NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Gaun Putih dan Bayang-Bayang Dusta

Suara dentang lonceng gereja di pinggiran kota Jakarta sore itu terdengar bagai dentuman lonceng kematian di telinga Naya.

Di dalam ruang rias yang bernuansa pastel lembut dengan aroma lili yang menyeruak tajam, Naya berdiri mematung di depan cermin berukir emas. Gaun pengantin berwarna putih bersih menjuntai hingga menyapu lantai marmer, berhiaskan ratusan kristal Swarovski yang memantulkan pendar cahaya lampu. Ia tampak sempurna—sesosok gadis cantik berwajah porselen dengan mata bulat yang menyimpan kelembutan tiada tara. Siapa pun yang melihatnya akan mengira ia adalah wanita paling bahagia di dunia.

Namun, di balik riasan tebal dan senyum yang dilatih berkali-kali di depan cermin, dada Naya terasa dihantam godam yang amat berat. Napasnya tercekat. Jemari tangannya yang mengenakan sarung tangan renda putih gemetar hebat saat meremas pinggiran meja rias.

“Kau tidak bisa terus berbohong, Naya. Suatu hari, kebohonganmu akan menelanmu bulat-bulat.”

Suara bisikan dari masa lalu itu kembali bergaung di kepalanya, menembus keheningan ruangan. Naya memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau lelehan air mata yang mengancam membasahi pipinya. Ia tidak boleh merusak riasan ini. Ia tidak boleh merusak hari paling penting dalam hidup Gavin—pria yang saat ini sedang menunggunya di depan altar.

Gavin Ardiansyah. Pria berparas tampan, bertubuh tegap, dengan sorot mata yang penuh kegigihan dan ketulusan. Pria yang memujanya seolah Naya adalah pusat dari seluruh alam semesta. Bagi Gavin, Naya adalah wanita paling suci, paling jujur, dan paling sempurna yang pernah dikirimkan Tuhan untuk mengisi kehampaan hidupnya.

Namun, Gavin tidak pernah tahu. Gavin sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang akan dinikahinya hari ini dibangun di atas fondasi kebohongan yang sangat tebal.

Naya memegang dadanya yang berdesir perih. Ketakutan. Itulah akar dari segala bencana dalam hidupnya. Sejak kecil, rasa takut telah menjadi racun yang menggerogoti jiwanya. Takut ditolak, takut tidak dicintai, takut ditinggalkan, dan takut menghadapi kenyataan pahit yang selalu mengintainya. Untuk melindungi dirinya dari kerasnya dunia, Naya menciptakan benteng berupa kebohongan-kebohongan kecil.

Kebohongan kecil yang lambat laun beranak-pinak menjadi monster yang amat besar dan tak terkendali.

Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Naya. Pintu kayu jati itu terbuka perlahan, menampilkan sosok sang ibu, Rina, yang mengenakan kebaya berwarna abu-abu anggun. Wajah Rina terlihat sembab, ada jejak air mata yang mengering di pipinya.

"Naya, Sayang..." suara Rina bergetar. Ia melangkah mendekati putrinya, memegang kedua bahu Naya yang terasa kaku. "Pemberkatan akan dimulai lima menit lagi. Gavin dan keluarganya sudah menunggu."

Naya menatap ibunya lewat pantulan cermin. "Ibu..." bisik Naya, suaranya tercekik di tenggorokan. "Apakah aku melakukan hal yang benar?"

Rina menghentikan gerakannya. Pandangan matanya menyiratkan kebingungan sekaligus rasa iba yang mendalam. Ia tahu betul trauma yang disimpan putrinya. Ia tahu betapa hancurnya Naya di masa lalu saat masa remajanya direnggut oleh pengkhianatan dan manipulasi orang-orang yang paling ia percayai. Trauma masa lalu itu meninggalkan luka bernanah yang tidak pernah benar-benar sembuh, membuat Naya tumbuh menjadi gadis yang selalu mengenakan topeng.

"Naya," Rina berbisik seraya mengelus lembut rambut putrinya yang tersanggul rapi. "Gavin pria yang sangat baik. Dia mencintaimu melebihi nyawanya sendiri. Buka hatimu untuknya. Biarkan dia menyembuhkan lukamu. Tinggalkan semua kebohongan dan rahasia itu di masa lalu. Hari ini, mulailah hidup yang baru."

