Azalae Djadmika, gadis 22 tahun. Dia berpikir telah menikah dengan seorang pria lajang berstatus duda. Ternyata tidak. Syafira Bella, isteri Zayn Putra Maliq yang di beritakan telah meninggal Dunia satu tahun yang lalu. Tiba-tiba kembali dan mengambil semua cinta yang singgah pada Lea.
Apalagi Zayn merasakan cintanya pada Bella tidak pernah memudar seiring waktu hilangnya isterinya. Kehadiran istrinya kembali, membuat Zayn kembali seperti pria muda yang sedang kasmaran dan jatuh cinta sekali lagi pada Bella.
Oleh karena itu, sikap Zayn mulai berubah, dia mulai mengabaikan kehadiran Lea. Apalagi bisikan Bella menuntut agar Zayn segera menceraikan Lea.
***
Karya ini menggunakan nama tokoh yang di usulkan oleh teman baikku, Lele. Alur cerita dan pokok pikirannya pun di sumbangkan oleh temanku yang comel itu.
Selamat membaca 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TSO-24
Sepasang mata Lea yang terlihat gelap dan terlihat putus asa, tetap waspada mengintai kepergian suaminya.
Deg! Jantung Lea seakan melompat turun ke tebing, betapa cemasnya dirinya ketika setiap langkah Zayn mendekati arah kamar Bella.
Jangan mengkhianatiku ... Aku bisa menerima perlakuan lain. Namun, berbagi aku tidak akan bisa. Aku tidak akan bisa.
Zayn melangkah lebih dekat. Di saat jarak hanya tersisa dua langkah dari kamar Bella. Lea menatap dengan harap cemas dan waspada. Napas Lea tertahan di setiap rongga dadanya.
Deg! Jantung Lea kembali berdenyut. Lea mengembuskan napas lega. Zayn hanya melewati kamar Bella begitu saja. Dia tetap terus berjalan ke kamar di ujung lorong, yang merupakan kamar tamu.
Baru saja Lea merasa lega. Kembali naik ke ranjangnya. Tetapi rasa curiga, cemburu, dan cemasnya menyusul kembali menggerogoti dadanya.
"Bagaimana jika Bella keluar dari kamarnya. Lalu, mereka berada dalam ruang tamu tersebut," pikir Lea curiga.
Hanya berdua saja, lalu apa yang akan terjadi? lanjut Lea dalam hatinya. Makin dia gelisah. Dia memutuskan kembali menyelinap keluar. Memeriksa sendiri.
Tetapi, langkahnya kembali tertahan. Dia hanya menatap tangga yang melingkar spiral dengan kokoh dan indahnya. Sepasang kakinya bergetar takut seakan menginjak setiap anak tangga, seperti hal yang paling menakutkan untuk dirinya. Tempat dirinya pernah terguling-guling. Dia telah kehilangan anaknya di sini. Tangga ini masih menciptakan sedikit trauma untuk dirinya sendiri.
Deg! Lea memaksakan dirinya menginjak satu anak tangga pertama. Namun, segera menariknya kembali jatuh ke ubin lantai. Dia kehilangan nyalinya. Kakinya bergetar takut. Dia tidak berani melangkah.
"Ada apa Lea?" tanya seseorang mengejutkan dirinya dari belakang punggungnya.
Lea berbalik. Bella berdiri dengan jarak tiga langkah darinya. Tangannya terlihat memegang satu cangkir yang terlihat beruap panas mengepul.
Apakah dia membuat untuk Zayn?
Tanpa sadar sepasang mata Lea jatuh tertuju pada cangkir di tangan Bella..
Bella mengikuti arah pandang itu, segera mengerti, dan menjawab, " Ini jahe. Aku sedang datang bulan. Perutku sakit. Oleh itu, aku meminum jahe."
Ka Bella sedang datang bulan. Berarti Zayn dan Bella, tidak akan melakukan hal itu, harapnya dalam hati.
"A-aku ingin naik ke a-atas menemui Zayn." Lea sengaja mengumpan dengan nama Zayn, dan menunggu reaksi Bella.
