NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENJUAL KESEDIHAN DEMI EMPATI.

Setelah acara tukar cincin selesai. Nafisa kini berdiri di tepi kolam ikan di halaman rumah miliknya, dan berharap bisa menghirup udara segar.

Namun sayangnya, ketenangan itu tak berlangsung lama saat suara yang sangat dirinya kenal kini terdengar di sebelahnya.

“Nafisa.”

Nafisa menoleh. Benar dugaannya. “Iya, Mas Dewangga?”

“Saya akui, kamu sangat berani berbicara seperti itu di depan semua orang.”

Nafisa terdiam sejenak, berusaha unt mengingat kembali apa yang dirinya ucapkan saat acara tadi.

Beberapa saat kemudian, kedua sudut bibir Nafisa terangkat lalu menatap ke arah Dewangga dengan penuh keberanian.

“Tentu saja saya berani,” ucapnya lalu pandangannya beda kembali ke arah kolam.

 “Oke. Sekarang, setelah ini, sembunyikan hubungan kita dari semua orang. Saya tak sudi semua orang tahu kamu tunangan saya.”

Senyum Nafisa seketika memudar dan kembali menatap kearah Dewangga.

“Siapa juga yang ingin hal itu terjadi?” balasnya ketus.

Ia menghela napas panjang, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening.

“Sudahlah, Pak Dewangga. Saya capek banget. Bapak pulang saja kalau memang kesal sama saya.”

Tanpa menunggu tanggapan, Nafisa berbalik hendak meninggalkan pria itu. Namun, baru beberapa langkah, ujung sepatunya tersangkut hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan.

“Hati-hati!”

Dewangga sigap meraih tubuh Nafisa sebelum wanita itu terjerembab ke dalam kolam. Secara refleks, kedua tangan Nafisa melingkar di lehernya untuk menjaga keseimbangan.

Jantung Nafisa berdegup kencang. Bukan hanya karena nyaris jatuh ke kolam, melainkan juga karena jarak wajah mereka yang kini begitu dekat.

Perlahan, Nafisa mengangkat wajahnya.

Tatapannya bertemu dengan mata Dewangga. Hidung mereka nyaris bersentuhan, sementara wajah tampan pria itu tampak jelas di hadapannya. Untuk beberapa detik, Nafisa hanya bisa terpaku sebelum akhirnya ia  tersadar.

Nafisa buru-buru melepaskan tangannya dari leher Dewangga dan kembali berdiri tegak. Ia segera mundur selangkah.

“Terima kasih,” ucapnya canggung.

Dewangga mengangkat sebelah alis. “Cuma terima kasih doang?”

Nafisa mengernyit. “Apa maumu?”

“Sekarang, karena kamu sudah menjadi tunangan saya, kamu harus datang setiap kali saya panggil.”

Mata Nafisa langsung membulat. “A-apa? Tidak bisa begitu, Pak. Saya ini punya pekerjaan!”

“Saya bos kamu di perusahaan,” ujar Dewangga, lalu melipat tangannya depan dada. “Lagipula, saya yang menggaji kamu. Sekali kamu melawan saya, saya potong gaji dan bonusmu.”

Nafisa terdiam. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.

‘Dasar bos semena-mena! Mentang-mentang punya jabatan dan uang, seenaknya saja menyuruh orang.’

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menelan kekesalannya.

‘Awas saja kalau sudah menikah nanti!’

Meski hatinya menggerutu, Nafisa tetap memaksakan senyum di wajahnya.

“Baiklah, Pak Dewangga. Akan saya turuti ucapan Bapak.”

Dewangga mengangguk puas. “Good girl.”

Nafisa nyaris mendengus mendengar pujian itu. Namun, ia memilih menahan diri daripada membuat keributan lagi. Tanpa membalas ucapan Dewangga, ia membuang muka, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan pria itu di tepi kolam.

Dewangga yang melihat Nafisa pergi tanpa berkata apapun, kini dirinya masih berdiri di tepi kolam ikan ketika sosok Nafisa kini menjauh dari pandangannya.

“Salah siapa melawanku.”

Ia terkekeh pelan, merasa puas melihat ekspresi wanita itu yang terlihat sedang menahan kekesalannya.

Namun, kekehannya terhenti ketika sebuah cokelat tiba-tiba tersodor di hadapannya.

Dewangga menunduk sekilas, lalu menoleh ke arah orang yang memberikannya. Seketika, tubuhnya menegang.

Seorang wanita paruh baya berdiri tepat di sampingnya. Senyum lembut menghiasi wajahnya.

“Bu ….”

Wanita itu tersenyum semakin lebar.

“Ibu berterima kasih sama kamu, Dewangga. Karena kalau gak ada kamu, mungkin saja Ibu gak akan ada di sini dan menyaksikan kamu melamar putri Ibu.”

Suara wanita itu terdengar lirih. Namun dirinya tak merasakan kesedihan yang di buat wanita itu.

Dewangga terdiam. Matanya beralih dari wajah Yulia ke cokelat yang masih terulur di hadapannya. Ia tidak langsung menyambut pemberian itu.

Namun agar tidak menimbulkan kecurigaan, Dewangga akhirnya mengangkat wajah dan memasang senyum tipis. Tangannya terulur untuk menerima cokelat tersebut.

“Terima kasih, Bu.”

Namun saat Dewangga ingin mengambil coklat tersebut. Sebuah elusan hangat membuat netranya langsung menatap wanita itu.

Yulia tampak terkejut. Terlihat buru-buru menarik tangannya, lalu tertawa kecil dengan wajah yang sedikit salah tingkah.

“Ah, m-maaf. Tangan Ibu tadi gatal, eh, malah tangan kamu yang kesentuh.”

