"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Ruang Keluarga
Suara dengung mesin motor matik merah milik Zahira akhirnya padam saat standar samping terpasang di pelataran rumah bergaya modern-minimalis itu.
Tubuhnya terasa lelah luar biasa. Ketegangan di lantai 8 gedung Mersi Corporation perang dinginnya dengan Bu Imelda hingga audit mendadak yang memeras otak benar-benar menguras energinya.
Zahira menghela napas panjang, merapikan blazer terakotanya yang mulai sedikit kusut, lalu melangkah menuju pintu utama. Rumah yang seharusnya menjadi tempat melepaskan lelah itu justru menyambutnya dengan atmosfer dingin yang selalu menekan.
Baru saja kakinya menyentuh anak tangga pertama menuju kamarnya di lantai atas, sebuah suara yang terpatri tegas dan sarat nada pamer menghentikan langkahnya.
"Bagus ya, jam segini baru pulang. Sok sibuk banget jadi karyawan baru."
Zahira memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa kesabarannya sebelum berbalik. Di ruang keluarga, Karlina ibu tirinya sedang duduk anggun di sofa kulit, memangku laptop sembari menikmati teh hangat. Di sebelahnya, Bianka tampak sibuk memoles kuku dengan senyum miring yang menghiasi bibirnya.
"Zahira baru selesai urusan kantor, Mih," jawab Zahira datar, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
Karlina terkekeh sinis, meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan dengan denting nyaring.
"Karyawan biasa aja belagaknya setengah mati. Kamu harusnya tiru tuh Bianka, adikmu. Enggak perlu kepanasan naik motor, enggak perlu ngemis-ngemis jabatan di perusahaan papi."
Bianka mengibaskan rambutnya yang terurai indah, sengaja melirik Zahira dengan tatapan meremehkan.
"Mami apaan sih, kasihan kak Zahira. Lagian beda kelas lah, Mih. Aku baru aja tanda tangan kontrak jadi Brand Ambassador utama buat produk skincare internasional terkemuka. Nilai kontraknya? Mungil kok, cuma ratusan juta buat enam bulan pertama."
Karlina tersenyum puas, melipat tangan di dada sembari menatap Zahira dari atas ke bawah.
"Denger kan, Zahira? Biar kamu tahu ya, bukan cuma kamu yang bisa kerja atau pamer penghasilan di rumah ini. Bianka bahkan punya pekerjaan yang jauh lebih waw, jauh lebih terpandang daripada cuma jadi staf akuntansi yang bolak-balik kepanasan naik motor matik!"
Zahira menatap kedua perempuan di hadapannya. Lelah di kepalanya terlalu berat untuk melayani drama pamer yang kekanak-kanakan ini.
"Selamat kalau begitu buat Bianka. Semoga kontraknya lancar," tanggap Zahira singkat, berniat kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Namun, sikap acuh Zahira justru memancing amarah Karlina. Wanita itu berdiri mendadak, menatap Zahira dengan tatapan tajam berapi-api.
"Berhentikan dulu, Zahira!" gertak Karlina, suaranya meninggi memantul di dinding lorong tangga. "Sikap kamu itu makin hari makin tidak ada sopan-santunnya ya! Kamu pikir karena kamu sudah jadi staf keuangan di perusahaan papi, kamu bisa sewenang-wenang di rumah ini?!"
Zahira menghentikan langkah, memegang erat pegangan tangga kayu tanpa berbalik.
"Ingat posisi kamu di rumah ini!" lanjut Karlina dengan nada menekan yang menusuk. "Kamu itu cuma anak tiri! Anak yang saya urus dan saya beri makan dari kecil setelah ibu kamu enggak ada! Tanpa saya yang sudi nampung dan ngurus kamu di rumah ini, kamu enggak bakal bisa berdiri sok gagah kayak sekarang. Jangan mentang-mentang kerja di perusahaan besar, kamu bisa pandang rendah saya dan Bianka!"
Kata-kata itu bagai sembilu lama yang kembali digoreskan di luka yang sama. Zahira mengepalkan jemarinya, menarik napas dalam-dalam untuk menahan desakan emosi di dadanya.
Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Karlina dengan pandangan teduh namun sarat akan ketegasan yang tak tertembus.
"Zira enggak pernah merasa lebih tinggi dari siapa pun di rumah ini, Mih. Zahira cuma capek dan mau istirahat," ujar Zahira pelan, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu berbobot. "Permisi."
.
.
Sementara itu, di balik pintu kamar lantai atas yang sedikit terbuka, Vidi mematung. Pemuda itu baru saja hendak melangkah keluar untuk mengambil air minum saat mendengar suara nyaring maminya memecah kesunyian rumah.
Handuk kecil yang tersangkut di bahunya ia pegang erat. Wajah Vidi mengeras, matanya memancarkan rasa bersalah dan iba mendengar setiap kalimat pedas yang dilontarkan maminya sendiri kepada sang kakak.
Ia tahu betul betapa kerasnya Zahira berjuang tanpa pernah memanfaatkan fasilitas keluarga, dan melihat kakaknya terus-menerus dipojokkan seperti itu membuat dadanya terasa sesak.
Saat langkah kaki Zahira terdengar kian mendekat menaiki anak tangga terakhir, Vidi segera menarik tubuhnya sedikit ke belakang pintu, lalu membukanya lebih lebar saat Zahira melintas di depan kamarnya.
Zahira yang menunduk lesu kaget kecil saat mendongak dan mendapati adik tirinya berdiri di ambang pintu.
Vidi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tahu, kata-kata hiburan saat ini hanya akan terasa hampa. Sebagai gantinya, Vidi mengukir senyum tulus yang hangat senyum yang menyalurkan dukungan penuh tanpa penghakiman.
Anak remaja itu kemudian mengangkat tangannya, membentuk Isyarat jempol dan gerakan mengepal singkat di udara: 'Tetap kuat, kak.''
Melihat gestur sederhana namun tulus dari Vidi, perlahan benteng pertahanan di hati Zahira meleleh. Rasa sesak di dadanya sedikit terangkat.
Zahira mengangguk pelan, membalas senyuman Vidi dengan binar mata yang kembali hidup, sebelum akhirnya melangkah masuk ke kamarnya sendiri dan menutup pintu dengan lembut.
.
.
Beberapa jam kemudian, suasana ruang keluarga kediaman Sumargo terasa berbeda. Suara gemericik air dari kolam ikan di samping teras tak mampu mencairkan kecanggungan yang menggantung di udara.
Damian pria setengah baya dengan wibawa tegas yang masih melekat kuat duduk di sofa tunggal. Di tangannya menggenggam cangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul tipis.
"Zahira, Vidi, Bianka... duduk dulu di sini. Papi mau bicara," suara Damian terdengar berat, mengisi setiap sudut ruangan.
Zahira yang baru saja hendak melangkah ke dapur, memutar arah dan duduk di sofa panjang. Vidi menyusul dengan tenang di sebelah kakaknya, sementara Bianka duduk di samping Karlina sembari sibuk mengutak-atik ponselnya.
Damian menghembuskan napas pelan, meletakkan cangkirnya ke atas meja. Matanya tertuju pada anak keduanya.
"Bianka, gimana kuliah kamu? Sudah masuk semester lima, kan? Mata kuliah praktikum dan teorinya aman?"
Bianka tak langsung mendongak. Jemarinya masih menari di atas layar sebelum akhirnya menyandarkan punggung dengan malas. "Aman-aman aja sih, Pi. Tapi paling semester ini Bianka mau ambil cuti beberapa bulan dulu."
Dahi Damian seketika berkerut. "Cuti? Untuk apa?"
"Kemarin Bianka dapet penawaran kontrak Brand Ambassador dari merek kosmetik besar, luar" jawab Bianka santai, ada nada bangga yang diselipkan di suaranya.
"Jadwal syuting dan photoshoot-nya padat banget. Jadi ya... kuliahnya di-hold dulu sebentar. Lagian kesempatan kayak gini nggak datang dua kali, Pi."
