NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cita-Cita Bu Sumarni

Rani pulang kuliah dengan langkah yang hampir seperti menari.

Ia membuka pagar dengan sekali dorong, melempar tasnya ke kursi teras, lalu menyerbu masuk sambil memanggil-manggil dari ruang depan. "Bu! Ibu! Ibu di mana?"

"Di dapur!" sahut Bu Sumarni dari balik suara minyak yang berdesis. "Jangan teriak-teriak, Ran! Tetangga dengar!"

Rani menyusul ke dapur dengan napas terengah dan senyum yang sulit disembunyikan. Ia menarik kursi, duduk menghadap ibunya yang sedang menggoreng pisang, lalu mencondongkan badan seperti hendak menyampaikan rahasia negara.

"Bu, aku punya kabar bagus. Bagus banget."

"Kabar apa? Kamu lulus ujian?"

"Bukan itu, Bu. Ini soal Abang."

Bu Sumarni menoleh, spatula berhenti di udara. "Rizal? Ada apa dengan Rizal?"

"Abang sama Vanya." Rani menahan tawa. "Mereka makin dekat, Bu. Sering banget keluar bareng. Hampir tiap malam, katanya. Tadi siang aku lihat Vanya di kampus, dia cerita Abang mengantar-jemput dia terus. Katanya Abang itu baik banget, perhatian, bikin dia nyaman. Terus dia bilang..." Rani sengaja berhenti, menunggu efek dramatis. "...dia nggak pernah ketemu laki-laki yang bikin dia ketawa sebanyak itu."

Bu Sumarni meletakkan spatulanya dan mematikan kompor.

Wajahnya yang tadi biasa saja perlahan berubah, kerut di dahinya mengendur, mata menyipit, bibir tertarik ke atas. Ia berjalan mendekat dan duduk di seberang putrinya, melupakan pisang goreng yang mulai gosong.

"Beneran? Dia bilang begitu?"

"Beneran, Bu! Aku nggak bohong."

Dada Bu Sumarni naik-turun. Senyumnya melebar sampai matanya nyaris menghilang di antara kerutan. Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan tangan yang masih berminyak. "Ya Allah... Ya Allah, akhirnya. Akhirnya doa Ibu dikabulkan."

"Aku bilang apa, Bu. Vanya itu cocok banget buat Abang."

"Tapi cocoknya kenapa, Ran?" Bu Sumarni menegakkan punggung, matanya berbinar penuh perhitungan. "Selain cantik, dia anaknya siapa? Kerja di mana? Keluarganya gimana?"

Rani menyunggingkan senyum yang selama ini ia simpan untuk momen ini.

"Itu dia, Bu. Vanya itu anak orang kaya. Beneran kaya."

"Kaya gimana?"

"Kaya banget. Bapaknya punya perusahaan. Ibunya punya beberapa usaha butik dan salon. Rumahnya gede di perumahan elite di luar kota." Rani menurunkan suara seperti membagi gosip rahasia. "Tapi Vanya itu low profile banget, Bu. Dia nggak mau pamer. Makanya dia ngekos sendiri di sini, mau hidup mandiri, katanya mau belajar jadi orang biasa."

Mulut Bu Sumarni terbuka sedikit.

Seumur hidupnya, ada satu cita-cita yang tak pernah ia ucapkan keras-keras tapi selalu ia pelihara diam-diam di sudut hati... memiliki menantu kaya raya. Menantu yang bisa mengangkat derajat keluarga, yang namanya bisa dipamerkan di arisan, yang kedatangannya dielu-elukan tetangga. Menantu yang bisa membuat Bude Marni dan Tante Lisna menunduk iri.

Dan yang ia dapat hanyalah Danti. Yatim piatu, tak punya saudara, tak punya warisan, tak punya apa pun selain dua tangan dan sikap penurutnya.

Selama ini ia menelan rasa kecewa itu dengan pahit. Dan sekarang, seolah langit sengaja membuka jalan, putra sulungnya berdampingan dengan seseorang yang mungkin dapat mewujudkan mimpi itu.

"Bener nggak sih, Ran?" bisiknya, setengah tak percaya.

"Aku punya buktinya, Bu."

Rani mengeluarkan ponsel, menggulir cepat, lalu menyodorkannya ke ibunya. "Lihat. Ini foto-foto Vanya waktu liburan."