"Zayn apakah ada di ruang atas? aku pikir dia sedang berada di kamarmu," sahut Bella dengan mimik menunjukkan ketidakhuannya atas keberadaan Zayn di lantai atas. Tepatnya dia hanya berpura-pura bermain sebagai wanita bodoh.
Lea tersenyum kikuk. Rasa curiga luntur seketika. Bella dan Zayn tampaknya tidak saling bertemu di kamar tamu. Sedikit mengarang cerita, Lea beralasan, "Dia di ruang kerja."
Lea menggaruk kepalanya, dan berkata kembali, "Aku pergi tidur dulu. Aku takut mengganggunya, makanya aku ragu menemuinya."
"Oh, aku akan kembali ke kamar. Selamat malam!" pamit Bella dengan langkah yang melewati Lea, dan berjalan menanjak menginjak setiap anak tangga.
Langkah Bella tampak begitu anggun menginjak setiap anak tangga. Glek! Lea menelan ludah kagumnya. Sepasang mata bulatnya menatap pinggul Bella yang terlihat berlenggak-lenggok ketika dia berjalan. Tubuhnya sangat indah, bak model yang berjalan di atas karpet merah. Bandingkan dengan dirinya? Lea mengelus dadanya sendiri.
Ka Bella begitu cantik, sebagai wanita saja aku bisa menginginkannya. Apalagi seorang pria, komentar Lea dalam hatinya.
Bagaimana dengan Zayn? Apakah dia akan jatuh pada wanita pertama itu lagi? Semoga tidak, harap Lea menelan pahit cemburu seakan merontokkan kepercayaan dirinya.
Bella berhenti pada bordes tangga. Sedari tadi dia telah merasakan sepasang mata mengikutinya. Dia berbalik dengan sengaja dan tiba-tiba, dan hanya mendapatkan Lea telah membalikkan punggungnya dengan langkah ringan melayaninya, kembali ke kamarnya.
Bella menatap isi cangkirnya. Air Jahe.
Bodoh! ini untuk Zayn. Aku kan sudah tidak datang bulan lagi, Lea. Aku hanya membohongimu. Karena hari ini, bukan waktu yang tepat membuatmu mengetahui hubungan diam-diam kami. Ketahuilah Lea, Aku telah merancang garis dua biru pada rencana kedepan. Aku akan memberitahunya pada Zayn, hari ini. Nikmatilah, babak-babak baru penyiksaan dariku.
Bella berbalik dengan anggun, melanjutkan langkah menginjak setiap anak tangga menuju kamar di ujung lorong. Kamar tamu.
Kret! Bella membuka pintu kamar tamu perlahan. Memberikan seulas senyumnya pada sosok pria yang duduk menunggu di sudut ruangan yang sedang menyalakan televisinya. Blam! Bella menutup pintu perlahan. Lalu, berjalan menghampiri pria yang melebarkan tangan, terlihat ingin meminta pelukkan.
"Manja sekali," komentar Bella seraya meletakkan cangkir jahe di atas meja yang berada di sisi kiri sofa, tempat Zayn duduk.
"Di bawah, aku bertemu Lea," lapor Bella.
Zayn memberikan pandangan heran ketika nama isteri keduanya terucap, "Apakah dia mengganggumu?"
Bella menggelengkan kepala. "Aku hanya heran dan mengawasinya. Dia berdiri lama menatap tangga. Mungkin dia masih menyimpan kenangan itu. Dia menangis menatap tangga, dan kau pikir bagaimana?" umpan Bella agar Zayn jatuh mencurigai kejiwaan Lea.
"Aku rasa dia mulai gila," jawab Zayn yakin akan dugaan Bella.
"Lalu, bagaimana?"
"Aku akan meminta psikiater terbaik untuk merawatnya!"
Bella menggelengkan kepala. Dia lalu menjatuhkan bokongnya duduk pada pangkuan Zayn, dengan bersikap genit, akan mudah membujuk pria berhati singa ini.
"Sayang, dengan hanya meminta psikiater itu percuma. Kau harus tega. Mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Di sana, dia akan di awasi 24 jam, dan hanya psikiater yang bisa memberi masukan dan pendapat untuk mengubahnya menjadi Lea seperti dulu," saran Bella.
