NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Hari-hari merayap lambat, seolah waktu tahu ada sesuatu yang segera akan retak. Kota melanjutkan iramanya seperti biasa, acuh tak acuh pada badai emosi yang mengaduk dada Zaira. Jumat itu terbit kelabu, dengan awan-awan rendah yang seakan mengapung sejajar atap rumah, dan angin lembap yang membawa bau tanah basah, lalu lintas, dan kecemasan yang ditahan.

Di dalam kamarnya, keheningan terasa pekat, seolah udara jenuh oleh pikiran. Zaira menggenggam ponsel baru itu di antara kedua tangannya. Benda itu berkilau asing, sesuatu yang tak ia peroleh dengan keringat sendiri, dan layarnya yang menyala memantulkan wajahnya sendiri, dengan kantong mata yang dalam dan bibir yang terkatup. Ikon-ikonnya tersusun dengan kesempurnaan yang terasa dibuat-buat, kontras dengan kekacauan hidupnya.

Ia menyalakannya pagi itu, setelah terlalu lama menimbang-nimbang, seakan sekadar memakainya berarti menyerah. Tapi ia tak merasa kalah. Ia merasa realistis. Terdesak kebutuhan. Manusiawi.

Di atas meja makan, amplop berisi uang itu kini lebih kusut dibanding hari pertama. Sudah tiga kali ia menghitungnya, seakan jumlahnya bakal berubah. Ia tak menyentuhnya lebih dari itu. Sampai sekarang.

"Baiklah..." bisiknya pada diri sendiri, nyaris tak terdengar. "Akan kulakukan. Tapi menurut caraku sendiri."

Lantai berderit di bawah telapak kakinya yang telanjang saat ia menyusuri lorong sempit menuju kamar ibunya. Pintunya terbuka sedikit, dan cahaya pagi masuk tersaring oleh tirai yang lusuh, membasuh wajah tidur wanita itu dengan kelembutan keemasan. Bunyi mesin oksigen adalah satu-satunya denyut yang tetap di kamar itu, seperti pengingat bahwa waktu kian menipis.

Zaira menatapnya lama. Ia ingin menyentuh wajah ibunya, mengatakan betapa besar cintanya. Tapi ia tak melakukannya. Ia keluar lalu menekan nomor.

"Tatiana?"

"Zaira!" Suara di seberang terdengar terkejut, nyaris takut. "Kamu baik-baik saja?"

"Aku butuh bantuanmu," katanya tanpa berbelit, dan getar samar terdengar dalam suaranya. "Buat beli baju, makanan... dan obat-obatan. Bisa?"

Hening sejenak, tarikan napas yang tertahan.

"Tentu saja bisa. Aku jemput kamu satu jam lagi. Kamu tak perlu bilang apa-apa lagi."

Pusat perbelanjaan itu adalah dunia yang lain. Semesta yang dingin dan steril, tempat etalase berkilauan seolah tahu bahwa di dalam sana tak ada ruang untuk kesengsaraan. Lampu-lampu putih berkedip samar, seakan ikut gugup. Pendingin udaranya begitu kuat hingga Zaira menggosok-gosok lengannya yang telanjang, merasakan kontras dengan hawa panas lengket yang masih melekat di kulitnya.

Tatiana menemaninya dalam diam, tak berani memberi perintah atau saran, membiarkannya memilih sendiri. Zaira menyentuh tiap pakaian seolah mengukur teksturnya dengan ingatan. Ia menimang-nimang gaun, jins, blus. Ia melihat harga dengan dahi berkerut, terbiasa tak mampu membeli apa pun.

"Ini kelihatannya berlebihan," katanya di satu titik, mengembalikan sebuah blus satin ke gantungannya. "Aku tak perlu tampak seperti orang lain."

Tatiana mengangguk dengan senyum tipis.

"Kalau begitu, pilih yang membuatmu tetap jadi dirimu. Cuma... yang lebih kuat."

Ia memilih pakaian sederhana, warna-warna netral, potongan yang nyaman, tapi dengan sentuhan anggun. Sepasang jins baru, kaus polos tanpa gambar, jaket dari kain tebal, dan bahkan satu set pakaian dalam yang membuatnya merona, meski ia tak paham kenapa. Ia juga memilih dua daster katun yang lembut, bermotif bunga-bunga kecil, dan sebuah gaun biru langit untuk ibunya. Saat memandanginya, ia terkenang gereja, hari-hari Minggu, kenangan-kenangan indah.

Lalu mereka ke apotek. Zaira membayar obat-obatan tanpa berkedip, meski keluar dari sana, tangannya gemetar seakan baru saja melakukan sebuah kejahatan.

"Kamu yakin mau melakukan ini?" tanya Tatiana saat mereka kembali ke mobil, langit kian gelap.

