NovelToon NovelToon
MENGHAPUS JEJAK

MENGHAPUS JEJAK

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan / Cinta Murni / PSK / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:166.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

S 2. Novel "Jejak Luka"
Lanjutan kisah 'rudapaksa yang dialami oleh seorang gadis bernama Enni bertahun-tahun.

Setelah berhasil meloloskan diri dari kekejaman seorang pria bernama Barry, Enni dibantu oleh beberapa orang baik untuk menyembuhkan luka psikis dan fisiknya di sebuah rumah sakit swasta.

"Mampukah Enni menghapus jejak trauma masa lalu dan berbahagia?"

Ikuti kisahnya di Novel "Menghapus Jejak"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia selalu. ❤️ U. 🤗


Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. MJ

...~•Happy Reading•~...

Mathias jadi ikut tertawa mendengar tawa Ambar. Ia yakin istrinya sedang tertawa membayangkan akibat ucapannya, jika dia ada bersamanya. Hatinya jadi menghangat mengingat kebersamaan mereka.

"Hahaha... Sabar, ya. By..." Mathias mengakhiri panggilannya, sebab waktu tidak memungkinkan untuk menanggapi ucapan Ambar yang pasti akan meluas dan panjang. Ia ingat Kirana sedang menunggu telpon darinya, jadi harus membagi waktu yang hanya sedikit.

Kemudian Mathias menghubungi Kirana. "Dek, aku bicara cepat, ya. Setelah ini tolong hubungi Ibu, lalu bicarakan kondisi Enni dengan Bu'de mu." Mathias berkata setelah Kirana merespon panggilannya.

"Baik, Mas. Siap." Kirana menjawab dengan cepat.

"Kita biarkan Enni tinggal di rumah Ibu saja, sebab ada kamar kosong di sana. Aku ngga bermaksud agar dia merawat Ibu, dia hanya menemani dan meramaikan rumah. Agar Ibu ngga terlalu sepi." Mathias berkata demikian, agar tidak ada salah paham antara Kirana dan Enni tentang usulannya. Seakan dia punya tujuan tertentu mengusulkan itu.

"Jadi tolong jelaskan pada Enni, dia tinggal di situ bukan untuk rawat Ibu yang sedang sakit. Dia hanya temani ngobrol jika Ibu dalam kondisi tenang dan bisa ngobrol."

"Ibu punya perawat khusus yang mengurus semua keperluannya. Jadi ngga usah khawatir. Nanti aku sudah tiba di situ, baru kita bicarakan lagi." Mathias menjelaskan dengan cepat yang bisa dijelaskan. Agar tidak jadi salah paham sebelum Enni tinggal di rumah Ibunya.

"Sekarang aku mau keluar lagi, dan sudah ngga bisa mandi." Mathias menggambarkan kondisinya, agar Kirana tidak bertanya atau membahas yang dia sampaikan.

"Makasih, Mas." Kirana mengerti maksud Mathias dan merasa lega. Enni bisa tinggal sementara dengan Ibu Mathias, sambil menunggu proses hukum yang akan dia jalani.

Kirana kembali masuk ke ruang perawatan Enni untuk bicara padanya. "Enni, kondisimu sudah bisa dibilang hampir pulih 100 %. Jadi sebentar lagi, kau sudah bisa keluar dari rumah sakit ini." Kirana mulai mengajak Enni bicara tentang rencana berikutnya.

Mendengar ucapan Kirana, sontak Enni melihat Kirana dengan wajah terkejut. Pupil matanya bergetar saat menatap Kirana yang sedang duduk di dekatnya. Apa yang dia takutkan, benar, akan terjadi. Dia tidak selamanya tinggal di rumah sakit. Waktu meninggalkan rumah sakit hampir tiba.

Banyak hal berputar di dalam kepalanya, mengingat dia akan tinggal di suatu tempat yang belum dia pikirkan. Rasa takut membuat wajahnya berubah dari cerah dan tiba-tiba mendung gelayut di wajahnya.

Kirana sengaja membuka percakapan dengan memberikan gambaran seperti itu, agar Enni bisa memilih yang baik jika diberikan pilihan. Kirana tidak akan memaksa, jika Enni sudah punya pilihan mau tinggal di mana.

