Aris yang menikahi Sania harus menerima kenyataan bahwa Sania adalah perempuan keras kepala yang susah di atur.
Karena keras kepala Sania, akhirnya rumah tangga mereka jadi berantakan.
Sania hamil tanpa diketahui siapa yang menghamilinya. Hal itu membuat Sania merasa kotor di depan semua orang, termasuk suaminya, hingga Aris yang tulus mencintai Sania harus berjuang keras menyakinkan istrinya bahwa ia menerima Sania dengan keadaan apapun.
Tapi bagaimanakah kelanjutannya? Apakah Aris berhasil meyakinkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Akhirnya dua orang yang ditugaskan menjaga Sania agar tidak pergi ke rumah sakit, gagal menjalankan tugasnya.
Sania segera tiba di rumah sakit dan melihat Agus dan Veronika sedang duduk lesu menunggu Aris yang sedang di operasi.
"Sayang, mengapa kamu kemari?" Veronika segera menghampiri Sania yang sementara menangis sambil melangkah ke arahnya.
"Bukan salahku Bu, Kak Sania sendiri yang mengancam gak mau makan kalau kami gak mau anter dia kemari." Ucap Adel tak mau disalahkan.
"Ibu,, bagaimana Mas Aris?" Tanya Sania sambil memeluk Ibunya.
"Sayang tenanglah, ia sedang di operasi, ayo duduk dulu."
Akhirnya Sania duduk di kursi tunggu di depan kamar operasi.
"Sayang dengar Ibu, kamu tidak boleh terlalu sedih seperti ini. Ada anak dalam kandungan kamu yang perlu kamu jaga." Ucap Veronika.
"Tapi Bu, bagaimana aku bisa tenang kalau Mas Aris masih belum dipastikan keadaannya." Sania terisak keras.
"Sayang, Ibu mohon, Aris hanya luka di bagian kaki saja, jadi tidak akan lama operasinya. Sebaiknya kamu tenangkan dirimu agar bayi kamu tetap sehat." Lagi Veronika menenangkan anaknya.
"Itu benar Sayang, suami kamu akan sangat sedih kalau ia bangun dan melihatmu dan anaknya sedang menderita. Jadi tolong tenangkan dirimu ya." Agus menambhakan.
Akhirnya Sania baru bisa tenang ketika Agus memperlihatkannya sebuah video yang sudah dipersiapkan Aris untuk istrinya.
"Sayang, ini adalah video yang ingin Aris perlihatkan padamu. Coba tenang dan lihat videonya." Ucap Agus.
Sania menenangkan diri dan mulai memutar video itu.
Seorang gadis dan laki-laki yang tak lain adalah Sania dan Aris memasuki sebuah kamar di bar.
Itu adalah kejadian dimana mereka tertidur bersama.
Di video kedua terlihat Amran memasuki kamar lalu tak lama kemudian ia keluar dan kembali membawa beberapa orang untuk masuk lagi lalu menyeret Aris keluar dari sana.
"Sayang, sekarang jangan menyalahkan dirimu lagi. Kamu mengerti kan sekarang?" Agus mengusap air mata putrinya.
'Jadi, jadi sebenarnya anak di kandunganku ialah anak Mas Aris?' Sania tak tahu harus bahagia atau atau menangis.
"Iya sayang, jadi tolong jaga bayi kalian. Jangan sampai kamu malah kehilangan dua orang terpenting dalam hidupmu." Veronika kembali mengingatkan Sania.
"Aku mengerti Bu," ucap Sania kembali menyandarkan kepalanya ke dada Ibunya dan membiarkan air matanya berderai sesukanya.
Saat itu ponsel Agus juga berdering. Ia segera menjauh dari keempat orang itu dan mengangkat telponnya.
"Halo Besan," ucapnya pada orang di seberang.
Santoso: "Halo besan. Bagaimana kabar Aris?"
Agus: "Sementara di operasi. Tapi dokter bilang kemungkinan dia akan mengalami koma karena benturan keras di kepalanya."
Santoso: "Tolong jaga dia, kami baru saja tiba di bandara."
Agus: "Kami akan menunggu kalian. Tolong hati-hati di jalan."
Agus mengakhiri panggilan itu dan berjalan kembali menghampiri keluarganya.
"Ayah sudah menyewa satu kamar rumah sakit, ayo pindah kesana. Biarkan Sania istrahat lebih nyaman." Ucapnya lalu mengantar semua orang ke kamar yang ia maksud.
Sania duduk di atas tempat tidur sambil memandangi fotonya dengan Aris. 'Sayang , kamu harus sembuh.' gumam Sania.
Jam terus berputar hingga akhirnya pagi telah datang.
Sania bangun dari tidurnya dan mendapati Bibi Sania sedang menyiapkan sarapan untuknya.
"Selamat pagi Non." Ucap Bibi Sani.
"Selamat pagi Bi. Dimana semua orang?" Tanya Sania.
"Tuan sedang mengantar Adel ke sekolah, sementara Nyonya sedang membeli beberapa barang." Jawab Bibi Sani.
"Bagaimana dengan Mas Aris?" Tanya Sania seraya turun dari tempat tidurnya.
"Operasinya belum selesai Non. Katanya masih sekitar 2 jam lagi."
Sania menghela nafasnya dengan berat. Operasi apa yang dilakukan sangat lama? Ia benar-benar cemas. Tapi kemudian ia mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit.
