Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ULAH PAK ZAIF
Yaa Allah... Hamba benar-benar merasa jadi suami. Hamba pikir, Hamba tidak akan pernah merasakan ini meskipun hamba telah menikahi Raniya.
Sedari Taufiq memasuki mobilnya tadi, senyumnya tidak berhenti merekah dari bibirnya. Hatinya bagai dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran. Harum dan semerbak, sehingga membuatnya merasa di awang-awang.
"Ciee Cieee..." Banyak kolega kantornya yang menggodai dirinya.
"Kamu makan enak tidak ngundang-ngundang kami ya, Fiq." Sungut salah seorang temannya.
"Iya... Keterlaluan. Cuma Pak Zaif saja keluargamu di sini, Fiq?" Seru seseorang lagi membenarkan temannya tadi.
"Ah... Bukan begitu, kawan... Acaranya sederhana saja. Cuma mendo'a seadanya. Kalian kan tahu, ibu anak-anak baru lima bulanan ini tiada. Tidak sampai hati rasanya untuk mengadakan pesta besar-besaran." Tutur Taufiq membela diri. Dia merasa tidak enak hati atas sindiran teman-temannya itu.
"Kalian tenang saja. Sore ini, selepas Isya, Taufiq akan mengundang kita ke rumahnya. Makan enak kita... Sekalian berkenalan dengan ibuk Taufiq Haytham yang baru..." Pak Zaif tiba-tiba membuka suara.
"Eh...?" Taufiq membelalak. Dia terkejut mendengar ucapan Pak Zaif yang sama sekali bukan sebenarnya. Dia tidak pernah punya niatan seperti itu sebelumnya.
"Benaran, Fiq?" Tanya temannya yang lain.
"Iya dong..." Sahut Pak Zaif lagi sembari mengedipkan matanya ke arah Taufiq minta dibenarkan ucapannya.
"Eh? Hehe... I-iya... Benar... Nanti kalian semua datang ya." Ucap Taufiq terpaksa. Dia terlihat senyum-senyum dengan wajah tegang.
"Yeeeyy... Kalau begitu, kami tidak jadi marah-marahnya, Fiq. Sorry..."
"Iya... Sorry, Fiq... Dan selamat ya... Semoga kamu dan anak-anakmu bahagia..." Timpal temannya yang lain, dan ucapan selamat pun beruntun terlontar dari teman-teman dan koleganya.
"Pasti dia cantik luar dalam ya?" Terka salah seorang teman Taufiq.
"Hah?" Taufiq tersentak.
"Istrimu, Fiq. Pasti dia cantik. Hatinya juga. Buktinya, dia mau saja menerimamu dengan ketiga anakmu..." Imbuh temannya memperjelas ucapannya tadi.
"Ah... Hehe... Alhamdulillah... Itu yang saya cemaskan jika kalian datang ke rumah." Ucap Taufiq menyeringai.
"Cemas? Cemas kenapa, fiq?"
"Cemas, kalian bakalan tergoda..." Gurau Taufiq.
"Haha..." Tawa mereka riuh mendengar ucapan Taufiq.
"Awas saja jika sampai..." Sambung Taufiq lagi berlagak serius.
"Hahaha..." Mereka kembali tertawa.
Tanpa siapa pun yang tahu, Pak Zaif tersenyum ringan. Dia mengerti bagaimana perasaan Taufiq saat itu. Dia tahu yang sebenarnya tentang Taufiq dan pernikahannya, bahkan seluruh kehidupannya.
Ketika semua orang telah kembali ke ruangan dan ke meja mereka masing-masing, Taufiq memepet Pak Zaif yang belum sempat beranjak dari sana.
"Apa-apaan ini, Pak Zaif?" Ketus Taufiq meminta pertanggung jawaban.
"Alah, Fiq... Kamu tinggal telepon Raniya, dan beritahu istrimu itu untuk menyiapkan hidangan tiga puluh porsi. Gampangkan..." Ucap Pak Zaif sekenanya. Pak Zaif berlalu meninggalkan Taufiq yang masih kebingungan.
"Hufhhh... Pak Zaif ada-ada saja. Kasihan kan Raniya. Belum lagi dia mengurus anak-anak, malah di minta menyiapkan pesta kecilan-kecilan pula. Aku beli saja..." Dengus Taufiq bingung. Dia menggaruk kasar kepalanya dengan jemari kedua tangannya.
Taufiq berkali-kali membuka ponselnya, dan lagi-lagi menutupnya. Berulang kali dia melakukan itu.
Bingung dan canggung. Ibu jarinya bersiap menekan tombol telepon yang bewarna hijau pada kontak Raniya, namun lagi-lagi diurungkannya.
"Bismillah..." Ucapnya sambil menutup mata. Ketika dia membuka matanya, sudah kata memanggil untu Raniya yang tertera di layar ponselnya itu.
"Astaga... Bagaimana ini?" Gumamnya cemas. Namun untuk mengakhiri pun dia juga tidak bisa. Sudah terhubung masalahnya.
"Hallo... Assalamu'alaikum..." Terdengar sapaan dari seberang. Jantung Taufiq berdegup kencang ketika suara merdu Raniya mengucapkan salam untuknya meski hanya lewat ponsel.
"Wa'alaikumussalam..."
"Ada apa, Fiq?"
"Begini, Raniya... Rekan-rekanku menuntut untuk datang ke rumah selepas Isya nanti. Mereka akan berkenalan dengan Nyonya Taufiq Haytham. Kamu keberatan?" Taufiq menekan kata-katanya. Dia sungkan jika harus merepotkan Raniya dengan urusan pekerjaannya.
"Tidak kok, Fiq... Aku tidak keberatan sama sekali. Aku malahan senang jika ini adalah sungguhan."
"Benarkah?"
"Iya, Fiq..."
"Ya sudah... Kamu nanti siap-siap ya... Aku akan pesan makanan untuk tiga puluh porsi di restoran tempat biasa keluargaku makan..."
"Tidak perlu, Fiq... Aku akan menyiapkannya sendiri."
"Tapi kamu akan kepayahan, Raniya. Anak-anak sudah membuatmu repot..."
"Mereka sama sekali tidak membuatku repot kok, Fiq. Kamu tenang saja. Insya Allah semua akan berjalan dengan lancar..." Raniya terdengar bersikeras akan menyiapkan hidangan sendiri di rumah.
"Baiklah... Nanti jika tidak tekejar, kamu hubungi aku. Biar aku beli saja, ya..."
"Iya... Aku upayakan untuk menyelesaikannya sebelum maghrib nanti." Ucap Raniya berikrar.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