NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Orang yang Jatuh dari Langit

Mpu Kalandara sadar menjelang subuh dengan kepala berdenyut dan lidah terasa seperti kulit sapi kering.

"Apa yang kuminum?" gumamnya, memejamkan mata ketika cahaya pelita menyilaukannya.

"Teh dari dayang yang melayani Mpu semalam," kata Wirabhaya, berdiri bersedekap di dekat pintu. "Dayang itu sudah ditangkap. Dia mengaku Ki Wasista menyuruhnya menambahkan sesuatu ke dalam teh. Dia mengira itu hanya obat tidur."

"Aku terlalu percaya." Mpu Kalandara mengerang dan bersandar. "Dua puluh satu tahun hidup dalam istana, dan aku masih bisa dibodohi oleh segelas teh."

Raka duduk di tepi dipan, menatap lantai. Kertas putih dengan tulisan tangan Hendar sudah ia lipat dan simpan di saku, tapi isinya terus terngiang. Terima kasih, Rak. Seakan jebakan yang ia susun dengan hati-hati tadi malam memang dirancang Hendar sendiri.

"Ini salah saya," katanya pelan.

"Tidak." Mpu Kalandara membuka satu matanya. "Jangan mulai."

"Saya yang menyarankan jebakan itu. Kalau saya tidak..."

"Kalau kau tidak, Wasista akan tetap menyelundupkan seseorang masuk dan Hendar tetap mengambil bata itu dengan cara lain. Kau tidak menyebabkan ini, Nak." Suara Mpu pelan tapi tegas. "Kau memasang jebakan yang benar. Hanya saja, dia memasang jebakan di atas jebakanmu. Itu kecerdikan, bukan kegagalanmu."

"Itu tidak membuat saya lebih tenang."

"Aku tidak bermaksud menenangkanmu. Aku bermaksud meluruskanmu." Mpu mencoba duduk dan mendesis kesakitan. "Sekarang bantu aku berdiri dan bawa aku ke Mahapatih. Kita punya banyak yang harus dibicarakan."

Pagi itu, balai kepatihan dipenuhi suasana tegang. Gajah Mada duduk di meja panjangnya dengan wajah sekeras batu, tangannya mengetuk-ngetuk permukaan kayu. Hayam Wuruk duduk di sampingnya, kali ini mengenakan pakaian raja lengkap, wajahnya pucat tapi tegak. Rajadewi hadir bersama Sekar, dan Anggada berdiri di sudut ruangan, menunduk, menunggu keputusan tentang nasibnya.

"Hendar sudah ditetapkan sebagai buronan kerajaan," kata Gajah Mada tanpa pembukaan. "Secara resmi, dia dituduh mencuri harta karun istana dan melakukan sihir hitam. Itu cukup untuk membuat seluruh prajurit memburunya tanpa perlu menjelaskan yang sebenarnya."

"Dan Ki Wasista?" tanya Wirabhaya.

"Dia berbicara. Tidak banyak, tapi cukup." Gajah Mada menatap Mpu Kalandara. "Hendar pernah berkata padanya bahwa ia akan kembali ke tempat semuanya dimulai."

Hening sejenak.

"Beringin di Kalimati," kata Mpu Kalandara pelan.

"Tempat Raka tiba pertama kali," tambah Sekar.

"Tempat kau tiba, Kalandara, dua puluh satu tahun lalu." Gajah Mada mengangguk. "Aku curiga itulah titik gerbang yang sebenarnya. Tungku di Sidowayah hanya pemicu awal. Pintu yang permanen ada di sana."

"Itu masuk akal." Mpu Kalandara mengusap dahinya. "Gerbang buatan itu hanya memantulkan getaran dari gerbang yang asli. Tapi untuk membuka yang asli, Hendar masih butuh tiga hal: bata, cincin, dan seseorang yang gerbang itu pilih."

"Dia punya dua dari tiga," kata Wirabhaya.

"Dan dia akan datang untuk yang ketiga." Mpu menatap Raka dan Sekar. "Entah satu, entah dua orang. Karena itu, kalian berdua tidak boleh meninggalkan perlindungan istana."

"Jadi kita menunggu?" tanya Raka, tak bisa menyembunyikan frustrasi.

"Kita bersiap." Gajah Mada berdiri dan berjalan ke jendela. "Tiga puluh empat hari. Aku akan mengirim orang ke sekitar Kalimati. Mengawasi tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan kita tunggu sampai dia menunjukkan dirinya."

"Kalau dia tahu kita menunggu," kata Raka, "dia tidak akan datang sampai hari terakhir."

"Itu justru keuntungan kita. Selama dia menunggu, kita punya waktu untuk menyusun sesuatu yang lebih baik daripada sekadar menjaga." Gajah Mada menoleh, dan di matanya ada kilatan tajam. "Dan aku berencana memakai waktu itu dengan bijak."

Malam itu, Raka tidak bisa tidur lagi.

