Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-19 Merasa Terganggu
Selesai makan siang, Damian kembali ke ruangannya. Langkahnya tenang seperti biasa, tapi pikirannya tidak sepenuhnya fokus. Begitu pintu ruangan tertutup rapat, ia melepaskan jas dokternya dan duduk di kursi, menatap layar komputer yang masih menyala sejak pagi.
Namun, bukan grafik hasil CT scan yang memenuhi pikirannya—melainkan kata-kata Reza tadi.
“Ada satu pelayannya, namanya Amora… Senyumnya tuh nyegerin banget.”
Damian menghela napas panjang dan menyandarkan punggung ke kursi. Wajahnya datar, tapi ada satu kerutan samar di antara alisnya. Ia merasa terusik—entah kenapa. Reza memang sering membual, tapi kali ini ucapannya meninggalkan jejak yang sulit diabaikan.
Damian mencoba mengesampingkan rasa itu. Ia tidak suka ikut campur urusan pribadi orang lain, apalagi wanita yang baru ia temui beberapa kali. Namun, sejak Reza menyebut nama itu, pikirannya tak bisa kembali jernih.
Kenapa harus Amora?
Ia bertanya dalam hati. Bukan karena ia menyukai gadis itu—bukan. Tapi mungkin karena… entahlah. Ia hanya tak ingin wajah polos dan suara ceria itu terseret dalam dunia main-main anak muda seperti Reza.
“Fokus, Damian,” gumamnya pelan, lalu memaksa dirinya menatap layar komputer.
Namun tetap saja, untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, Damian merasa pikirannya goyah… oleh seorang pelayan kafe bernama Amora.
*******
Amora melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul satu siang, dan ia tahu itu berarti Azka sebentar lagi pulang sekolah. Ia buru-buru menghampiri manajer shift-nya dan meminta izin.
“Mas, aku izin sebentar ya, jemput adikku. Nggak lama kok, nanti langsung balik ke sini,” katanya sopan.
Fajar, sang manajer, mengangguk santai. “Iya, Mor. Tapi jangan kelamaan, ya. Jam dua mulai rame.”
“Siap, Mas!” jawab Amora sambil tersenyum lebar, lalu cepat-cepat melepas apron dan melangkah keluar dari kafe yang letaknya memang hanya selemparan batu dari sekolah Azka.
Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri di gerbang sekolah, melambai saat melihat bocah laki-laki berambut sedikit acak dengan tas ransel kebesaran berjalan keluar dengan langkah ceria.
“Kakaaa!” seru Azka, wajahnya bersinar.
Amora tertawa, membungkuk sedikit dan merentangkan tangan. Azka langsung memeluknya.
“Gimana sekolahnya?” tanya Amora sambil membetulkan letak tali ransel adiknya.
“Seru! Tapi aku pengen ikut kakak ke kafe, boleh nggak?”
Amora mengangkat alis. “Ngapain? Kamu nggak capek?”
Azka menggeleng keras. “Aku pengen nemenin kakak kerja. Duduk aja nggak apa-apa. Aku bawa buku gambar, nanti gambar di pojokan. Janji nggak ganggu.”
Amora terdiam sejenak. Melihat wajah penuh harap itu, ia tak tega menolak. “Oke deh, tapi kamu harus janji nggak keluyuran, ya.”
“Siap, Kakak!” Azka mengepalkan tangan penuh semangat.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan mengendarai motor butut. Hati Amora hangat. Sekalipun hidup mereka penuh perjuangan, kebersamaan sederhana seperti ini membuat semuanya terasa ringan. Ia tahu diri, tahu batas. Dan Amora, selalu merasa bersyukur punya adik seperti dia.
Setibanya di kafe, Amora meminta izin sekali lagi untuk membawa Azka duduk di bangku pojok yang biasa dipakai pelanggan. Ia memberinya satu cup es teh manis kecil untuk melepas dahaga.
“Kerja yang semangat ya, Kak!” seru Azka sambil memberikan senyum lebarnya.
Amora tersenyum, merasa harinya menjadi jauh lebih berwarna hanya karena satu hal, Azka bahagia.