Layar menampilkan sederetan foto. Vanya berdiri di depan sebuah menara yang megah di kota yang hanya pernah dilihat Bu Sumarni di televisi. Vanya duduk di kafe tepi sungai dengan kopi dan pemandangan kota tua di belakangnya. Vanya berpose di dekat toko-toko mewah dengan tas tangan mengilap di lengannya, kacamata hitam di kepala, sepatu bermerek di kakinya.

"Itu di Paris?" tanya Bu Sumarni dengan suara nyaris berbisik.

"Paris, Bu. Itu yang di Seoul. Yang itu di Dubai." Rani menggulir lagi. "Tasnya ituBu, aku lihat harganya di internet, seratus juta lebih. Yang ini juga. Dan yang itu."

Bu Sumarni mengamati layar tanpa berkedip. Mulutnya sedikit menganga, matanya membulat seperti anak kecil yang baru melihat toko mainan terbesar di dunia.

Tapi tepat saat ia hendak bersorak, sebuah keraguan menyelinap.

"Tapi, Ran..." Ia mengernyit. "Waktu Vanya datang ke sini kemarin, penampilannya biasa saja. Bajunya sederhana. Tasnya itu, Ibu perhatikan kayak tas pasar. Kalau memang kaya, kok nggak pakai yang bagus?"

"Aduh, Bu." Rani terkekeh dan mengibaskan tangan. "Justru itu yang bikin dia spesial. Orang kaya beneran itu nggak perlu pamer. Dia selalu tampil sederhana ke mana-mana. Ke kampus, ke kantor, ke rumah orang. Katanya biar orang menilai dia dari hatinya, bukan dari tasnya."

"Oh, begitu."

"Iya. Dia bilang dia nggak suka orang mendekatinya cuma karena uang. Makanya dia nyamar jadi biasa-biasa saja." Rani menyandarkan siku ke meja, nadanya makin meyakinkan. "Lagian, aku lihat sendiri kok, Bu. Sopirnya sering nganter jemput dia ke depan gang. Mobilnya mewah."

Ragu di wajah Bu Sumarni mencair perlahan, digantikan semburat bahagia yang semakin pekat. Ia mengangguk-angguk sambil memegangi pipinya.

"Ya Allah, rendah hati sekali anak itu. Pantas saja Ibu langsung suka waktu pertama lihat."

"Aku bilang apa, Bu."

"Rizal harus dapat dia, Ran. Harus!"

Menjelang malam, deru mobil terdengar di halaman.

Bu Sumarni dan Rani saling berpandangan, lalu bergegas ke pintu. Mereka berdiri berdampingan seperti dua pelayan yang menyambut raja pulang dari perang, dengan senyum lebar dan mata berbinar.

"Zal! Pulang juga akhirnya!" Bu Sumarni membuka pintu sebelum Rizal sempat menekan bel. "Ayo masuk, masuk. Sudah makan belum? Ibu masakin rendang tadi. Rani, ambilkan minum buat Abangmu!"

Rizal terkejut melihat sambutan semeriah itu. "Bu, aku cuma mampir sebentar. Nanti mau langsung pulang."

"Sebentar apa! Duduk dulu, makan dulu!" Bu Sumarni menarik lengannya ke ruang makan. Rani sudah menyiapkan segelas es sirup dan sepiring pisang goreng yang kali ini tidak gosong.

Mereka duduk mengelilingi meja. Selama beberapa menit pertama, Bu Sumarni sibuk menanyakan hal-hal sepele... pekerjaan, cuaca, kemacetan. Tapi matanya terus berkilat penuh maksud, dan Rizal sudah terlalu mengenal tatapan itu untuk tak waspada.

"Zal." Akhirnya Bu Sumarni meletakkan sendoknya dan menatap putranya lekat-lekat. "Ibu mau tanya sesuatu. Dan Ibu mau kamu jawab jujur."

"Tanya apa, Bu?"

"Kamu sama Nak Vanya itu... ada apa?"

Rizal tersedak minumannya. "Bu?"

"Rani cerita, kalian sering jalan berdua. Sering makan bareng, sering diantar-jemput. Orang-orang bahkan menyangka kalian pasangan." Bu Sumarni mengamati wajah putranya. "Betul?"

Rizal mengusap mulutnya dengan punggung tangan, canggung. "Itu cuma teman, Bu. Vanya kan teman Rani. Aku cuma bantu antar."

"Teman?" Rani mendengus, menahan tawa. "Bang, ngaku aja deh."

"Rani!"

