NovelToon NovelToon
Bagaimana Dengan Ku?

Bagaimana Dengan Ku?

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Nikahkontrak / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:321.7k
Nilai: 5
Nama Author: Shan_Neen

⚠️Ngapak Alert⚠️
Novel ini terdapat beberapa part percakapan bahasa derah, terlebih di part-part awal🙏jadi mohon bersabar bacanya ya😊kalau pusing, bagian itu silakan di skip aja👉

💐selamat membaca💐

Ayu Anindita, seorang gadis desa, yatim piatu, yang dibesarkan oleh sang Nenek. Mencoba mandiri demi bertahan hidup hingga rela kehilangan masa kecil dan remajanya. Hingga suatu hari, Ayu memutuskan merantau ke kota demi sang Nenek. Namun sayang, Ayu justru kehilangan saat-saat terakhirnya bersama neneknya.

"Kamu harus bahagia, Yu!" pesan Nenek.

"Selamat jalan, Mbah! Tenang di sana ya. Ayu di sini akan baik-baik saja," batin Yudi.

"Aku janji akan selalu melindungimu. Walaupun, kita sama-sama tahu, tidak ada cinta di antar kita," ucap Elang.

Akankah Ayu bahagia? Siapakah yang akan mewujudkan permintaan Nenek?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lolos

Ayu kembali beraktivitas membereskan apartemen, yang bisa dibilang jauh dari kata berantakan itu. Namun tiba-tiba, Ayu teringat Yudi.

“Yudi nggak main nih? Sepi deh!” gumamnya lagi.

Rupanya, Ayu yang sudah terbiasa dengan kehadiran Yudi, merasa ada yang kurang jika tak melihat kehadiran Yudi.

Setelah sekitar pukul 17.45 wib,

“Hah! Alhamdulillah ... Wis rampung! (sudah selesai!) Hari ini majikanku nggak pulang ke sini 'kan ya? Berarti, aku nggak usah masak. Udah bisa pulang deh! Gara-gara Yudi, aku jadi telat gini!” gumamnya pada dirinya sendiri.

“Masih jam segini. Numpang istirahat bentar lah. Majikan nggak pulang ke sini ini kok,” gumamnya lagi.

Ayu pun berbaring di karpet di depan ruang TV. Awalnya, Ayu hanya mencoba bermain media sosial dengan HP barunya yang beberapa minggu lalu lunas. Namun tak terasa, Ayu terlelap hingga malam di tempat itu.Rupanya, Ayu merasa hari itu sangat lelah.

Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Ayu mengerjap-kerjapkan matanya. Mencoba terbangun dari tidurnya.

“Ehm ... Jam piro iki? (jam berapa ini?)” gumamnya dengan kesadaran yang masih tipis.

Saat melihat jam di HP nya, Ayu terkejut bahwa dia tertidur begitu lama di tempat itu.

“Ya Allah! Kok bisa pules banget ya aku? Harus buru-buru pulang ini. Ntar ketahuan Mbak Elsa, aku dimarahi lagi!” ucapnya sambil berjalan ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka.

Setelah kesadarannya pulih dan merasa segar, Ayu pun bersiap untuk pulang.

Saat Ayu hendak pulang, Ayu berpapasan dengan Levy yang baru keluar dari lift. Dia tidak sendiri. Dia ditemani oleh seorang pria yang Ayu kenal.

“Lho, itu 'kan pria blasteran yang waktu itu? Sama Si Mbaknya! Jangan-jangan, bener dia majikanku!” batin Ayu.

Ayu pun menghampiri Levy dan pria blasteran itu.

“Lho, Mbak! Kok ke sini? Biasanya 'kan nggak pulang ke sini? Saya nggak masak, Mbak!” kata Ayu.

Tapi tak ada jawaban dari Levy. Levy malah mendorong kasar Ayu ke samping. Sedangkan si pria blasteran itu hanya memberi isyarat dengan menempelkan telunjuk ke bibirnya dan kedipan sebelah matanya.

Ayu memang polos, tapi siapa pun yang melihat Kondisi Levy sekarang, sepolos apapun orang itu, pasti tahu kalau dia sedang dalam kondisi mabuk.

Ayu yang memang tidak tahu siapa mereka sebenarnya, sama sekali tidak menaruh curiga.

Dia pun kemudian turun dengan lift dan pulang meninggalkan Levy serta pria itu di apartemen Elang.

.

.

.

.

.

Beberapa jam yang lalu, di sebuah club malam, Levy dan seorang pria sedang duduk di depan bar. Mereka bercengkerama sangat intens di tengah dentuman musik dari DJ yang begitu memekakkan telinga.