Hidup yang baru? Naya tersenyum getir dalam hati. Bagaimana mungkin ia bisa memulai hidup baru jika takdir yang dijalaninya hari ini adalah hasil dari manipulasi kenyataan?

Gavin adalah seorang pria Kristen yang sangat taat. Agama dan keyakinannya adalah napas hidupnya, fondasi dari setiap langkah dan keputusan yang ia ambil. Ketika mereka pertama kali bertemu dua tahun lalu di sebuah pameran seni, Gavin jatuh cinta pada kelembutan Naya. Dan demi membuat Gavin tetap berada di sisinya—demi merasakan kasih sayang dari seorang pria yang begitu tulus di saat jiwanya hancur akibat luka patah hati yang teramat dalam—Naya berpura-pura.

Naya berpura-pura memiliki keyakinan yang sama. Ia berpura-pura memahami ayat-ayat yang kerap diucapkan Gavin, mengangguk pada setiap doa yang dipanjatkan pria itu, dan hadir di gereja setiap hari Minggu hanya untuk duduk di samping Gavin sambil memamerkan senyum palsu.

Naya adalah seorang Muslimah.

Sejak lahir, nama Allah adalah hal pertama yang dibisikkan di telinganya. Namun, rasa takut akan kehilangan Gavin memenjarakannya dalam dosa besar ini. Rasa takut ditinggalkan membuat Naya nekad memalsukan identitasnya, menyembunyikan kenyataan bahwa latar belakang keluarganya berbeda, hingga akhirnya berujung pada keputusan paling gila dalam hidupnya: memalsukan surat-surat pernikahan demi bisa berdiri di altar bersamanya.

Hari ini, di rumah Tuhan yang megah ini, Naya bukan hanya membohongi Gavin, tetapi juga membohongi Tuhannya. Ia melangkah menuju altar untuk mengubur dalam-dalam identitas aslinya, mengubur penyesalan yang kini mulai menggerogoti dinding hatinya hingga tak tersisa.

Musik organ tunggal berkumandang, melantunkan nada-nada mulia yang memenuhi setiap sudut gereja. Pintu utama yang megah terbuka lebar.

Seluruh hadirin berdiri, menoleh ke arah pintu. Naya melangkah perlahan di atas karpet merah, menggandeng lengan ayahnya yang berjalan dengan tubuh gemetar dan wajah tertunduk melankolis. Ayahnya tahu kebenarannya, namun beliau terlalu lemah untuk menghentikan kehendak Naya yang menangis histeris seminggu lalu, memohon agar pernikahan ini tetap dilangsungkan.

Di ujung lorong, berdiri Gavin.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam elegan dengan bunga mawar putih disematkan di dadanya. Saat matanya menangkap sosok Naya yang berjalan mendekat, air mata membasahi pipi Gavin. Pria tegap itu tidak mampu menahan harunya. Sorot matanya memancarkan obsesi dan pemujaan yang luar biasa murni. Bagi Gavin, Naya adalah malaikat yang dikirimkan langit untuk menyelamatkannya dari kegelapan masa lalu.

Naya menatap mata Gavin. Setiap langkah yang diayunkannya terasa seperti menginjak duri-duri tajam. Maafkan aku, Gavin... Maafkan aku... jerit hatinya seraya menahan derai air mata yang mulai menetes di balik selubung transparan (veil) yang menutupi wajahnya.

Ketika tangan Naya berpindah ke genggaman Gavin, hangat jemari pria itu justru terasa membackup dinginnya ketakutan Naya.

"Kamu sangat cantik, Naya. Sangat cantik," bisik Gavin penuh penekanan, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. Gavin mencium punggung tangan Naya dengan sangat lembut, seolah Naya adalah barang kaca yang sangat rapuh dan bisa pecah kapan saja.

Pendeta mulai membacakan ayat-ayat suci dan ikrar pernikahan. Suasana begitu sakral, begitu penuh khidmat. Namun di dalam dada Naya, terjadi peperangan dahsyat. Setiap kata "Amin" yang diucapkan para tamu undangan terasa bagai dentuman petir yang menyambar jiwanya. Penyesalan itu mulai merayap naik, mencekik lehernya hingga terasa sesak.

