NovelToon NovelToon
Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Menjalankan sebuah pernikahan rahasia dan dengan terpaksa pula, tidak pernah ada dalam bayangan Aura Aneshka. Ia hanya memimpikan untuk membina
rumah tangga yang sederhana dengan seorang lelaki yang sholih dan bertanggung jawab. Tapi semua impian yang sudah tampak di depan mata itu hancur berantakan ketika pemilik kekuasaan di tempatnya bekerja masuk begitu saja dalam kehidupannya dan mengacaukan hari-harinya.

Damaresh Willyam, penguasa tertinggi PRAMUDYA CORP. Tak pernah tau kalau akibat perbuatannya mengikat Aura Aneshka dalam pernikahan yang hanya di maksudkan untuk menunjukkan kekuasaannya pada bawahannya yang di anggapnya terlalu pembangkang itu, justru membawanya pada masalah baru yang tak pernah ingin di temuinya selama ini. Yaitu cinta.

Dapatkah sebuah ikatan yang awalnya hanya di maksudkan untuk permainan itu, menjadi sebuah ikatan yang sebenarnya.
Bagaiamana jika pada akhirnya, Damaresh harus memilih antara cintanya atau tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Bukan Syarat Tapi Kewajiban.

"Selamat malam, Tuan," lelaki itu berucap sambil sedikit membungkukkan badannya ke hadapan Damaresh yang baru turun dari mobil setelah terparkir sempurna di halaman yang luas.

"Malam, Dirga," sahut Damaresh pada lelaki yang berusia sekitar empat puluh lima tahun tersebut.

"Saya senang, Tuan datang," ucap Dirga dengan senyum, dan senyumnya itu pudar berganti kernyitan di kening tatkala melihat siluet wanita yang turun dari mobil juga hampir bersamaan dengan Damaresh.

wanita cantik yang membalut tubuhnya dengan pakaian muslimah lengkap dengan hijab lebarnya itu kini berdiri tak jauh di samping Damaresh.

"Ini Aura Aneshka," Damaresh memperkenalkan wanita yang bersamanya itu pada Dirga.

"Selamat malam Mbak Aura," Dirga pun memberikan salam serupa sebagaimana terhadap tuannya.

"Selamat malam, Pak," sahut Aura dengan senyum ramah.

"Siapkan kamar untuk Aura di lantai bawah, Dirga!

mulai sekarang dia akan tinggal di sini!"

"Baik, Tuan," Dirga mengangguk dan segera berlalu untuk melaksanakan perintah tuannya.

Aura menoleh ke arah lelaki di sampingnya itu sepeninggal Dirga. "Ini mess karyawannya, pak?"

Seingat Aura, Damaresh menawarkan dirinya untuk tinggal di mess karyawan yang ada di gedung kantor Pramudya, tapi kini mereka justru berdiri di depan sebuah rumah megah yang meski tidak bisa di kata sangat besar tapi dari tampilan luarnya saja, rumah yang di dominasi warna monokrom dan memiliki dua lantai itu terlihat begitu mewah dan elegant.

"Iya. Mess khusus untukmu saja," sahut Damaresh, seraya melangkah masuk ke dalam rumah setelah memberi isyarat pada Aura untuk mengikutinya.

Satu kata untuk rumah ini setelah Aura berada di dalamnya. Berkelas, itu penilaian yang didapat dari keseluruhan mulai dari design interior dan exteriornya,

serta semua furniture yang digunakannya. Aura berdecak dalam hati. "Saya akan tinggal di sini Pak?"

"Kau sudah mendengarnya dengan jelas tadi,"

Wah iya, Aura hampir lupa kalau Damaresh tak suka mengulang ucapannya dua kali.

"Pasti mahal uang sewanya," ucapan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Aura.

"Maksudmu?"

"Bapak akan memotong gaji saya untuk membayar biaya saya tinggal di sini?" tanya Aura. Ia merasa harus memastikan semuanya di awal, ya kalian tau sendiri bagaimana si Damaresh Willyam yang tak bisa ditebak itu. Aura tentu tak mau kalau gajinya dalam sebulan tiba-tiba hangus hanya untuk membayar biaya tinggal di rumah berkelas ini.

"Kita lihat saja nanti,"

Jawaban itu membuat Aura menahan napas.

"Tuan, kamar untuk Mbak Aura sudah siap," Dirga datang melaporkan hasil kerjanya.

Damaresh mengangguk. "Antarkan Aura ke kamarnya!"

"Baik Tuan, mari Mbak, ikuti saya," ucap Dirga pada Aura.

