Fiona Delvina
Seorang psychopath gila, itulah panggilan yang pantas bagi seorang gadis berdarah dingin ini. kasus pembunuhan yang ia lakukan sudah tak terhitung jumlahnya, kelihaian gadis itu dalam menyembunyikan jati diri membuat orang orang disekitarnya tidak ada yang mengira bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut. Fiona melakukan itu semata-mata hanya untuk mencari siapa pembunuh adik, kakak, serta papanya, dendam lama Fiona membuat gadis itu menjadi serigala pembunuh tanpa jejak.
Elbara Cesar Roosevelt
Pria yang tak kalah kejamnya dari Fiona, Elbara merupakan CEO dari bidang perfilman action tentu saja semua itu hanya topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya karena orang orang mengenal Bara sebagai pria hebat yang selalu berhasil mengantar para aktor debut dalam filmnya. Bara juga terkenal ramah pada staf dan orang orang sekitar tapi siapa yang tau bahwa pria itu hidup penuh dengan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Liora baru selangkah akan memasuki ruangan Rezza namun ia melihat Fiona dan berpapasan dengannya.
"Hay Fiona," sapa Liora.
Fiona menengok kesamping dan ia baru sadar ada Liora, Fiona memperhatikan arah kaki Liora dan sepertinya gadis itu baru mengunjungi ruangan yang bertuliskan CEO di pintunya.
"Ee.. hay Liora," sapa Fiona balik.
"Kau ingin menemui kakak mu?" Tanya Liora.
"Mm ya,"
"Baiklah aku harus masuk kedalam memberikan ini,"
Liora mengangkat gelang tadi lalu masuk kedalam ruangan Rezza. Fiona mulai mengubah wajahnya ketika akan masuk kedalam ruangan Bara.
Tok..tok
Bara tidak membuka pintu karena ia pikir itu adalah Liora lagi.
Tok..tok.. tok
Fiona mengetuk pintu cukup keras namun hasilnya sama saja, Fiona kesal dan beralih ke jendela disamping pintu lalu.
Brakk!!
Bara membuka gorden dengan remote, wajah Fiona langsung terpampang jelas diluar.
"Fiona?"
Bara membuka pintu setelah melihat tamunya adalah Fiona.
Ceklek
"Fiona,"
Gadis itu terseret kedalam ruangan Bara setelah ditarik masuk.
"Kau tau ruangan ku darimana?" Tanya Bara.
"Pertanyaan bodoh, pegawai mu banyak," jawab Fiona.
Bara menggaruk kepalanya melihat wajah datar Fiona, sepertinya dia sedang ada masalah.
"Untuk apa datang kemari?" Tanya Bara.
"Tua bangka itu kenapa keruangan mu?" Tanya Fiona ketus.
"Tua bangka?" Bara berpikir keras siapa orang tua yang datang keruangan nya sepanjang hari ini.
"Aahh Liora dia hanya menanyakan kontrak kerjasama,"
Fiona memperhatikan pergelangan tangan Bara yang memerah, itu pasti karena gelang yang tadi pikir Fiona.
"Jangan berbohong,"
"Untuk apa aku berbohong Fiona,"
"Lalu tangan mu kenapa memerah?" Tanya Fiona.
"Mm?" Bara ikut memperhatikan tangannya.
"Ha-ha-ha bukan kontrak kerjasama tapi kotak gelang," ujar Fiona sembari memberikan kotak bekas gelang Liora.
Bara menepuk keningnya karena melupakan kotak gelang itu masih ada diatas meja.
"Baiklah baiklah itu kotak gelang milik Liora tadinya ingin memberikan ku tapi aku menolak dan menyuruhnya memberikan Rezza," tutur Bara.
Fiona hanya menanggapi secukupnya sembari meletakkan kotak tersebut pada tempatnya.
"Sekarang kau yang menjawab pertanyaan ku, untuk apa kemari?"
"Minta izin membawa Ella kerumah mu," jawab Fiona santai.
"Tidak bisa!"
"Rezza bisa kenapa Ella tidak!"
"Beda jauh, Rezza tau siapa aku sedangkan Ella tidak tau apa apa,"
"Aku akan mengajaknya ke kamar ku tidak ketempat lain terutama dapur,"
"Dapur sudah bersih tidak ada apa apa,"
"Bagus,"
Lama lama Bara yang naik darah dengan sikap santai Fiona, sikapnya yang seperti ini mana ada yang tau jika hobinya adalah membunuh.
"Baiklah tapi ada syaratnya,"
"Katakan!"
"Akan ku sebutkan nanti setelah aku pulang,"
"Ini tidak adil bagaimana jika aku tidak setuju,"
"Gampang saja jangan ajak teman mu kerumah ku,"
"Dasar pelit aku ingin mengumbar aib mu pada media, bagaimana reaksi mereka melihat orang yang katanya ramah seperti ini nyatanya penuh dengan persyaratan dan ancaman,"
"Silahkan jika kau mampu sayang," ucap Bara diiringi senyum manis.
Fiona mengalihkan pandangan, dia tidak bisa bertatapan terlalu lama dengan Bara akhir akhir ini. Dia memilih untuk pergi karena sudah tidak ada urusan toh Fiona telah mengantongi izin dari Bara.
Mari kita lihat sampai mana pertahanan mu untuk tidak mencintai ku Fiona, batin Bara.
Ceklek!!
Fiona menyandarkan tubuhnya didepan pintu ruangan Bara.
"Tidak mungkin Fiona ini mustahil," gumam Fiona sembari memegang dadanya.
"Ck ini perasaan bodoh!! Hilangkan!!" Titah Fiona pada hatinya.
Ceklek!!
Liora juga keluar dari ruangan Rezza setelah memberikan pria itu gelang tadi.
"Fiona kita bertemu lagi," sapa Liora tersenyum manis.
Wajah Fiona kembali datar melihat Liora ikut keluar dari ruangan Rezza.
"Ini sangat kebetulan, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting pada mu," ucap Liora.
"Ingin membicarakan apa?" Tanya Fiona.
"Tentu saja tentang sepupu mu,"
"Aahh sayang sekali hari ini aku memiliki banyak kegiatan lain kali saja ya, baiklah aku harus pergi," tolak Fiona secara halus lalu pergi tanpa persetujuan Liora.
"Eehh Fiona tunggu!!"
"Aashh!!"
Jam 3 dini hari sampai sore??
🤔🤔