Ia harus mengubur rasa penyesalan ini. Ia harus belajar mencintai semua yang dicintai Gavin—termasuk agama, keyakinan, dan cara hidup pria ini. Sebab jika kebenaran ini terbongkar, tidak hanya pernikahan mereka yang hancur, tetapi juga jiwa Gavin yang begitu memujanya.

"Gavin Ardiansyah, apakah engkau bersedia menerima Naya Farasya sebagai istrimu yang sah, mencintainya dalam suka dan duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan?"

Gavin menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Naya. Tanpa ragu sedikit pun, dengan suara lantang dan penuh keyakinan, Gavin menjawab, "Ya, saya bersedia."

Pendeta beralih menatap Naya. "Naya Farasya, apakah engkau bersedia..."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Naya. Pandangannya samar. Di barisan kursi tamu paling belakang, sebuah bayangan pria berdiri dengan tenang. Pria yang sangat Naya kenali. Pria dari masa lalunya—alasan utama mengapa Naya memiliki trauma begitu mendalam, alasan mengapa Naya berpaling dan menciptakan kebohongan ini.

Pria itu tersenyum miring, menatap Naya dengan sorot mata penuh intrik dan kejam.

Rian.

Mantan kekasihnya yang dulu memanipulasi, menyelingkuhinya di depan matanya sendiri, dan menghancurkan rasa percaya Naya hingga berkeping-keping. Pria yang telah mengajari Naya bahwa kebenaran hanya akan menghasilkan rasa sakit, dan cinta adalah sebuah kebohongan yang dikemas rapi. Kehadiran Rian di sudut gereja itu seolah menegaskan bahwa masa lalu tidak akan pernah membiarkan Naya bebas.

"Naya?" tegur Pendeta pelan saat menyadari Naya terdiam cukup lama.

Gavin menggenggam tangan Naya lebih erat, menatapnya penuh rasa cemas. "Sayang? Kamu baik-baik saja?"

Naya menarik napas panjang, mengalihkan pandangannya dari sosok Rian di kejauhan. Air matanya menetes merembes kain veil. Dengan suara yang nyaris tak terdengar namun dipenuhi dengan keputusan tragis yang mengubah takdirnya selamanya, Naya bersuara.

"Ya... saya bersedia."

Tepuk tangan riuh membahana di dalam gereja. Pemberkatan selesai. Mereka resmi menjadi suami istri. Gavin menyibak veil Naya, menangkup kedua pipinya, dan mendaratkan sebuah ciuman hangat di dahi Naya.

Dalam pejam matanya saat dahi itu disentuh bibir Gavin, Naya berbisik dalam hati pada Sang Pencipta yang telah ia khianati: Tuhan... ampuni aku. Aku telah memilih jalan ini. Aku telah menukar takdirku dengan sebuah kebohongan yang mahal.

Malam harinya, pesta resepsi dilangsungkan di sebuah ballroom hotel berbintang lima yang disulap bagaikan hutan dongeng yang megah. Ribuan bunga segar memenuhi ruangan, aroma harum menyebar ke seluruh penjuru. Ratusan tamu dari kalangan atas hadir memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin baru itu.

Gavin tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Naya. Pria itu terus memperlakukannya bagai seorang ratu. Setiap kali ada rekan bisnis atau kerabat yang menyapa, Gavin dengan bangga memperkenalkannya.

"Ini Naya, istriku. Wanita paling berharga dalam hidupku," ucap Gavin berulang kali dengan binar mata yang penuh rasa bangga dan cinta yang teramat tebal. Pemujaan Gavin pada Naya terasa begitu nyata, begitu pekat, hingga hampir terasa mengintimidasi. Obsesi Gavin untuk memiliki dan melindungi Naya terlihat jelas dari bagaimana matanya tidak pernah lepas memandangi setiap inci wajah istrinya.

Naya hanya bisa tersenyum sipu, merespons setiap pujian dengan anggukan halus. Kehidupan manis yang dijanjikan Gavin ada di depan matanya. Pria ini bisa memberikannya segalanya: kemewahan, perlindungan, rasa aman, dan cinta yang melimpah—hal-hal yang tidak pernah ia dapatkan di masa lalunya yang kelam dan dipenuhi patah hati.

