh! " kenang Amir.
"Ibumu sangat keras sama sepertimu." lanjutnya tersenyum kecil.
"Saya sudah tidak ingat lagi." jawab Kenanga pelan.
"Apa yang tidak kau ingat?" tanya Amir.
Kenanga termangu sesaat, dia menunduk. "Semuanya. Kenangannya terhapus sedikit demi sedikit di ingatan saya."
Amir terdiam. Dan Kenanga hanya menghembuskan nafas pelan. Sedangkan Alfin juga diam merasa kasihan. Dia tahu bahwa masa lalu Kenanga cukup berat entah apa itu.
***
Setelah selesai, mereka keluar dari rumah komandan Kenanga.
"Terima kasih untuk hari ini." ucap Kenanga.
Alfin hanya mengangguk.
"Oh ya satu tempat lagi dimana?" tanya Alfin baru ingat.
"Ah," Kenanga juga baru teringat, "Besok saja. Hari ini sudah sore. Kau juga pasti lelah."
"Saya setuju." angguk Alfin.
"Letnan Kenanga?" seseorang memanggil namanya dari belakang.
Kenanga dan Alfin berbalik. Mereka terkejut terutama Kenanga. Ada Angga yang berdiri syok bersama calon istrinya.
"Angga?" gumam Kenanga.
Angga dan calon istrinya berjalan menghampiri Kenanga dan Alfin.
"Kalian..." Angga kehilangan kata-kata. Dia menatap pakaian Kenanga dan Alfin yang senada, "Kalian akan menikah?!" serunya syok.
Kenanga menutup matanya, sial, Angga sudah tahu.
klo ada extra part ya Thor