Dewangga menatapnya selama beberapa detik sebelum mengangguk ringan.

“Tidak apa-apa, Bu,” jawabnya tenang.

Beberapa saat kemudian, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Bu Yulia masih berdiri di hadapannya.

Angin siang itu menyebarkan  hawa hangat di musim kemarau.  Namun keheningan diantara mereka berdua akhirnya pecah karena suara Bu Yulia kembali terdengar.

“Nafisa beruntung sekali mendapatkan calon suami sepertimu, Ya. Ibu jadi iri.”

Bu Yulia menghela napas. “Dari Nafisa remaja, dan ayahnya meninggal, ibu yang selalu bekerja keras. Bahkan sampai gak sempat untuk mencari Ayah baru buat Nafisa.”

Dewangga hanya menanggapi ucapan itu dengan senyum tipis. Ia masih berdiri di tempatnya, menunggu apa lagi yang hendak disampaikan wanita itu.

Benar saja, tak lama kemudian Yulia kembali bersuara.

“Hanya saja … Nafisa sekarang selalu menjaga jarak dariku. Rasanya Ibu seperti gak dihargai oleh putri Ibu sendiri.”

Dewangga tak langsung menjawab. Ia membiarkan wanita itu melanjutkan ucapannya tanpa menyela sedikit pun.

“Ibu memang bersalah karena telah membuat kehidupan rumah tangganya hancur, tapi ….”

Kalimat itu menggantung.

 Kemudian, Dewangga merasakan pergelangan bayangannya di tarik pelan hingga membuatnya  menoleh kearah Bu Yulia.

“Tapi Ibu melakukannya karena Damar memaksa Ibu. Ibu diancam olehnya. Kalau gak menurut sama ucapan Damar, dia bakalan menyakiti Nafisa.”

Mendengar pengakuan itu, sudut bibir Dewangga terangkat tipis.

‘Begitu rupanya.’

Wanita itu  rupanya masih mengira dirinya mempercayai cerita yang baru saja disuguhkan. Padahal, dirinya sudah mengetahui kisah rumah tangga Nafisa.

Dengan uang dan kekuasaan yang dimilikinya, mencari tahu kebenaran bukanlah perkara sulit baginya.

Benar-benar menggelikan. Orang bodoh selalu mengira dirinya cukup pintar untuk mengelabui orang yang lebih cerdas.

Dewangga kembali menatap wajah Yulia. Wanita itu masih memandangnya dengan sorot mata penuh harap, seakan menunggu dirinya menunjukkan simpati.

Akhirnya, Dewangga mengangkat tangan. Jemarinya menyentuh pipi wanita paruh baya itu untuk menunjukkan jika dirinya merasa empati.

“Kamu percaya sama Ibu, kan?” tanya Bu Yulia lirih.

Dewangga tidak segera menjawab. Ia justru menatap lekat mata wanita di hadapannya, mencoba menangkap maksud di balik pertanyaan itu.

“Kenapa Ibu bertanya begitu?” tanyanya tenang.

Dewangga tersenyum tipis, lalu melirik jam tangannya sekilas.

“Sudah jam segini. Saya harus ke perusahaan.”

Tanpa menunggu tanggapan, ia menurunkan tangannya dari wajah Bu Yulia. Jemari wanita itu masih menggenggam lengannya, seolah enggan membiarkannya pergi. Dewangga mengerutkan kening, kemudian melepaskan genggaman tersebut dengan sedikit paksa.

Ia tak mengatakan apa-apa lagi. Setelah merapikan jasnya, Dewangga berbalik dan mulai melangkah meninggalkan tepi kolam.

“Dewangga!”

Langkahnya tak berhenti.

“Bisa gak Ibu menjadikan kamu teman curhat Ibu?” Suara Bu Yulia terdengar lagi. “Semua orang di sini seperti menjauhi Ibu.”

Dewangga hanya berdeham singkat.

“Hm.”

Tanpa menanggapi lebih jauh, Dewangga terus berjalan, meninggalkan wanita yang gemar menjual kesedihannya demi mendapatkan perhatian.

Begitu melewati sisi rumah, ia mendapati Kalendra sedang menunggunya.

“Pak, Nyonya Besar sudah—”

“Buatmu.” Potong Dewangga, dan langsung menyodorkan cokelat pemberian  Bu Yulia ke tangan asistennya itu.

“Terima kasih, Pak.”

“Tisu basahnya. Berikan.”

“Sebentar, Pak.”

Dewangga menatap ke arah lurus, namun tangannya masih mengadah kearah Kalendra.

Dan tak lama kemudian. Tisu yang ia inginkan akhirnya berada di atas telapak tangannya. Dewangga langsung mengusap selembar tisu tersebut ke telapak tangan dan jari-jarinya dengan gerakan teliti.

Setelah selesai, Dewangga menatap tisu di tangannya dengan raut jijik.

“Menjijikkan,” gumamnya.

Ia meremas tisu itu, lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat sebelum kembali melangkah.

Yulia bahkan masih berdiri di tepi kolam ikan, membiarkan pandangannya mengikuti punggung Dewangga yang semakin menjauh.

Senyum di bibir Yulia perlahan memudar.

Namun, begitu Dewangga benar-benar menghilang dari pandangannya, wanita itu justru menundukkan kepala. Jemarinya saling bertaut di depan perutnya, sementara sudut bibirnya kembali terangkat membentuk senyum tipis.

“Dewangga ….” Nama itu meluncur pelan dari bibirnya.

Yulia mengangkat satu tangan, lalu mengusap perutnya yang mulai membesar dengan gerakan lembut.

‘Nak, kamu baik-baik saja kan di sana? Ibu gak sabar buat menantu kehadiranmu.’

1
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!