'Mas aku akan menuruti keinginanmu untuk tidak memikirkan sesuatu yang bisa membuatku stres. Tapi aku mohon padamu, demi aku dan anak kita, tolong bertahanlah.' Gumam Sania berjalan ke kamar mandi.
'Kasian Non Sania. Pasti berat baginya, tapi ia bahkan sudah tidak menangis lagi.' Bibi Sani menunggu Sania hingga akhirnya Sania keluar dari kamar mandi.
"Non, ayo sarapan dulu." Kata Bibi Bibi Sani.
"Makasih Ya Bi." Kata Sania lalu mengambil makanannya dan duduk menikmati sarapannya. 'Aku harus menghabiskan ini demi Mas Aris dan juga anak kami.’ Gumamnya.
Dua jam akhirnya berlalu dan semua orang sudah berkumpul di depan ruang operasi menunggu dokter untuk keluar dari sana.
Hania tampak tenang seraya duduk di salah satu kursi tunggu dengan satu tangannya mengusap perutnya yang sedikit membuncit dan tangan yang lain memegang tangan ibunya.
Agus yang berdiri tak jauh dari mereka memperhatikan putrinya dan hal itu malah membuatnya merasa sangat bersalah.
Akhirnya saat yang mendebarkan bagi mereka semua tiba juga, dimana beberapa dokter yang menjalankan operasi untuk aris keluar juga dari ruang operasi.
"Dok,," Ucap Veronika dengan cemas dan berdiri bersama Sania menghampiri para dokter.
"Selamat pagi Bu, Pak, dan semuanya." Sapa dokter itu sebelum menghela nafas "Operasinya berjalan lancar."
"Syukurlah,, lalu bagaimana keadaan suami saya sekarang?" Tanya Sania sedikit tidak sabar.
"Meski operasinya berjalan dengan lancar, tapi kami tetap tidak bisa menghindari kemungkinan terburuknya, pasien kemungkinan akan koma. Tapi ini masih sebuah dugaan dan kami masih perlu mengawasi pasien lebih ketat."
"Koma Dok?" Veronika segera memeluk putrinya.
"Mohon yang tabah. Dukungan dari kalian adalah obat terbaik untuk pasien." Setelah mengatakan itu dokter itu pun meninggalkan keluarga yang sedang dalam kesedihan itu.
"Jangan menangis Bu, Mas Aris kuat, ia pasti tidak akan membiarkan aku dan anak kami menanggung penderitaan tanpa dirinya." Saat itu Sanialah yang menguatkan ibunya yang sudah menangis sambil memeluknya.
"Sayang sudah, jangan menangis seperti ini, anak kita bisa kembali emosional melihatmu seperti ini, lihatlah, sekarang dia yang menyemangati mu." Ucap Agus sambil memeluk dua wanita itu.
Setelah menenangkan ibunya, Sania mengajak ibunya untuk kembali ke kamar istirahat.
Saat itu jugalah orang tua Aris tiba dan disambut oleh Agus.
"Selamat datang Besan. Silahkan duduk." Ucap Agus pada Santoso dan istrinya.
"Bagaimana kabar kalian semua?" Tanya Santoso seolah tak terjadi apa pun.
"Kami semua baik. Dan saat ini operasi Aris pun sudah selesai dengan baik. Hanya menunggu dokter menghubungi lagi kapan bisa menjenguknya."
"Syukurlah." Ucap Santoso lalu merangkul istrinya. "Kamu dengar itu sayang? Semuanya baik-baik saja."
Kirana tampak sembab karena menangis di pesawat, "Ya, aku ingin melihatnya." Kini air mata Kirana terus terjatuh tak mampu ia bendung.
"Selamat pagi Ayah, Ibu,," Ucap Sania yang tiba-tiba muncul.
"Ini,," Santoso memperhatikan Sania.
"Ini Sania, istrinya Aris." Ucap Agus.
"Sayang, kemarilah." Kirana segera berdiri dan memeluk Sania dengan hangat.
Mereka kemudian duduk di sala satu sofa panjang dengan Kirana terus menggenggam tangan Sania.
"Sayang, jangan menangis seperti itu. Cucu kita bisa melihatnya." Santoso memperingatkan istrinya yang terus saja menangis.
"Iya iya,, maafkan Nenek ya Sayang." Ucap Kirana menyentuh perut Sania.
"Sayang, bawalah Ibumu kedalam. Ayah ingin membicarakan sesuatu dengan Ayahmu dulu." Ucap Agus pada putrinya.
"Baik Ayah." Kata Sania lalu berdiri bersama Kirana meninggalkan dua lelaki itu.
"Jadi bagaimana penyelidikannya?" Santoso segera masuk ke inti pembicaraan mereka.
"Sepertinya ini bukan kecelakaan biasa, karena mobil yang digunakan merupakan mobil curian, dan pelakunya menggunakan topeng hingga sulit dikenali."
"Hahaha...." Santoso tertawa "Sepertinya mereka tidak tahu siapa yang sedang mereka permainkan."
"Kau benar, sepertinya sudah saatnya memperlihatkan pada semua orang apa itu kekuasaan sesungguhnya."
"Kau benar, sudah lama kita bersembunyi hingga orang-orang mulai lupa."
semangat terus berkarya 👍
asal usul 2 keluarga yang tengyata memiliki kekuasaan belum dijelaskan
nasib Dokter Sanya juga gaada kelanjutannya