"Sudah, sudah." Bu Sumarni mengangkat tangan. "Ibu nggak marah. Justru Ibu senang. Kamu itu laki-laki, Zal. Wajar kalau cari yang cocok." Ia menarik napas dalam dan menyampaikan kalimat berikutnya dengan nada sehalus mungkin. "Ibu cuma mau bilang. Kalau memang kamu cocok sama Vanya, nikahi dia."

Hening.

Dentingan sendok Rani berhenti. Rizal membeku di kursinya, matanya membulat.

"Bu... apa?"

"Nikahi dia, Zal. Dia cantik, baik, sopan, anak orang kaya. Keluarganya terpandang. Kamu itu pantas dapat yang seperti itu. Bukan yang..." Bu Sumarni berhenti, mengatur kata lalu menyambung, "...bukan yang membuat kamu pulang malam-malam ke rumah dingin dan menu seadanya."

"Bu, aku sudah punya istri."

"Makanya ceraikan Danti."

Kata itu jatuh ke meja seperti piring pecah.

Rizal tak bisa langsung menjawab. Tenggorokannya terasa kering. Dadanya bergemuruh oleh perasaan yang tak karuan. Terkejut, takut, tapi di bawahnya ada hal lain yang lebih gelap dan ia tak berani menamainya... ketertarikan.

Dan di tengah gemuruh itu, wajah Danti muncul. Danti yang berdiri di ambang pintu dengan senyum tenang. Danti yang menyeduh kopinya setiap pagi tanpa diminta. Danti yang dulu pernah menggenggam tangannya dan berkata, "Mas, aku akan selalu ada."

"Bu, aku... aku nggak tahu." Suaranya pelan. "Danti itu... dia istriku. Kami sudah menikah bertahun-tahun."

"Bertahun-tahun untuk apa, Zal?" Bu Sumarni menegakkan tubuh. "Untuk hidup tanpa anak? Untuk punya istri yang gendut, melawan, sombong, dan miskin? Untuk dipermalukan di depan keluarga?"

"Bang, dengerin Ibu," timpal Rani. "Abang harus mikirin masa depan. Abang itu masih muda. Mau sampai kapan hidup seperti ini? Danti nggak bisa kasih Abang anak. Danti nggak bisa kasih Abang kebanggaan. Danti nggak bisa kasih apa-apa."

"Ran, jangan..."

"Aku bicara fakta, Bang. Lihat Vanya... cantik, pintar, kaya, dan dia hormat sama Abang. Dia nggak pernah ngelawan. Dia selalu bikin Abang senang. Sementara Danti?" Rani mendengus sinis. "Danti cuma bikin Abang pusing."

"Betul," sambung Bu Sumarni. "Lagi pula, Ibu nggak mau menyalahkan Danti, tapi dari dulu Ibu sudah bilang. Perempuan itu nggak cocok jadi menantu kita. Yatim piatu, nggak punya keluarga, nggak jelas asal-usulnya. Ibu menerima dia karena kamu ngotot. Tapi lihat hasilnya."

Satu per satu kalimat itu mengalir, tajam dan teratur, seperti tetesan air yang terus menghantam batu yang sama.

Dan Rizal, anehnya tidak membantah.

Ia tidak berkata, itu tidak benar. Ia tidak berkata, jangan bicara begitu tentang istriku. Ia hanya duduk dengan tangan terkulai di pangkuan, menunduk, sesekali mengangguk kecil seolah setiap kalimat itu mengandung kebenaran yang tak bisa ia bantah.

Dalam hatinya masih ada sisa ragu. Sisa kenangan. Sisa sesuatu yang bahkan ia sendiri tak bisa jelaskan. Tapi sisa itu terlalu lemah untuk melawan arus yang begitu kuat.

"Aku... aku pikirkan dulu, Bu," ucapnya akhirnya, nyaris berbisik.

Bu Sumarni dan Rani saling berpandangan dengan puas.

"Tentu, Nak," ujar Bu Sumarni lembut. "Ibu nggak memaksa. Kamu pikirkan baik-baik. Ibu cuma pengin kamu bahagia."

1
Muft Smoker
ayoo dantii ,, tegakan kepala mu ,, jgn mau trus di hina dan di rendah kan oleh keluarga Rizal ,, biar hanya mereka yg tenggelam dlm kehancuran ,, sedangkan km harus ttap terbang tinggi ,,
ryuka
semangat dantiii.. kamu lah pemenang nya.. si rizal aja yg terlalu bodoh
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!