Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.
SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.
Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.
Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15: Kegelisahan Seorang Hendra
Malam harinya, kami dalam perjalanan pulang ke apartemen. Hendra yang sedang menyetir kelihatan sangat gelisah. Sedangkan Jefry hanya diam, ia seperti sedang menahan rasa sakit tidak biasa.
Menurut informasi dari Shinta, saat ini Jefry sedang kurang enak badan. Namun aku tak terlalu memperdulikan karena sikapnya masih arogan. Hal itu membuat empatiku hilang.
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba saja Hendra mengusulkan untuk mampir di warung makan pecel lele pinggir jalan.
“Kita makan dulu aja yuk? Gua lagi pengen makan bebek nih,” ujarnya.
Aku menduga kalau Hendra ingin mengisi perutnya agar bisa tidur dengan nyenyak setelah sampai di apartemen nanti.
“Tapi dibungkus aja kali ya, Bang? Kasihan Bang Jef, lagi nggak enak badan dia,” respon Shinta, kelihatan masih perhatian ke Jefry.
Hendra menolak, “Nggak enak kalo dibungkus, makan di situ aja bentaran.” Ia kemudian menoleh ke samping, “Lo nanti di mobil aja ya bang, punya lo nanti dibungkus.”
Dengan suara pelan, Jefry mengiyakan, “Aman bro. Gua tunggu sini.”
“Kalo gitu, gua nunggu di mobil juga ya,” sahut Shinta.
Namun lagi-lagi Hendra tidak mengizinkan. Ia berdalih kalau Shinta harus turun karena mengurusi soal pembayaran, “Gua males ah, nalanginnya. Yang kemaren-kemaren aja duit gua belum dirembes.”
Akhirnya kami bertiga turun, meninggalkan Jefry sendirian. Sesuai dengan keinginan Hendra yang ternyata ingin membicarakan tentang apartemen dan rencana ke depan.
Aku duduk di sebelah Hendra, sedangkan Shinta berada di hadapan kami.
“Shinta, jadi gini, gua langsung aja ya. Ini kita harus cepet ambil tindakan deh. Kalo dari kitanya nggak ngapa-ngapain, nanti makin repot lho,” kata Hendra mendadak mulai obrolan serius.
Tampak Shinta agak terkejut mendengar percakapan ini sama sekali tak ia duga. Alisnya mengerut, melirik ke arahku, seakan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, karena tahu kalau sebenarnya Shinta paham maksud Hendra, aku hanya diam, menunggu tanggapan lanjutan.
“Gua nggak tau juga sih, Bang. Jujur, masih bingung,” respon Shinta, bibir mulai menggigit ibu jarinya.
Dengan nada lebih tegas, Hendra menganggap kalau Jefry sudah melewati batas, “Lo bayangin aja, kondisinya udah begini. Film nggak jelas, kita diteror, pemasukkan belum ada, dia malah jadiin ini mainan. Kalo kalian mungkin masih bisa santai, nggak ada keluarga. Nah, gua sama Bagas, punya anak-istri, mana bisa gini terus.”
Aku merasa sangat terwakili dengan apa yang diucapkan oleh Hendra. Bagi kami, situasi seperti ini sangat sulit untuk dilalui, ketika posisinya kami membutuhkan penghasilan berupa uang.
Meskipun kehidupan kami di Bandung terpenuhi dengan baik, mulai dari makan, laundry, dan lainnya. Tapi semua tidak ada yang berbentuk uang secara langsung. Sedangkan aku dan Hendra harus memenuhi kebutuhan keluarga kami di Jakarta.
Yang dimaksud Hendra mengenai Shinta dan Jefry tidak memiliki keluarga, walau usianya sudah dewasa, tapi Shinta masih belum menikah, lalu Jefry merupakan seorang duda tanpa anak, hanya menikah kurang dari satu bulan.
Ia bercerai dari mantan istrinya tak lama setelah menikah. Tidak ada yang tahu apa alasannya.
