Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk
Tanpa mempedulikan teriakan pria itu, gadis tersebut terus berlari. Tak mau membiarkan gadis itu kabur, pria tadi langsung mengejarnya. Keduanya berlari memasuki hutan.
Sadar bahwa dirinya terus dikejar, gadis tersebut sesekali harus melihat ke belakang untuk memastikan apakah jaraknya masih cukup aman.
Karena tidak memperhatikan jalan, gadis itu tersandung akar pohon. Gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.
Saat gadis itu hendak bangun, pria yang mengejarnya sudah berada di belakangnya dan menangkap kakinya. Tubuh gadis itu terseret ketika pria yang mengejarnya menarik kakinya.
Gadis itu terus berontak. Dia menggerak-gerakkan kakinya hingga tanpa sengaja kakinya menendang wajah pria itu.
Gadis itu meraup tanah di bawahnya, lalu melemparkannya ke mata pria yang sedang menghadapinya.
“Aarrgghh!” teriakan pria itu terdengar. Dia mengucek matanya yang terasa perih.
Gadis itu buru-buru bangkit, lalu berlari sekuat tenaga. Jaraknya semakin menjauh, tetapi gadis itu tidak menghentikan larinya. Dia harus bisa melarikan diri dari orang-orang yang sudah menculiknya.
Saat gadis itu melewati salah satu pohon, seseorang tiba-tiba menghantam perutnya dihantam dengan sebilah kayu. Tubuh gadis itu terdorong, kemudian dia terjatuh. Gadis tersebut meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
Tidak lama kemudian, di depannya muncul pria lain. Gadis itu menduga pria di hadapannya masih satu komplotan dengan pria tadi.
Gadis itu beringsut mundur. Dia mulai dilanda ketakutan saat melihat wajah pria di depannya yang penuh dengan bekas luka. Sorot mata pria itu juga begitu tajam.
“Aaaaa!!” teriakan gadis itu terdengar kencang hingga sampe ke telinga tiga gadis yang berada di mobil. Pada saat yang bersamaan, pria yang tadi mengejar gadis itu kembali ke mobil.
“Mana perempuan tadi?” tanya salah satu temannya.”
“Opan sedang mengurusnya,” jawabnya santai. Opan, pria yang sedang menghadang gadis tadi memang sengaja ditempatkan di hutan. Tugasnya menjaga dan mencegah jika ada gadis yang berusaha kabur.
Pria itu kemudian melihat ketiga gadis tersisa. “Kalau kalian tidak mau bernasib sama seperti perempuan itu, jangan berbuat macam-macam.”
Ketiga gadis itu mengangguk pelan. Wajah mereka menunjukkan ekspresi ketakutan. Tak berapa lama kemudian, minibus tersebut kembali melaju.
Sementara itu, di dalam hutan, Opan masih menyeret gadis itu dengan menjambak rambutnya. Lutut, kaki, dan tangan gadis itu terluka akibat bergesekan dengan tanah, batu, dan ranting pohon yang berserakan.
Tak mau menyerah, gadis itu berusaha tetap melawan. Dia mencoba melepaskan diri dari jambakan Opan. Gadis itu menancapkan kuku-kukunya yang panjang ke pergelangan tangan pria itu.
Opan melepaskan jambakannya. Gadis itu memanfaatkan kesempatan tersebut. Dia mengambil batu di dekatnya, lalu menghantamkannya ke kaki Opan.
“Aarrgghh!” Opan berteriak kesakitan. Dia mengangkat kakinya yang terkena hantaman.
Gadis itu segera bangkit, kemudian menabrak Opan dengan bahunya hingga pria itu terjatuh. Secepat kilat, gadis itu langsung berlari.
Namun pelarian gadis itu terhenti ketika Opan melemparkan batu dan tepat mengenai punggungnya.
Kehilangan keseimbangan, gadis itu jatuh terjerembab ke tanah. Belum sempat gadis tersebut bangkit, Opan kembali menjambak rambutnya.
Tanpa perasaan, Opan menyeret gadis itu, kemudian membenturkan kepalanya beberapa kali ke pohon.
Darah mengalir keluar dari kepala sang gadis. Namun, Opan tidak berhenti sampai di sana. Dia menghantam kaki gadis itu dengan batu beberapa kali.
Teriakan gadis itu terdengar nyaring di hutan yang sunyi. Kedua kakinya remuk akibat hantaman Opan. Gadis itu hanya bisa pasrah saat melihat Opan mengangkat batu seukuran kepala lalu menghantamkannya ke kepala gadis itu.
Darah memuncrat hingga mengenai wajah Opan. Sementara itu, gadis tadi sudah tidak bernyawa lagi.
