NovelToon NovelToon
Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.

Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Jalanan aspal yang dingin itu menjadi saksi bisu dari pertarungan yang sama sekali tidak seimbang.

Sembilan orang preman bertubuh kekar menerjang ke arah Jiang Chen secara bersamaan dengan senjata terhunus.

Mereka berteriak garang untuk menutupi rasa takut setelah melihat tiga teman mereka tumbang dalam hitungan detik.

Pipa besi, tongkat kayu, dan rantai baja berayun dari berbagai arah mengincar titik vital di tubuh Jiang Chen.

Namun bagi pemuda yang telah mewarisi pemahaman meridian tingkat dewa itu, gerakan mereka terlihat seperti tarian anak TK yang sangat lambat.

Jiang Chen tidak repot-repot menggunakan tenaga Qi murninya untuk melawan kroco jalanan seperti mereka.

Dia hanya mengandalkan refleks tubuhnya yang sudah diperkuat dan pengetahuan anatomi untuk mencari titik kelemahan musuh.

Wusss.

Sebuah pipa besi berkarat berayun secara horizontal mengincar kepala Jiang Chen.

Pemuda itu merunduk dengan sangat luwes, membiarkan pipa itu lewat tepat di atas rambutnya.

Di saat yang bersamaan, dua jari tangan kanan Jiang Chen melesat ke atas seperti patukan ular berbisa.

Tap.

Dua jari itu menekan kuat titik meridian di bawah ketiak preman pemegang pipa tersebut.

Preman itu langsung menjerit tertahan saat seluruh lengan kanannya mendadak mati rasa dan lumpuh seketika.

Trang.

Pipa besi itu jatuh terlepas dari genggamannya dan membentur aspal jalanan.

Sebelum preman itu sempat mundur, Jiang Chen sudah memutar tubuhnya dan melepaskan tendangan rendah.

Brak.

Tendangan itu menghantam tepat di persendian lutut preman tersebut, membuatnya langsung jatuh berlutut dengan suara tulang yang berderak.

Dua orang preman lain mencoba menyergap Jiang Chen dari arah belakang.

Mereka mengayunkan tongkat kayu tebal ke arah punggung pemuda yang terlihat lengah itu.

Namun Jiang Chen seolah memiliki mata di belakang kepalanya.

Dia menunduk tajam sambil memutar kakinya untuk melakukan sapuan bawah yang sangat bertenaga.

Srak.

Kedua preman itu langsung kehilangan pijakan dan jatuh telentang menghantam aspal dengan sangat keras.

Uhuk.

Mereka terbatuk hebat karena udara di paru-paru mereka terdorong paksa keluar akibat benturan tersebut.

Jiang Chen kembali berdiri tegak dan melesat ke tengah sisa kerumunan preman bagaikan hantu di malam hari.

Bugh bugh bugh.

Suara pukulan daging yang beradu terdengar sangat cepat dan beruntun memecah keheningan malam.

Setiap kali tangan Jiang Chen menyentuh tubuh lawannya, pasti ada satu preman yang tumbang sambil menjerit kesakitan.

Dia tidak memukul dengan tenaga kasar, melainkan menyumbat aliran darah dan titik saraf mereka dengan presisi ahli bedah.

Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, belasan preman yang tadinya terlihat mengerikan itu kini terkapar tak berdaya di jalanan.

Mereka berguling-guling memegangi lengan, perut, atau kaki mereka yang terasa lumpuh dan nyeri luar biasa.

Hanya tersisa satu orang yang masih berdiri dengan lutut bergetar hebat di tengah jalanan itu.

Pria botak dengan bekas luka di wajahnya itu kini terlihat sepucat mayat yang baru digali dari kuburan.

Jiang Chen berjalan santai mendekati bos preman itu sambil membersihkan debu dari kemejanya.

"Nah, Paman Botak, apakah sesi olahraga malam ini sudah cukup membuat kalian berkeringat?" goda Jiang Chen dengan senyuman yang sangat ramah.

Namun di mata pria botak itu, senyuman Jiang Chen terlihat jauh lebih mengerikan daripada seringai iblis dari neraka.

Prang.

Pria botak itu langsung menjatuhkan tongkat bisbolnya dan menjatuhkan dirinya berlutut di aspal.

"Ampun, Bos! Tolong ampuni nyawa anjing murahan ini!" ratap pria botak itu sambil bersujud menyentuh tanah.

"Kami sama sekali tidak tahu kalau Anda adalah seorang ahli bela diri tingkat tinggi!"

Jiang Chen mendengus pelan dan berjongkok tepat di depan wajah pria botak yang sedang ketakutan itu.

"Sudah kubilang aku sedang lapar, dan karena kalian menahanku di sini, rasa laparku bertambah dua kali lipat."