Mobil sudah sampai di gerbang mesin parkir apartemen Spring Town. Aku menghembuskan nafas panjang. Mempersiapkan diri untuk apa yang akan terjadi malam ini.
Setibanya di basement, langkah terasa sangat berat, seakan tidak ingin melanjutkan.
“Bissmillah,” kataku dalam hati. Tapi juga langsung berpikir, apakah doaku berguna, ibadah-pun tak pernah.
Aku teringat, mungkin salah satu hikmah dari perjalanan ini, Hendra dan Shinta menjadi lebih taat beribadah. Mereka mulai menjalankan shalat lima waktu.
“Apakah aku juga akan melakukannya?”
Ketika merenungi itu semua, tak terasa kini aku sudah berada di depan lift apartemen.
Jefry terlihat sangat lunglai, bersandar ke dinding dekat pintu lift. Shinta berada di sebelahnya, membawa bungkus makanan milik Jefry.
Tapi hal yang tak terduga terjadi, begitu lift sampai di lantai satu, tiba-tiba saja angka digital berubah menjadi tulisan “E09”.
Pintu yang seharusnya terbuka, tetap menutup.
“Lah, kok nggak kebuka ya?” kataku. “Rusak?”
Karena posisinya paling dekat dengan pintu lift, Jefry berusaha untuk menekan beberapa tombol. Tidak ada perubahan, tulisan di sana masih menunjukkan “E09”.
Hendra mulai pesimis, “Duh, kenapa lagi ini?”
Aku langsung kepikiran untuk mencari Dayat. “Tunggu sini deh, gua coba cari satpam ya.”
“Gua ikut, Gas,” sahut Hendra, mungkin tidak ingin hanya diam menunggu.
Untungnya tak butuh waktu lama kami menemukan Dayat yang kebetulan sedang berjalan di dekat lobi.
“Kang, punten, kayaknya lift rusak deh,” kataku.
Bukan langsung menjawab, ia justru diam sebentar, seperti memikirkan sesuatu, entah apa.
“Kang?” sahutku lagi membangunkan ia dari lamunan.
“Eh, i-iya, mari kita lihat,” jawabnya dengan canggung.
Kami pun berjalan menuju lift. Tapi begitu sampai, Dayat hanya melihatnya tanpa mengatakan apapun. Ia kelihatan bingung, tidak mengerti.
Jefry yang memang sudah tidak kuat karena ingin beristirahat terlihat kesal. “Gimana, Pak? Kok malah bengong!”
“Saya mau istirahat nih!”
Mendengar nada bicara Jefry, mungkin dianggap terlalu keras, Dayat membalas dengan tidak ramah.
“Liftnya rusak, ini juga pasti gara-gara kalian. Saya baru bisa panggil teknisi, besok. Sekarang udah hampir tengah malam. Kalo mau naik, silahkan lewat tangga. Permisi!”
Ia kemudian menundukkan badan sedikit, lalu pergi begitu saja bahkan tanpa memperdulikanku. Sepertinya ia benar-benar marah kepada Jefry.
“Jadi gimana? Naik tangga nih?” tanya Hendra.
“Yang bener aja dong, masa naik tangga?” sahut Shinta panik.
Jefry masih berusaha untuk menekan tombol, lalu memukulnya dengan sisa tenaga yang ada. “Lift brengsek!”
Saat ini pikiranku masih terngiang dengan ucapan dari Dayat barusan. Ia mengatakan dengan tegas bahwa lift rusak karena kami. Kenapa?
Apakah karena kami tinggal di apartemen ini sehingga membuat lift menjadi rusak. Tapi kan bukan hanya kami yang menggunakannya.
Kami sempat berdiri di depan lift, seakan berharap pintu terbuka secara ajaib. Tapi rasanya tidak mungkin.
“Kita coba aja dulu gimana? Siapa tau nggak semenakutkan itu?” kataku mengajak mereka untuk melihat kondisi tangga apartemen.
Tapi Hendra sudah pesimis duluan, “Nggak mungkin biasa aja sih, Gas. Pasti ya, begitulah.”