"Tidak pak," Aura menggeleng pada Damaresh "Sebelum semuanya jelas di-awal" ucapnya lagi.

"Akan aku pikirkan dulu, Arra. Besok aku akan memberitaumu, sekarang sudah malam, istirahatlah!"

Setelah mengucapkan itu Damaresh segera naik ke lantai atas di mana kamarnya berada. Sedangkan Aura mengikuti Dirga yang membawanya pada sebuah kamar utama yang ada di lantai itu.

"Selamat istirahat, Mbak, semoga betah," ucap Dirga begitu Aura telah berdiri di tengah kamar yang luas itu.

Ternyata di balik tampang dan penampilannya yang sangar, Dirga juga memiliki keramahannya tersendiri.

"Terima kasih, Pak," Aura tersenyum ramah.

"Kalau butuh apa-apa, Mbak Aura tinggal bilang pada saya," Kata Dirga lagi sebelum ia memutar tumitnya hendak berlalu.

"Tunggu, Pak!" seru Aura.

"Iya Mbak, ada apa?"

"Saya hanya mau tanya, ini rumah siapa?"

"Ini rumahnya tuan Damaresh, Mbak."

"Berarti seluruh keluarga pak Damaresh juga ada di sini?" tanya Aura mulai dengan perasaan yang tak enak.

"Tidak. Ini rumah pribadinya tuan, tapi tuan Damaresh jarang tinggal di sini, dia lebih suka tinggal di apartemen." keterangan Dirga itu membuat Aura mengangguk dan lalu tersenyum ketika Dirga berpamit untuk kedua kalinya.

******

Seteguk dua teguk, minuman itu masuk dalam kerongkogannya, semakin jelas kalau memang ada yang berbeda dari biasanya.

"Dirga!" Damaresh memanggil Dirga yang melintas tak jauh di belakangnya.

"Ia, Tuan," Dirga bergegas menghampiri tuannya yang sudah sangat rapi siap berangkat kerja pagi ini.

"Kenapa minumanku ini rasanya beda, tak seperti biasanya?"

Dirga sejenak diam, hampir lupa kalau orang yang telah mempekerjakannya itu sangat jeli dalam banyak hal.

"Maaf, Tuan. Itu tadi mbak Aura yang membuatkan. Dia meminta saya untuk mengajarinya membuat minuman kesukaan Tuan, lalu dia membuatkannya untuk, Tuan."

"Dan kau membiarkan orang lain menyiapkan keperluanku?" Damaresh bertanya tajam, pertanyaan yang sekaligus teguran. Selama berada di rumah ini, hanya Dirga saja yang biasa melayani segala keperluan

Damaresh. Meskipun ada seorang pelayan wanita yang datang tiap hari ke rumah ini, tapi tugasnya hanya memasak dan membersihkan rumah. Dan pelayan itu akan pulang kembali jam empat sore.

Sedangkan untuk segala keperluan Damaresh termasuk makanannya semua diurus oleh Dirga yang memang sudah mengikutinya sejak kecil. Sikap Dirga kali ini yang membiarkan Aura membuatkan minuman untuknya sangat dipertanyakan oleh Damaresh.

"Maaf, Tuan." Dirga membungkukkan badannya.

"Saya mengijinkan mbak Aura, karna saya pikir dia bukan seorang gadis biasa bagi, Tuan. Yang bukan hanya sekedar teman ataupun rekan kerja,"

"Dari mana kau berkesimpulan begitu?"

"Tuan tidak pernah mengajak siapapun ke rumah ini termasuk seluruh keluarga, Tuan. Bahkan tidak ada yang tau kalau ini rumah Tuan kecuali tuan Kaivan.

Tapi kini Tuan membawa Mbak Aura tinggal di rumah ini, jadi saya berkesimpulan kalau mbak Aura pasti orang yang istimewa untuk Tuan." ungkap Dirga.

Damaresh tak menanggapi apapun atas ucapan Dirga itu kecuali kembali menyesap minumannya dan lalu memberi isyarat tangan pada Dirga menyuruh pergi.

Namun baru beberapa langkah, Damaresh kembali memanggilnya.

"Dirga!"

"Iya, Tuan."

"Aku suka minuman ini,"

Dirga mengangguk dengan senyum. Ia paham kalau tuannya itu setuju dengan keputusan Dirga yang mengijinkan Aura membuatkan minuman untuknya.

"Bapak sudah siap berangkat?" tanya Aura.

Ia baru saja keluar dari kamarnya dan menemukan Damaresh tampak sudah begitu tampan dan rapi.