Namun, di balik semua kedamaian dan kehidupan manis yang mulai terbentang itu, ada racun yang merayap perlahan.

Saat malam semakin larut dan pesta mulai surut, Naya meminta izin pada Gavin untuk pergi ke kamar mandi guna membenahi gaunnya yang terasa berat. Gavin sempat melarang dan ingin mengantarnya, namun Naya meyakinkan suaminya bahwa ia hanya butuh waktu beberapa menit.

Naya berjalan menyusuri koridor hotel yang sepi dan remang-remang. Suara tumit sepatu tingginya bergema di sepanjang lorong. Saat ia hendak berbelok menuju area toilet wanita, sebuah tangan kekar tiba-tiba ditarik dari balik pilar, mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat dan menariknya ke dalam ruangan penyimpanan yang gelap!

Naya menjerit kaget, namun sebuah telapak tangan langsung membungkam mulutnya rapat-rapat.

"Ssshh... Ini aku, Naya. Jangan berteriak jika kau tidak ingin suci-mu itu melihatnya," bisik suara serak yang sangat menghantuinya.

Aroma parfum maskulin yang sangat dihafalkannya menyeruak. Naya mendelik lebar. Tubuhnya membeku saat punggungnya didorong ke dinding dingin. Ketika matanya terbias dengan kegelapan, sosok Rian berdiri sangat dekat dengannya. Pria yang pernah menghancurkan hatinya hingga tak berbekas itu kini menatapnya dengan senyuman iblis.

Naya menepis tangan Rian dari mulutnya kasar, suaranya bergetar menahan amarah dan ketakutan yang luar biasa. "Rian! Apa yang kau lakukan di sini?! Keluar! Jangan sentuh aku!"

Rian terkekeh pelan, sebuah kekehan dingin yang membuat bulu kuduk Naya berdiri. Ia melangkah maju, menghimpit tubuh Naya hingga wanita itu tidak bisa bergerak.

"Pengantin yang sangat cantik," bisik Rian di telinga Naya, membiarkan napas hangatnya menyapu kulit leher Naya yang terbuka. "Aku tidak menyangka, gadis lugu dan polos yang dulu menangis histeris saat kuselingkuhi, sekarang menjadi seorang pembohong kelas kakap."

"Cukup, Rian! Pergi!" Naya mendorong dada Rian, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun.

"Pergi?" Rian memiringkan kepalanya, menatap Naya dengan tatapan merendahkan. "Bagaimana bisa aku pergi setelah melihat pertunjukan luar biasa hari ini? Kau menikah di gereja, Naya? Kau? Seorang Naya Farasya yang dulu selalu membawa sajadah ke kampus? Kau menjual meyakinanmu hanya demi pria kaya seperti Gavin?"

"Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku!" air mata penyesalan dan kemarahan akhirnya menembus pertahanan Naya. Ia terisak pelan di dalam kegelapan. "Gavin mencintaiku! Dia tidak seperti kau yang pengkhianat dan penipu!"

"Tapi kau yang menipunya, Naya!" potong Rian dengan bisikan tajam bagai sembilu. "Kau membangkitkan pernikahan ini di atas kebohongan. Apakah Gavin tahu siapa kau sebenarnya? Apakah dia tahu trauma masa lalumu? Apakah dia tahu bahwa kau hanya melarikannya dariku karena kau takut sendirian?"

Rian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan menyentuhkannya ke pipi Naya yang basah oleh air mata.

"Di dalam amplop ini," kata Rian pelan, "ada seluruh dokumen aslimu. Kartu Keluarga, data diri aslimu, dan bukti bahwa kau telah memalsukan identitas keagamaanmu untuk mengelabui hukum dan gereja. Bagaimana jika aku memberikan ini pada Gavin malam ini juga? Sebagai hadiah pernikahan dari mantan kekasihmu?"

Darah di tubuh Naya serasa berhenti mengalir. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. Seluruh persendiannya lemas. Ketakutan paling mengerikan dalam hidupnya kini berdiri tepat di depannya, memegang kendali atas nasibnya.

