NovelToon NovelToon
[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Sistem
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Bintang Pury A.

Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.

Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 Di Bawah Satu Atap

Keheningan yang menyelimuti ruang tengah itu bukan keheningan biasa ia penuh, berat, dipenuhi ribuan hal yang tak terucap. Lucas berdiri tepat di ambang pintu, tangannya terkepal erat di sisi tubuh, matanya menyapu satu per satu wajah keluarga Margaretha seolah sedang mencatat setiap gerak, setiap ekspresi. Tidak ada senyum. Tidak ada salam. Hanya tatapan waspada, tajam, namun terselip kelelahan yang mendalam kelelahan yang sama persis dengan yang kulihat di wajah kakak-kakakku.

Aku melangkah mundur pelan, berdiri di samping Sophie, membiarkan mereka berhadapan tanpa penghalang. Daddy maju selangkah, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh jarang yang menunjukkan hormat sekaligus kesiapan.

“Terima kasih telah datang,” ucap Daddy pelan, suaranya tenang tanpa sedikit pun nada menantang. “Kami tidak akan membuang waktumu dengan kata-kata manis yang tidak bermakna. Kami tahu luka yang kau bawa belum kering. Dan kami tidak berharap kau langsung memaafkan.”

Lucas menatapnya lurus. “Lalu untuk apa aku di sini? Jika bukan untuk mendengar permohonan maaf yang tak berarti?”

“Untuk mendengar kebenaran,” jawab Daddy tegas namun lembut. “Tanpa penyembunyian. Tanpa pembelaan yang berlebihan.”

Daddy memberi isyarat. George melangkah maju pelan. Napasnya teratur namun berat, wajahnya pucat, matanya menatap lurus ke arah Lucas tanpa berpaling.

“Aku George,” suaranya rendah, jelas, tidak goyah. “Akulah yang menarik pelatuk itu.”

Lucas menegang seketika. Tangannya mengepal begitu kuat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia melangkah selangkah mendekat, napasnya terdengar berat. “Kau...”

“Aku tidak bermaksud membunuhnya,” lanjut George cepat, seakan takut kata-katanya terputus. “Saat itu di pelabuhan... kakakmu mengangkat senjatanya ke arah kakakku, Edward. Aku tidak berpikir. Aku hanya bereaksi. Aku ingin melindunginya. Tapi aku salah. Aku tahu itu tidak mengurangi apa pun. Nyawa kakakmu tidak bisa kembali.”

George berhenti, menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut namun penuh kepedihan.

“Aku tidak akan meminta maaf berulang kali seolah itu bisa memperbaiki semuanya. Aku hanya ingin kau tahu aku tidak melupakannya. Setiap malam aku melihat wajahnya. Dan aku menyesal sedalam-dalamnya. Seandainya aku bisa menukar tempat...” Suaranya pecah pelan. “Seandainya ada cara lain.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Lucas menatap George lama, sangat lama, seolah sedang mencari kebohongan di matanya namun tak menemukannya. Bibirnya bergerak, tapi tak ada kata yang keluar.

“Kakakku bukan orang jahat,” kata Lucas akhirnya, suaranya serak. “Ia keras kepala, keras hati, tapi ia ingin melindungi kami juga. Ia takut kalian akan mengambil alih tempat kami tumbuh, tempat ayah kami membangun dari nol.”

“Kami tidak bermaksud merampas apa pun,” jawab Daddy lembut. “Banyak kesalahpahaman yang menumpuk sebelum kami sadar. Dan kesalahpahaman itu berubah menjadi permusuhan, lalu menjadi pertumpahan darah.”

“Tapi darah sudah tumpah,” potong Lucas tajam. “Dan tidak ada yang bisa mengembalikannya.”

“Benar,” akui Daddy. “Tapi tidak harus ada darah lagi yang menyusulnya.”

Lucas memalingkan wajah, menatap ke arah perapian yang apinya menyala pelan. Bahunya turun sedikit, seolah beban yang ia pikul sendirian selama ini tiba-tiba terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian.

“Kau tahu apa yang paling menyakitkan?” ucapnya pelan, hampir berbisik. “Bukan kematiannya. Itu sudah terjadi, dan aku belajar menerima hal yang tak bisa diubah. Yang menyakitkan adalah... setelah ia pergi, aku sendirian. Tidak ada yang mendengarkan. Tidak ada yang bertanya bagaimana perasaanku. Semua orang hanya berkata balas dendam, Lucas, balas dendam seolah itu satu-satunya cara untuk mengingatnya.”

Aku melangkah maju pelan. “Karena mereka tidak tahu apa yang kau butuhkan. Mereka hanya tahu apa yang mereka inginkan.”