Tanpa mereka sadari, ada tiga pasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka.

“Akhirnya, malam ini kita dapat juga, Bro!” bisik Bima.

“Jangan sampai lepas! Kali ini, kita mesti dapat!” sahut Juna.

Seperti yang sudah di rencana antara Bima, Juna dan Elsa, mereka berusaha untuk menangkap basah Levy yang selama ini tidak setia dengan Elang.

Sudah dua minggu mereka bolak-balik club malam itu dengan harapan bisa melihat Levy lagi. Dan malam ini, mereka mendapatkan kesempatan itu.

“Lu pada liatin apaan sih?” tanya seorang wanita yang sudah beberapa kali menemani mereka mengintai.

“Target kita udah nongol, Sa!” kata Bima ke Elsa.

Elsa memutuskan untuk ikut mengintai hanya saat week end saja. Hal itu ia lakukan agar Elang tidak curiga dengannya yang kemungkinan mengantuk saat kerja karena pulang larut.

“Serius? Mana?” tanya Elsa antusias.

“Jangan berisik dong, Sa! Ntar dia curiga lagi sama gerak gerik kita,” kata Juna.

“Gue cuma pengin cepet-cepet nyelesein permainan detektif-detektifan ini. Risi gue kalau pakai baju mini kaya gini terus!” jawab Elsa.

“Hahaha ... Udah resiko, Sa! Kalau mau masuk ke tempat ini, ya penampilan lu harus menyesuaikan,” kata Bima tertawa.

“Lagian, cocok kok lu pakai begituan. Ya nggak, Bro?” sahut Juna.

“Babeh ngamuk kalau tahu gue kaya gini!” gerutu Elsa.

Sedangkan di bar,

“Gue nggak tahu jalan pikiran Elang! Dia tuh selalu menghindar kalau gue mau sentuh dia. Sok suci banget! Munafik! Semakin lama aja ‘kan gue jadi nyonya airlangga!” kata Levy sembari menyesap minuman beralkoholnya.

“Udah lah! Kan selama ini juga, lu bisa gunain uangnya dengan bebas. Kalau butuh kehangatan, 'kan bisa cari gue!” kata Justin, si pria blasteran.

“Nggak segampang itu, honey! Gue butuh jaminan buat hidup gue. Karir gue di model, nggak bagus-bagus amat. Kalau gue nggak bisa ikat dia, bisa kacau hidup gue. Gue nggak bisa kalau harus hidup miskin ya. Catet itu!” tutur Levy.

“Oke! Oke! Mending kita happy aja malam ini. Kita pikirin itu nanti, gimana?” ajak Justin yang di jawab senyum nakal oleh Levy.

"Lu tau nggak, kenapa hampir setiap cowo yang gue goda, selalu berakhir di ranjang? Itu semua karena tubuh gue nikmat 'kan! lu juga nagih 'kan ama tubuh gue ini? Hahahaha ... ," kata Levy yang mulai lepas Kendali karena alkohol.

"Seperti yang lu bilang tadi, gue mau nikmatin lu, beib!" kata Justin menyeringai.

Mereka pun kembali menikmati minuman di tengah suara bising club malam itu. Tak lama, Justin dan Levy pindah tempat, memasuki ruang VIP club itu.

Juna yang melihat itu, serta merta pergi meninggalkan dua sahabatnya itu.

“Target bergerak! Gue susul mereka dulu!” ucap Juna.

“Gue ikut!” kata Elsa dan Bima bersamaan.

“Ya udah, lu aja Bim yang ikut. Lu disini aja, Sa. Siapa tau, target ternyata keluar lagi!” Kata Juna.

“Ehm! Oke deh!” jawab Elsa manyun.

Juna dan Bima segera mengikuti kemana Levy dan Justin pergi. Namun sayang, perdebatan singkat tadi, justru membuat mereka kehilangan jejak lagi.

“Sial! Ilang lagi 'kan!” ucap Juna kesal.

“Gimana nih bro? Masa Cuma dapet foto dari belakang?” kata Bima.

“Nggak mungkin juga kita geledah satu-satu ruangan disini ‘kan! Bisa-bisa, kita di Gebukin sama bodyguard yang di depan tadi,” kata Juna.

Lalu tiba-tiba, dari lorong seberang, nampak Levy dan Justin berjalan kearah pintu keluar.

Juna dan Bima segera mengikuti mereka dan melupakan Elsa yang masih di tempat awal.

