Follow IG : renitaria7796
Aran Odelia Courtney seorang raja berkuasa yang menyukai gadis bernama Sara Helowit. Raja menginginkan Sara menjadi selir keempat puluh satu. Namun sayangnya Sara sudah memiliki seorang kekasih.
Bagaimana Aran akan menaklukkan Sara? Lalu mampukah sang kekasih menyelamatkan Sara dari belenggu Aran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Tetes Air Mata
Berita mengenai kemenangan sang raja tersiar di seluruh tanah Whiteland. Pelayan istana diperintahkan untuk membuat perayaan atas kemenangan ini.
Sang ratu berdiri di depan pintu masuk istana untuk menyambut kepulangan suami mereka. Keduanya memakai pakaian serta perhiasan terbaik.
Taburan bunga, tabuhan genderang menjadi sambutan meriah untuk sang raja dan pasukannya. Mereka yang menjadi tawanan malah diperlakukan hal yang sebaliknya.
Kerangkeng yang membawa tawanan, dilempari batu dan juga dihadiahkan sumpah serapah dari penduduk setempat.
Pintu gerbang istana dibuka. Aran bersama pasukannya masuk. Mereka dihujani dengan taburan bunga warna-warni dan juga dihujani pujian dari penghuni istana.
Aran turun dari kudanya dan semuanya memberi hormat. Jessica bersama Alister menyambut dulu dengan memeluk Aran erat.
"Aku berterima kasih kepada yang Esa. Sang raja telah kembali dengan selamat dan kemenangan," ucap Jessica.
"Aku merindukanmu, Ratu."
Aran mengangkat putranya, Alister tinggi-tinggi, memeluknya, menghujani Alister dengan kasih sayang. Semua bertepuk tangan dan menaburkan bunga.
"Kamu merindukan, Ayah?"
"Ya, Yang Mulia," jawab Alister.
Aran beralih pada Izzy, lalu memeluknya. "Ratu, kamu tidak bersedih lagi, kan?"
"Kepulangan Baginda menjadi kebahagian yang tidak ternilai."
Aran berdiri dengan gagahnya kemudian memerintahkan prajurit untuk membuka kain hitam yang menutupi kerangkeng besi.
"Lihatlah pemberontak ini. Mereka bersalah dan pantas untuk dihukum," kata Aran.
"Hukum saja mereka," teriak penghuni istana.
"Hukuman apa yang pantas untuk dua pemberontak ini?"
"Hukum penggal," teriaknya.
Tidak peduli teriakan dari sekitarnya, Elios mencari-cari keberadaan Sara. Setidaknya untuk yang terakhir kali, ia bisa melihat wajah dari wanita yang ia cintai.
"Saraaaa!" teriak Elios yang membuat semuanya diam.
Kerangkeng besi dipukul agar Elios diam, tetapi pria itu tidak mendengarkan, bahkan semakin menjadi-jadi.
"Bawa mereka ke penjara bawah tanah!" perintah Aran kepada prajuritnya.
Elious dan Calder di bawa ke penjara bawah tanah. Semua dibubarkan dan Aran masuk ke dalam istana bersama bawahannya. Prajurit yang terluka segera mendapat pertolongan dari perawat istana, sedangkan yang meninggal segera dimakamkan.
...****************...
"Aku mendengar teriakannya," ucap Sara.
"Dia kekasihmu?"
Sara menggapai cahaya matahari yang bersinar terik. "Dia akan pergi, kan?"
"Pemberontak akan dihukum mati."
"Aku tahu, dan itu akan terjadi di depanku," kata Sara.
"Bersabarlah, Putri."
"Apa aku boleh menangis?" tanya Sara.
"Jika itu membuatmu merasa lebih baik," kata Esme.
Sara menggeleng, "Aku tidak boleh menangis. Sudah cukup. Tinggalkan aku, Esme."
Esme terdiam sejenak, sejurus kemudian ia menurunkan tubuh sedikit. "Saya akan keluar, Putri."
Ibunya digantung, anaknya digugurkan, dayangnya dihabisi dengan jeratan tali, dan sekarang kekasih yang dicintainya akan dipenggal.
"Kapan ini akan berakhir?" ucap Sara dengan memandang terik mentari.
Langit yang biru, sinar mentari yang bersinar cerah merupakan awan gelap bagi Sara. Takdir telah merenggutnya satu per satu.
...****************...
"Panggilkan selir Sara. Aku ingin makan siang dengannya," perintah Aran.
"Yang Mulia, selir Sara telah dihukum oleh ratu di istana dingin," kata pengawal.
"Dihukum? Apa dia membuat kesalahan?"
"Ampun, Yang Mulia."
"Aku akan pergi mengunjungi ratu Jessica." Aran keluar dari kamarnya dengan diikuti dua pengawal setianya.