Ia berjalan menyusuri serambi kepatihan, menghirup udara malam yang dingin, dan akhirnya duduk di tepi kolam kecil di taman belakang. Bulan sabit memantul di permukaan air. Katak-katak berderik pelan di antara rerumputan.

"Kau juga tidak bisa tidur."

Raka menoleh. Sekar berdiri di jalan setapak, mengenakan kain tidur sederhana yang dipinjamkan Rajadewi, rambutnya tergerai. Ia tampak berbeda tanpa gelungan dan kain cokelat kasar: lebih halus, lebih rapuh, tapi matanya tetap sama.

"Tidak," kata Raka. "Kau?"

"Terlalu banyak hal." Sekar duduk di sampingnya, menjaga jarak sehasta seperti biasa. "Baru kemarin aku orang desa yang mengumpulkan daun obat. Sekarang aku punya bibi, sepupu raja, dan seorang pencuri dari masa depan yang menginginkan nyawaku."

"Dan masih ada seorang juru tulis yang tak bisa menunggang kuda."

Sekar tertawa pelan. "Itu bagian terbaiknya."

Hening sejenak. Angin malam membawa aroma melati.

"Raka," kata Sekar tiba-tiba. "Malam di tungku itu. Waktu gerbang terbuka."

Raka menegang.

"Aku melihatmu. Kau menatap gang itu seperti orang yang baru menemukan air setelah seminggu di gurun." Suaranya tenang, tapi matanya menatap kolam. "Aku tahu kau ingin pergi. Dan aku sungguh-sungguh waktu aku bilang kau boleh."

"Aku tahu."

"Kenapa kau tidak pergi?"

Raka memikirkan jawaban itu lama sekali. Ia memikirkan ibunya, memikirkan rumahnya, memikirkan segala yang ia tinggalkan. Lalu ia memikirkan wajah Sekar di bawah cahaya obor, dengan tali yang baru dipotong dari pergelangan tangannya.

"Karena aku tidak mau menjadi orang yang pergi," katanya akhirnya. "Aku tidak mau pulang dengan membawa rasa bersalah seumur hidup."

"Itu bukan jawaban sebenarnya."

"Itu salah satu jawaban."

"Dan yang lainnya?"

Raka tersenyum samar. Ia tak menjawab. Sekar menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke bulan, dan Raka bisa melihat ujung telinganya sedikit memerah dalam cahaya redup.

"Kau menyebalkan," gumamnya.

"Aku tahu."

"Tapi terima kasih."

Raka merogoh sakunya dan mengeluarkan sapu tangan bersulam bunga lima kelopak. Ia menyodorkannya. "Ini milikmu. Aku kira sudah saatnya dikembalikan."

Sekar menatapnya, lalu menggeleng. "Simpan. Kain itu sudah membawamu sejauh ini."

"Tapi itu dari ibumu."

"Dari Ibu Lastri. Dan dia pasti ingin kau menyimpannya." Ia tersenyum, kali ini lebih lembut. "Kalau kau ingin mengembalikannya, lakukan saat semua ini selesai."

Raka menyimpan sapu tangan itu kembali ke saku, dan untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Hanya suara katak, dan sesekali riak air saat seekor ikan melompat.

Subuh menyingsing dengan teriakan.

Raka terbangun dari tidur singkat di dipan kayu biliknya, jantung berdegup kencang. Suara itu datang dari gerbang kepatihan, suara anak lelaki yang berteriak-teriak dengan napas terengah-engah, dan suara prajurit yang berusaha menahannya.

"Biarkan aku masuk! Aku harus bertemu Mpu! Aku harus bertemu Kang Raka!"

Raka melompat bangkit dan berlari ke halaman. Di gerbang, dua prajurit mencoba menahan seorang anak kurus bermuka gosong dan penuh lumpur, yang meronta-ronta seperti ikan baru ditangkap.

"Gandra?"

Anak itu menoleh dan matanya melebar. "Kang Raka!"

Ia lolos dari cengkeraman para prajurit dan menabrak Raka dengan seluruh kekuatan tubuh kecilnya, hampir menjatuhkannya. Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar, dan jelas ia telah berlari dan menumpang gerobak selama tiga hari tiga malam tanpa berhenti.

"Kau seharusnya menjaga pertapaan," kata Raka, setengah bingung setengah khawatir.

"Aku... aku..." Gandra menelan ludah. "Ada yang jatuh dari langit, Kang. Empat malam lalu. Di bawah beringin Kalimati."

Raka merasakan seluruh tubuhnya membeku.

"Seorang perempuan," lanjut Gandra, matanya liar. "Berbaju aneh. Seperti pakaianmu waktu pertama datang. Dia pingsan, tapi waktu aku merawatnya, dia mengigau memanggil sebuah nama."

"Nama siapa?"

Gandra menatapnya lurus.

"Namamu, Kang. Dia terus memanggil: Mas Raka."

1
mimief
berarti...jalan nya waktu sama disana dengan yg disini
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
mimief
cemburu dia rak..
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
mimief
wah....siapa kah itu?
Kam1la
tuntutan sama dengan syarat...
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!