Opan membuang mayat gadis itu ke semak belukar. Kemudian dia meninggalkan tempat itu seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu, minibus yang membawa tiga gadis tersisa sudah tiba di rumah tempat mereka menyekap para gadis yang diculik.
Ketiganya dibawa masuk ke dalam kamar. Di sana, sudah ada enam gadis lain yang bernasib sama seperti mereka.
Di antara keenam gadis itu, ada Alma dan Jelita. Alma segera mendekati tiga gadis yang baru datang, kemudian membantu mereka duduk.
“Siapa namamu?” tanya Alma pada salah seorang gadis dengan rambut panjang berwarna coklat.
“Arin,” jawab gadis itu dengan suara bergetar. “K-Kita di mana?” tanyanya bingung.
“Aku juga nggak tahu. Yang jelas, kita sudah diculik. Selain kita, masih ada gadis lain di kamar sebelah. Jumlahnya aku nggak tahu. Yang jelas cukup banyak juga.”
“Mau apa mereka pada kita?”
“Aku sempat mendengar kalau mereka akan menjual kita. Sepertinya orang-orang yang menculik kita adalah komplotan perdagangan orang.”
Gadis bernama Arin itu menangis. Ketakutan semakin menyergapnya, apalagi saat mengingat gadis yang tadi berusaha kabur. Entah bagaimana keadaannya sekarang.
***
Gilang segera melaporkan hasil penyelidikan. Dari ketiga keluarga korban yang ditemuinya, dia menemukan satu kesamaan.
Semua korban selalu dikuntit seorang pria mesum. Dua hari setelah dikutit, mereka menghilang.
“Abang udah dapat rekaman CCTV-nya?”
“Udah. Tapi gambarnya gelap. Aku lagi tingkatin resolusinya, sebentar lagi hasilnya keluar,” jawab Pradipta.
“Aku juga udah menyelidiki semua media sosial korban. Nggak ada yang aneh sih. Tapi … aku mendapatkan sesuatu yang ganjil. Alma, Jelita, dan Anjani sama-sama mendapat voucher kopi gratis dari The Taste.
Kedai kopi itu baru berdiri empat bulan yang lalu membuka cabang di sini. Sebelumnya, kedai itu udah ada di Jakarta, Bali, dan Surabaya.”
Giana memperlihatkan hasil penemuannya. Pradipta dan Gilang memperhatikan dengan saksama. Tidak ada yang aneh dengan kedai kopi tersebut.
Namun, jika ketiga korban sama-sama mendapat voucher dari tempat itu, petunjuk tersebut sulit diabaikan.
“Aku akan ke sana untuk menyelidiki,” ujar Giana.
Bersamaan dengan itu, proses video enhancement selesai. Giana menunda niatnya untuk pergi. Dia melihat rekaman CCTV yang berhasil kecerahannya berhasil ditingkatkan dan gambarnya dipertajam.
Setelah melalui proses enhancement, wajah pria mesum yang semula tidak terlalu terlihat, kini mulai jelas.
“Jadi ini muka si cowok mesum,” gumam Giana. “Masih muda ternyata. Paling umurnya dua puluhan, sepantaran sama kamu, lah.” Giana melihat Gilang.
“Kira-kira rudal lo, kecil kayak dia nggak?” tanya Pradipta tanpa saringan. Sontak wajah Gilang memerah. Pradipta dengan santainya melontarkan kalimat tersebut padahal ada Giana di antara mereka.
“Buset, Bang. Tuh lambe lemes amat. Sorry aja ya, punya gue udah pasti lebih besar,” jawab Gilang dengan sewot.
“Masa? Coba lo turunin celana lo, harus gue periksa biar nggak dikata hoax,” ceplos Pradipta.
“Kampret!” maki Gilang dengan wajah kesal, sedangkan Pradipta hanya tertawa.
Giana yang terjebak dalam percakapan absurd dua pria di dekatnya buru-buru meninggalkan kantor. Lebih baik dia pergi, menyelamatkan telinga dan pikiran polosnya.
Dengan menggunakan ojek online, Giana pergi ke The Taste. Setelah turun dari ojek online, Giana segera masuk ke dalam kedai.
Rupanya keberadaan The Taste sudah diketahui banyak orang. Baru empat bulan berdiri, kedai kopi ini sudah memiliki banyak pelanggan.
Setelah memesan kopi, Giana memilih meja di bagian sudut. Dia duduk di kursi yang menghadap ke arah pintu agar jadi bisa mengawasi setiap pengunjung yang datang.
Kemudian, matanya menangkap sosok pria yang sedang diselidiki Gilang. “Ruben,” gumam Giana.
***
Nah... Ruben salah satu pelaku, kah?
semoga neng Giana baik baik aja 🙏