Dengusan kesal lolos dari hidung Damian. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Bianka dengan raut kecewa yang tak ditutup-tutupi.
"Kamu ini bagaimanapun harus utamakan pendidikan, Bianka! Karier di dunia hiburan itu sifatnya sementara. Batalkan kontrak itu dan fokus selesaikan kuliahmu tepat waktu."
"Lho, kok dibatalkan sih, Mas?" Karlina langsung memotong dengan nada tidak terima. Ia mengelus bahu Bianka pasif-agresif.
"Anak kita ini dapat prestasi, lho. Nggak semua orang bisa terpilih jadi muka produk internasional! Harusnya Mas bangga, bukannya malah mematahkan semangat anak sendiri. Ini awal karir Bianka, mas."
"Bangga untuk sesuatu yang mengorbankan masa depannya, Karlina?" tegas Damian, matanya menatap tajam sang istri. "Pendidikan itu fondasi. Kalau dasarnya aja ditunda-tunda demi hal yang belum tentu bertahan lama, mau jadi apa nanti?"
Zahira dan Vidi memilih tetap membisu. Vidi menunduk sambil meremas jemarinya sendiri, sementara Zahira menatap lurus ke depan, enggan masuk ke dalam pusaran konflik keluarga yang sudah tertebak ujungnya.
Damian mengalihkan pandangannya, menatap Zahira yang duduk tenang di sebelah Vidi. Helaan napasnya berangsur melunak.
"Harusnya kamu bisa contoh kakak mu, Bianka," ujar Damian pelan, namun dampaknya bagai petir di tengah ruangan.
"Kakakmu dulu kuliah sambil kerja di kafe. Dia nggak pernah sedikit pun mengorbankan pendidikannya. Dia buktikan bisa lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude, tanpa pernah mengeluh atau minta kemudahan dari Papi."
Seketika raut wajah Bianka berubah keruh. Matanya membelalak, dipenuhi rasa tidak terima yang membakar.
"Papi selalu aja gitu!" sembur Bianka, suaranya naik satu oktav. "Ujung-ujungnya pasti bandingin aku sama kak Zira! Selalu kak Zahira yang paling sempurna, paling pinter, anak kesayangan Papi! Terus aku apa di mata Papi? Nggak pernah ada benarnya!"
"Papi bicara fakta, Bianka!" potong Damian tegas sebelum kalimat Bianka semakin melantur.
"Kakakmu berjuang dari bawah dengan tulus. Dia tahu skala prioritas. Papi tidak sedang membandingkan, Papi mau kamu punya tanggung jawab yang sama atas masa depanmu sendiri!"
"Ah, terserah Papi lah!" tegur Bianka kasar. Ia berdiri mendadak hingga kursi yang didudukinya sedikit terdorong ke belakang.
"Mau aku berprestasi setinggi apa pun, di rumah ini, aku tetep kalah sama anak kesayangan Papi!"
Tanpa mengindahkan panggilan Karlina, Bianka menghentakkan kakinya keras-keras menuju tangga, menaiki lantai dua dengan emosi membumbung tinggi. Suara pintu kamarnya yang dibanting terdengar berdentum nyaring dari atas.
Karlina menatap suaminya dengan pandangan dingin sebelum akhirnya menyusul anak kesayangannya ke atas.
.
.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki terburu-buru dari lantai dua. Bianka turun kembali dengan pakaian yang sudah berganti rapi dan kasual, menggenggam kunci mobil serta tas bahunya.
Ia melengos melewati ruang keluarga tanpa menoleh sedikit pun, langsung menghambur keluar menuju garasi. Suara deru mesin mobil melaju kencang meninggalkan pekarangan rumah.
Damian menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, memejamkan mata rapat-rapat sembari mengusap wajahnya yang tampak lelah. Helaan napas panjang dan berat keluar dari dadanya sebuah kekecewaan mendalam atas kelakuan anak keduanya yang hampir pasti akan menghabiskan malam bersama teman-temannya hingga larut, lari dari masalah alih-alih merenungi kesalahannya.