Dia bicara dengan Mathias hanya untuk antisipasi, jika Enni belum punya pilihan tempat tinggal. Jadi Kirana bisa tawarkan pilihan untuknya, jika perlu.

"Apa kau sudah pikir mau tinggal di mana setelah keluar dari rumah sakit?" Tanya Kirana sambil memperhatikan Enni dengan serius. Enni tidak menjawab, tapi langsung menunduk lalu menggeleng pelan.

Melihat itu, Kirana menarik nafas lega. Enni belum memiliki tujuan tempat tinggal. "Kalau kau belum punya tempat tinggal, sementara kau mau tinggal dengan Ibu Pak Mathias?" Enni sontak melihat Kirana dengan mata yang sudah tergenang.

"Saya tidak bisa ajak kau tinggal di tempatku, sebab kau akan sendiri di sana. Saya lebih banyak di rumah sakit, bahkan tidur di ranjang pemeriksaan pasien." Kirana menjelaskan, agar Enni bisa mengerti. Mengapa ia tawarkan rumah Ibu Mathias.

"Trima kasih, dokter. Saya mau tinggal, jika diizinkan." Enni berkata pelan sambil mengatupkan tangan di dada dan air mata mengalir di pipinya. Dia tidak menyangka, sudah ada tempat tinggal sementara untuknya. Sebelum dia tahu akan tinggal di mana.

"Baik. Tapi saya mau berikan sedikit gambaran, sebelum Enni tinggal dengan Ibu Pak Mathias. Ibunya sedang sakit dan hanya duduk di kursi roda atau berbaring." Kirana menjelaskan kondisi Ibu Mathias dengan serius.

"Tapi kau diajak tinggal di sana bukan untuk merawat beliau. Mereka punya suster yang merawat dan mengurus semua keperluannya. Ada ART dan sopir untuk mengantar beliau, jika terjadi sesuatu."

"Jika beliau dalam kondisi baik dan bisa berbicara, mungkin kau bisa menemani ngobrol. Kalau beliau lebih banyak berbaring, kau bisa lakukan sesuatu yang kau suka."

"Biasanya istri Pak Mathias yang suka datang menemani ngobrol. Tapi sejak melahirkan, Ibu Pak Mathias melarangnya untuk sering datang berkunjung. Hanya pada akhir pekan atau hari libur, Pak Mathias membawa keluarganya mengunjungi beliau." Kirana terus menjelaskan.

"Dokter, ngga pa'pa, jika saya dizinkan bantu merawat Ibu Pak Mathias. Saya tidak mungkin hanya berdiam diri saja. Semoga saya diizinkan untuk membantu juga." Enni berkata sambil berurai air mata, berharap dia diberikan kesempatan untuk membalas kebaikan yang diterimanya.

"Nanti sudah di sana, baru lihat saja. Pak Mathias hanya berharap Ibunya tidak sepi di rumah, sebab beliau tidak mau dirawat di rumah sakit." Kirana bersyukur akan tanggapan dan respon Enni atas usulannya.

"Iya, Dok. Trima kasih." Enni berkata pelan sambil kedua tangannya tetap dikatupkan di dada.

"Baik. Kita tunggu pemeriksaan terakhir. Sekarang kau sudah bisa tenang. Ngga usah pikirkan tempat tinggal setelah pulang nanti." Kirana segera meninggalkan Enni untuk memeriksa pasien lainnya.

...~▪︎▪︎▪︎~...

Ke esokan harinya ; Enni sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil membaca buku setelah latihan berjalan mondar mandir dalam ruangan. Dia mulai bersemangat, agar lekas pulih. Supaya bisa lekas keluar dari rumah sakit.

Tiba-tiba pintu ruangannya di buka setelah bunyi ketukan satu kali di pintu. Ketika melihat siapa yang datang, Enni segera melepaskan buku di tangan lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Matanya membesar dan juga wajah memucat saat ada seorang pria masuk bersama seorang yang berseragam polisi. Dia terus melihat ada pria yang masuk ke ruangan dan menatapnya.

Tubuh Enni bergetar, sambil mundur hingga menyentuh sandaran tempat tidur. Dia terus melihat ketiga pria yang masuk sambil mencengkram selimut dengan erat.