“Apalagi kayaknya, feeling gua, penunggu apartemen sengaja bikin lift rusak, supaya kita lewat tangga itu.”
Yang tadinya aku merasa yakin untuk mencoba, langsung ciut karena ucapan Hendra.
Namun secara tak terduga, Jefry bangkit dari sandaran, menghembuskan nafas panjang. “Ayo, kita lihat dulu aja.”
Ia kemudian berjalan, Shinta refleks memegang tangan Jefry, membantu ia untuk menjaga keseimbangan.
“Lo yakin, Bang?” bisik Shinta tapi masih bisa kudengar.
Jefry tidak menjawabnya, ia tetap fokus melangkahkan kaki ke depan.
Hingga kami tiba ke sebuah pintu besar berwarna abu-abu yang bagian atasnya bertuliskan “Fire Exit”.
Kami berhenti sejenak di depan pintu tersebut, mempersiapkan mental. Selang beberapa saat, Hendra mendorong pintu itu dengan satu tangan, tapi tidak bisa terbuka.
Ia langsung mengerahkan kedua tangan serta badan untuk membuka, pintu pun berhasil dibuka dengan susah payah.
“Kayaknya pintu ini jarang dipake deh,” kataku.
Setelah terbuka, kami melihat tangga darurat pada umumnya yang dilengkapi dengan lampu cahaya terang.
Posisinya sekarang, Hendra menahan pintu agar tidak tertutup kembali. Jefry dibantu Shinta melangkah masuk ke dalam tangga darurat, aku menyusul di belakang.
“Tutup nih?” ucap Hendra memastikan setelah kami semua masuk seakan ia menduga kalau pintu ini tertutup, tidak ada jalan kembali.
Sempat saling lirik, Jefry menganggukan kepala pertanda mengizinkan Hendra melepaskan pintu yang kemudian langsung tertutup.
“Jeglek!”
Suaranya menggema terdengar seperti dentuman kuat, padahal Hendra menutup dengan pelan.
Jefry menaiki tangga dibantu oleh Shinta. Aku dan Hendra mengikuti dari belakang.
Tapi betapa terkejutnya kami karena begitu tangga berbelok, mengarah ke lantai dua. Gelap, tidak ada cahaya penerangan.
“Duh, gimana ini?” kata Shinta dengan suara bergetar.
Ia langsung mengusulkan untuk kembali keluar, tidak melanjutkan rencana.
“Bang, balik deh, nggak berani gua,” lanjutnya.
Merespons permintaan itu, Hendra langsung balik badan, menuju pintu darurat yang baru saja tertutup. Namun seperti yang ditakutkan, pintu itu tidak bisa terbuka.
“Nggak bisa dibuka,” ucap Hendra.
Aku ikut membantu, menarik bersama Hendra. Tapi pintu itu sama sekali tidak bergerak sedikitpun.
Shinta kelihatan semakin panik, “Bang, tunggu sebentar di sini ya.”
Ia berjalan menuruni tangga, menghampiri aku dan Hendra, ikut membantu.
Kami bertiga menarik pintu bersama-sama. Namun sayang sekali karena semua usaha hanya sia-sia.
Tiba-tiba saja, Shinta berteriak, “Tolong! Tolong!”
Suaranya seperti memantul dan berulang hingga terdengar ke lantai atas.
Kepanikan memuncak setelah kami baru menyadari bahwa Jefry sudah tidak ada. Ia menghilang, entah kemana.
“Bang Jef? Bang Jef nggak ada!” kataku memberitahu Shinta dan Hendra.
Kami langsung berjalan ke atas, mencari keberadaan Jefry. Berharap ia hanya sedang beristirahat di sisi tangga arah menuju lantai dua.
Tapi ternyata tidak demikian, Jefry benar-benar menghilang.
Saat berada di pertengahan antara lantai satu dan dua, kami saling lirik. Menyamakan persepsi bahwa Jefry pasti lewat tangga ini karena tidak ada jalan lain.
Dan yang paling kubenci, kami harus ikut naik.