“Ehm ... katanya lu mau ngajak gua happy. Kok malah pergi sih?” tanya Levy dengan suara parau khas orang mabuk.

“Lu udah mabok, Honey! Kalau terus di sini, gue yang nggak happy,” kata Justin menyeringai.

“Dasar maniak! Di otak lu tuh cuma ada sex!” kata Levy.

“Hahaha ... Tapi justru itu yang lu butuh dari gue ‘kan, Honey?” kata Justin.

Levy tersenyum mendengar kata-kata Justin. Levy menatap Justin dan menangkup pipinya. Levy mencium bibir Justin beberapa saat.

“Lu itu bajingan! Bajingan yang udah bikin gue happy” kata Levy.

Lalu mereka pun kembali berciuman. Saling memagut, menyesap, mengulum, dan bermain lidah. Ciuman yang semakin lama semakin menuntut lebih.

Dua orang yang tadi mengikuti mereka pun, ternganga melihat kejadian yang sedang mereka lihat. Dan segera mereka mengarahkan kamera ke arah Levy dan Justin.

Namun sayang, tubuh Justin yang tinggi kekar, menghalangi kamera untuk menangkap tubuh dan wajah Levy sehingga tak jelas ketika di foto.

Levy dan Justin menghentikan aksi mereka dan bergegas menuju apartemen Levy yang tidak jauh dari club itu. Dan kedua penguntit itu pun mengikuti mereka dengan hati-hati.

Saat Justin memapah Levy menuju ke tempat parkir, tak sengaja Justin melihat kedua penguntit itu dari pantulan kaca mobil.

Kedua penguntit itu tidak sadar bahwa aksi mereka ketahuan, sampai Justin menoleh ke arah mereka, membuat kedua penguntit itu celingukan layaknya orang yang ketahuan menguntit.

“Vy, kayanya kita jangan ke apartemen lu deh! Gimana kalau kita ke hotel aja!” ajak Justin.

“Gila lu! Ke hotel? Bisa ketahuan sama Elang kalau gue ke hotel. Lu lupa, credit card gue over limit, gue Cuma bisa pake kartu saktinya Elang!” kata Levy sedikit emosi dengan gaya khas orang mabuk.

“kalau ketempat gue?" tanya Justin.

"Kejauhan beib!” jawab Levy.

“Emang kenapa sih kalau di tempat gue?” tanya Levy.

“Ada yang ngikutin kita dari tadi. Takutnya, mereka paparazi,” jawab Justin.

“Ehm ... Ah! Aku tau kita harus ke mana! Kita ke apartemen Elang! Ini week end dan dia nggak mungkin di sana!” kata Levy yang semakin sempoyongan.

“Oke, kita ke sana,” ajak justin.

Dan mereka pun segera melajukan mobil mereka.

Saat, Juna dan Bima hendak menyusul mereka, tiba-tiba Bima teringat sesuatu

“Bentar, Jun!” kata Bima.

“Apaan sih? Ntar keburu ilang mereka,” jawab Juna.

“Ya udah deh, Ayo!” kata Bima.

Mereka pun masuk ke mobil Juna dan melajukannya. Mereka masih bisa melihat mobil Justin dan segera menyusulnya.

“Ini bukan ke arah apartemen Levy. Gue yakin banget!” kata Juna.

“Emang lu tau apartemennya dimana?” tanya Bima.

“Tau gue. Gue udah selidikin itu juga!” jawab Juna.

“Gila lu, Bro. Udah bener-bener jadi stalker lu ye!” ucap Bima terkejut.

“Lu tau gue, Bim. Kapan gue ngelakuin hal setengah-setengah! Sebisa mungkin, bakal gue kejar sampe dapet. Nggak ada yang tertinggal!” jawab Juna.

“Tapi, tunggu deh! Gue ngerasa ada yang ketinggalan nih! Apaan ya?” tanya Bima.

Beberapa saat Bima berfikir dan akhirnya,

“Elsa!” kata mereka berdua bersamaan.

“Elsa masih di club! Mana pakaiannya manggil setan banget lagi!” kata Bima khawatir.

“sial! Padahal udah dapet momennya! Di depan mata gitu!” gerutu Juna.

“Ya udah, kita lepasin dulu mereka. Gue nggak mau setannya pada gangguin si Elsa. Susah nge-rukiyah-nya!” jawab Bima.

Akhirnya mereka pun melepas Justin dan Levy yang terus melaju ke depan.

“Sepertinya, mereka udah nggak ngikutin kita!” gumam Justin.

Levy yang mabuk, sudah tidak mempedulikan kata-kata Justin.