"Jadi menurutmu, bagaimana cara kalian membayar kerugian atas penundaan makan malamku ini?" tanya Jiang Chen dengan nada memeras.

Pria botak itu bukanlah preman kemarin sore, dia langsung paham arah pembicaraan pemuda mengerikan ini.

"Saya mengerti, Bos! Kami akan memberikan semua uang kami sebagai biaya ganti rugi makan malam Anda!"

Pria botak itu buru-buru merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet kulitnya yang tebal.

Dia mencabut semua lembaran uang merah dari dalamnya tanpa menyisakan sepeser pun.

"Hei kalian semua! Cepat kumpulkan semua uang di dompet kalian sekarang juga kalau masih mau hidup!" teriak pria botak itu kepada anak buahnya yang terkapar.

Para preman yang sedang kesakitan itu langsung panik merogoh saku mereka masing-masing.

Mereka dengan patuh menyerahkan semua uang tunai mereka dan mengumpulkannya di depan Jiang Chen.

Tumpukan uang kertas itu terlihat lumayan banyak, Jiang Chen menaksir jumlahnya mencapai belasan ribu Yuan.

"Wah, ternyata menjadi preman jalanan jauh lebih menguntungkan daripada menjadi dokter rumah sakit," gumam Jiang Chen dengan mata berbinar senang.

"Kalian membawa uang sebanyak ini di tengah malam, pasti baru saja memalak pedagang kaki lima kan?"

Pria botak itu hanya bisa menundukkan wajahnya karena tebakan Jiang Chen memang seratus persen benar.

"Totalnya ada sekitar lima belas ribu Yuan, Bos. Tolong terima ini sebagai permintaan maaf kami," ucap pria botak itu memelas.

Jiang Chen mengangguk puas dan mulai memungut tumpukan uang kertas tersebut dari atas aspal.

Namun karena tangannya tidak cukup besar untuk menggenggam semuanya, uang-uang itu berisiko jatuh berhamburan.

"Hei Paman, apa kau punya kantong untuk mewadahi semua uang ini?" tanya Jiang Chen menuntut.

"Saku celanaku sudah tidak muat lagi karena terlalu banyak isinya."

Pria botak itu kebingungan sejenak lalu menoleh ke arah salah satu anak buahnya yang berambut pirang.

"Cepat berikan kantong plastik yang kau bawa dari minimarket tadi!" bentak bos preman itu.

Preman berambut pirang itu buru-buru merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik yang sudah kusut.

Dia menyerahkannya kepada Jiang Chen dengan tangan gemetar.

Jiang Chen menerima kantong itu dan langsung membuka lipatannya untuk memasukkan uang.

Namun saat kantong itu terbuka, wajah Jiang Chen langsung berubah menjadi sangat masam dan penuh penyesalan.

Itu adalah kantong plastik transparan berwarna merah muda cerah bermotif bunga-bunga kecil.

Bentuk dan warnanya sama persis dengan kantong yang dia bawa saat membeli pembalut wanita beberapa jam yang lalu.

"Apa-apaan ini?! Kenapa kau membawa kantong merah muda norak seperti ini, hah?!" bentak Jiang Chen merasa harga dirinya dipermainkan lagi.

Preman pirang itu langsung menunduk ketakutan dan menjawab dengan suara gemetar.

"Ma, maaf Bos! Saya baru saja membeli permen untuk pacar saya dan minimarketnya hanya memberikan kantong edisi Valentine itu."

Jiang Chen meraup wajahnya dengan kasar, merasa takdir sedang sengaja mempermainkan warna merah muda bersamanya malam ini.

Tapi karena dia sangat membutuhkan wadah untuk uangnya, Jiang Chen terpaksa memasukkan belasan ribu Yuan itu ke dalam kantong tersebut.

"Kembalilah pada majikan kalian yang bernama Zhao Zhiming itu," perintah Jiang Chen sambil berdiri dan menenteng kantong plastiknya.

"Katakan padanya, kalau dia berani mengirim sampah lagi untuk menggangguku, aku akan datang langsung untuk merobohkan rumahnya."

Setelah memberikan ancaman mematikan itu, Jiang Chen berbalik dan berjalan santai meninggalkan lokasi pertarungan.

Pria botak dan belasan anak buahnya hanya bisa menatap punggung pemuda itu dengan napas lega karena lolos dari maut.

Mereka bersumpah tidak akan pernah mau lagi berurusan dengan monster berpenampilan gembel tersebut.

1
Abady Ehm
cerita sampah juga nih,.....
ARay
ini cowok mulutnya lemez banget, pake rok aja sekalian
syarif ibrahim
orang lugu cuman ada di komik dan novel saja🤭😄tidak ada di dunia ini🤭😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!