"Iya. Aku akan langsung ke bandara menjemput kakek,

nanti kau ke kantor diantar Dirga,"

"Gak usah, Pak, saya naik taksi saja," tolak Aura.

"Arra," Damaresh menatap tajam, ia tak suka perintahnya ditampik. "Semalam kau mempertanyakan masalah sewa rumah ini kan?"

"Iya, pak."

"Cukup kau patuh saja padaku, itu syaratnya" pinta Damaresh.

"Itu bukan Syarat, Pak. Tapi itu memang kewajiban." jawab Aura dengan senyum.

"Saya janji, saya akan selalu patuh pada Bapak, untuk semua hal. Kecuali bapak menyuruh saya melakukan hal yang bertentangan dengan agama saya, saya akan menolak." ucap Aura lagi dengan tegas.

Gak berlebihan bukan, bahwa seorang istri memang harus patuh pada suaminya. Maka permintaan Damaresh itu bukan syarat bagi Aura, tapi memang sebuah kewajiban.

"Bagus, aku suka itu," kata Damaresh dan segera memutar tumitnya melangkah keluar.

"Pak, tunggu!" Aura mengejar lelaki itu dan segera berdiri di depannya.

"Apa lagi, Arra?"

Aura tersenyum, membungkukkan badannya meraih tangan kanan Damaresh dan mencium punggung tangan itu dengan khidmat. Damaresh kembali menahan napas begitu ujung hidung Aura menyentuh kulit punggung tangannya.

"Pak hati-hati, ya" ucap gadis itu setelah melepaskan

tangan Damaresh.

"Harus ya kau melakukan ini padaku?" tanya Damaresh dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Sudah saya bilang ini salah satu ahlak istri pada suaminya, ya walaupun saya hanya 'istri rahasia' pak"

Aura menyertai senyum dalam ucapannya.

"Tapi aku tidak nyaman, Arra,"

Tentu saja Damaresh merasa tidak nyaman karna itu memang bukan hal yang biasa baginya, seingatnya juga ia tak pernah melihat ibunya melakukan itu pada ayahnya, begitupun dalam keluarganya yang lain.

Dan terlebih lagi ada rasa yang tak biasa menguar dalam diri Damaresh tiap kali Aura mencium tangannya, dan hal itu yang lebih membuatnya tak nyaman. Segala hal yang akan membuatnya terikat secara perasaan pada gadis di depannya itu, untuk saat ini akan berusaha dihindari oleh Damaresh.

"Bapak harus mulai terbiasa. Saya juga tidak akan melakukannya bila ada orang lain, kok." kata Aura dengan santai.

Damaresh akhirnya memilih mengangguk saja, meski sebenarnya ada beberapa kata yang sudah siap ia ucapkan. Lelaki itu memilih segera naik ke mobil yang sudah disiapkan oleh Dirga dan dalam waktu singkat

mobil yang dinaikinya menghilang di balik pagar halaman yang tinggi.,,

1
Asmar Siahaan
terimakasih atas karyamu yang begitu indah semoga sukses selalu
Najwa Aini: Amiin..
Terima kasih kak..
total 1 replies
Asmar Siahaan
menggemparkan
Asmar Siahaan
makin seru
Asmar Siahaan
sangat mengharukan
Asmar Siahaan
ha ha ha ha
Asmar Siahaan
luwar bisa sangat brilian
Asmar Siahaan
ada ya suami seperti ini
Asmar Siahaan
mantap bos lanjut
Asmar Siahaan
lanjut bos
Asmar Siahaan
makin seru lanjut bosku
Hadyan Ghauzan
Luar biasa
Irfan Hidayat
aku suka ceritanya ga belibet kayak sinetron ikan terbang yang amat sangat membosankan.
Ayu Bunda
suka bgt karakter nya aura,,semangat terus berkarya thor💪💪💪
Wiens 0121
wih kerrren thor
Wiens 0121
saya suka baca y dah k brp kali saya baca ares dan arra ga bosan2 trus berkarya yg lebih bagus lagi semangat 💪💪
Uswatun Khasanah
Asli kek lagi nonton sinetron tapi lebih seru. Alurnya asik dan rapih bgt. Seru sih.
Siti Humaira
keren kak ceritanya aku udah baca beberapa kali tetap baper❤️❤️❤️❤️luar biasa KK 👍👍👍
Wiens 0121
ya habis 😂😂 aku tunggu cerita yg lainya tor
Wiens 0121
sedih 😭😭
Wiens 0121
seru banget sampe sport jantung aku baru baca ada novel sebagus ini lanjut kan karya karya mu ku tunggu cerita selanjut y 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!