Pintu kamar Jessica dibuka. Aran masuk dan disambut dengan senyum mengembang sang istri. Aran mengangkat tangan ke atas yang artinya pintu harus ditutup.
"Ratu, ada apa kamu menghukum Sara?" tanya Aran.
"Aku hanya melakukan tugasku, Yang Mulia. Dia berani menghina ratu Izzy dan mengatakan hal yang tidak pantas untuk di dengar. Aku hanya menghukumnya di istana bagian selatan dan tidak di penjara bawah tanah," kata Jessica.
"Dia masih keras kepala rupanya."
"Dia belum terbiasa akan peraturan istana. Sara bicara hal yang menyakitkan sang ratu. Apa aku salah telah menghukumnya?" tanya Jessica.
"Tentu tidak. Jika ada yang bersalah, memang sudah seharusnya dihukum."
Jessica tersenyum kemudian memeluk Aran. "Terima kasih, Yang Mulia."
"Malam ini aku akan bersamamu."
...****************...
Panggung untuk eksekusi sudah dipersiapkan. Rakyat telah berkumpul untuk menyaksikan para pemberontak yang akan dihukum penggal. Raja dan ratu juga telah duduk di atas singgasana mereka.
"Bawa kemari selir Sara. Aku berjanji akan memenggal kepala si pemberontak di hadapannya," perintah Aran.
Pengawal kerajaan segera melaksanakan perintah Aran, menjemput Sara dari istana dingin. Sara sengaja menggeraikan rambut indahnya. Ia tidak memakai perhiasan dan memakai gaun berwarna putih.
"Pengawal datang, Putri," kata Esme.
"Aku sudah siap."
Sara beranjak dari duduknya, berjalan keluar dari kamar dengan didampingi pengawal dan Esme. Mereka menuju halaman istana yang menjadi tempat pemenggalan.
Pembungkus hitam yang menutupi wajah pemberontak dibuka. Elios memandang ke depan dan melihat ke depan pintu. Langkah kaki dengan gaun putih muncul di sana.
"Saraa!"
Sara terdiam dengan pandangan mata mengarah pada Aran dan sang raja hanya membalasnya dengan senyuman sinis.
"Saraaa," panggil Elios lagi.
Sara memandang wajah kekasihnya. Ia bungkam seribu bahasa, tetapi tetap menatap lekat wajah Elios.
Pengawal membacakan surat pernyataan, surat yang mengatakan jika dua pemberontak itu telah bersalah karena berkhianat pada kerajaan dan sebagai hukumannya, keduanya dihukum mati.
"Sebutkan keinginan terakhir kalian," kata Aran.
Calder menjawab, "Aku hanya ingin kamu mati, Aran!"
"Penggal dia!" perintah Aran.
Dengan tangan dirantai, tubuh Calder dibawa ke penggung pesakitan. Kepalanya diletakkan pada papan eksekusi dan algojo bersiap untuk melaksanakan tugasnya.
Tatapan kemarahan tetap Calder berikan kepada Aran sebelum kepalanya terpisah dari tubuhnya. Rakyat bersorak karena satu pemberontak telah tewas.
Elios memandang Sara, dan ia berucap, "Keinginanku cuma satu. Maafkan aku, Sayang. Aku tersiksa dengan kamu tidak berada di sisiku. Kematian akan membawaku mengakhiri penderitaan ini."
Elios diperlakukan seperti Calder sebelumnya. Pandangan Sara tetap mengarah kepada sang kekasih dan ia menyaksikan sendiri kepala Elios terlempar sampai pada kakinya.
Satu tetes air mata Sara jatuh dan mengenai wajah Elios. Semua hening, rakyat yang tadi bersorak terdiam dan tiba-tiba hujan mulai turun.
"Semoga kamu diterima di sisinya, Kekasihku," ucap Sara.
Semua tahu siapa itu Sara, apalagi setelah mendengar ucapan dari Elios. Hujan yang turun tiba-tiba, seolah turut merasakan kesedihan dari sepasang kekasih yang terpisah. Rakyat dibubarkan dan tubuh korban dibawa untuk dimakamkan.
Sara masih di sana memandang jasad Elios digotong oleh pengawal. Ia sendiri tidak peduli jika hujan menguyur tubuhnya.
"Ayo, Putri," kata Esme.
Sara hanya diam saat Esme membawanya kembali ke istana dingin. Sesampainya di kamar, Sara tidak mengatakan apa pun, menangis pun tidak. Ia memandang ke arah kusen jendela. Mengulurkan tangan agar dapat menyentuh tetesan air mata yang dijatuhkan oleh langit.
Bersambung
Dukung Author dengan vote, like dan koment.
Krn istana bukan cuma rumah utk suami, istri dan anak, tp ada bnyk kehidupan didalamnya yg saling menjatuhkan utk bertahan hidup
Jessica juga yg jadi penyebab kematian ibunya sara