Sesampainya di apartemen green field, Justin memapah Levy menuju lift dan naik ke atas menuju unit milik Elang.

Tak berselang lama, mereka pun sampai di lantai tersebut. Ketika keluar dari lift, mereka berpapasan dengan Ayu yang baru pulang kerja karena ketiduran.

Levy yang mabuk, tidak menyadari keberadaan Ayu yang menyapanya. Justin yang melihat bahwa Ayu mengenali Levy, memberi isyarat agar Ayu jangan mengganggunya. Ayu pun pergi tanpa bertanya lagi.

Kini, sampailah mereka di apartemen Elang. Levy menekan passcode pintu apartemen itu dengan sisa-sisa kesadarannya.

Segera setelah mereka masuk, Justin langsung menyerang Levy dengan ciuman yang begitu berhasrat, membuat levy kesulitan bernafas.

Namun, bukan Levy namanya, jika tidak segera menyesuaikan ritme permainan Justin.

Mulai dari ruang tamu, mereka saling mencumbu. ******* bibir yang penuh dengan bau alkohol. Lidah mereka pun saling bertaut.

Tangan Justin semakin erat memeluk pinggang ramping Levy. Levy yang awalnya menahan tubuh kekar Justin, kini lengannya sudah melingkar di lehernya.

Semakin lama, nafsu mereka semakin memuncak. Deru nafas mereka saling memacu.

Levy melingkarkan kakinya di pinggang justin. Dengan bibir yang saling bertaut, mereka bergerak menuju tempat tidur di lantai dua.

Satu persatu pakaian yang mereka kenakan berserakan di lantai. Permainan terus berlanjut dan semakin panas. Dan parahnya, mereka menghabiskan malam penuh gairah mereka di tempat Elang.

.

.

.

.

.

.

Di club malam,

Elsa yang ditinggal sendirian, mulai gelisah dengan pandangan pria-pria di sekitarnya.

Dengan hanya memakai rok mini dan atasan dengan bahu terbuka, membuat Elsa benar-benar menggoda para penikmat dunia malam kala itu.

Tingkah Elsa yang merasa tak nyaman, menandakan bahwa dia amatir. Dan membuat para pria yang melihat, bagai singa lapar yang menemukan mangsanya.

Sekelompok pria, yang terdiri dari tiga orang, menghampiri Elsa yang membuat Elsa semakin ketakutan.

Sesangar apa pun Elsa ketika di kantor dan ketika bersama sahabat-sahabatnya, dia tetap gadis biasa yang awam dengan kehidupan dunia malam seperti di club itu.

“Hai! Sendirian aja?” sapa salah satu dari mereka.

“Nggak! Aku sama temen!” jawab Elsa mencoba setenang mungkin.

“Mana temannya?" Kata seorang lagi sambil mencoba merangkul Elsa.

“Maaf, aku mau ke toilet dulu!” kata Elsa mencoba menghindar.

“Eits! Jangan gitu dong! Kita 'kan udah baik mau temenin kamu!” kata pria yang ketiga sambil menarik tangan Elsa.

“Lepas! Jangan pegang-pegang!” kata Elsa yang semakin ketakutan.

“Woho ... Santai, Sayang! Ini minum dulu biar relax!” kata pria pertama sambil mencoba meminumkan segelas minuman kepada Elsa.

PRANG.......

Elsa menampik gelas berisi minuman keras itu hingga pecah berserakan di lantai.

“Wah ... Rupanya nona ini nggak mau main lembut ya. Suka main yang kasar-kasar ya!” kata pria kedua sambil mencengkeram pipi Elsa.

“Udah! Tuang langsung kemulutnya aja, Bro!” kata pria ketiga.

Kemudian pria pertama merangkul bahu Elsa dan mencengkeram tangan kanan Elsa.

Ketika Elsa mencoba berontak dengan tangan kirinya, pria kedua sudah memegangi tangan kirinya juga.

Elsa semakin ketakutan dan mencoba berteriak minta tolong. Namun sayang, suara musik yang begitu memekakan telinga, membuat suara teriakan Elsa tenggelam tak terdengar.

Para pria itu tertawa terabahak-bahak melihat Elsa yang semakin ketakutan.

Dan pria ketiga pun dengan kasar, meminumkan alkohol dari botol langsung ke mulut Elsa.

Elsa berusaha mengunci mulutnya agar tetap tertutup rapat. Namun, si pria kedua dengan kasar mengecup pundak Elsa hingga meninggalkan jejak merah dan membuat Elsa terpaksa membuka mulutnya.

