Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Siapa Sebenarnya Kamu?
Daffa refleks melepaskan cengkeramannya di kedua pundak Aura hingga tubuh perempuan yang lemas itu jatuh tersungkur, tak sadarkan diri di atas lantai.
"Aura!"
Pekikan bernada cemas itu berasal dari Darrel. Pria itu langsung menerobos masuk, merengkuh tubuh Aura yang terkulai di ambang pintu. Sementara Daffa hanya berdiri mematung dengan kepanikan yang berusaha ia tutupi.
Sambil menahan kepala Aura agar tak membentur lantai, Darrel mendongak, menatap kakaknya dengan tatapan tajam dan penuh permusuhan.
"Ngapain tengah malam di apartemen Aura?" tanya Darrel dingin.
Namun, Daffa terlihat mengalihkan pandangannya dengan kedua tangan dilipat. Enggan menunggu jawaban dari Daffa, ia menyusupkan tangannya ke bawah lutut dan punggung Aura, menggendong tubuh wanita itu masuk ke dalam.
Langkah kaki Darrel sempat terhenti sesaat saat matanya menangkap gunungan dress seksi yang berserakan di dekat pintu kamar. Dengan kening berkerut bingung, ia melangkahi tumpukan itu dengan hati-hati lalu membaringkan tubuh Aura perlahan di atas kasur.
"Berantakan sekali tempat ini..." gumam Darrel lirih.
Daffa berjalan menyusul, bersandar santai di bingkai pintu kamar Aura seraya bersedekah tangan. "Saya cuma mau memastikan dia ingat komitmennya sebagai penulis. Naskahnya bakal terbit kurang dari seminggu dan—"
"Dan kenapa harus repot-repot menemuinya tengah malam begini?" potong Darrel cepat. Ia berbalik dan melangkah mendekati Daffa.
"Karena dia penting buat proyek ini! Kalau penulisnya mundur atau berulah, proyek kita gagal, Darrel!" kilah Daffa, mencoba menggunakan alasan profesional.
Darrel tertawa sinis, maju satu langkah memangkas jarak dengan kakaknya. "Yang mengurusi proyek adaptasi ini aku. Kakak cuma perlu duduk manis dan tanda tangan."
"Lalu kamu sendiri ngapain ke sini tengah malam?!" sergah Daffa tak mau kalah, matanya mengilat marah. "Dan parahnya lagi, kamu menyatakan di depan media dan Kakek kalau dia calon istrimu! Gila ya... Kakek tidak akan pernah merestui calon menantu dari kalangan biasa yang tidak punya nama seperti dia!"
Suasana malam itu kian memanas. Perdebatan sengit dua bersaudara Gorge itu membakar keheningan apartemen. Saling tuduh dan saling curiga mengudara di antara mereka.
Namun, di tengah adu argumen yang kian memuncak, suara langkah kaki terdengar dari dalam kamar. Pelan, berirama santai, dan penuh percaya diri—seketika menghentikan perdebatan mereka.
Keduanya refleks menoleh ke arah pintu kamar.
Aura berdiri di sana. Namun, tatapan matanya jauh lebih segar dan tajam, tanpa jejak kacamata tipis yang biasanya bertengger. Rambut panjangnya diikat asal ke atas, dan piyama sopannya kini sudah terlepas dua kancing atasnya, memperlihatkan jenjang lehernya dengan berani.
"Daffa...?" gumam perempuan itu, menatap Daffa dengan senyum tipis penuh makna.
Darrel menatap Aura dan Daffa bergantian. Keningnya berkerut dalam, bingung mengapa Aura memanggil kakaknya dengan nada seakrab dan seberani itu.
Daffa yang menyadari ada hal aneh itu mendadak berkeringat dingin.
"Aku... aku pamit pulang dulu. Jaga kesehatanmu demi proyek yang sedang kita jalankan," ujar Daffa cepat dengan raut panik yang tak bisa disembunyikan. Ia buru-buru memutar badan dan bergegas keluar dari apartemen sebelum rahasianya hancur malam ini juga.
Sepeninggal Daffa, Darrel melangkah mendekati perempuan itu. "Aura... kamu sudah tidak apa-apa?"
Perempuan itu menatap Darrel sejenak dengan dahi terangkat, lalu detik berikutnya, sebuah senyuman baru terulas di bibirnya. Senyuman yang asing, liar, dan sama sekali tidak mencerminkan sosok Aura Clarissa yang polos.
Jiwa Clara telah menguasai sepenuhnya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Clara, suaranya terdengar lebih santai, dalam, dan mengintimidasi.
Darrel refleks mundur selangkah. Ia mendadak sadar ada perubahan drastis pada nada suara dan pembawaan wanita di depannya.
Clara maju satu langkah, menyamakan posisinya dengan Darrel. Ia tersenyum menatap pria yang mendadak kaku itu. Darrel masih terguncang oleh perubahan kilat ini. Ia seolah sedang berhadapan dengan dua manusia yang sama sekali berbeda dalam satu tubuh.
Dengan gerakan cepat dan luwes, jemari Clara meraih kerah kemeja hitam Darrel, menariknya kasar hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
"Kenapa ya... setiap kali ngeliat kamu, aku kaya ngerasa harus memiliki kamu?" bisik Clara tepat di depan bibir Darrel.
Kedua lengan Clara merayap naik, melingkar erat di leher tegap Darrel. Pria itu berusaha menghempaskan tangan Clara, namun kuncian wanita itu justru makin erat.
"Jangan nolak," bisik Clara dengan tawa pelan yang menggoda. "Kamu udah masuk ke dalam sangkar."
"Kamu ini siapa sebenarnya?! Aura, lepaskan saya!" tegas Darrel berusaha menguasai diri.
Bukannya melepaskan, Clara justru berjinjit. Ia memiringkan wajahnya, lalu menempelkan bibirnya di atas bibir Darrel. Rasa terkejut membuat Darrel sempat membeku. Melihat reaksi pasif pria itu, Clara tersenyum tipis, lalu melumat bibir Darrel dengan panas dan menuntut, mengabsen tiap sudut bibirnya tanpa memberi ruang untuk bernapas.
Sensasi sengatan itu membuat jantung Darrel berdegup kencang hingga akhirnya ia berhasil mendorong bahu Clara mundur. Napas Darrel tersengal, dadanya naik turun akibat ciuman impulsif tersebut.
Clara menyeka sudut bibirnya dengan ibu jari, menatap Darrel dengan kilat mata seolah sedang ingin memangsa seseorang.
"Come on, Baby..." goda Clara pelan.