Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Senyap
Aris memapah Pak Subroto duduk di tepi ranjang yang berantakan. Asap mesiu dari tembakan shotgun tadi masih melayang di udara Kamar 204.
Sang detektif menatap lurus ke mata Kepala Logistik yang ketakutan itu.
"Pak Subroto, fokus pada saya," kata Aris,
"Mulya sudah jatuh, tapi dia dibawa kabur oleh sekutunya. Ke mana sedan hitam itu akan membawanya? Di mana mereka menyembunyikan sisa catatan proyek tanah merah ini?"
Pak Subroto menyeka darah kering di bibirnya, "Di... di ujung utara kota, dekat perbatasan pelabuhan lama. Ada sebuah gudang pendingin daging terbengkalai milik perusahaan cangkang keluarga Hadiningrat dari tahun 1959."
Pria tua itu terbatuk kecil sebelum melanjutkan, "Itu bukan sekadar gudang. Tempat itu adalah kantor bayangan balai kota untuk menyimpan dokumen aset ilegal dan jalur penyelundupan dana ke luar pulau.
Surat izin operasi gudang itu... saya sendiri yang menandatangani distribusinya tahun lalu atas perintah Drs. Mulya."
Aris mengepalkan tinjunya yang memegang senter penyok. Informasi ini adalah koordinat titik mati dari seluruh jaringan korup Marunda di tahun 1989 ini. Semua benang merah dari Desa Talas, racun kecubung hitam Ir. Anwar, hingga pelarian Drs. Mulya, bermuara di gudang pendingin tersebut.
"Pak Subroto, tetap di kamar ini sampai tim medis cadangan Wijaya datang mengamankan tempat ini," perintah Aris sambil memeriksa sisa peluru di revolvernya.
Masih ada empat peluru tersisa di silinder. Aris melangkah meninggalkan Kamar, mengabaikan pria besar pemegang shotgun yang masih merintih lumpuh di lantai lorong.
Dia menuruni tangga hotel dengan cepat, melewati sisa-sisa lembaran uang sepuluh ribu rupiah yang kini mulai dipunguti secara liar oleh beberapa tunawisma di depan lobi jalanan yang diguyur gerimis.
Karena Corolla DX miliknya hancur di area proyek, Aris langsung membajak sebuah mobil jip patroli polisi Sektor Selatan yang baru saja tiba di luar hotel sebagai bagian dari tim pengaman Wijaya. Dia duduk ke kursi kemudi, menyalakan sirine, dan memacu jip tersebut menuju ujung utara kota.
Aris mematikan lampu depan dan sirine jip patroli sekitar seratus meter sebelum mencapai koordinat. Dia memarkirkan jip polisi itu di balik reruntuhan kontainer tua yang berkarat.
Di depannya, bangunan masif gudang pendingin daging terbengkalas berdiri kokoh Gerimis malam berganti menjadi kabut tipis yang dingin, berbaur dengan uap es yang keluar dari celah-celah pipa pembuangan gudang.
Mobil sedan hitam pelarian Drs. Mulya terparkir di depan pintu muat barang dengan kondisi kap mesin yang penyok dan dipenuhi noda darah segar. Ceceran lembaran uang tampak membentuk jejak menuju ke dalam bangunan.
Aris menyelinap melalui jalur samping, memanjat tangga besi menuju pipa ventilasi pembuangan udara di lantai dua. Menggunakan pisau saku, dia melonggarkan baut jeruji besi berkarat, lalu merangkak masuk ke dalam lorong seng yang sempit dan pengap.
Udara di dalam sini seketika turun drastis, dengan revolver kaliber .38 siaga di tangan, Aris mengintip ke bawah melalui kisi-kisi ventilasi yang menghadap langsung ke ruang pemrosesan daging. Di bawah sana, di antara jajaran pengait daging besi menggantung kosong, Drs. Mulya terbaring lemah di atas meja stainless steel dengan perban darurat yang membalut tubuhnya.
Di sampingnya, berdiri seorang pria bertopi pet dengan seragam klimis yang sangat Aris kenal: Wali Kota Marunda.
"Kau ceroboh, Mulya! Kau membiarkan detektif itu menghancurkan seluruh pasokan logistik kita di Kamar 204!" bentak Wali Kota, tangannya sibuk memasukkan berkas-berkas sertifikat asli ke dalam sebuah mesin penghancur kertas portable.
"Catatan... catatan suap 1959... masih aman di brankas dinding belakangmu, Tuan..." bisik Drs. Mulya dengan sisa napasnya yang kian sekarat. Aris mengunci pandangannya pada brankas besi berlogo keluarga Hadiningrat yang tertanam di dinding tepat di bawah posisi ventilasinya.