NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Kursi Panas dan Sepatu Hak Tinggi

Pagi itu, gedung perkantoran Batubara Group yang biasanya diselimuti atmosfer kemalasan dan birokrasi yang berbelit, mendadak dikejutkan oleh deru mesin mobil sport merah yang berhenti tepat di lobi utama. Pintu mobil terbuka, menampakkan sepasang sepatu hak tinggi berwarna hitam mengkilap yang menapak tegas di atas aspal. Nika keluar dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, mengenakan setelan blazer berwarna putih gading yang memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan.

Di sampingnya, Devan berdiri sambil merapikan jam tangan peraknya. Pria itu tidak memakai jas lengkap, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung, memberikan kesan santai namun sangat berbahaya bagi siapa pun yang berani meremehkannya.

"Kamu siap, Ni?" tanya Devan, suaranya rendah, hanya bisa didengar oleh istrinya. "Ingat, mereka akan mencoba memakanmu hidup-hidup dengan kata-kata manis atau gertakan kosong."

Nika menarik napas panjang, menghirup aroma parfum Devan yang menenangkan kegugupannya. "Aku sudah belajar istilah shrinkage dan bored pile, Mas. Masa menghadapi paman-paman korup saja aku gemetar? Lagipula, aku punya senjata rahasia."

"Apa itu?"

"Kamu," jawab Nika sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah masuk.

Lobi kantor itu seketika sunyi. Para karyawan yang biasanya asyik bergosip atau datang terlambat, mendadak tegak berdiri. Mereka mengenal Nika sebagai putri pemilik perusahaan yang manja dan hanya tahu cara menghabiskan uang, namun sosok yang berdiri di depan mereka sekarang adalah wanita yang berbeda. Ada api yang menyala di matanya.

Mereka menuju lantai paling atas, ruang rapat dewan direksi. Di sana, Paman Surya—adik bungsu ayahnya yang terkenal paling licin dan sering menyunat dana material proyek Adiguna—sedang duduk santai sambil menghisap cerutu, dikelilingi oleh beberapa anteknya.

"Wah, keponakanku yang cantik akhirnya mampir," sapa Paman Surya dengan nada merendahkan yang kental. "Mau minta tambahan uang saku, Nika? Atau mau pinjam helikopter Papa untuk pergi belanja ke Singapura?"

Nika tidak membalas senyuman itu. Ia menarik kursi di ujung meja, tepat di depan Paman Surya, sementara Devan berdiri dengan tenang di belakangnya, bersedekap, seperti seekor singa yang sedang memantau mangsanya.

"Aku ke sini bukan untuk belanja, Paman," ucap Nika pelan namun tajam. Ia mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam dan melemparkannya ke atas meja kayu jati itu. Suara braakk yang dihasilkan cukup untuk membuat Paman Surya tersedak asap cerutunya.

"Apa ini?" tanya Paman Surya, wajahnya mulai berubah tegang.

"Itu adalah laporan audit independen yang dilakukan tim Mas Devan selama tiga hari terakhir. Isinya tentang selisih harga semen dan besi yang Paman laporkan dengan harga pasar yang sebenarnya. Oh, dan ada juga beberapa bukti transfer ke rekening pribadi atas nama istri simpanan Paman di Bali," urai Nika dengan nada sedatar mungkin, seolah sedang membicarakan cuaca.

Wajah Paman Surya berubah dari merah menjadi pucat pasi. "Kamu... kamu berani menghina pamanmu sendiri? Nika, kamu tidak tahu apa-apa tentang bisnis! Ini adalah cara kerja dunia konstruksi!"

"Jika cara kerja dunia konstruksi adalah dengan mencuri uang suamiku dan membahayakan nyawa pekerja di lapangan dengan material kelas dua, maka cara kerja itu berakhir hari ini," balas Nika. Ia berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arah Paman Surya. "Paman, hari ini juga, surat pemecatan Paman sudah ditandatangani oleh pemegang saham mayoritas. Dan tebak siapa pemegang saham itu? Aku."

"Papa tidak akan setuju!" teriak Surya sambil menggebrak meja.

"Papa sedang 'istirahat' medis karena tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh ulah Paman. Jadi, sekarang aku yang pegang kendali," Nika memberikan isyarat pada petugas keamanan yang sudah menunggu di luar pintu. "Tolong kawal Pak Surya keluar dari gedung ini. Jangan biarkan dia membawa apa pun kecuali barang pribadinya. Dan tolong, periksa tasnya, siapa tahu ada stapler kantor yang terbawa."

Kejadian itu berlangsung sangat cepat namun dramatis. Paman Surya digiring keluar sambil memaki-maki, sementara antek-anteknya hanya bisa tertunduk lesu. Nika merasa lututnya sedikit lemas, namun ia merasakan tangan Devan meremas bahunya dengan lembut.

"Kamu hebat, Nyonya CEO," bisik Devan bangga.

