Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Minggu pagi udara masih segar, matahari baru muncul di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan di atas dedaunan taman kota. Jam menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit. Maxy melangkah pelan di jalur lari, pakaian olahraga sederhana — kaos katun polos, celana pendek, sepatu kets yang udah lumayan lama ia pakai. Napasnya teratur, keringat mulai membasahi dahi dan leher. Ia sengaja bangun pagi-pagi, selain mau olahraga, juga mau menjernihkan pikiran yang seminggu ini penuh dengan Arif, Roxy, dan keraguannya sendiri.
Aku mulai berlari kecil, menikmati kesunyian taman yang perlahan mulai ramai orang. Beberapa pelari lain lewat, menyapa sekilas. Lalu di kejauhan, ia melihat sosok yang terlihat familiar — rambut dikuncir, pakaian olahraga yang rapi, langkah lari yang ringan.
Semakin dekat, semakin yakin. Itu Shella.
Jantungnya berdebar bukan karena lelah lari, tapi karena terkejut. Ia nggak pernah tahu Shella juga suka jogging pagi. Ia melambatkan langkah, takut kalau tiba-tiba berbalik arah malah kelihatan aneh. Akhirnya ia tetap lari pelan, dan saat jarak makin dekat, Shella menoleh dan melihatnya.
Matanya melebar sedikit, lalu tersenyum lebar.
"Maxy?" serunya sambil melambai, lalu melambatkan larinya sampai berhenti.
Maxy juga berhenti, napasnya sedikit memburu. "Eh... Shella? Kamu juga lari pagi di sini?"
"Iya, tiap minggu pagi kalau nggak hujan. Kamu sendiri?" jawabnya sambil menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Wajahnya segar, tanpa riasan, terlihat cantik dan alami.
"Kebetulan aja, pengen cari udara segar," jawab Maxy sambil tersenyum canggung. "Boleh aku lari bareng?"
"Boleh banget! Yuk, santai aja ya, aku nggak ngebut kok," ajaknya ceria.
Mereka mulai berlari pelan berdampingan. Langkah mereka nyaris sama, ritme napas pun hampir seirama. Di sepanjang jalur taman, mereka ngobrol pelan di sela napas yang teratur — soal rencana hari ini, soal tidur yang kurang seminggu ini, soal taman yang makin bersih dan rapi.
Sinar matahari makin naik, menyinari wajah Maxy dari samping. Keringat mengalir di pelipisnya, menyusuri garis rahang yang biasanya tertutup kemeja dan lelah bekerja. Rambutnya yang sedikit berantakan malah bikin dia terlihat alami dan jantan. Shella sempat melirik beberapa kali, dan setiap kali, matanya sedikit lama menetap di wajahnya.
Tanpa sadar, ia memandanginya dengan tatapan yang berubah — bukan sekadar rekan kerja, tapi sebagai pria. Garis wajahnya yang tenang saat fokus lari, matanya yang jernih, postur tubuhnya yang ternyata tegap dan terawat di balik pakaian sederhana yang biasanya ia pakai di kantor.
'Padahal... dia lumayan ganteng juga ya kalau begini,' pikir Shella, dan pipinya terasa sedikit hangat. Ia buru-buru memalingkan wajah ke depan, takut ketahuan melirik.
Mereka berlari sekitar tiga puluh menit lebih, lalu sepakat berhenti di dekat air mancur untuk istirahat. Duduk di bangku taman, napas mereka masih sedikit memburu. Maxy menyeka keringat dengan tisu kecil, lalu menoleh ke Shella.
"Mau minum sesuatu? Di seberang ada kedai kecil, sepertinya enak," tanyanya lembut.
Shella mengangguk, masih sedikit terengah. "Boleh deh. Aku mau es teh manis aja."
Mereka menyeberang jalan, duduk di teras kedai sederhana yang bersih. Minuman datang, dan mereka duduk berhadapan, masih sambil mengatur napas.
Shella menyeka keringat di leher, lalu menatap Maxy lekat-lekat, seolah baru benar-benar melihatnya hari ini. "Kamu tahu, Maxy... kalau begini, pakaian olahraga, keringat, santai gini... kamu kelihatan beda banget dari di kantor."
Maxy tersenyum malu, menggaruk tengkuknya. "Maksudku jelek ya?"