Alhasil, alkoholpun masuk ke mulut Elsa hingga Elsa gelagapan karena banyaknya alkohol yang di tuang. Alkohol itu pun mengalir melewati sela bibir, leher, dan dada Elsa.

Ketika sudah setengah botol mereka tuangkan, Mereka memberi Elsa jeda untuk bernafas.

Elsa yang belum pernah mengkonsumsi alkohol pun langsung merasa pusing. Para pria itu menyeringai dengan pandangan penuh nafsu melihat tubuh Elsa yang basah karena Alkohol.

Mereka mulai melepaskan rangkulan dan cengkeraman mereka dari Elsa dan mulai menggerayangi tubuh Elsa yang mulai mabuk.

Dengan sisa-sisa kesadarannya, Elsa mencoba bangkit berdiri. Namun, rasa pusing yang dia rasakan membuat dia berkali-kali ambruk.

Di saat Elsa sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan, para pria itu memapah Elsa menuju parkiran untuk mereka bawa kesuatu tempat.

“Malam ini kita bakal Hepi!” ujar salah seorang dari mereka.

Dan yang lain, menimpali dengan tawa jahat mereka.

💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐

**hai readers....jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya😊

terimakasih🙏**

1
Pensil Keajaiban
halo kak 😁
Pensil Keajaiban: siap kak 😁
total 2 replies
Nur Ahmadsaefudin
aq mampir ki.. tag jajal ceritane apek ra.. aq seneng boso jowone... he he.. ws tamat iki, mak..?
🐌KANG MAGERAN🐌: wis mbak yu, iki novel pertama dadi pasti oakeh salahe lan amburadul🤭tp nek alure kayane apik🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Rita Rusdiana
kasihan Yudi. nasib Elang dan Yudi ada di tangan author
🐌KANG MAGERAN🐌: sabar kak🤧
total 1 replies
𝕾𝖆𝖒𝖟𝖆𝖍𝖎𝖗
Goo semangat up-nya
Janah
Alhamdulillah
Janah
😭😭😭😭
Janah
oke semangat Thor 💪😘😘❤️ ❤️❤️
VBEAR
semangat terus kak 💪🤗
Askadina
trimakasih,tapi saya gakpunya IG ,cuma WA aja, no wa saya 085246023229 🙏🙏
🐌KANG MAGERAN🐌: oke kak, nunggu yg lain dulu ya🙏
total 1 replies
Novita Sari
terima kasih kak,tapi cara nya gmn ya😀
Novita Sari: kak, terima kasih pulsanya semoga sukses selalu 🙏😍
total 5 replies
VBEAR
kembali membaca secara perlahan 😄
Askadina
ceritanya seru,gak terlalu berbelit belit
lanjutin donk ceritanya,😘😘😘
Novita Sari
yah kok tamat sih,lanjut kisah Bianca kak, 😍
Irna Mairani
sy telat bacanya jd gk dpt pulsa geratisanya 😭 tp ceritanya ok bangett
Prapti Handayani
Alhamdulillah...akhirnya...seneng deh kalau semua bahagia.tinggal nunggu yudi dan Bianca nikah ni.
adakah season 2 buat Adiba potrinya Elang dan Ayu.Dan klnjtan hub Yudi dn Bianca😀
Kutunggu deh thor💪
Mey
Alhamdulillah... akhirnya dibalik kesusahan ada kemudahan..dibalik kesedihan ada bahagia yg menanti..ikut bahagia aq Thor ..❤️itu hikmah yg bisa ku ambil dr baca ceritamu..makasih pembelajaran nya..🙏👍
semoga kamu makin kreatif ya Thor.. ditungguin cerita lainya yg pasti sarat dgn pembelajaran hidup..😘😘🌹🌹❤️❤️
1 lg..jangan lupa ngopiiii....☕😁💪
Siti Balqis
bagus ceritanya Thor tambah bonus ya biar tambah seru
Mey
yud..buruan dihalalin aja Bianca..biar bebas sosornya..gak dosa..🤭🤭
lanjy Thor..💪😍
🐌KANG MAGERAN🐌: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
Prapti Handayani
Perasaan kok hri ini upnya dikit amat y thor???
🐌KANG MAGERAN🐌: sama kok kak😭😭😭😭1000k lebih ini🤔mungkin karena terlalu asik baca kali ya🤭✌
total 1 replies
Mey
selamat ya mas Elang n ayu..menjadi ayah n bunda.. selamat datang di dunia n hadir di keluarga Airlangga baby Adiba..😘😘❤️
🐌KANG MAGERAN🐌: makasih Onty
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!