Namun, drama belum berakhir. Saat rapat ditutup dan Nika hendak menuju lift untuk kembali ke rumah, Paman Surya mendadak muncul dari koridor samping, menghindari petugas keamanan. Ia merangsek masuk ke dalam lift yang sama dengan Nika tepat sebelum pintu tertutup.

"Nika! Kamu pikir kamu bisa menyingkirkanku begitu saja?!" teriak Surya di dalam ruang lift yang sempit. Wajahnya merah padam, napasnya berbau cerutu dan kemarahan.

Nika terkejut, namun ia mencoba tetap tenang. "Paman, ini area publik. Jangan buat malu diri sendiri."

Tiba-tiba, lift itu bergetar hebat. Deg! Suara besi beradu terdengar nyaring, dan lift itu berhenti mendadak. Lampu di dalam lift berkedip-kedip sebelum akhirnya mati, menyisakan lampu darurat berwarna merah yang remang-remang.

"Sial! Lift tua ini macet lagi!" gerutu Surya. Ia mulai menggedor-gedor pintu lift dengan brutal. "Tolong! Ada orang di dalam!"

Nika menghela napas, ia menyandarkan punggungnya di dinding lift. "Paman, percuma berteriak. Lift ini sedang dalam tahap renovasi yang... ah, benar, dananya disunat oleh Paman sendiri bulan lalu, kan? Jadi teknisinya belum datang."

Paman Surya terdiam seketika. Ia menatap Nika dengan tatapan benci sekaligus malu yang luar biasa. "Kamu... kamu benar-benar seperti Ayahmu. Keras kepala dan tidak punya hati."

"Aku punya hati, Paman. Itulah sebabnya aku memecat Paman sebelum polisi yang menjemput Paman. Aku masih memberimu kesempatan untuk mengembalikan uang itu secara dicicil tanpa harus masuk penjara. Itu namanya hati," jawab Nika tenang.

Di dalam kegelapan lift yang pengap itu, suasana menjadi sangat canggung. Paman Surya yang tadinya beringas, kini terduduk lemas di pojok lift. "Aku hanya butuh uang, Nika. Istri mudaku menuntut banyak hal..."

"Paman, selingkuh itu mahal. Kalau tidak mampu, mending di rumah saja sama Bibi, makan sayur asam," celetuk Nika. Humornya keluar di saat yang tidak tepat, membuat Paman Surya justru terbatuk karena menahan tawa yang getir.

Sementara itu, di luar lift, Devan sudah panik luar biasa. Ia melihat teknisi gedung sedang berusaha membuka pintu manual.

"Nika! Kamu di dalam?!" teriak Devan dari celah pintu yang terbuka sedikit.

"Aku di sini, Mas! Tenang saja, aku sedang memberikan ceramah singkat tentang moralitas kepada Paman Surya di dalam kegelapan!" jawab Nika berteriak balik.

Devan mengembuskan napas lega yang sangat panjang. "Bertahanlah, Sayang! Lima menit lagi pintunya terbuka!"

Setelah sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh jam, pintu akhirnya terbuka. Nika melangkah keluar dengan anggun, meski blazer putihnya sedikit kusam karena debu lift. Devan langsung menariknya ke dalam pelukan, memeriksa setiap inci tubuh istrinya dengan cemas.

"Kamu tidak apa-apa? Dia menyakitimu?" tanya Devan protektif.

"Aku baik-baik saja, Mas. Justru Paman Surya yang sepertinya butuh oksigen," jawab Nika sambil melirik pamannya yang keluar dengan wajah tertunduk lesu dan langsung diamankan oleh petugas keamanan.

Saat mereka berjalan menuju mobil, Nika menyandarkan kepalanya di lengan Devan. "Mas, ternyata jadi bos itu melelahkan ya? Lebih enak mendesain baju."

"Itu baru permulaan, Ni. Tapi aku bangga padamu. Kamu menghadapi badai itu dengan kepala tegak," Devan mengecup kening Nika. "Sekarang, bagaimana kalau kita pulang? Aku sudah memesan makanan dari restoran favoritmu. Tanpa ada aroma terasi, janji."

Nika tertawa kecil. "Tapi Mas, setelah terjebak di lift tadi, aku mendadak ingin makan sesuatu yang sangat pedas. Mungkin kita bisa mampir beli seblak di pinggir jalan?"

Devan mengerutkan kening. "Seblak? Makanan apa lagi itu?"

"Makanan yang bisa membuatmu lupa kalau kamu seorang CEO, Mas Bos. Ayo, aku traktir!"

Hari itu berakhir dengan sebuah pemandangan yang tak biasa: seorang pria dengan jam tangan Rolex dan wanita dengan tas Chanel, duduk di pinggir jalan yang ramai, berkeringat karena pedasnya seblak, sambil tertawa lepas di bawah lampu jalanan yang remang-remang. Di tengah hiruk pikuk kota, mereka menemukan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada seberapa besar saham yang mereka miliki, melainkan pada keberanian untuk jujur dan tertawa bersama di tengah kekacauan hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!