"Lea yang manis. Lea yang lembut. Lea yang ceria. Kau ingin dia kan? Kita harus sembuhkan trauma miliknya."
Zayn terdiam sesaat, terlihat sedikit tersudut akan kalimat terakhir Bella, "Kau baik sekali, Bella. Selalu memikirkan wanita maduku. Namun, dia belum tentu bisa menjadi seperti dirimu."
"Ehem," dehem Bella dan menatap pria bertahta itu dengan kilatan menggoda, "Kau lebih menginginkannya atau menginginkan diriku?"
Zayn menghela napas, degup jantungnya berdesir kala bibir Bella terlihat merah ranum menggodanya. Saat ini, geloranya berontak menyebut Bella adalah hasrat luarbiasanya.
"Daripada dia. Aku lebih jauh menginginkanmu. Bella yang cantik. Bella yang lembut. Bella yang terbaik dan Bella yang ...."
Zayn sengaja memutuskan anak kalimatnya dengan sengaja, menikmati wajah Bella yang tersipu merah di bawah cahaya lampu kuning di dalam kamar. Kelopak matanya terlihat berkedip salah satunya.
"Yang apa?" tanya Bella berpura-pura penasaran.
"Yang sangat bagus mengikat suaminya di atas ranjang. Pintar sekali."
Bella terbahak, menutup mulutnya. Selesai terbahak, dia segera membalas kata, "Pengalamanku bersamamu membuatku hebat."
Zayn tersenyum lebar. Detik selanjutnya, dia mulai berseloroh dengan mimik yang terlihat serius, "Jika kau berani bersama pria lain. Maka pria itu, hanya akan tinggal namanya saja. Ku pastikan namanya terpahat di batu nisan."
Bella tersenyum menyembunyikan getir dan dosanya dengan rapat, dia berkilah, "Siapa yang berani membuat Zayn Putra Maliq cemburu. Maka sorga hari ini, akan berganti neraka esok harinya."
Bella memasang mimik berpura-pura takut, "Apakah kau akan menindasku juga? Aku takut, sayang."
Zayn menggelengkan kepalanya dengan mata yang terlihat cerah tersenyum, dan menambahkan, "Aku hanya membakar pria itu. Tetapi tidak dengan dirimu. Cintaku terlalu besar padamu Bella. Bahkan Neraka pun seperti telah di siram air es yang dingin, jika melihat dirimu. Api yang panas itu, bahkan mati sendiri hanya karena dirimu."
Deg! Bella bergindik mendengar cinta yang besar dari Zayn. Tidak ada satu orangpun yang berani meragukan keagungan setiap kata yang dia cetuskan, dan dia kembali memuji suaminya, "Siapa yang tidak tahu dirimu. Kau tumbuh kuat dan besar, bukan karena Maliq di belakang namamu. Karena kau pandai menyiksa dirimu dan tidak pernah berkedip membunuh lawanmu, maka semua yang kau inginkan, pastilah terwujud."
Bella memeluk Zayn, dan tangan Zayn melingkar di pinggang istri pertamanya. Sementara itu, sepasang mata Bella melayang akan sosok kekasih yang dia tinggalkan di New York.
Samuel Taylor. Jangan sampai kau ditemukan Zayn Putra Maliq. Cinta kita telah ku kubur, setelah aku memutuskan kembali pada pria ini. Jika kau nekat, maka aku hanya bisa meletakkan setangkai bunga lili putih di depan batu nisanmu.
...****************...
Bersambung ...
Sadis 🤭 Dua tokoh dalam part ini sama sadis. Tetapi Author suka dengan tokoh Bella yang Thor ciptakan. Karena dia terlihat jinak-jinak merpati di luar, dan di dalam seperti ular yang berkelit-kelit. Soal cintanya, Thor masih belum kepikiran apa dia ingin harta atau ingin cinta Zayn.
setiap hari selalu mengecek kelanjutan cerita TSO..
Up dunk Thor.. plisssss
kapan terungkapnya sih😭😂