"Jangan... aku mohon, Rian... jangan..." Naya merapatkan kedua telapak tangannya, bersimpuh di depan Rian dengan gaun pengantin mewahnya yang kini mengusap lantai kotor. Air matanya mengalir deras, membasahi kain gaun putihnya. "Aku mohon... jangan hancurkan hidupku. Gavin bisa gila... aku memohon padamu..."

Rian tersenyum puas melihat wanita yang dulu begitu angkuh kini berlutut di kakinya. Ia berjongkok, sejajar dengan wajah Naya, lalu membelai lembut dagu Naya.

"Aku tidak akan menghancurkannya sekarang, Naya," bisik Rian lembut, namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Kehidupan manismu baru saja dimulai, bukan? Aku ingin melihat sejauh mana kau bisa berpura-pura. Aku ingin melihat bagaimana kau mengubur rasa bersalahmu setiap kali kau berlutut berdoa bersama suamimu. Dan ingat..."

Rian mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di bibir Naya. "Mulai hari ini, kau berada di bawah kendaliku. Jika kau menolak satu saja keinginanku... amplop ini akan sampai ke tangan Gavin."

Rian bangkit berdiri, menepuk-nepuk jasnya, lalu melangkah keluar dari ruangan gelap itu tanpa menoleh lagi, meninggalkan Naya yang terpuruk sendirian di lantai dingin.

Isakan tangis Naya pecah di dalam kegelapan. Ia memeluk lututnya sendiri, meratapi takdir yang baru saja ia kunci. Gaun putih yang dikenakannya kini terasa seperti kain kafan yang membungkus jiwanya yang telah mati. Ia telah melangkah terlalu jauh ke dalam kegelapan kebohongan, dan kini jalan kembali telah tertutup rapat.

Beberapa saat kemudian, dengan sisa-sisa tenaga dan riasan yang berusaha dirapikan seadanya, Naya kembali ke ballroom. Pikirannya kosong. Langkah kakinya terasa berat bagaikan diseret.

Gavin berdiri di dekat pintu keluar, terlihat panik mencari keberadaannya. Begitu melihat Naya berjalan mendekat, wajah penuh kecemasan pria itu langsung berubah menjadi lega. Gavin berlari kecil menghampiri Naya dan langsung merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif.

"Naya! Dari mana saja kamu? Aku mencarimu ke mana-mana, Sayang," ujar Gavin seraya mengelus punggung Naya dengan penuh kasih sayang. "Tanganmu dingin sekali. Kamu sakit? Mau kita pulang sekarang?"

Dipeluk oleh Gavin—pria yang begitu tulus mencintainya namun baru saja ia khianati dengan menyembunyikan ancaman besar—membuat dada Naya semakin sesak oleh air mata pernikahan yang tak terbendung. Rasa bersalah menancap makin dalam di dadanya, bagaikan belati yang diputar perlahan.

Naya menengadah, menatap wajah tampan suaminya yang dipenuhi rasa khawatir. Naya memaksakan sebuah senyuman—kebohongan lain yang kembali ia cetak malam itu.

"Aku tidak apa-apa, Gavin. Cuma sedikit lelah," jawab Naya pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Gavin, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan.

Gavin merangkul pinggang Naya erat, membimbingnya berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka ke rumah baru mereka. Rumah yang seharusnya menjadi tempat awal kebahagiaan, kini terasa seperti sangkar emas yang dipenuhi misteri, obsesi, dan rahasia kelam.

Saat mobil melaju membelah malam Jakarta yang dingin, Naya menatap keluar jendela. Pendar cahaya lampu kota membias di kaca yang basah oleh sisa air matanya.

Pernikahan ini telah dimulai. Sebuah pernikahan yang lahir dari takut akan kegagalan, dibangun di atas fondasi cinta terlarang dan kebohongan besar, kini harus ia jalani dengan menyamar menjadi orang lain. Ia harus belajar mencintai jalan ini, mencintai keyakinan suaminya, dan menyembunyikan trauma masa lalunya, sambil terus berada di bawah bayang-bayang ancaman orang dari masa lalu yang siap menghancurkannya kapan saja.

Naya memejamkan mata, membiarkan air matanya menetes perlahan di atas pangkuannya. Ini adalah babak pertama dari kisah hidupnya—sebuah perjalanan panjang meniti kebohongan, air mata, dan pencarian atas arti kepercayaan yang sesungguhnya

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!