"Eh bukan gitu!" Shella tertawa kecil, wajahnya sedikit merah. "Maksudku... kamu kelihatan ganteng. Beneran. Biasanya di kantor kamu selalu pakai kemeja rapi, kelihatan serius dan lelah. Ternyata dibalik itu, kamu punya garis wajah yang tegas, mata yang jernih... aku baru sadar sekarang."
Maxy tertegun, jantungnya berdebar kencang. Pujian sederhana, tapi dari Shella pagi ini di taman, terasa lebih berharga dari apa pun yang pernah ia dengar sebagai Roxy.
"Makasih, Shella..." ucapnya pelan, matanya menatap tulus. "Kamu juga kelihatan cantik banget pagi ini. Tanpa riasan, sederhana, tapi bikin nyaman dilihat."
Kali ini giliran Shella yang menunduk malu, tersenyum ke arah gelas di depannya. "Kamu bisa aja ngomong manis juga ya, ternyata."
"Bukan manis... cuma jujur," jawabnya tenang.
Mereka ngobrol lumayan lama di kedai itu. Topiknya ringan — hobi, keluarga, impian yang belum sempat terwujud. Shella kelihatan lebih terbuka, lebih santai, lebih bebas dibanding di kantor. Dan Maxy, tanpa tekanan pekerjaan dan tanpa topeng, bisa jadi dirinya sendiri sepenuhnya. Tidak minder, tidak pura-pura, tidak menyembunyikan apa-apa.
DING!
Hubungan dengan Maxy: 24% (+3%)
Hubungan dengan Roxy: 22% (-1%)
Sumber: Penampilan alami yang memikat, kepercayaan diri yang tumbuh, kejujuran tanpa topeng. Kenaikan signifikan karena interaksi murni sebagai Maxy.
Saat matahari makin tinggi, Shella melihat jam di pergelangan tangannya. "Wah, udah hampir jam delapan! Aku harus pulang dulu, masih ada yang harus dikerjain hari ini."
Mereka berdiri dan berjalan menuju arah yang berlawanan. Sampai di perempatan jalan, Shella berhenti dan menatap Maxy.
"Makasih ya, Maxy. Pagi ini seru banget. Aku nggak nyangka bisa lari bareng kamu. Boleh... kalau minggu depan masih hujan, maksudku — kalau nggak hujan, boleh kita lari bareng lagi?" tanyanya dengan sedikit ragu di matanya.
Maxy tersenyum lebar, tulus. "Boleh banget, Shella. Aku tunggu di sini jam enam ya?"
"Oke, janji ya!" Shella tersenyum lebar, melambaikan tangan, lalu berjalan pergi. Sesekali menoleh ke belakang, masih tersenyum sebelum akhirnya berbelok dan hilang di tikungan jalan.
Maxy berdiri sendirian di sana, menatap punggungnya yang menjauh. Dadanya terasa ringan, hangat, dan penuh harapan. Bukan sebagai Roxy, bukan dengan uang sistem, bukan dengan mobil mewah. Cuma sebagai Maxy — dengan kaos polos, sepatu lama, dan kejujuran yang sederhana.
Dan untuk pertama kalinya sejak sistem itu muncul, ia merasa mungkin — mungkin dia sudah cukup apa adanya. Mungkin dia tidak perlu menyembunyikan diri di balik topeng selamanya.
DING!
Hubungan dengan Maxy: 25% (+1%)
Hubungan dengan Roxy: 21% (-1%)
Sumber: Inisiatif bertemu kembali di fase siang. Hubungan tumbuh di jalur yang benar.
Ia berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan, keringat yang masih terasa di kulit, dan senyum yang tak hilang dari wajahnya. Masih jauh ke 100%, tapi arahnya sudah benar. Dan minggu depan, ada janji baru — di taman yang sama, sebagai dirinya sendiri.
Tapi, walupun matrik menang Maxy, sifat Shella masih ambigu. Membuat Maxy selalu bertanya-tanya.
"Apakah Shella beneran suka sama Maxy atau Roxy?"
Pertanyaan ini selalu menggema dipikiran dan hatinya.
"kenapa ini malah seperti pertarungan antara Dia dan dirinya?" Maxy vs Roxy...