Enni tidak memandang kepada pria yang hanya memegang kamera untuk membuat video. Dia lebih fokus kepada kedua pria yang berbicara, saling berbisik dan sesekali melihat ke arahnya.

Pria yang berseragam polisi berjalan untuk mendekati Enni untuk berbicara, tapi membuat Enni ketakutan. Dia mengambil bel di samping tempat tidur dengan tangan bergetar dan menekan berulang kali untuk memanggil tenaga medis.

"Jangan mendekaaaattt..." Teriak Enni histeris.

"Dokteeerrrr.... Susterrrr... Dokterrrr..." Teriak Enni berulang kali dengan wajah ketakutan dan air mata mulai mengalir, karena belum ada yang datang menolongnya.

"Anda yang bernama Enni Sriwedari?" Tanya pria berseragam polisi yang mendekati Enni. Tapi Enni tidak menjawab, dia tetap berteriak, histeris dan minta tolong.

"Susteeeerrrr...." Enni langsung berdiri dari ranjang lalu menarik tubuh suster untuk melindungi tubuhnya dengan tangan bergetar. Kemudian dia memeluk erat suster yang berusaha melindunginya.

"Tolooong, susteeerr... Tolooong." Enni menjerit histeris, dalam pelukan suster yang sudah memeluknya.

...~▪︎▪︎▪︎~...

...~●○¤○●~...

1
siapa saja
ini ceritanya bagus banget, penulisan bagus, emosinya tersampaikan, dan pesan atau moral dalam cerita juga bisa didapat.... sukses selalu author🙏
🍁Katrin❣️💋🄴🄰🅂🅃🄴🅁👻ᴸᴷ: Amin 🙏

Waaah.. 👍🏻❤️ Makasih dukungannya Kak. Smg selalu sehat & bahagia di mana pun berada 🙏😍🤗
total 1 replies
Sheety Saqdiyah
terimakasih banyak² buat author, yg telah menyajikan cerita yg bukan hanya sekedar menghibur saja, tp jg memberikan pesan² kehidupan yg luar biasa.. /Good//Good//Good//Good//Good/
🍁Katrin❣️💋🄴🄰🅂🅃🄴🅁👻ᴸᴷ: Waaaah . 🤭👍🏻❤️ Makasih dukungannya Kak. smg sehat & bahagia sllu. 🙏😍🤗
total 1 replies
Betty
bagus jg menguras air mata & emosi.
🍁Katrin❣️💋🄴🄰🅂🅃🄴🅁👻ᴸᴷ: wuaaaah 🤭👍🏻❤️
Makasih dukungannya Kak ..🙏😍🤗
total 1 replies
sukensri hardiati
/Pray//Ok//Good//Heart//Rose//Gift/
sukensri hardiati
alhamdulillah.....makasiiih...../Heart/
sukensri hardiati
/Sob//Sob//Heart/
sukensri hardiati
baru nemu ini setelah selesai baca kualitas mantan...
🍁Katrin❣️💋🄴🄰🅂🅃🄴🅁👻ᴸᴷ: Oh iya Kak. makasih dujungannya.🙏❤️😍🤗

itu novel lanjut dari "Jejak Luka" 🙏
total 1 replies
Agus Tina
Baguus sekali ceritanya ....serasa benar2 ikut dlm persidangan Enni
Gendhis
saking lama nya di sekap oleh berry, untuk di jadikan budak pemuas nafsu,
Gendhis
yuhhhhh🙈🙈🙈🙈 berfungsi lagi gak tuh joni nyaa 🤣🤣🤣
☠ႦαRAkudA
lanjuuut
☠ႦαRAkudA
berdoa lah, Krn usaha tanpa doa bagai sayur tanpa garam
☠ႦαRAkudA
semoga hari pembalasan buat si durjana segera tiba
☠ႦαRAkudA
cerdas sekali kau dokter..
☠ႦαRAkudA
bener2sadis yg nyiksa ya...sereem
☠ႦαRAkudA
kabur yg jauuuuh en, yang gak mungkin ditemukan oleh orang2 tak berhati itu
Bambut That
woiiiii.... keren thor... makasih banyak banyak ya thor... kisah nya buat ku meleleh
Bambut That
bisa meleleh dibuatnya
Bambut That
Emily jadian sama Bram saja
Bambut That
cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!