Zaira bersandar ke pintu, matanya terpaku pada langit yang mendung.

"Aku tak tahu. Aku cuma tahu bahwa... aku lelah terus ketakutan. Lelah melihat ibuku kepayahan dan kesakitan."

Tatiana mengulurkan tangan dan membelai rambutnya, seakan ingin menenangkan jiwanya.

"Sudah, jangan pikirkan itu lagi. Lebih baik kita beri kejutan buat ibumu," katanya dengan riang yang tertahan.

"Tati... bisakah kamu bilang bahwa kamu yang meminjamiku uang? Aku tak mau mengecewakannya."

Tatiana menatapnya dengan lembut.

"Jangan khawatir, kita buat ibumu bahagia, itu saja."

Pintu rumah terbuka dengan derit halus, dan aroma sup sayur yang terlupakan memenuhi udara. Zaira masuk lebih dulu, menjinjing dua kantong berat. Tatiana mengikuti di belakang dengan sekotak obat dan sekantong makanan siap saji: roti segar, buah-buahan, susu, yoghurt, dan bahkan sepotong kecil bolu vanila.

"Ibu!" panggil Zaira, meletakkan kantong-kantong itu di atas meja.

Dari dalam kamar terdengar langkah tongkat yang diseret pelan. Sang ibu muncul di ambang pintu, dengan daster kesehariannya dan mata yang membelalak karena terkejut.

"Semua ini apa?" tanyanya, mendekat perlahan.

Zaira menghampirinya dan memeluknya erat, merasakan tubuh lemah itu bergetar samar.

"Barang-barang yang kita butuhkan," jawabnya sederhana.

Wanita itu memandangi kantong-kantong itu, bungkusan obat, jus jeruk, buah-buahan yang berkilau bagai janji. Ia meletakkan tangan ke dadanya, terharu.

"Dari mana kalian dapat uang sebanyak ini?"

Tatiana maju dengan senyum memikat.

"Aku yang meminjami Zaira. Bukan hal luar biasa. Ibu nikmati saja, ya."

Sang ibu menatapnya dengan mata penuh syukur, lalu mengangguk sambil menghela napas terbata.

"Semoga Tuhan membalas, Nak. Kalian tak tahu betapa aku membutuhkannya."

Zaira berjongkok di hadapannya dan mengeluarkan salah satu daster baru dari bungkusnya. Bahannya lembut, dari katun, bermotif bunga ungu muda dengan kancing-kancing berkilau bak mutiara.

"Ini kubelikan untuk Ibu. Dan ada satu lagi. Dan juga..." Ia membuka sebuah kantong dan mengeluarkan gaun biru langit itu. "Untuk saat Ibu mau ke gereja."

Wanita itu menyentuhnya seolah gaun itu terbuat dari kaca. Ia tersenyum, dan dua tetes air mata meluncur di pipinya yang pucat.

"Indah sekali... aku sudah lupa kapan terakhir kali punya sesuatu yang baru."

Zaira menelan ludah, menahan gumpalan di tenggorokannya.

"Mulai sekarang Ibu akan punya banyak hal baru. Aku janji."

Sore itu terasa lebih hangat oleh aroma kopi yang diseduh Tatiana. Di atas meja, isi kantong-kantong itu berpindah satu per satu, dan rumah yang sederhana itu bercahaya dengan sinar yang berbeda. Sebuah kedamaian yang rapuh, tapi nyata. Seolah, untuk sesaat, dunia berhenti menyakiti.

Di sisi lain kota, Leonardo berbaring di sofa kulit, di penthouse-nya yang elegan, dengan lampu-lampu padam dan segelas wiski yang tak tersentuh di atas meja. Ponsel di tangannya, layarnya gelap. Tak ada pesan baru. Tak ada panggilan.

Ia mengusap rahangnya, menegangkan otot-ototnya, pandangannya terpaku pada kekosongan.

"Sedang apa dia?" gumamnya, nyaris frustrasi.

Sepanjang minggu ini ia dilanda kegelisahan yang asing baginya. Ia, yang selalu memegang kendali, yang menangani tiap keputusan dengan dingin bak ahli bedah, kini nyaris menelepon seorang wanita yang baru beberapa kali ia temui. Wanita yang membuatnya merasakan sesuatu yang begitu nyata, begitu mengusik, begitu... membuat kecanduan.

Ia bangkit tiba-tiba dan mondar-mandir di ruang tamu bagai binatang terkurung. Pandangannya jatuh pada sebuah kotak tertutup di atas meja kerja. Di dalamnya, ada kejutan lain untuk gadis itu.

"Katamu kamu akan memberiku jawaban hari Sabtu, Zaira. Dan aku akan menunggunya," gumamnya. "Tapi biar aku terbakar di neraka kalau aku tak berharap sekarang sudah besok."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!