Lucas menoleh padaku, matanya berkaca-kaca namun air matanya tak jatuh. “Kau tidak mengerti betapa sepinya itu.”

“Kami mengerti,” suara Charlotte terdengar lembut dari belakang. “Kami takut itu akan terjadi pada salah satu dari kami. Itulah mengapa kami bertahan begitu keras. Itulah mengapa kami hampir menghancurkan segalanya karena takut kehilangan.”

Will mengangguk pelan. “Kami tumbuh dengan kepercayaan bahwa dunia di luar sana ingin melukai kami. Kami belajar memegang senjata sebelum kami belajar memegang tangan orang lain.”

“Dan itu menyakitkan kalian juga,” ucap Lucas pelan, seolah baru menyadarinya.

“Menyakitkan sekali,” jawab Edward jujur. “Terutama saat kami menyadari bahwa kami mulai melukai orang lain untuk melindungi diri kami sendiri.”

Lucas diam cukup lama, menatap wajah-wajah di sekelilingnya George yang menatapnya dengan penyesalan tulus, Edward yang tidak lagi tampak seperti musuh, Daddy yang tidak sombong, dan aku yang berdiri di sana tanpa senjata apa pun. Napasnya panjang, perlahan, seolah melepaskan sesuatu yang berat dari dadanya.

“Aku tidak bisa memaafkan George sekarang,” ucapnya pelan namun tegas. “Itu terlalu besar untuk diucapkan begitu saja. Dan aku tidak akan berpura-pura semuanya baik-baik saja.”

Ia berhenti, menatap kami satu per satu.

“Tapi aku juga tidak ingin membalas dendam. Bukan dengan cara yang akan membuat orang lain kehilangan keluarganya seperti aku kehilangan kakakku. Itu tidak akan mengembalikannya. Dan ia tidak akan bangga melihatku menjadi seperti mereka yang ia lawan.”

Ruangan itu hening sejenak, lalu perlahan terasa ringan seolah dinding tebal yang memisahkan kami selama ini mulai retak.

“Lalu apa yang bisa kami lakukan?” tanya Daddy lembut. “Apa yang bisa kami tawarkan untuk memulai memperbaiki ini?”

Lucas berpikir sejenak, lalu berkata pelan, “Biarkan aku yang menentukan. Jangan menawarkan uang seolah itu pengganti nyawanya. Jangan menjanjikan hal-hal yang tidak bisa kalian tepati. Beri aku waktu. Dan biarkan aku tahu... siapa sebenarnya kalian. Bukan nama yang ditakuti orang, tapi manusia di baliknya.”

“Kami akan menunggumu,” jawab Daddy mantap. “Selama yang kau butuhkan.”

Lucas mengangguk pelan, lalu melangkah mundur menuju pintu. Ia berhenti sesaat sebelum keluar, menoleh ke arah George.

“Aku belum bisa memaafkanmu,” ucapnya lagi, tegas dan jujur. “Tapi aku tidak akan memburumu.”

George mengangguk pelan, matanya basah. “Terima kasih. Aku akan berusaha menjadi orang yang pantas dimaafkan.”

Lucas keluar, menutup pintu perlahan di belakangnya. Kami semua berdiri diam, mendengar langkah kakinya menjauh, lalu suara pintu pagar tertutup. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada perayaan. Hanya napas panjang yang terdengar hampir bersamaan napas lega, namun juga napas kesadaran bahwa perjalanan ini masih panjang.

Daddy menatap kami semua, matanya berkaca-kaca. “Langkah pertama diambil. Tapi jangan pernah berpikir bahwa ini sudah selesai. Hubungan yang baru dimulai ini rapuh. Harus dijaga dengan kejujuran, kesabaran, dan kerendahan hati.”

Ia menatapku khususnya.

“Grace... kau melihat apa yang kami tidak lihat. Teruslah melihatnya. Dan ingatkan kami jika kami mulai berjalan kembali ke kegelapan.”

Malam itu kami tidur dengan perasaan yang belum pernah kami rasakan sebelumnya harapan. Bukan harapan yang naif, melainkan harapan yang keras, yang tahu betapa berat jalan yang harus ditempuh, namun tetap percaya bahwa jalan itu ada.

Aku tahu Lucas masih berjuang sendirian. Aku tahu keraguan masih ada di antara kami. Aku tahu musuh lama belum tentu diam. Tapi satu hal yang kupegang erat saat memejamkan mata.

Kami tidak lagi berhadapan. Kami kini berjalan ke arah yang sama menuju kedamaian yang sulit, namun mungkin.

...~ Bersambung ~...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!